Film Porno untuk Wanita

Entah berapa juta film porno yang telah dan sedang dijual di seluruh penjuru dunia sampai saat ini, tapi dari jumlah yang membeludak itu berapa banyak yang dibuat untuk dikonsumsi kaum wanita? Jawabannya, seperti bisa Anda duga, sangatlah sedikit. Bahkan, mungkin Anda akan mengerutkan dahi dan menganggap pertanyaan seperti itu tak usah ditanyakan karena film porno memang bukan untuk wanita. Faktanya, hanya sedikit sutradara dan produser film dewasa yang menciptakan filmnya dengan wanita sebagai target pemirsa, padahal saya kira bukan hanya pria yang mengonsumsi film porno.

Salah satu masalah dengan film porno arus utama adalah bahwa mereka dibuat oleh pria, untuk pria. Industri pornografi berkembang karena pria banyak mengonsumsi film porno. Masalah lainnya adalah rendahnya kualitas produk industri film dewasa. Teknologi digital yang ada saat ini menyebabkan biaya pembuatan film menjadi murah dan kualitas film menurun. Pada era analog, film porno cukup mahal biayanya dan mereka harus dibuat dengan cukup baik agar laku terjual dan investor bisa balik modal. Seiring turunnya biaya produksi, film porno dibuat seadanya, asal cepat jadi dan dapat dijual. Kondisi demikian itu menjadikan banyak beredar film porno murahan yang alih-alih membikin terangsang, malah memuakkan. Dan wanita sangat cepat memutuskan untuk berhenti menonton bila mereka melihat sesuatu yang tidak disukai.

Persoalan di atas membuat wanita kesulitan untuk menemukan film porno yang sesuai dengan seleranya, ditambah jika harus mengaduk-aduk di antara timbunan film porno untuk pria. Namun, adanya internet memudahkan wanita dalam mencari film dewasa. Terdapat beragam situs yang menyediakan layanan itu. CEO salah satu situs tersebut, Dr. Petra Zebroff, menjelaskan alasannya mendirikan situs tersebut, bahwa setelah menyelesaikan studi doktoratnya tentang seksualitas wanita dia menyadari betapa sukarnya bagi wanita untuk mengakses produk dan video seksual tanpa memasuki toko yang berorientasi pria dan mengalami saat-saat memalukan. Internet menawarkan tempat aman dan anonim untuk mencari informasi dan produk seksual dengan atmosfer yang elegan, berfokus pada pengalaman seks wanita sebagai partisipan, bukan objek seks (seperti banyak digambarkan dalam film porno untuk pria).

Menurut Dr. Zebroff, ada beberapa elemen yang membuat suatu film dewasa cocok untuk ditonton kaum wanita. Kedalaman karakter dan pemahaman mengapa karakter dalam film berhubungan seksual adalah satu di antaranya. Jadi skenario yang asal ada satu pria, satu wanita (atau lebih, kombinasinya bisa macam-macam) bertemu lalu tanpa basa-basi tancap saja berhubungan seksual tidak merangsang bagi wanita. Kemudian, Dr. Zebroff menekankan pentingnya menginkorporasi sensualitas ke dalam film, mengingat wanita berpikir tentang seksualitas dengan seluruh tubuh mereka, tidak hanya daerah genital. Film porno yang berfokus pada adegan seputar selangkangan tanpa permainan pendahuluan tidak berefek bagi banyak wanita. Wanita suka mengkhayalkan dirinya masuk dalam skenario dan bila skenarionya tak membuat mereka merasa seksi, film itu tidak merangsang mereka. Adegan selangkangan jarak dekat juga tidak terlalu merangsang wanita karena ketika berhubungan seksual wanita tidak melihat dirinya dari sudut pandang seperti itu, sehingga mereka tidak merasa terhubung dengan adegan itu.

Banyak pembuat film dewasa yang memenuhi kebutuhan pasangan penonton membuat kesalahan dengan mengira wanita cuma menginginkan romansa. Wanita menyukai variasi adegan seksual dengan derajat keeksplisitan yang berbeda-beda. Banyak wanita yang menyukai film eksplisit dengan tema hardcore. Konyolnya, banyak sutradara film porno yang menyuguhkan tema hardcore dengan merendahkan wanita. Masih menurut Dr. Zebroff, yang membuat wanita jadi tak tertarik pada film porno adalah bila karakter wanitanya menjadi fokus setiap adegan, apalagi kalau tubuh wanita bintang porno itu tidak realistis dan sudah banyak dipermak. Kebanyakan wanita suka melihat dan menikmati keindahan tubuh pria.

Jadi, wanita ternyata juga mengonsumsi film dewasa dan film porno untuk konsumsi wanita perlu memiliki beberapa karakter yang berbeda dari film porno untuk pria agar dapat sukses di pasaran.

Sumber:
aphroditewomenshealth.com

Published in: on 16 Maret 2009 at 7:06 am  Comments (23)  

The URI to TrackBack this entry is: http://vitasexualis.wordpress.com/2009/03/16/film-porno-untuk-wanita/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

23 KomentarTinggalkan komentar

  1. woi…islam bukan sih kamu ??.nulis kok gitu sih…
    nggak pernah belajar agama ya………
    goblok banget sih lu………..

    • Anda sendiri bagaimana bisa kesasar dan membaca tulisan saya? Urusan agama, itu masalah saya dengan Tuhan.

      • ga usah munafik deh jd org..lu jg klo di pake mau..uda dpt g-spot lu bru tau lu..yg goblok lu bkn dia..

      • menurut saya sih tulisannya tidak terlalu vulgar, benar2 pure nambah wawasan, bukan buat merusak moral seseorang,, jadii kenapa mustii dipermasalahin??

        ini sih tergantung dari sisi mana seseorang menanggapinya, tapii buat saya nampak gda hub ama agama atau merusak moral pembacanya. jadii ya santaii aja sii,, ko ribet segala…

        agama kan urusannya langsung ama yang di atas..

      • Terima kasih komentarnya. Saya memang mengharapkan pemikiran yang terbuka dari semua pembaca blog saya.

  2. saya belum pernah nonton film porno. nonton film yang sensual sih pernah.
    saya setuju dgn Anda, skenario itu penting. foreplay lebih menarik daripada menu utama (halah, kok saya malu2 sih nyebutin istilahnya :p)
    “Kebanyakan wanita suka melihat dan menikmati keindahan tubuh pria.”
    pelariannya ke slash… :p

    • Terima kasih. Saya kira memang demikian. Slash boleh jadi lahir sebagai sarana bagi wanita untuk mengekspresikan seksualitasnya, yang notabene tidak tercakup dalam film porno arus utama. Ini mungkin terdengar stereotipikal, tapi saya sering menemui komunitas slash (yang digawangi para perempuan), dan belum pernah bersua yang namanya komunitas pornografi.

  3. wah, Anda baru saja memberi ide bagi teman-teman fujoshi saya :p

  4. kalau adekmu, kakakmu, bojomu, ibumu nonton film porno kayak gitu gimana. ntar adekmu, kakakmu, bojomu, ibumu mau melakukan kayak gitu dengan orang lain… bloon….

    • umur km brp??? kl blm cukup umur jgn coment yg aneh2, skrg tinggal kita yg bisa menyesuaikan diri. kl anda pengen liat film porno ya jgn ngajak adikmu, kakakmu, ibumu, bapakmu, tantemu, om km, kakekmu, nenekmu, tetanggamu.

    • yah.. bijak lah.. bener kata am benni, kamu umur berapa sih dek???

  5. Buat saya, film porno masuk dalam wilayah privat seseorang. Soal mau menonton atau tidak, semua terserah pada pertimbangan dan kedewasaan masing-masing.

  6. simbol sexsualitas adalah kaum perempuan…dan sejarah telah mencata tentang itu….mak tidak heran kaum perempuan menjadi ekploitasi untuk ekonomi semata….dan yang heran justru perempuan itu sendiri yang menawarkan hal tersebut….

  7. sippppppppp

  8. hem… kapan2 kita bikin kelompok diskusi tentang seksualitas dalam film, aku rasa kau cocok untuk temen diskusi yang serius …

    – i –

    • Seksualitas dalam film, saya rasa itu topik menarik. Saya juga tertarik pada seksualitas dalam literatur.

  9. Pembahasan seksual dengan gaya bahasa yang tidak porno. Tidak vulgar. bagus… Bagi yang ortodok, mungkin kurang menyukai ini..

    • Terima kasih komentarnya. Saya selalu mengharapkan orang yang membaca blog ini berpikiran terbuka, seperti Anda.

  10. Tulisan Anda tersebut memang perlu pemahaman… Artinya, bagi yang tidak paham, maka tulisan Anda dianggap vurgar dan mengada-ngada…. Sedangkan yang paham, maka tulisan Anda adalah sebuah pendidikan… Karena itu, bagi pembaca yang belum paham (kalau tidak mau dianggap kurang intelek atau bodoh maupun kurang berpendidikan), sebaiknya jangan membaca tulisan tersebut…. Semoga kita memahami sebuah tulisan yang mengandung wacana inspirasi kehidupan…..

    • Terima kasih komentarnya. Saya harap pembaca yang belum paham mau sedikit bersusah-payah mencoba untuk memahami tulisan saya dari sudut pandang yang tidak menghakimi dan picik.

  11. klo mnurut saya bagi orang yang membaca artikel tadi, dia harus membuka fikiran dia membuka mata hati dia dan realitas kehidupan dunia…karena bagaimanapun kita tidak bisa menyalahkan argumen orang lain…walaupun jika dikaitkan dengan agama, apakah hal tersebut ada baiknya dan ada juga buruknya, jika baik silahkan ambil jika buruk jangan di tiru….karena kita tidak tahu apakah diri kita sudah lebih baik dari orang lain atau belum…yang tahu hanyalah Allah.

    • Terima kasih komentarnya. Sekali lagi, saya memang berharap pembaca bisa menilai apa yang saya tulis dengan pikiran terbuka.

  12. Urusan tempat tidur memang rahasia pasutri yang satu dengan yang lainnya. jadi lebih tepat jika tulisan anda ini dibaca oleh pasutri saja, sebab pandangan hubungan pasutri yang sah berbeda dengan yang belum menikah.

    Kalau belum menikah, pandangannya pasti mesum. sedangkan dalam koridor pernikahan yang benar (perjaka dengan perawan) bisa menjadi tambahan wawasan jika memang keduanya merasa memerlukan.

    saya baca beberapa tulisan anda sebenarnya juga bisa untuk pasutri yang mana kuncinya kan cuma komunikasi yang baik dan benar itu bagaimana, disertai dengan pengetahuan yang benar pula.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: