Untuk Anda yang Ingin Cepat Hamil

Secara pribadi saya sebetulnya berpendapat bahwa tidak semua pasangan suami-istri wajib memiliki anak. Soalnya sederhana, sudah terlalu banyak manusia di bumi yang daya dukungnya kian menipis ini, terlepas dari insting biologis manusia yang mendorong perlanjutan gen. Akan tetapi, manusia toh biasanya belum puas kalau belum mencoba semua cara yang mungkin. Maka dari itu kali ini saya tawarkan beberapa tips yang dapat meningkatkan kemungkinan Anda untuk berbadan dua.

1. Lakukan pemeriksaan prakonsepsi
Paula Hillard, MD, seorang profesor obgyn dari Stanford University School of Medicine, California, menyarankan sebelum Anda mencoba untuk hamil, berkonsultasi dahulu dengan dokter. Tanyakan tentang vitamin prenatal yang mengandung asam folat yang akan menurunkan resiko memiliki bayi dengan cacat pembuluh saraf. Jika Anda punya masalah medis, itu mesti dibereskan atau dikendalikan sebelum mengupayakan kehamilan.

2. Ketahuilah siklus Anda
Masih menurut Hillard, wanita harus betul-betul paham siklus mereka dan kapan saat ovulasi mereka, yaitu waktu yang paling tepat untuk dibuahi. Wanita perlu memperhatikan tanda-tanda ovulasi, seperti perubahan lendir leher rahim yang menjadi encer berair atau rasa nyeri di satu sisi. James Goldfarb, direktur klinik kesuburan di Cleveland Clinic menyarankan memakai tes prediksi ovulasi yang banyak beredar. Hari pertama periode haid dihitung sebagai hari kesatu, tes dimulai pada hari kesembilan dan seterusnya sampai mendapat hasil positif ovulasi. Wanita dengan siklus 28 hari cenderung berovulasi pada hari keempat belas, sedangkan pada wanita dengan siklus lebih panjang, lebih pendek atau tidak tentu mesti lebih banyak melakukan tes agar tidak kecolongan. Kemudian, para pengguna pil KB tidak perlu menunggu beberapa lama setelah berhenti memakai pil. Langsung mencoba hamil pun boleh-boleh saja. Cuma, pada awal-awal penghentian pil memang lebih sukar melacak ovulasi.

3. Tak perlu kelewat pusing soal posisi
Ada banyak mitos tentang posisi terbaik berhubungan seksual supaya cepat hamil, tapi sesungguhnya belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan posisi tradisional (berbaring, pria di atas) lebih maksimal ketimbang wanita di atas. Masalahnya lebih pada gravitasi. Berdiri atau duduk ketika bersanggama dapat mencegah sperma berenang ke atas, sedangkan posisi tradisional memang memungkinkan sperma berkumpul di vagina.

4. Berbaringlah setelah bersanggama
Disarankan tetap berbaring selama 10-15 menit setelah sanggama dan jangan ke kamar mandi dulu. Jika Anda menunggu sebentar, sperma yang akan menuju leher rahim bakal sampai ke situ. Tapi Anda tidak perlu sampai angkat-angkat kaki segala.

5. Jangan berlebihan
Bersanggama dalam frekuensi sangat tinggi ketika ovulasi tidak selalu meningkatkan kemungkinan hamil. Menurut Goldfarb, pada beberapa pria jumlah sperma mereka justru bisa berkurang kalau berejakulasi kelewat sering. Sperma bisa hidup sampai 72 jam setelah sanggama, jadi lebih baik melakukannya sekali tiap dua malam selama ovulasi. Tapi kalau Anda masih ingin bersanggama sering-sering, lakukan tes analisis semen setelah ejakulasi beberapa kali berturut-turut. Dengan demikian akan dapat diketahui apakah kualitas dan kuantitas sperma suami menurun jika keseringan ejakulasi. Kemudian, hal-hal yang dapat menurunkan jumlah sperma adalah pakaian ketat, jacuzzi atau berendam air panas, menaruh ponsel di dekat testis (di kantung celana) dan kedelai.

6. Minimalkan stres
Berusaha hamil bisa bikin stres dan stres bisa mengacaukan ovulasi. Itu pada wanita, pada pria stres dapat menyebabkan disfungsi seksual dan kecemasan. Jadi, lakukan apa saja yang bisa mengurangi stres agar kemungkinan untuk hamil meningkat.

7. Gaya hidup sehat
Olah raga memang baik, tapi kebanyakan olah raga bisa membuat Anda tidak berovulasi karena kemudian kelenjar pituitari berhenti memerintah indung telur untuk berovulasi. Batasannya, sih relatif, tapi olah raga setiap hari selama 45-50 menit dinilai sudah terlalu banyak. Setelah ovulasi sampai haid berikut mestinya ada jarak sekitar 14 hari. Bila jarak tersebut kian pendek, Anda perlu sedikit mengurangi frekuensi olah raga. Yang paling baik adalah berolah raga yang moderat, misalnya satu jam aerobik tiga kali seminggu. Lalu, Anda juga perlu memperhatikan santapan Anda. Kalau Anda terlalu kurus sampai tidak dapat haid, Anda perlu menaikkan bobot supaya bisa hamil. Merokok juga merupakan satu faktor yang menurunkan tingkat kesuburan.

Delapan puluh persen wanita dapat hamil dalam satu tahun setelah mencoba. Bila Anda sudah setahun mencoba dan masih belum hamil, Anda perlu konsultasi ke dokter. Khusus untuk wanita di atas 35 tahun jangka waktu mencoba sebelum ke dokter adalah enam bulan.

Semoga berhasil.

Sumber:
WebMD.com

Diterbitkan di:  on 21 Oktober 2008 at 3:17 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Detoksifikasi Seks

Biasanya istilah detoksifikasi disandingkan dengan narkotika dan obat-obatan terlarang. Intinya adalah mengeluarkan segala racun (toksik) dari tubuh kita agar kita bisa berfungsi dengan lebih baik dan segar. Nah, ketika seks sudah menjadi racun yang mengacaukan kehidupan dan hubungan, tentu perlu dilakukan detoksifikasi seks, suatu ide yang dijabarkan dalam buku Sex Detox karya Ian Kerner, Ph.D., seorang terapis seks dan ilmuwan di REDBOOK Love Network.

Apa, sih alasan yang mendasari seseorang (pasangan) untuk menjalani detoksifikasi seks? Menurut Kerner, kadang kala kita mesti menyingkirkan masalah seks untuk memahami persoalan-persoalan lain yang tertutupi oleh seks dalam suatu hubungan. Dalam suatu hubungan, seks berpotensi menyelubungi atau menjadi topeng bagi suatu problem, jadi sesekali perlu juga kita telanjangi problem itu (kalau
katanya Peterpan, “Tapi buka dulu topengmu…”). Diharapkan dengan hilangnya faktor seks, masalah yang sebenarnya akan muncul. Tanda-tanda Anda perlu mempertimbangkan detoksifikasi seks adalah antara lain ketika Anda berhubungan seksual hanya karena merasa wajib melakukannya, Anda berpura-pura orgasme (menikmati hubungan seksual) atau tubuh Anda melakukan hubungan seksual sementara pikiran Anda entah ke mana karena sudah tidak tertarik. Intinya adalah hubungan seksual yang Anda lakukan tanpa jiwa, tanpa kesenangan dan itu-itu saja, tidak ada gairah, keintiman dan koneksi cinta.

Kalau Anda merasa mengalami gejala seperti yang ditulis di atas dan berminat mencoba detoksifikasi seks, ini dia caranya. Program puasa ini berjalan selama 30 hari, setiap harinya Anda melakukan aktivitas yang berbeda, misalnya membaca, refleksi atau eksplorasi berbagai hal yang mempengaruhi kehidupan seksual Anda. Dapat juga melongok lagi foto tua keluarga untuk belajar bagaimana afeksi berperan pada masa kecil Anda atau memeriksa kesehatan Anda. Idealnya, sih pasangan detoksifikasi bersama. Namun, program ini dapat dilakukan sendiri. Sering kali bila pasangannya ada perubahan positif, yang lain mengikuti. Program ini juga tidak tertutup bagi yang masih lajang.

