Parafilia 101

Apa, sih parafilia itu? Istilah parafilia kerap digunakan secara bergantian dengan istilah penyimpangan/deviasi seksual, tetapi meskipun sama-sama meliputi berbagai perilaku seksual yang tidak sesuai dengan standar nilai masyarakat, parafilia saya kira lebih bersifat klinis. Secara harfiah, parafilia berarti “di luar cinta yang lazim”. Definisi parafilia kurang lebih adalah dorongan dan fantasi seksual yang intens dan berulang tentang preferensi seksual tidak biasa yang boleh jadi diperturutkan atau telah menyebabkan stres setidaknya selama enam bulan. Parafilia dapat berkisar pada objek seksual tertentu atau aktivitas seksual tertentu. Dorongan dan fantasi parafilia umumnya meliputi objek nonmanusia, penderitaan atau rasa dipermalukan baik pada pasangan maupun diri sendiri, atau anak-anak dan orang dalam keadaan terpaksa.

Parafilia berbeda dari eksperimen seksual sporadik. Orang dengan parafilia secara tipikal dikuasai oleh pemikiran untuk mencapai pemenuhan kepuasan seksual sampai tanggung jawab dan aktivitas lain terabaikan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, ada unsur stres pada pelaku untuk dapat dikategorikan sebagai parafilia, jadi orang yang memikirkan suatu fantasi seksual tapi tidak merasa terganggu karenanya dan tidak memperturutkan fantasi tersebut tidak dapat dikatakan memiliki gangguan ini.

Sifat parafilia secara umum spesifik dan tidak berubah-ubah, kebanyakan parafilia lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita. Ada beberapa fitur yang dapat ditemui pada penderita parafilia. Penderita parafilia mungkin memilih pekerjaan atau mengembangkan suatu hobi yang memungkinkan dia kontak dengan stimulus erotis yang dikehendaki. Contohnya seorang pedofil yang menjadi guru TK. Lalu, disfungsi seksual seperti disfungsi ereksi atau gangguan ejakulasi umum ditemui jika orang dengan parafilia mencoba melakukan aktivitas seksual tanpa tema parafilik. Selanjutnya, boleh jadi ada gangguan lain yang menyertai parafilia, seperti penyalahgunaan obat dan alkohol, gangguan emosi dan kepribadian. Beberapa penderita tergantung sepenuhnya pada parafilia untuk memperoleh kepuasan seksual, sementara sebagian lainnya mungkin masih dapat melakukan aktivitas seksual konvensional. Bagi beberapa pengidapnya, perilaku dan dorongan parafilia itu kronis dan seumur hidup, dalam situasi tertentu, preferensi parafilia terjadi secara episodik, misalnya ketika sedang stres.

Secara garis besar tingkatan keparahan parafilia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Ringan: seseorang terlihat jelas stres karena dorongan parafilik dalam dirinya, tapi tidak pernah memperturutkan dorongan itu.
- Sedang: seseorang yang sesekali memperturutkan dorongan parafiliknya.
- Berat: seseorang yang berulang kali memperturutkan dorongan parafiliknya.

Terakhir, beberapa jenis parafilia mungkin tampak asing atau aneh sehingga sukar bagi Anda membayangkan bagaimana hal itu dapat membangkitkan gairah seksual seseorang. Namun, beberapa perilaku parafilia ada yang sebenarnya kerap digunakan oleh pasangan-pasangan yang ingin menambah bumbu kehidupan seksual mereka, tentu saja dalam takaran ringan. Contohnya menampar bokong pasangan, diikat dengan longgar ketika berhubungan seksual, dan sebagainya. Nah, kalau perilaku yang tadinya dimaksudkan untuk variasi itu sudah menjadi menu wajib tak tergantikan yang senantiasa menghantui, itu sudah melangkah menuju parafilia.

Sumber:
Abnormal Psyhchology. Understanding Human Problems.
Human Sexuality.

Diterbitkan di:  on 20 Mei 2009 at 10:31 am Tinggalkan sebuah Komentar

Tipe-tipe Parafilia

Sebenarnya ada berapa macam, sih penyimpangan seksual itu? Kalau saya boleh berspekulasi, barangkali jawabannya adalah tak terhingga. Sepanjang manusia masih dibekali “kreativitas” untuk menciptakan variasi dalam mengekspresikan seksualitasnya, rasanya model-model penyimpangan baru niscaya akan berkembang. Coba misalnya Anda cari daftar tipe parafilia di situs wikipedia. Anda akan temukan puluhan jenis hanya di satu situs itu saja (meski banyak di antaranya yang belum merupakan istilah klinis baku). Mulai dari parafilia yang agak jamak seperti pedofilia (suka berhubungan seksual dengan anak-anak) sampai yang jarang ditangkap telinga, contohnya emetofilia (ketertarikan seksual pada muntah, eew).

Dalam salah satu “buku babon” seksualitas, Our Sexuality, penulisnya menyatakan bahwa kunci utama membedakan beragam parafilia itu terletak pada ada tidaknya elemen kekerasan atau paksaan. Jadi, parafilia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu parafilia koersif (dengan paksaan) dan parafilia nonkoersif. Ada beberapa macam parafilia yang merupakan aktivitas tunggal atau melibatkan orang dewasa yang setuju untuk melakukannya (atau mengamati). Karena tidak terdapat unsur pemaksaan dan hak asasi dasar tidak dilanggar, parafilia nonkoersif biasanya dinilai kurang atau tidak berbahaya. Namun, perlu diwaspadai kemungkinan dampak negatif perilaku yang tampaknya nonkoersif. Contoh parafilia yang tergolong dalam kelompok nonkoersif tersebut adalah fetishisme dan BDSM (lihat tulisan ini).

Ada pula parafilia yang jelas-jelas memaksa atau invasif (penerima melakukan sesuatu tanpa diingini). Penelitian telah menemukan bahwa perilaku memaksa itu dapat berakibat bahaya bagi target atau penerima. Mereka bisa mengalami trauma psikologis, merasa takut hal itu akan berulang dan hak asasi mereka dilanggar. Karena itulah banyak parafilia koersif yang ilegal. Eksibisionisme dan voyeurisme (mengintip) adalah parafilia yang koersif.

Lain lagi dengan John Money, seorang peneliti identitas jender dan pilihan objek seks. Menurut dia, meski jumlah parafilia sampai puluhan, sebetulnya mereka bisa diklasifikasikan menjadi enam tipe saja. Enam tipe itu menggambarkan motif yang mendasari parafilia tertentu. Beginilah klasifikasi parafilia ala John Money.

- Solicitation/allure: parafilia sebagai substitusi (pengganti) atau pendahulu hubungan seksual normal. Contoh: eksibisionisme, voyeurisme.
- Fetishistic/talismanic: parafilia sebagai pengganti hubungan seksual normal. Contoh: fetishisme.
- Sacrifice/expiations: parafilia sebagai penebusan untuk gairah (yang dianggap) penuh dosa dengan cara mengorbankan sesuatu. Contoh: sadisme dan masokisme seksual, lust murder.
- Marauding/predatory: parafilia yang pasangannya harus dipaksa, diculik atau dirampas. Contoh: pemerkosaan.
- Mercantile/venal: parafilia di mana gairah mesti ditukar atau dibeli. Contoh: seks komersial.
- Stigmatic/eligibillic: parafilia yang pasangannya harus sangat berbeda umur, ras, penampilan, atau karakteristik lainnya. Contoh: pedofilia.

Sebagai penutup, saya kemukakan bedanya parafilia (penyimpangan seksual) dengan kejahatan seks. Tidak semua parafilia termasuk kejahatan seks dan sebaliknya tidak semua kejahatan seks adalah parafilia. Parafilia didefinisikan sebagai dorongan seksual seseorang yang persisten, muncul karena stimulus yang tidak biasa atau tidak tepat. Sedangkan kejahatan seks adalah perilaku yang dianggap ilegal oleh masyarakat karena melanggar hak asasi orang lain. Parafilia seperti eksibisionisme, voyeurisme dan pedofilia biasanya ilegal. Kalau sadisme-masokisme, fetishisme, dan parafilia jenis lain bisa legal, bisa tidak, tergantung hukum di suatu daerah. Kejahatan seks seperti perkosaan, pencabulan anak dan inses tak selalu ada motif parafilianya.

Sumbe
Our Sexuality.
Abnormal Psychology, Understanding Human Problems.

Tentang Inses, Sanggahan terhadap Freud

Mendiang Mbah Sigmund Freud (dedengkotnya psikoanalisis yang dulu bikin heboh kancah psikologi) punya teori seperti ini tentang inses : manusia secara alamiah punya pembawaan inses. Anak laki dengan ibunya, anak perempuan dengan ayahnya. Nah, pembawaan itu bisa terkekang lantaran ada ketakutan akan kastrasi (kehilangan alat kelamin) ketika seorang anak tumbuh dalam keluarga yang dipersepsi di dalamnya ada cinta segitiga (antara anak laki/perempuan-ayah-ibu). Mark T. Erickson, M.D. berpendapat sebaliknya. Menurutnya, manusia justru mengembangkan penghindaran terhadap inses yang diaktifkan oleh adanya kedekatan dengan orang tua dan famili. Dalam proses kelekatan terbangun ikatan familial yang berfungsi mencegah terjadinya inses, sekaligus menumbuhkan altruisme terhadap orang-orang terdekat.

Asumsi Freud bahwa hewan (dalam hal ini termasuk manusia) berhubungan seksual secara inses terpatahkan oleh penelitian yang dimulai pada tahun 1960-an yang menunjukkan bukti bahwa inses jarang ditemukan pada primata (alias sepupu kita) sampai ke seluruh kerajaan hewan, dan kecenderungan ini tetap ada walau makhluknya berevolusi. Itu tadi pembuktian dari dunia hewan. Hasil penelitian pada dua kelompok subjek di Israel dan Taiwan (yang budayanya memungkinkan kedekatan pada masa kanak-kanak dan larangan hubungan seksual ketika dewasa tidak ada) menunjukkan bahwa anak-anak (lain jenis kelamin) yang dekat semasa kecil atau tumbuh bersama, cenderung menghindari hubungan seksual dengan teman kecilnya itu ketika dewasa. Kalaupun mereka sampai menikah (karena dijodohkan, seperti pada subjek Taiwan), angka perceraian mereka tinggi dan angka kelahiran anak dari pasangan tersebut rendah.

Erickson melihat penghindaran terhadap inses sebagai pertumbuhan yang normal dari anak-anak yang waktu kecil diasuh dengan baik dan penuh kasih. Oleh karena itulah Erickson juga menyimpulkan bahwa pelaku dan korban inses ditandai dengan penolakan dan tidak terpenuhinya kebutuhan emosional semasa kanak-kanak. Ketika kelekatan tercabik pada usia belia (bisa karena orang tua berpisah ataupun pengabaian), anak tumbuh dalam kebingungan, mengacaukan ketertarikan familial dengan ketertarikan seksual. Seperti mite Oedipus, perpisahan pada masa anak membawa individu pada reuni inses kala dewasa.

Teori Erickson ini jadi relevan bagi kita yang hidup pada zaman modern ini. Di era kita, banyak hal yang bisa mengacaukan, bahkan memutus ikatan orang tua-anak. Orang tua kerap sibuk (bekerja dan entah apa lagi) sehingga mengabaikan anak, yang kalau menurut Erickson, ini sama saja dengan menciptakan potensi inses. Sehingga, Erickson menyarankan pada para orang tua untuk terlibat pada pengasuhan anak, terutama pada tahun pertama, daripada menyerahkan anak pada pengasuh atau penitipan.

Sumber :
Psychology Today, Juli-Agustus 1993

Diterbitkan di:  on 23 Februari 2008 at 4:27 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Sadomasokisme, dari Penyimpangan sampai Katarsis, Bagian Satu

Sengaja tulisan ini saya bagi menjadi tiga bagian, yang satu masuk divisi Deviasi dan Disfungsi Seksual, dua lainnya dicemplungkan dalam kategori Perilaku Seksual. Memang buku-buku tentang seks yang saya baca umumnya menyorot sadomasokisme dari perspektif parafilia (penyimpangan seksual). Namun, konsep sadomasokisme (gabungan sadisme dan masokisme) terus meluas seiring perkembangan seksualitas manusia. Sadomasokisme saat ini tidak hanya dipandang sebagai suatu penyimpangan, melainkan dapat dilihat sebagai preferensi atau variasi seksual, gaya hidup atau hubungan, metode pencapaian puncak spiritualitas, pelepas ketegangan dan bahkan, tak mesti melibatkan elemen seksual. Bagian pertama tulisan ini khusus membahas sadomasokisme “tradisional”, sadomasokisme sebagai parafilia, sedangkan sisanya saya akan uraikan di bagian selanjutnya.

Definisi tentang sadisme seksual yang saya rangkum dari beberapa buku adalah penyimpangan seksual di mana seseorang secara nyata menyebabkan rasa sakit fisik maupun psikologis pada orang lain secara sengaja untuk memperoleh kepuasan seksual dan atau membangkitkan gairah seksual. Sedangkan masokisme seksual merupakan penyimpangan seksual di mana seseorang punya kebutuhan untuk mengalami (melibatkan tindakan nyata yang menyebabkan) rasa sakit fisik dan psikologis untuk memperoleh kepuasan seksual dan atau membangkitkan gairah seksual.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV, 1994) memaknai sadisme seksual dan masokisme seksual secara terpisah, definisinya kurang lebih sama dengan definisi di atas. Namun, untuk dapat dikatakan suatu gangguan (penyakit), fantasi, dorongan seksual dan perilaku sadomasokisme tersebut mesti telah menimbulkan distres (stres negatif) dan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi penting lainnya secara signifikan dan bersifat klinis, dan atau tidak ada persetujuan mutual oleh kedua belah pihak. Kemudian aktivitas sadomasokisme merupakan satu-satunya cara pemuasan seksual selama enam bulan. Tanpa kriteria di atas, aktivitas sadomasokisme tidak bisa diklasifikasikan sebagai gangguan mental. Sekadar informasi, gangguan preferensi seksual bisa terjadi bersama dengan praktek sadomasokisme.

Sadisme seksual berbeda dengan gangguan kepribadian sadistik. Orang dengan gangguan kepribadian sadistik kejam, agresif, merendahkan orang lain. Ia menggunakan kekerasan dan kekejian untuk mencapai tujuan, memperlakukan orang lain dengan kasar, menggemari penderitaan makhluk hidup, mengendalikan orang lain dengan rasa takut, mengekang kebebasan orang lain dan tertarik dengan kekerasan, senjata dan luka. Perilakunya tersebut tidak hanya ditujukan pada satu orang tertentu dan karakter utama yang membedakannya dengan sadisme seksual, kekejamannya bukan untuk memperoleh kepuasan seksual. Jadi ingat kata dosen saya (kredit untuk Pak Martono), “Orang kejam itu enak saja karena tidak merasa ada yang salah. Yang susah, kan korban kekejamannya.”

Masokisme seksual juga harus dibedakan dari sindrom martir (orang yang ingin jadi martir, mencari penderitaan atau penganiayaan untuk memenuhi kebutuhan psikologis) dan gangguan kepribadian mengalahkan diri (meski juga dikenal dengan gangguan kepribadian masokistik). Gangguan kepribadian mengalahkan diri merupakan pola perilaku mengalahkan diri, menghindar dari kesenangan dan tertarik pada penderitaan. Orang dengan gangguan kepribadian ini mencari orang untuk mengecewakan diri sendiri, menolak pertolongan, hal positif yang dialami direspon dengan depresi atau menyakiti diri, suka memancing amarah dan penolakan, mencari pasangan yang mengabaikannya dan sejenisnya. Perilaku tersebut tidak khusus terkait dengan respon seksual dan tidak hanya terjadi ketika depresi.

Ada lagi yang namanya sindrom Skoptic, yaitu kondisi di mana seseorang terfokus pada atau melakukan sendiri mutilasi genital (pikirkan orang yang memotong penisnya sendiri…ouch…). Orang dengan kondisi masokisme yang ekstrem bisa melakukan ini, tapi seorang masokis belum tentu mengidap sindrom Skoptic (yang bikin alat kelamin ciptaan Tuhan jadi mubazir lantaran dirusak sampai tak bisa berfungsi).

Perihal sadomasokisme sebagai gangguan atau penyimpangan seks sudah saya uraikan. Pada bagian selanjutnya saya akan membahas tentang sadomasokisme nonparafilia atau sadomasokisme secara kultural.

Sumber :

Dari berbagai sumber

Transeksual, Transvestit dan Transjender

Coba Anda bayangkan situasi-situasi di bawah ini :

- Seorang ginekolog ternama (tak usah saya sebut namanya pasti Anda tahulah) yang gaya tutur dan bahasa tubuhnya gemulai

- Sekelompok pria yang naik panggung untuk beratraksi menghibur penonton dengan mengenakan pakaian dan dandanan wanita

- Seorang artis yang menjalani operasi kelamin dan mengubah jenis kelaminnya dari pria menjadi seorang wanita.

Kata apa yang biasa dipakai masyarakat kita untuk mengomentari sosok pria-pria dalam contoh di atas ? Bisa banci, bencong, wadam, waria dan entah apa lagi. Yang jelas, kata “banci” dan kawan-kawan itu penggunaannya kerap membingungkan lantaran satu model kata tersebut dilontarkan buat melabel tiga kondisi yang secara psikologi didefinisikan berbeda (meski kadang bisa saling terkait). Nah, supaya yang tadinya bingung jadi tidak bingung lagi, mari kita tilik bersama istilah dan konsep psikologis ketiga contoh di atas.

Kita mulai dari contoh pertama, yang kondisinya disebut transjender. Transjender adalah orang yang cara berperilaku atau penampilannya tidak sesuai dengan peran jender tradisional (ingat, perbedaan antara seks dan jender, seks = biologis, jender = sosiokultural). Transjender adalah orang yang dalam berbagai level “melanggar” norma kultural mengenai bagaimana seharusnya pria dan wanita itu. Seorang wanita, misalnya, secara kultural dituntut untuk lemah lembut. Kalau pria yang berkarakter demikian, itu namanya transjender. Orang-orang yang lahir dengan alat kelamin luar yang merupakan kombinasi pria-wanita juga termasuk transjender. Transjender ada pula yang mengenakan pakaian lawan jenisnya, baik sesekali maupun rutin. Ini yang membawa kita ke contoh kedua, kondisi yang disebut transvestit.

Transvestit adalah orang yang mengenakan pakaian lawan jenisnya. Istilah lainnya untuk perilaku ini adalah cross dressing-silang pakaian. Orang yang berpakaian seperti lawan jenisnya dengan tidak ada kecenderungan transeksual dan hanya mencari kepuasan psikososial (seperti mengekspresikan diri) biasanya disebut cross dresser. Kalau ada unsur mencari kepuasan atau kegairahan seksual dengan cara memakai pakaian lawan jenis (bukan cuma dipegang-pegang), ini namanya sudah beda lagi, yaitu fetishisme transvestik. Kebanyakan pelakunya adalah pria heteroseksual yang sudah menikah, wanita lebih jarang.

Tadi sudah saya sebut-sebut transeksual, yang merupakan istilah untuk contoh ketiga. Transeksual adalah orang yang identitas jendernya berlawanan dengan jenis kelaminnya secara biologis. Mereka merasa “terperangkap” di tubuh yang salah. Misalnya, seseorang yang terlahir dengan anatomi seks pria, tapi merasa bahwa dirinya adalah wanita dan ingin diidentifikasi sebagai wanita. Bedakan dengan pria transvestit yang mengenakan pakaian wanita, tapi tidak ingin berubah permanen jadi wanita. Transeksual juga tidak bisa disinonimkan dengan homoseksual. Bisa saja seorang pria transeksual tertarik pada pria lain karena merasa bahwa dia seorang wanita dan wanita mestinya tertarik pada pria.

Jadi, jangan asal sebut banci.

Sumber :
Dari berbagai sumber

Diterbitkan di:  on 9 Februari 2008 at 5:41 am Komentar (13)
Tags: , ,

Pria, Korban Perkosaan

Ketika kita menjumpai kasus perkosaan yang dipublikasikan di media, kesimpulan tentang jenis kelamin korban yang muncul di benak kita nyaris selalu adalah wanita. Memang tepat, sebagian besar korban perkosaan adalah wanita. Namun, kasus-kasus di mana yang menjadi korban perkosaan adalah pria ternyata juga ada, dan dalam hal ini yang saya maksud adalah pria yang diperkosa oleh wanita, bukan yang diperkosa oleh sesama pria.

Sarrel & Masters (1982) mendokumentasikan 11 kasus pria yang diserang secara seksual oleh wanita, termasuk beberapa kasus di mana pria dipaksa untuk bersanggama dengan pemerkosa wanita. Dalam banyak hal, kasus-kasus ini mencerminkan situasi ketika yang diperkosa adalah wanita. Dari kasus-kasus tersebut ditemukan bahwa meskipun mereka tengah berada dalam keadaan ketakutan setengah hidup, para pria tersebut masih bisa merespons secara seksual (barangkali ini termasuk kondisi ketergugahan emosi dalam level tertentu yang memicu keterbangkitan seksual). Mirip dengan situasi itu, beberapa wanita yang diperkosa juga memberikan respons seksual secara fisik (misalnya orgasme, lubrikasi vagina). Baik pada kasus pria maupun wanita yang diperkosa, tanda-tanda fisik seperti itu tentu saja tidak berarti bahwa si korban menikmati perkosaan yang dilakukan pada dirinya. Dengan demikian, mereka sebetulnya tidak perlu merasa terlalu bersalah karena telah merespons secara seksual.

Seperti halnya wanita yang diperkosa, pria pun dapat mengalami trauma pascaperkosaan dan kesulitan untuk berfungsi secara seksual setelah pengalaman traumatis tersebut. Karena pria merespons terhadap pemerkosanya, mereka bisa saja merasa tidak normal, bersalah dan mempertanyakan maskulinitas mereka (retorika umum, masa seorang pria diperkosa wanita ?).

Sangat sedikit kasus pria sebagai korban perkosaan yang dilaporkan. Hal ini tampaknya disebabkan adanya keyakinan bahwa polisi atau orang-orang lain tak akan percaya pada cerita mereka, atau malah lantaran malu berat. Aparat yang dilapori juga punya kecenderungan berpikir dari perspektif maskulin bahwa si korban bukannya diperkosa, tapi suka rela. Beberapa dari pria korban perkosaan mungkin mencari bantuan profesional atau terapi, tapi yang lain dapat saja hanya diam memendam rasa sedih, bersalah dan kemarahan.

