Pria, Korban Perkosaan

Ketika kita menjumpai kasus perkosaan yang dipublikasikan di media, kesimpulan tentang jenis kelamin korban yang muncul di benak kita nyaris selalu adalah wanita. Memang tepat, sebagian besar korban perkosaan adalah wanita. Namun, kasus-kasus di mana yang menjadi korban perkosaan adalah pria ternyata juga ada, dan dalam hal ini yang saya maksud adalah pria yang diperkosa oleh wanita, bukan yang diperkosa oleh sesama pria.

Sarrel & Masters (1982) mendokumentasikan 11 kasus pria yang diserang secara seksual oleh wanita, termasuk beberapa kasus di mana pria dipaksa untuk bersanggama dengan pemerkosa wanita. Dalam banyak hal, kasus-kasus ini mencerminkan situasi ketika yang diperkosa adalah wanita. Dari kasus-kasus tersebut ditemukan bahwa meskipun mereka tengah berada dalam keadaan ketakutan setengah hidup, para pria tersebut masih bisa merespons secara seksual (barangkali ini termasuk kondisi ketergugahan emosi dalam level tertentu yang memicu keterbangkitan seksual). Mirip dengan situasi itu, beberapa wanita yang diperkosa juga memberikan respons seksual secara fisik (misalnya orgasme, lubrikasi vagina). Baik pada kasus pria maupun wanita yang diperkosa, tanda-tanda fisik seperti itu tentu saja tidak berarti bahwa si korban menikmati perkosaan yang dilakukan pada dirinya. Dengan demikian, mereka sebetulnya tidak perlu merasa terlalu bersalah karena telah merespons secara seksual.

Seperti halnya wanita yang diperkosa, pria pun dapat mengalami trauma pascaperkosaan dan kesulitan untuk berfungsi secara seksual setelah pengalaman traumatis tersebut. Karena pria merespons terhadap pemerkosanya, mereka bisa saja merasa tidak normal, bersalah dan mempertanyakan maskulinitas mereka (retorika umum, masa seorang pria diperkosa wanita ?).

Sangat sedikit kasus pria sebagai korban perkosaan yang dilaporkan. Hal ini tampaknya disebabkan adanya keyakinan bahwa polisi atau orang-orang lain tak akan percaya pada cerita mereka, atau malah lantaran malu berat. Aparat yang dilapori juga punya kecenderungan berpikir dari perspektif maskulin bahwa si korban bukannya diperkosa, tapi suka rela. Beberapa dari pria korban perkosaan mungkin mencari bantuan profesional atau terapi, tapi yang lain dapat saja hanya diam memendam rasa sedih, bersalah dan kemarahan.

Sumber :
Human Sexuality

Diterbitkan di: on 14 Januari 2008 at 4:12 am Komentar (1)
Tags:

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://vitasexualis.wordpress.com/2008/01/14/pria-korban-perkosaan/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Satu komentar Leave a comment.

  1. wanitanya seganas apa ya . . . hehehe . . . :)


Leave a Comment