Kerner menyatakan bahwa manfaat yang bisa dipetik dari program ini adalah pemahaman yang lebih luas
tentang apa yang terjadi dalam urusan seks dan bagaimana itu mempengaruhi hubungan Anda dan
pasangan. Anda akan merasa lebih terhubung dan lebih mampu berkomunikasi. Dengan detoksifikasi, racun emosional akan terlepas dan memunculkan pola perilaku yang menutupi luka dan ketakutan yang lama terpendam. Bahkan meski Anda tidak tahan menjalani 30 hari tanpa seks, seks yang melanggar program bisa jadi akan panas (ingat, buah terlarang selalu lebih menarik). Tidak jelek juga, kan?

Sumber:
WebMD.com

Diterbitkan di:  on 19 Juni 2008 at 3:21 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Alkohol=Seks yang Lebih Baik?

Orang kerap kali menjadikan informasi di media massa sebagai sumber referensinya mengenai seksualitas. Namun, beberapa informasi yang disebarkan oleh media kadang bukan hanya cuma mengandung sedikit kebenaran, tapi malah bisa keliru sama sekali. Salah satu “mitos” yang beredar dan akan dibahas di sini berkenaan dengan kaitan antara seks dan alkohol. Banyak orang percaya bahwa alkohol berfungsi sebagai afrodisiak (meningkatkan gairah seksual) dan menjadikan hubungan seksual lebih baik, tapi apakah alkohol benar-benar memiliki efek tersebut?

Tidak ada efek obat yang sederhana terhadap pemakainya, alkohol pun demikian. Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa konsekuensi seksual negatif akan terjadi bila Anda minum alkohol terlalu banyak dan sering. Secara umum, efek alkohol dapat dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu efek jangka pendek, efek harapan terhadap seksualitas, dan efek sosial dan kesehatan jangka panjang. Kita mulai dari efek jangka pendek dulu. Penelitian menunjukkan bahwa segera setelah mengonsumsi alkohol, pada subjek muncul perasaan bebas dan santai sehingga mereka lebih nyaman memulai atau terlibat hubungan seksual. Alkohol dapat membuat peminumnya lebih percaya diri dan dalam takaran kecil dapat memfasilitasi komunikasi seksual dan sosial. Intinya, bila diminum sedikit saja, alkohol ditemukan memiliki dampak positif terhadap gairah seksual. Meski demikian, respons seksual berkurang bahkan ketika Anda minum beberapa kali. Alkohol memiliki efek depresif pada otak sehingga menghambat ekspresi seksual. Dalam jumlah besar, alkohol membuat hubungan seksual sukar terlaksana atau malah tidak mungkin sama sekali, sedangkan dalam jumlah sedang alkohol bisa membuat orang berperilaku seksual yang tidak aman. Alkohol juga dapat menganggu kemampuan kognitif memproses informasi yang dapat menjadi rem impuls seksual. Alkohol dapat menjadi alasan orang merasionalisasi perilaku seksual yang tidak sesuai dengan nilai yang dianutnya. Seiring meningkatnya konsumsi, baik pria maupun wanita gairah seksualnya akan kian berkurang. Pria akan sulit ereksi. Pria dan wanita akan sukar mencapai orgasme.

Lanjut ke efek harapan. Pada beberapa penelitian di mana subjek diberi minuman nonalkohol tapi diberitahu bahwa minuman itu beralkohol, peneliti mendapati subjek melaporkan peningkatan gairah seksual mirip dengan orang yang benar-benar meminum alkohol. Ini membuktikan bahwa harapan kita akan suatu efek dapat sungguh-sungguh mempengaruhi pengalaman (seksual) kita. Dan efek harapan ini tidak dipalsukan dan bukan merupakan kebohongan.

Kemudian, alkoholisme atau pemakaian alkohol kronis memiliki efek buruk pada seksualitas yang mencakup gangguan dan disfungsi ereksi, kehilangan gairah seksual dan kesulitan mencapai orgasme. Konsumsi alkohol kronis menyebabkan perubahan hormon (mengecilkan testis). Itu tadi efek primernya. Kalau contoh efek sekundernya adalah peminum kronis bisa memiliki hubungan jangka panjang yang lebih sedikit, lebih sulit mencari atau mempertahankan pasangan seksual. Masalah sosial, kesehatan dan finansial mereka juga menjadikan mereka kurang diminati sebagai pasangan seksual.

Hm, rasanya Anda perlu berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjadikan alkohol bagian dari kehidupan seksual Anda.