Sumber :
Human Sexuality

Diterbitkan di:  on 14 Januari 2008 at 4:12 am Komentar (1)
Tags:

Deviasi dan Disfungsi Seksual 101

Anda barangkali pernah membaca, mendengar atau terlibat (baik langsung maupun tidak) dengan beberapa contoh peristiwa seperti ini

- Seorang pria yang berkeliling di lingkungan perumahan kemudian memamerkan organ seks dan atau ketelanjangannya pada seorang atau sekelompok wanita.

- Pemasang-pemasang iklan di koran atau majalah yang mengklaim bahwa mereka sanggup mengobati masalah ereksi yang dihadapi kaum pria dan menjadikan mereka kembali “perkasa” dan memuaskan pasangannya.

- Teman wanita yang membuka rahasia bahwa dirinya senantiasa merasa kesakitan luar biasa tiap kali berhubungan seks dengan pasangannya. Bisa terkait dengan ini, wanita yang mengaku bahwa dia tidak pernah mengalami orgasme.

Peristiwa-peristiwa di atas menurut hemat saya sudah cukup lazim ditemui dan masyarakat melabelinya dengan frase  gangguan seksual, penyimpangan seksual, dan sebagainya. Label yang diberikan masyarakat itu sebetulnya tak terlalu keliru, saya pun tidak hendak memperumit masalah. Di sini saya hanya menawarkan sedikit penjelasan mendasar mengenai kategorisasi masalah-masalah seksual agar Anda bisa lebih teliti dalam mengklasifikasikan fenomena yang Anda temui di kehidupan sehari-hari.

Secara garis besar, terdapat dua jenis abnormalitas dalam fungsi, perilaku dan respons seksual, yakni deviasi seksual dan disfungsi seksual. Deviasi seksual adalah perilaku seksual yang berbeda mencolok sekali dari standar yang ditentukan oleh suatu masyarakat tertentu. Definisi tersebut juga merupakan karakter sexual pervertion, hanya dalam sexual pervertion ada unsur pelarangan ecara khusus oleh hukum di kebanyakan negara. Deviasi seksual kerap dikaitkan dengan parafilia (secara harfiah bermakna “di luar cinta yang lazim”), yang berarti dorongan dan fantasi seksual yang berulang, intens dan atipikal, baik itu diperturutkan maupun tidak. Parafilia secara umum terbagi menjadi parafilia yang koersif (dengan pemaksaan) dan nonkoersif. Ada banyak macam parafilia. Eksibisionisme, pedofilia, inses, pemerkosaan, adalah beberapa di antaranya untuk sekedar menyebut contoh.

Pengertian disfungsi seksual adalah kesulitan dalam aktivitas seksual yang normal terkait dengan gairah dan performa seksual. Disfungsi seksual terwujud dalam berbagai gangguan seksual, yang terbagi dalam beberapa kategori, yaitu :
- Gangguan hasrat seksual atau hasrat seksual yang hipoaktif, mencakup gangguan penghindaran seksual.
- Gangguan gairah seksual (sexual arousal disorder), mencakup gangguan gairah seksual wanita dan gangguan ereksi pada pria.
- Gangguan orgasme, mencakup gangguan orgasme wanita, ejakulasi prematur, dan gangguan orgasme pria.
- Gangguan rasa sakit seksual, mencakup dyspareunia (rasa sakit pada genital selama atau sesudah sanggama) dan vaginismus (kejang otot vagina).

Nah, setelah menyimak penuturan (yang mungkin agak membosankan karena sifatnya teknis) di atas, tentu Anda bisa menentukan sendiri, yang mana saja dari contoh-contoh di awal tulisan yang termasuk deviasi seksual atau disfungsi seksual.

Sumber :
Kamus Psikologi.
Abnormal Psychology. Understanding Human Problems.