Kalau kutu kulit kepala, Anda tentu sudah sering mendengarnya, tapi apakah Anda pernah dengar tentang kutu pubis? Kalau belum, ada baiknya Anda teruskan membaca. Yang sudah pernah pun tidak dilarang menyimak. Pada dasarnya, setiap bagian tubuh yang ditumbuhi rambut memang berpotensi untuk diserang kutu, tidak terkecuali daerah pubis (sekitar alat kelamin). Kutu pubis dimasukkan dalam kategori Penyakit Menular Seksual (PMS) lantaran penularannya kerap melalui kontak seksual yang melibatkan area kemaluan. Bila dibandingkan dengan PMS lainnya, kutu pubis saya rasa tidak terlalu berbahaya. Namun, serangan kutu ini bisa mengakibatkan dampak yang lumayan menjengkelkan. Rasa gatal yang ditimbulkannya selain membuat penderitanya tidak nyaman, juga dapat merembet ke hal lain seperti mengganggu konsentrasi dan yang jelas bikin malu kalau kedapatan menggaruk di muka umum (walau sebelum menggaruk sudah tengok kanan-kiri).
Kutu dengan nama Latin Phthirus pubis ini termasuk kubu serangga parasit kutu penggigit. Ukurannya kecil sekali, tapi masih kasat mata. Warnanya kelabu kekuningan (kombinasi yang kurang sedap, menurut saya) dan bentuk badannya kalau dilihat dengan pembesaran tertentu menyerupai kepiting. Kutu pubis biasanya mencengkeram sehelai rambut kemaluan dengan cakarnya dan menancapkan kepalanya ke kulit di mana ia menghisap darah dari pembuluh darah yang kecil. Gejala terjangkit kutu pubis gampang saja dikenali, yaitu gatal yang tidak berkesudahan walau sudah digaruk. Pada beberapa orang bahkan bisa timbul ruam alergi setelah menggaruk dengan dahsyat yang dapat terinfeksi bakteri.
Kutu pubis sebenarnya termasuk PMS yang cukup umum dijumpai dengan prevalensi terutama pada kalangan muda (15-25 tahun), lajang dan biasanya diasosiasikan dengan infeksi menular seksual lainnya. Kutu pubis dapat hidup di luar tubuh selama satu hari kalau sudah kenyang menghisap darah. Kutu-kutu tersebut dapat jatuh ke pakaian dalam, selimut, handuk dan sebagainya. Telur kutu yang ada di pakaian dan selimut dapat bertahan sampai enam hari, sehingga orang dapat saja tertular kutu pubis karena menggunakan pakaian, handuk atau tidur di ranjang orang lain. Konyolnya, orang yang sudah bebas kutu bisa tertular ulang dari pakaian atau selimutnya sendiri yang tak dicuci dan mengandung kutu atau telur kutu. Kutu pubis dapat dijumpai pula di ketiak dan kulit kepala, biasanya karena terbawa dari area kemaluan melalui jari atau kuku.
Cara mengatasi kutu pubis adalah dengan menggunakan krim permethrin 1% yang dioleskan ke area yang terjangkit dan dibilas setelah sepuluh menit (saya kurang tahu krim antikutu macam apa yang beredar di Indonesia, tanyakan pada dokter Anda). Untuk kulit kepala dapat menggunakan sampo khusus antikutu. Pengobatan ini mesti diulang tujuh hari kemudian dan pastikan untuk mencuci baju, handuk, selimut dan lain-lain yang dipakai sebelum pengobatan. Sedangkan tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan pribadi dan pasangan, serta sedapat mungkin jangan meminjam pakaian (apalagi pakaian dalam) dan handuk orang lain.
Sumber:
Our Sexuality