Sumber:
about.com
Our Sexuality

Diterbitkan di:  on 14 Juni 2008 at 4:16 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

PMS: Kutu Pubis

Kalau kutu kulit kepala, Anda tentu sudah sering mendengarnya, tapi apakah Anda pernah dengar tentang kutu pubis? Kalau belum, ada baiknya Anda teruskan membaca. Yang sudah pernah pun tidak dilarang menyimak. Pada dasarnya, setiap bagian tubuh yang ditumbuhi rambut memang berpotensi untuk diserang kutu, tidak terkecuali daerah pubis (sekitar alat kelamin). Kutu pubis dimasukkan dalam kategori Penyakit Menular Seksual (PMS) lantaran penularannya kerap melalui kontak seksual yang melibatkan area kemaluan. Bila dibandingkan dengan PMS lainnya, kutu pubis saya rasa tidak terlalu berbahaya. Namun, serangan kutu ini bisa mengakibatkan dampak yang lumayan menjengkelkan. Rasa gatal yang ditimbulkannya selain membuat penderitanya tidak nyaman, juga dapat merembet ke hal lain seperti mengganggu konsentrasi dan yang jelas bikin malu kalau kedapatan menggaruk di muka umum (walau sebelum menggaruk sudah tengok kanan-kiri).

Kutu dengan nama Latin Phthirus pubis ini termasuk kubu serangga parasit kutu penggigit. Ukurannya kecil sekali, tapi masih kasat mata. Warnanya kelabu kekuningan (kombinasi yang kurang sedap, menurut saya) dan bentuk badannya kalau dilihat dengan pembesaran tertentu menyerupai kepiting. Kutu pubis biasanya mencengkeram sehelai rambut kemaluan dengan cakarnya dan menancapkan kepalanya ke kulit di mana ia menghisap darah dari pembuluh darah yang kecil. Gejala terjangkit kutu pubis gampang saja dikenali, yaitu gatal yang tidak berkesudahan walau sudah digaruk. Pada beberapa orang bahkan bisa timbul ruam alergi setelah menggaruk dengan dahsyat yang dapat terinfeksi bakteri.

Kutu pubis sebenarnya termasuk PMS yang cukup umum dijumpai dengan prevalensi terutama pada kalangan muda (15-25 tahun), lajang dan biasanya diasosiasikan dengan infeksi menular seksual lainnya. Kutu pubis dapat hidup di luar tubuh selama satu hari kalau sudah kenyang menghisap darah. Kutu-kutu tersebut dapat jatuh ke pakaian dalam, selimut, handuk dan sebagainya. Telur kutu yang ada di pakaian dan selimut dapat bertahan sampai enam hari, sehingga orang dapat saja tertular kutu pubis karena menggunakan pakaian, handuk atau tidur di ranjang orang lain. Konyolnya, orang yang sudah bebas kutu bisa tertular ulang dari pakaian atau selimutnya sendiri yang tak dicuci dan mengandung kutu atau telur kutu. Kutu pubis dapat dijumpai pula di ketiak dan kulit kepala, biasanya karena terbawa dari area kemaluan melalui jari atau kuku.

Cara mengatasi kutu pubis adalah dengan menggunakan krim permethrin 1% yang dioleskan ke area yang terjangkit dan dibilas setelah sepuluh menit (saya kurang tahu krim antikutu macam apa yang beredar di Indonesia, tanyakan pada dokter Anda). Untuk kulit kepala dapat menggunakan sampo khusus antikutu. Pengobatan ini mesti diulang tujuh hari kemudian dan pastikan untuk mencuci baju, handuk, selimut dan lain-lain yang dipakai sebelum pengobatan. Sedangkan tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan pribadi dan pasangan, serta sedapat mungkin jangan meminjam pakaian (apalagi pakaian dalam) dan handuk orang lain.

Sumber:
Our Sexuality

Diterbitkan di:  on 24 April 2008 at 5:24 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Pemeriksaan Wajib Wanita

Pertanyaan bagi Anda kaum wanita, di luar pemeriksaan kehamilan, berapa kali Anda mengunjungi seorang ginekolog? Kunjungan yang saya maksud adalah yang bersifat profesional, tentu saja. Mayoritas dari Anda barangkali akan menjawab jarang atau tidak pernah, kecuali kalau memang punya masalah dengan organ reproduksi. Dan saya tidak heran dengan itu. Di Indonesia, jangankan mengunjungi ginekolog untuk pemeriksaan kesehatan reproduksi rutin, pemeriksaan kehamilan saja masih sulit terjangkau oleh perempuan, terutama yang termasuk masyarakat miskin dan pedalaman. Atau mungkin juga wanita banyak yang merasa cemas dan malu memeriksakan diri. Padahal dengan pemeriksaan berkala, wanita dapat mengetahui kondisi organ reproduksinya dan jika ada abnormalitas dapat segera ditangani sebelum menjadi parah.

Salah satu pemeriksaan khusus wanita yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan pelvis atau pemeriksaan internal. Pemeriksaan pelvis ini dapat digunakan untuk mendianosis kehamilan, infeksi vagina, kanker leher rahim (salah satu kanker mematikan bagi wanita), beberapa penyebab ketidaksuburan dan tumor rahim. Memasukkan diafragma dan IUD juga lewat pemeriksaan ini.

Bagaimana pemeriksaan pelvis dilakukan ? Ketika diperiksa, pasien wanita berbaring telentang di meja periksa dengan lutut ditekuk, kaki mengangkang dan tumit ditempatkan di penunjang kaki. Dokter atau perawat akan memulai pemeriksaan dengan menginspeksi struktur luar alat kelamin, mengecek labia, klitoris dan bukaan vagina untuk mencari siapa tahu ada tanda infeksi, iritasi, ruam, pembengkakan, dsb. Selanjutnya, dengan sarung tangan karet tipis pemeriksa memasukkan satu jarinya ke vagina untuk mengecek vaginismus atau abnormalitas lain (sekedar cerita, konon seorang ginekolog terkenal pernah dijepit atau terjepit jarinya di vagina ketika memeriksa pasien). Setelah itu, sebuah instrumen bernama speculum dimasukkan dalam vagina untuk merenggangkan dinding vagina. Kedengarannya menyakitkan ya? Tapi, meski beberapa wanita mungkin merasa agak tidak nyaman, pemeriksaan ini tak menyakitkan bila instrumennya diposisikan dengan tepat. Speculum ada beragam ukurannya sehingga kalau terasa tak enak sekali, pasien bisa minta ganti alat dengan yang kecilan atau lebih sempit.

Dengan speculum terpasang, leher rahim bisa diamati dan dilakukanlah pulasan Pap (Pap smear). Pulasan Pap dilaksanakan dengan mengorek area di mulut leher rahim memakai spatula kayu yang tipis. Prosedur ini sungguh tidak menyakitkan dan cuma makan waktu dua detik. Malah banyak wanita tak sadar kalau prosedur ini sudah kelar. Hasil pulasan itu diletakkan di slide mikroskop untuk dianalisis. Pulasan Pap menunjukkan cikal bakal kanker leher rahim dan abnormalitas lainnya. Umumnya, pulasan kedua juga diambil untuk memeriksa tanda mikroskopik infeksi pada sekresi vagina.

Kemudian saudara-saudara, akhirnya speculum ditarik dari vagina sementara pemeriksa melihat dinding vagina kalau-kalau ada sesuatu yang tak biasa. Nah, baru setelah itu dilakukan pemeriksaan dengan tangan. Pemeriksa memasukkan dua jarinya yang bersarung tangan ke dalam vagina, menekan ke bawah perut bagian bawah dengan tangan satunya. Dengan cara ini ia bisa merasakan ukuran, bentuk dan posisi indung telur, tube Fallopian dan rahim. Ketika pemeriksaan ini berlangsung, pasien mungkin akan merasa ada yang menekan, tapi tidak menyakitkan.

