Coba Anda bayangkan situasi-situasi di bawah ini :
- Seorang ginekolog ternama (tak usah saya sebut namanya pasti Anda tahulah) yang gaya tutur dan bahasa tubuhnya gemulai
- Sekelompok pria yang naik panggung untuk beratraksi menghibur penonton dengan mengenakan pakaian dan dandanan wanita
- Seorang artis yang menjalani operasi kelamin dan mengubah jenis kelaminnya dari pria menjadi seorang wanita.
Kata apa yang biasa dipakai masyarakat kita untuk mengomentari sosok pria-pria dalam contoh di atas ? Bisa banci, bencong, wadam, waria dan entah apa lagi. Yang jelas, kata “banci” dan kawan-kawan itu penggunaannya kerap membingungkan lantaran satu model kata tersebut dilontarkan buat melabel tiga kondisi yang secara psikologi didefinisikan berbeda (meski kadang bisa saling terkait). Nah, supaya yang tadinya bingung jadi tidak bingung lagi, mari kita tilik bersama istilah dan konsep psikologis ketiga contoh di atas.
Kita mulai dari contoh pertama, yang kondisinya disebut transjender. Transjender adalah orang yang cara berperilaku atau penampilannya tidak sesuai dengan peran jender tradisional (ingat, perbedaan antara seks dan jender, seks = biologis, jender = sosiokultural). Transjender adalah orang yang dalam berbagai level “melanggar” norma kultural mengenai bagaimana seharusnya pria dan wanita itu. Seorang wanita, misalnya, secara kultural dituntut untuk lemah lembut. Kalau pria yang berkarakter demikian, itu namanya transjender. Orang-orang yang lahir dengan alat kelamin luar yang merupakan kombinasi pria-wanita juga termasuk transjender. Transjender ada pula yang mengenakan pakaian lawan jenisnya, baik sesekali maupun rutin. Ini yang membawa kita ke contoh kedua, kondisi yang disebut transvestit.
Transvestit adalah orang yang mengenakan pakaian lawan jenisnya. Istilah lainnya untuk perilaku ini adalah cross dressing-silang pakaian. Orang yang berpakaian seperti lawan jenisnya dengan tidak ada kecenderungan transeksual dan hanya mencari kepuasan psikososial (seperti mengekspresikan diri) biasanya disebut cross dresser. Kalau ada unsur mencari kepuasan atau kegairahan seksual dengan cara memakai pakaian lawan jenis (bukan cuma dipegang-pegang), ini namanya sudah beda lagi, yaitu fetishisme transvestik. Kebanyakan pelakunya adalah pria heteroseksual yang sudah menikah, wanita lebih jarang.
Tadi sudah saya sebut-sebut transeksual, yang merupakan istilah untuk contoh ketiga. Transeksual adalah orang yang identitas jendernya berlawanan dengan jenis kelaminnya secara biologis. Mereka merasa “terperangkap” di tubuh yang salah. Misalnya, seseorang yang terlahir dengan anatomi seks pria, tapi merasa bahwa dirinya adalah wanita dan ingin diidentifikasi sebagai wanita. Bedakan dengan pria transvestit yang mengenakan pakaian wanita, tapi tidak ingin berubah permanen jadi wanita. Transeksual juga tidak bisa disinonimkan dengan homoseksual. Bisa saja seorang pria transeksual tertarik pada pria lain karena merasa bahwa dia seorang wanita dan wanita mestinya tertarik pada pria.
Jadi, jangan asal sebut banci.
Sumber :
Dari berbagai sumber
Salam kenal, mba/mas[?] ^^v
Aku suka blognya.
Nyasar ke sini waktu nyari keterengan buat tugas Kejahatan Seksual, bagian penyimpangan.
hihihi…
ternyata Crossdesser ada nama kerennya ya, Transvestit.
Aku seneng ngeliatin pelaku Transvestit, trutama orang Jepang.
Apalgi member2 J-Rocknya, cantik2 ^^
Contohnya yg ini:
http://phiy.wordpress.com/2008/01/22/cowok-cantik-itu-namanya-shun/
^^v
Salam kenal juga (ini mbak atau mas? ). Glad you like it. Klo aku ga begitu familiar dengan budaya Jepang, tapi aku suka liat cowok-cowok elf dalam Lord of The Rings yang pakai jubah, tunik dan leggings, mukanya cakep feminin and rambutnya tergerai panjang…
VENUS AS A BOY
Mengapa ya jarang perempuan yang penampilannya drag king, while lebih banyak lelaki yang jadi drag queen ? Satu lagi, Fisik saya adalah lelaki, tapi saya merasa saya ini adalah seorang lesbian yang terperangkap dalam tubuh laki-laki ! Kenapa begitu, saya sering tidak tega sama pasangan saya bila berintercourse dengan daging identitas yang selama ini saya miliki (baca : jijik !), tapi malah lebih suka menggunakan gaya yang persis dengan gaya lesbian (tribadism dll) Why ?
Maaf atas kelancangan tsb di atas
Maaf, saya tidak berani memberikan jawaban yang pasti karena saya bukan psikolog dan saya tidak tahu sejarah hidup Anda. Yang jelas, identitas jender (perasaan bahwa saya ini lelaki atau perempuan) tidak selalu terkait dengan orientasi seksual (suka sesama jenis atau lawan jenis). Kalau Anda merasa sangat terganggu dengan masalah Anda, hubungi psikolog untuk konsultasi.
transeksual….inilah masalah yang saat ini lagi saya alami. Saya kebingungan dengan gender dan identitas yang saya miliki. kemana saya harus bertanya??? Saya seorang perempuan yang berjiwa laki-laki dan terperangkap dalam tubuh seorang perempuan. Saat ini pun saya dalam masalah yang benar-enar membuat saya takut, saya sudah menjujurkan keadaan saya kepada keluarga baru-baru ini. Coz, saya merasa lelah menyimpan beban yang selama ini saya tutupi dari mereka. Apa ada yang bisa bantu saya memberi masukan, yang saat ini saya seakan takut menghadapi public. Help me,,,,,please!!!! thanx
Saya pribadi tidak bisa menolong karena saya tidak berwenang menangani kondisimu. Yang bisa saya sarankan adalah coba berkonsultasi ke psikolog dan dokter yang ada di kota tempat tinggalmu, atau ke PKBI. Mereka sudah terlatih untuk menangani masalah seperti ini sehingga bisa membantumu mengambil langkah selanjutnya. Yang kamu lakukan dengan memberitahu keluarga sudah baik, keluarga bisa menjadi sumber dukungan bagimu.
Boleh saya copy ya … buat bahan diskusi dengan teman2 di bidang pengkaderan putri dan pemberdayaan gender PMII Merdeka Malang.
Salam kenal dan Thankx
Silakan kalau mau dikopi, asal tetap dicantumkan sumbernya.
sama seperti yang di atas, saya mau minta ijin copy buat bikin proposal penelitian kualitatif tentang transeksual, makasih sebelumnya..
Silahkan dikopi, asal menyebutkan sumber. Semoga sukses dengan penelitiannya.
Aq lagi cari bahan tuk skripsi.
judul skripsi q, a study on expression of transgender community in Taman bunga pematangsiantar.
yah, meneliti tentang bahasa bencong gt.
sekarang,mo cari literatur definisi tentang transgender itu.payah banget ya, ndapetin sumbernya.
buku or apa gt, yang lengkap.
apalagi literatur bahasanya.
uh, lebih payah lagi.
help me
Kalau penelitian seperti ini apakah bersifat eksploratif-kualitatif? Mengenai literatur bahasa khas kaum transjender saya kurang tahu, tapi beberapa buku teks seksualitas yang saya punya membahas sedikit tentang transjender. Barangkali bisa dicoba mencari buku elektroniknya? Meski sepengetahuan ya, penelitian eksploratif cenderung tidak terlalu membutuhkan banyak referensi.