Pemeriksaan semacam itu adalah hal yang sangat privat dan tidak semua tenaga medis tanggap dan sensitif terhadap perasaan wanita ketika menjalaninya, sehingga penting bagi wanita untuk menemukan dokter atau perawat yang dapat membuatnya nyaman dan dapat berkomunikasi dengannya. Kalau si pasien tegang dan cemas menjelang pemeriksaan, otot pelvisnya juga ikut tegang sehingga pemeriksaan bisa jadi sangat tidak enak. Situasi ini dapat dihindari dengan mengajari pasien untuk relaksasi dan pemeriksaan tidak terburu-buru. Banyak pula pasien yang suka bila pemeriksa menjelaskan setiap langkah pemeriksaan padanya dan pasien bisa menonton pemeriksaan lewat cermin. Saya pribadi menyarankan jika memungkinkan si pasien didampingi suami atau teman agar tidak cemas, dengan catatan hanya kalau kehadiran pendamping bisa menyamankan pasien.

Bagi Anda para wanita yang telah aktif secara seksual, pemeriksaan pelvis dan pulasan Pap dianjurkan untuk Anda lakukan setahun sekali. Jika Anda memakai pil KB atau punya sejarah herpes genital, lakukan pulasan Pap dua kali setahun. Rekomendasi terbaru dari American Cancer Society adalah setiap wanita usia 20 ke atas harus melakukan pulasan Pap sekali setahun, bila hasilnya negatif dua kali berturut-turut baru bisa melakukan pulasan Pap per tiga tahun sampai usia 65 tahun. Pemeriksaan pelvis mesti dilakukan sebagai bagian pemeriksaan kesehatan umum setiap tiga tahun bagi wanita berusia 20-40 tahun, di atas 40 tahun perlu periksa setahun sekali. Kemudian, ini ada beberapa faktor yang akan membuat Anda perlu lebih sering melakukan pemeriksaan, yaitu hubungan seksual pertama di usia belia, pasangan seks berganti-ganti, ketidaksuburan, perdarahan tak normal, sejarah herpes genital, obesitas, pemakaian estrogen, dan kutil.

Sumber:
Human Sexuality

Diterbitkan di:  on 24 Maret 2008 at 7:16 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Status Hubungan dan Preferensi Pemakaian Kondom pada Wanita

Kondom saya kira sudah tidak asing lagi bagi Anda sekalian. Kalaupun belum pernah melihat atau menggunakan langsung bendanya, setidaknya pastilah pernah dengar namanya. Kondom, yang juga bisa disebut karet KB, sampai saat ini adalah satu-satunya alat kontrasepsi temporer buat kaum pria (kondom yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah kondom pria, bukan kondom wanita yang masih anyar itu). Kondom termasuk alat kontrasepsi yang populer, barangkali karena gampang diperoleh dan berfungsi ganda sebagai pelindung dari kemungkinan penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).
Meskipun penggunanya adalah kaum pria, wanita tampaknya turut andil dalam kepopuleran kondom. Wanita zaman sekarang (di AS dan negara-negara maju, setidaknya) kian positif sikapnya terhadap pemakaian kondom dan konon separuh dari kondom yang terjual di seluruh dunia pembelinya adalah wanita. Kecenderungan meminta pasangan memakai kondom ini wajar, mengingat wanita lebih banyak dirugikan kalau berhubungan seksual tanpa kondom. Kehamilan yang tidak dikehendaki bisa terjadi, belum lagi menyebut kenyataan bahwa wanita lebih rentan tertular PMS dan bakteri penyebab PMS lebih berbahaya bagi organ reproduksi wanita.

Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Varda Soskilne dari Hebrew University, Yerusalem, dengan subjek wanita mengikuti perawatan di sebuah klinik KB di Pennsylvania, menemukan bahwa keputusan wanita untuk meminta pasangan menggunakan kondom ternyata tidak terlalu dipengaruhi oleh alasan-alasan kesehatan yang dicantumkan di atas, melainkan oleh faktor status hubungannya dengan pria pasangannya. Gampangnya, pertanyaan apakah wanita meminta pasangan memakai kondom atau tidak bisa dijawab dengan tergantung dengan siapa dia berhubungan seksual. Kian familiar dan dekat pria tersebut, makin rendah penggunaan kondom.

Penjelasan yang diajukan adalah ketika berhubungan seksual dengan pasangan tetap (suami, pacar), wanita (keliru) percaya bahwa resiko mereka terinfeksi PMS kecil. Sebaliknya, mereka kurang percaya pada pasangan yang hanya sesekali berhubungan seksual dengannya, sehingga kecenderungan meminta pemakaian kondom lebih tinggi. Saya bukannya hendak menyuburkan benih kecurigaan pada kaum wanita, tapi kita, toh tak pernah benar-benar mengenal seseorang. Maka dari itu, dengan suami sekalipun, kalau memang tidak berencana tambah momongan, pakai kondom sajalah. Sudah cukup banyak kasus wanita yang tertular PMS dari suaminya.

Better safe, than sorry.

Sumber :
Psychology Today, Januari 1992
Our Sexuality

Diterbitkan di:  on 27 Februari 2008 at 3:38 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: , ,

Estimasi Transmisi HIV Dilihat dari Perilaku Seksual

Virus penyebab AIDS, HIV, bisa masuk ke tubuh manusia dengan berbagai macam cara. Dua yang tampaknya paling populer adalah lewat pemakaian jarum suntik secara bergantian dan melalui perilaku seksual tertentu. Ada perilaku seksual yang beresiko tinggi menjadi sarana transmisi HIV, ada yang tingkat resikonya sedang dan rendah. Berikut ini adalah daftar jenis-jenis perilaku seksual beserta estimasi resiko transmisi HIV bagi pelakunya.

1. Perilaku seksual yang lebih aman, hampir tidak ada resiko transmisi HIV, yaitu :
- Absen dari kontak seksual
- Hubungan monogami yang kedua pasangan tidak terinfeksi
- Masturbasi sendiri
- Menyentuh, memijat, memeluk dan menggosok
- Ciuman kering

2. Perilaku seksual dengan resiko transmisi HIV rendah, tapi nyata :
- Sanggama vaginal atau anal menggunakan kondom yang utuh secara benar
- Ciuman ala Perancis
- Fellatio (seks oral) tanpa ejakulasi di mulut
- Kontak alat kelamin tanpa penetrasi
- Kontak dengan urin (terutama dengan mulut, rektum atau luka di kulit)

3. Perilaku seksual tidak aman dengan resiko transmisi HIV sedang :
- Fellatio dengan ejakulasi di mulut
- Cunnilingus (seks oral, stimulasi vagina dengan mulut), terutama ketika menstruasi atau ada luka di mulut
- Berbagi peralatan atau mainan seks
- Permainan seks yang menyebabkan perdarahan

4. Perilaku seksual tidak aman dengan resiko transmisi HIV tinggi :
- Pasangan seksual yang berganti-ganti atau banyak
- Seks anal sebagai yang dipenetrasi tanpa perlindungan dengan pasangan terinfeksi
- Seks anal dengan penetrasi tangan tanpa perlindungan
- Penyemprotan (douching) anal dikombinasi dengan seks anal
- Kontak oral-anal
- Sanggama vaginal dengan pasangan terinfeksi tanpa kondom

Sumber :
Human Sexuality

Diterbitkan di:  on 28 Januari 2008 at 1:38 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Metode Kontrasepsi Apa yang Tepat untuk Anda ?

Orang memilih menggunakan alat atau metode kontrasepsi tertentu karena berbagai alasan. Yang perlu diingat adalah tidak ada metode yang 100 % efektif, tanpa efek samping, fleksibel, terpisah dari aktivitas seksual, gampang diperoleh, bisa dipakai pria dan wanita dan tak tergantung ingatan si pemakai. Oleh karena itu, penting bagi calon pemakai untuk mengetahui keuntungan dan kerugian suatu metode kontrasepsi(sebaiknya tahu banyak metode) sebelum menggunakannya (tidak dibahas di sini karena sangat panjang, mungkin secara terpisah lain kali).

Keefektifan ternyata bukan satu-satunya faktor penting dalam memilih metode kontrasepsi. Banyak faktor lain seperti kemudahan pemakaian, harga, dsb ikut berperan dalam proses ini. Satu faktor penting yang jangan sampai dilupakan adalah faktor kondisi Anda sebagai pemakai. Jika Anda saat ini aktif secara seksual dan ingin menggunakan metode kontrasepsi (atau cuma sekadar iseng), kuis sederhana ini mungkin bisa sedikit membantu Anda. Kuis ini memang hanya mencantumkan beberapa metode, tapi mudah-mudahan dapat membuat Anda mengenali karakteristik dan kondisi yang menentukan pilihan Anda.

Sumber :
Our Sexuality 

Diterbitkan di:  on 23 Januari 2008 at 6:07 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: