Perbedaan dan Persamaan antara Mimpi Seksual dan Fantasi Seksual

Pengalaman seksual tidaklah melulu mengenai perilaku seksual yang melibatkan tubuh atau fisik. Beberapa bentuk pengalaman seksual dapat terjadi dalam pikiran seseorang, dengan atau tanpa disertai perilaku seksual. Mimpi seksual/erotis dan fantasi seksual adalah bentuk pengalaman seksual macam itu. Sebagai bentuk pengalaman seksual secara mental, mimpi seksual dan fantasi seksual memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Tulisan ini mencoba mengupas beberapa di antaranya.

Pada dasarnya, mimpi seksual dan fantasi seksual sama-sama merupakan pengalaman mental yang timbul dari imajinasi atau pengalaman hidup atau distimulasi oleh berbagai hal, seperti buku, film, lukisan, dan sebagainya. Baik mimpi seksual dan fantasi seksual memiliki variasi yang sangat luas dalam segi isi, apa saja dapat masuk ke dalamnya, mulai dari ekspresi seksualitas yang dianggap normal sampai yang paling tabu dan secara normatif menyimpang. Persamaan lainnya adalah mimpi seksual dan fantasi seksual dapat menjadi cara untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi dimensi pengalaman, perasaan dan gairah seseorang.

Mimpi seksual secara umum memiliki beberapa perbedaan dengan fantasi seksual. Waktu terjadinya saja sudah berlainan. Mimpi seksual dapat terjadi saat seseorang sedang tidur tanpa diarahkan oleh kesadaran orang itu, sedangkan fantasi seksual umumnya muncul ketika seseorang tengah melamun, melakukan masturbasi atau beraktivitas seksual dengan pasangan. Dapat dikatakan bahwa mimpi seksual lebih merupakan produk alam bawah sadar atau subsadar kita, sementara fantasi seksual adalah hasil alam sadar. Perbedaan lainnya adalah fantasi seksual biasanya menggairahkan secara erotis, terbentang dengan cara yang dapat diprediksi dan fantasi seksual mengikuti suatu jalan cerita yang tidak rumit. Di sisi lain, mimpi seksual kadang tidak menggairahkan secara erotis sama sekali, biasanya mengandung kejutan-kejutan, plot yang berliku dan jalan ceritanya bisa jadi cukup kompleks. Kebanyakan orang menciptakan fantasi seksual untuk merangsang dirinya, sementara mimpi seksual datang tanpa diundang dan dapat membikin si pemimpi terkaget-kaget sendiri.

Terkait dengan konflik atau problem dalam kehidupan seksual, mimpi seksual kita menceritakan sesuatu tentang seksualitas dan relasi seksual kita, dengan cara yang lebih jauh atau mendalam daripada fantasi. Mimpi seksual dapat menunjukkan saat kita dalam masalah, bagaimana masalah bisa terjadi pada kita dan cara untuk keluar dari sana, jika kita menggunakan dan memahami mimpi tersebut dengan tepat. Sementara itu, kita dapat mengidentifikasi konflik seksual kita dengan bertanya pada diri sendiri apakah suatu fantasi tertentu membuat kita terlepas dari rasa bersalah atau malu.

Nah, ada satu jenis fantasi seksual dan mimpi seksual spesifik yang dapat menunjukkan besar perbedaan antara keduanya, yaitu dipaksa berhubungan seksual dengan segala variasinya. Fantasi tentang hal tersebut dapat terasa menyenangkan, tapi mimpi dipaksa berhubungan seksual itu amat jarang, bahkan boleh dikatakan tidak pernah, menyenangkan. Pada kebanyakan kasus, mimpi seksual lebih kompleks dibanding fantasi seksual dalam hal mengeksplorasi dan mengukur eksistensi dan sebab dari konflik seksual dan emosional. Mimpi dipaksa berhubungan seksual sering menandakan konflik mendalam, rasa bersalah dan terkadang penyiksaan seksual. Dengan kata lain, Anda perlu lebih waspada jika mendapati diri Anda bermimpi dipaksa berhubungan seksual ketimbang kalau Anda sekadar berfantasi tentang itu.

Sumber:
Our Sexuality.
Sensual Dreaming.

Diterbitkan di:  on 8 Mei 2009 at 5:52 am Komentar (2)

Adegan Film Porno yang Sebaiknya Tidak Anda Tiru

Ada banyak perilaku manusia yang dipelajari atau dibentuk tidak melalui pengalaman langsung, melainkan dengan mengamati orang lain untuk kemudian mencontoh tindak-tanduknya, salah satunya adalah perilaku seksual. Tentu saja ketika mempelajari perilaku seksual orang jarang mencontoh langsung perilaku seksual orang lain (kecuali para voyeuris alias tukang intip), melainkan mempergunakan media seperti film porno. Saya tidak dapat menyalahkan orang-orang yang belajar tentang seksualitas melalui film porno karena walaupun kini sikap masyarakat kian terbuka terhadap seks, masih sedikit sekali materi pendidikan seks sehat yang dapat diakses secara luas oleh semua orang dari segala kalangan. Sebagaimana sudah saya kemukakan dalam tulisan yang lalu, seks dalam film porno tidak merepresentasikan aktivitas seksual yang nyata dan umum, sehingga kalau Anda hendak mempraktekkan apa yang Anda lihat dalam film porno, Anda perlu mempertimbangkan dengan seksama. Berikut ini adalah beberapa contoh adegan dalam film porno yang sebaiknya tidak Anda lakukan ketika beraktivitas seksual dengan pasangan.

- Tamparan penis
Dalam film porno kerap dijumpai aktornya menamparkan penis mereka pada bokong, payudara atau wajah aktris lawan mainnya. Penjelasan yang mungkin untuk perilaku tersebut adalah untuk membantu supaya penis sang aktor tetap keras atau merupakan metode buat mendegradasi sang aktris. Apapun alasannya, sebaiknya adegan ini tidak dicontoh, setidaknya jangan dilakukan tanpa peringatan dan pasangan yang tepat. Bila Anda sulit untuk mempertahankan ketegangan penis, gunakan tangan Anda atau minta bantuan pasangan.

- Ejakulasi di wajah
Adegan paling penting dalam film porno adalah ejakulasi eksternal karena pembuat film ingin penontonnya melihat saat-saat orgasme dan mereka biasanya ingin melihat hasilnya bergelimangan di punggung, bokong, dada atau wajah sang aktris. Yang jelas, jangan pernah berejakulasi di atas tubuh pasangan tanpa memberi peringatan. Rata-rata perempuan juga tidak suka pasangannya berejakulasi di wajah mereka, meski untuk di bagian tubuh lainnya biasanya tidak terlalu dipermasalahkan sepanjang ada kesepakatan. Terkena cairan seminal di mata tidak enak rasanya dan kalau melekat di rambut sukar membersihkannya. Jadi, hati-hati dengan arah klimaks Anda.

- Posisi mesin lantak
Posisi ini dinamakan berdasarkan gerakan gulat, yang dari namanya saja sudah ketahuan bahwa posisi ini bagusnya buat bintang porno saja. Posisinya kira-kira begini: wanita menjatuhkan diri kepala duluan di tepi ranjang, kemudian mendukung dirinya dengan bahu dan leher, kaki diangkat ke atas. Prianya berdiri di depan si wanita, mengarahkan penisnya ke bawah dan mempenetrasi. Posisi ini sama sekali tidak nyaman bagi wanita dan prianya. Tidak banyak pria yang penisnya secara alami mengarah seperti itu dan gerakan yang salah bisa menimbulkan rasa sakit di daerah yang sensitif.

- Telan bulat-bulat
Atau disebut juga deep throat. Aktor porno biasanya suka menjejalkan penis mereka sedalam mungkin ke kerongkongan lawan mainnya. Tren ini jadi populer sejak munculnya film porno klasik tahun 60-an yang judulnya Deep Throat, yang ceritanya si karakter perempuan utama memiliki anomali medis, yaitu klitorisnya berada di ujung kerongkongannya dan karenanya senang-senang saja menelan bulat-bulat penis lawan mainnya. Perempuan dalam dunia nyata tentu tidak demikian, sehingga jika Anda ingin melakukan seks oral habis-habisan dengan pasangan, berundinglah dulu. Mendorong penis tiba-tiba ke kerongkongan seseorang bisa membuatnya tercekik dan muntah. Bintang porno sering sengaja mencekik pasangan mereka, tapi ini tentu tidak bisa diteladani.

- Anal tanpa persiapan
Seks anal sudah merupakan hal yang biasa dilakukan dalam film porno. Stimulasi anal bisa menjadi bumbu penyedap aktivitas seksual, tetapi jangan melakukannya dengan mencontoh mentah-mentah seks anal dalam film porno. Saya pribadi tidak menganjurkan seks anal karena amat beresiko. Namun, kalaupun Anda ingin melakukannya, jangan asal memberi ludah di penis lalu langsung dimasukkan ke anus. Aktor porno bisa saja berbuat begitu karena aktris porno otot-otot di sekitar anusnya sudah terbiasa, selain itu bukan mustahil ada adegan pengaplikasian pelumas yang tidak dimasukkan dalam film.

- Anus ke mulut
Secara akal sehat saja tidak sukar untuk memahami mengapa adegan model begini tidak perlu dicontoh. Apapun yang baru dimasukkan ke dalam anus, baik penis, mainan seks atau yang lainnya, setelahnya jangan pernah langsung dimasukkan ke dalam mulut (dan juga vagina) tanpa dibersihkan.

Pornografi memang dibuat untuk menyediakan penyaluran bagi fantasi seksual, akan tetapi tidak semua fantasi perlu dibawa ke realita. Beberapa orang barangkali tidak keberatan melakukan adegan seperti dalam film porno, tapi ingat bahwa tidak semua orang mau. Komunikasi dengan pasangan amat diperlukan agar masing-masing pihak memahami batasan yang ditetapkan dan bisa berkompromi.

Sumber:
askmen.com

Diterbitkan di:  on 22 April 2009 at 3:56 am Komentar (2)

Orientasi Seksual yang Keempat

Setelah tiga jenis orientasi seksual yang sudah umum dikenal yaitu heteroseksual, homoseksual dan biseksual, rupanya masih ada satu macam orientasi seksual lagi, meski yang ini lebih tidak banyak dijumpai. Orientasi tersebut adalah aseksual, yang kalau mau dijelaskan dengan permainan kata yakni orientasi seksual di mana seseorang tidak berorientasi seksual. Dalam salah satu tulisan saya terdahulu pernah saya muatkan tentang skala Kinsey tentang orientasi seksual, di mana heteroseksual dan homoseksual adalah dua kutub paling ekstrem dari sebuah kontinum. Nah, Michael D. Storms dari University of Kansas pada tahun 1979 mereka ulang skala tersebut. Homoseksual dan heteroseksual dipisah menjadi dua aksis (bayangkan sebuah grafik dengan sumbu X dan Y). Seorang biseksual akan memperoleh nilai yang tinggi baik pada sisi homoseksual maupun heteroseksual, sedangkan orang aseksual nilainya akan rendah pada kedua sisi tersebut.

Aseksual didefinisikan sebagai orientasi seksual untuk menggambarkan orang-orang yang tidak mengalami ketertarikan seksual. Aseksual tidak sama dengan selibat (tidak melakukan aktivitas seksual). Beberapa orang aseksual melakukan hubungan seksual dan banyak orang selibat yang bukan aseksual, misalnya pemuka agama tertentu yang tunduk pada sumpah kesucian, mereka bukan aseksual, tapi memilih untuk menekan atau mengalihkan gairah seksualnya. Aseksual juga berbeda dengan impotensi dan sikap malu-malu kucing. Definisi aseksual sendiri masih amat luas dan banyak variasi perilaku di antara orang yang mengaku aseksual. Beberapa melakukan masturbasi untuk melepaskan tegangan seksual, lainnya merasa tidak perlu. Kebutuhan untuk masturbasi terpisah dari ketertarikan seksual, jadi masturbasi dianggap sebagai mekanisme biologis belaka, bukan merupakan seksualitas yang terpendam. Orang aseksual juga berbeda dalam opini tentang aktivitas seksual. Ada yang cuek dan mau berhubungan seksual untuk menyenangkan pasangan, ada pula yang tidak mau melakukannya sama sekali. Beberapa orang aseksual mengaku, mereka bukannya tidak punya dorongan seksual. Mereka mungkin bisa bergairah, tapi tidak merasa perlu untuk berhubungan seksual. Alasan mengapa seseorang menjadi aseksual pun beragam, bisa karena libidonya memang rendah, jijik, merasa berjarak dari aktivitas seksual itu sendiri, dan macam-macam lagi. Dalam sebuah penelitian disinyalir stres sosial dapat menurunkan libido dan menurunkan minat terhadap seks pada manusia (juga primata dan domba, rupanya).

Namun, bukan berarti orang aseksual tidak dapat menikah. Orang aseksual dapat merasakan ketertarikan secara romantik pada orang lain yang sesuai dengan orientasi afeksional (perasaan sayang) mereka. Orang aseksual dapat berpacaran, bahkan sampai menikah dengan seseorang yang seksual, tapi hubungan mereka tidak membutuhkan aktivitas seksual, hanya berdasar rasa sayang. Secara kasar dapat dikatakan bahwa di situ ada pemisahan antara cinta dan seks. Jika rendahnya gairah seksual seorang aseksual menyebabkan masalah dalam hubungannya dengan seorang yang seksual, secara medis ia didiagnosis mengidap Gangguan Gairah Seksual Hipoaktif atau Gangguan Penghindaran Seksual. Salah satu kriteria gangguan tersebut adalah rendahnya dorongan seksual menyebabkan distres pribadi atau masalah interpersonal, jadi aseksualitas itu sendiri bukan penyakit atau gangguan. Gangguan di atas lebih kepada gambaran akan masalah yang boleh jadi dialami seorang aseksual dalam perkembangan diri dan hubungannya dengan orang lain.

Penelitian tentang aseksualitas sudah ada sejak era 1940-an, tapi baru pada tahun 1970-an aseksualitas dimasukkan dalam kategori orientasi seksual. Satu penelitian yang paling banyak dikutip adalah survei komprehensif tahun 1994 di Inggris yang menunjukkan hasil sekitar 1% subjeknya adalah aseksual, meski generalisasinya perlu dilakukan dengan hati-hati. Satu persen dari enam triliun penduduk dunia kan 60 juta orang. Saya kok tidak terlampau yakin orang aseksual sampai sebanyak itu, walaupun akhir-akhir ini terlihat tren peningkatan jumlah orang aseksual, mungkin karena pengaruh zaman yang memungkinkan orang lebih berani mengakui orientasi seksualnya, apapun itu. Meningkatnya jumlah orang yang mengaku aseksual diwadahi oleh berbagai komunitas, satu komunitas aseksual maya terbesar adalah AVEN (The Asexual Visibility and Education Network) yang didirikan pada 2001 dengan tujuan menciptakan penerimaan dan diskusi publik tentang aseksualitas dan memfasilitasi tumbuhnya komunitas aseksual. Kalau Anda merasa diri Anda aseksual atau tertarik dengan aseksualitas, Anda dapat mulai mencari informasi dari situs komunitas tersebut.

Yah, dari satu sisi aseksualitas paling tidak bisa berkontribusi menekan pertumbuhan jumlah penduduk dunia.

Sumber:
wikipedia
The Guardian

Diterbitkan di:  on 11 Januari 2009 at 9:08 am Komentar (2)

Cybersex, Bermanfaat atau Berbahaya?

Tidak terlalu keliru memang bila banyak orang mengasosiasikan internet dengan seks, sebab dari berbagai penelitian didapat hasil bahwa situs-situs internet yang orientasinya seksual termasuk yang paling banyak dilongok peselancar dunia maya. Setelah komputer dan peranti lunak, situs seks adalah sektor ekonomi ketiga terbesar di internet dan hal itu tak perlu diherankan karena yang mengunjungi situs seks setidaknya sepertiga pengguna internet. Yang menjadi pertanyaan, apakah mencari dan menikmati situs seks adalah indikator perilaku bermasalah dan patut mendapat perhatian dari seluruh masyarakat?

Sebagian orang berpendapat bahwa menjelajah situs seks adalah bentuk hiburan yang tidak berbahaya. Situs seks menyediakan penyaluran hasrat seksual yang aman dari kemungkinan tertular PMS dan resiko lain bila berhubungan secara nyata dengan seseorang. Selain itu, internet juga dapat menjadi media yang tepat bagi orang-orang yang ingin mengeksplorasi fantasi seksual mereka dengan cara yang aman dan privat. Pendapat demikian itu bisa diterima dan memang banyak dari mereka yang mengakses situs-situs seks melakukannya cuma sebagai rekreasi dan tidak melakukan hal-hal yang mengkhawatirkan.

Pendapat lain yang cenderung negatif muncul ketika mulai disadari bahwa ada sekelompok kecil orang yang mengakses situs seks awalnya untuk stimulasi erotik dan penyaluran gairah seksual, yang kemudian karena faktor keterjangkauan, aksesibilitas dan anonimitas di internet melahirkan perilaku kompulsi seksual kecanduan seks siber (cybersex). Kompulsi itu sendiri adalah dorongan untuk berperilaku tertentu terus menerus. Banyak dari mereka yang melakukan seks siber terpisah dari relasi yang lain dan jumlah orang-orang seperti itu terus meningkat. Belum diketahui secara pasti peran internet dalam memfasilitasi kompulsi seksual, tapi internet disinyalir menyediakan lingkungan yang cocok bagi perkembangan kompulsivitas seksual.

Riset yang dilakukan psikolog dari Stanford, Al Cooper dan kawan-kawan pada 10.000 orang yang mengunjungi situs seks menunjukkan bahwa sekitar 1% dari jumlah itu mengalami kecanduan seks siber serius. Orang-orang itu bisa menghabiskan berjam-jam setiap hari menjelajah situs seks, masturbasi sambil melihat gambar-gambar eksplisit atau melakukan chat seks mutual. Baik Cooper dan psikolog Mark Scwartz (dari Institut Masters dan Johnson) sependapat bahwa kompulsi seks siber bisa dibandingkan dengan kecanduan obat karena sama-sama merenggut kehidupan orang yang kecanduan.

Dampak kecanduan seks siber juga meluas pada orang-orang di sekitar pecandu, seperti keluarga, teman dan terutama pasangan. Pasangan pecandu dilaporkan merasa diacuhkan, ditelantarkan atau dikhianati karena perilaku kompulsi seks siber pasangannya. Beberapa pecandu terjun total dalam seks siber sampai mengabaikan tanggung jawab keluarga dan pekerjaannya. Dan kalau Anda kira pecandunya hanya pria, yah, saya sajikan hasil penelitian bahwa 20% subjek pria dan 12% subjek wanita menggunakan internet di kantor untuk tujuan seks. Bayangkan kalau aksi mereka ini tertangkap oleh monitor kantor.

Selanjutnya, kemungkinan bahaya kecanduan seks siber ini adalah ketika pecandu seks siber kopi darat dengan pasangan maya yang dikenalnya di internet. Sudah banyak cerita tentang orang-orang yang tertular PMS gara-gara berhubungan seksual secara nyata dengan pasangan mayanya atau diserang secara seksual. Wanita yang lebih riskan menghadapi bahaya seperti ini karena merekalah yang cenderung mengunjungi ruang chat seks atau menjalin hubungan di internet, sementara pria lebih suka melihat pornografi.

Seks siber mungkin membawa manfaat relatif pada sebagian orang, tapi para profesional kesehatan mental di atas telah mengingatkan bahwa seks siber juga dapat menimbulkan masalah serius kalau sampai kecanduan. Bila dalam kehidupan seks Anda ada seks siber, ingat saja bahwa seks siber hanya sebuah cara membangkitkan dan menyalurkan gairah seksual. Anda yang patut mengendalikannya, bukan Anda yang dikendalikan.

Sumber:
Our Sexuality.

Diterbitkan di:  on 29 November 2008 at 4:07 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Suara-suara Seks

Sekadar klarifikasi, yang saya maksud dengan judul di atas dan yang akan dibicarakan dalam tulisan ini adalah bebunyian yang muncul dari organ vokal manusia ketika terlibat dalam aktivitas seksual, macam erangan, rintihan, lenguhan, Anda tahulah. Jadi bukan jenis nonvokal seperti bunyi daging beradu ataupun derit ranjang, meskipun kedua tipe bebunyian itu sama-sama kerap diparodikan berlebihan dan kadang dikomersialkan (telepon saja party line). Yang menarik, bahkan di Barat pun hampir tidak ada riset ilmiah tentang vokalisasi dalam seks. Hal ini bisa jadi karena para peneliti berasumsi bahwa suara-suara itu tak lain cuma produk sampingan tatkala bergairah, atau mungkin juga lantaran mereka tidak nyaman menghadapi subjek yang begitu intens dan viseral (primitif). Namun, ada juga ilmuwan nekat yang meriset tentang suara-suara dalam seks dan hasilnya bisa Anda baca di bawah ini.

Menurut para ahli, ada dua macam suara dalam seks (meski kalau Anda sedang “panas” semua terdengar sama saja), yaitu yang berupa kata-kata (bisa omong jorok atau penunjuk jalan buat pasangan) dan suara nonlinguistik alias yang bukan berupa kata, contohnya ada di awal tulisan ini. Ada pula jeritan atau teriakan yang dilantunkan sebagian orang kala orgasme. Suara yang muncul selama berhubungan seksual pun mengalami perubahan. Awalnya mungkin dimulai dengan kata-kata atau erangan yang disadari, kemudian makin larut seseorang dalam aktivitas seksual, hilanglah batasan dan kewaspadaannya sehingga orang itu dapat memunculkan suara-suara yang bermacam-macam.

Dr. Roy Levin, ahli biomedik dan seksologis dalam penelitiannya menyebutkan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa manusia mengeluarkan suara-suara tertentu sewaktu beraktivitas seksual. Yang pertama, untuk menyampaikan informasi. Disadari atau tidak, kita menggunakan suara untuk memberi tahu pasangan tentang apa yang terjadi dalam seks. Kita bersuara untuk menunjukkan apa yang kita suka dan tidak suka, mau lebih atau kurang stimulasi, juga saat mendekati dan sedang orgasme. Yang kedua, meningkatkan gairah. Suara yang bersifat seksual bisa menambah gairah baik ketika kita yang bersuara maupun pasangan. Yang ketiga, meningkatkan kenikmatan. Para peneliti punya istilah keren untuk ini, yaitu amplifikasi hedonik. Kata mereka, suara dalam seks bisa menambah kenikmatan bukan karena suara itu sendiri, melainkan lantaran dampaknya terhadap pernafasan. Ketika orang sudah sangat bergairah dan mendekati orgasme, peningkatan suara-suara seks dapat terkait dengan hiperventilasi, sementara hiperventilasi itu sendiri dikenal bisa menghantarkan dari euforia ringan sampai kondisi mirip trans. Dan yang terakhir, memfasilitasi sistem pusat kegairahan. Hipotesis Levin adalah dengan membuat suara dalam seks manusia menyinkronkan sistem kegairahan di tubuh, intinya mengirimkan pesan-pesan ke seluruh tubuh yang berakibat peningkatan gairah sebagai respons dari pesan-pesan tadi.

Hm, mengingat fungsinya yang ternyata cukup penting dalam aktivitas seksual, beranikah Anda “bersuara”?

Sumber:
WebMD.com

Diterbitkan di:  on 15 September 2008 at 3:50 pm Komentar (1)
Tags:

Sadomasokisme, dari Penyimpangan sampai Katarsis, Bagian Tiga

Bagian ini merupakan kelanjutan dari bagian kedua yang membahas tentang subdivisi-subdivisi kultur BDSM. Di sini saya akan memaparkan aspek fisik dan psikologis BDSM, dan apa yang mungkin bisa disebut pandangan kontemporer tentang BDSM.

Dalam tingkatan fisik, BDSM terkait dengan pemberian rasa sakit fisik, penderitaan dan sensasi intens lainnya secara intensional. Praktisi BDSM sering membandingkan efek yang disebabkan pelepasan endorphin (substansi kimia yang bisa membuat orang “melayang” setelah melakukan aktiitas tertentu, seperti seks dan merupakan respon tubuh terhadap sensasi intens tertentu) ketika melakukan praktek BDSM dengan “melayang” ala pemakai narkoba atau kondisi pascaorgasme. Efek mirip trans (trance) mental ini dikatakan sangat nyaman. Seorang filsuf, Edmund Burke, menyebut sensasi kenikmatan oleh rasa sakit ini dengan kata “sublim”. Ada pula yang berpendapat bahwa area di otak yang mengatur stimulus seksual dan rasa sakit bertumpang tindih sehingga ada orang yang mengasosiasikan rasa sakit dengan kenikmatan seksual.

Kesenangan yang diperoleh dalam satu sesi BDSM sangat erat bergantung pada kompetensi pasangan yang di “atas” dan kondisi mental dan fisik pasangan yang di “bawah”. Untuk dapat berbagi pikiran dan rasa diperlukan pula saling percaya dan kegairahan seksual. Sebagian kecil praktisi BDSM malah ikut dalam sesi tidak untuk memperoleh kesenangan pribadi, melainkan semata-mata agar pasangannya terpenuhi kebutuhannya. Banyak orang terlibat dalam BDSM karena mengidamkan sensasi fisik tertentu. Untuk memperoleh kepuasan, kuncinya adalah menggubah jenis sensasi yang tepat dengan intensitas yang tepat. Ada praktisi BDSM yang mengibaratkan sensasi tertentu dengan komposisi musik, setiap sensasi bagaikan satu not musik. Jadi, kesan sensasi yang berbeda dikombinasikan untuk menciptakan pengalaman total yang senantiasa dikenang. Namun, bagi beberapa orang, bukan sensasi intensnya yang menyenangkan, tapi pengalaman menguji ketahanan dan batasan-batasan diri.

Di bagian kedua sudah saya singgung sekilas tentang hubungan yang mempraktekkan BDSM (D/s, khususnya) secara sengaja. Hubungan yang demikian itu disebut play relationship dan definisinya adalah hubungan yang dalam kehidupan kesehariannya dilingkupi oleh konsep BDSM bahkan di luar aktivitas seksual. Pasangan dengan tipe hubungan seperti ini sehari-hari menjaga keseimbangan kekuasaan dan menjadikan aspek BDSM sebagai bagian konsisten dari gaya hidup mereka. Play relationship juga disebut 24/7 relationship, maknanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu mempraktekkan BDSM. Dalam hubungan ini pasangan yang dominan mengontrol mayoritas aspek kehidupan pasangan yang submisif, dengan pengecualian pada area pekerjaan, keluarga, teman, dll. Ada satu bentuk hubungan BDSM yang paling tidak umum, yaitu total power exchange di mana pasangan dominan menguasai pasangan submisif secara total.

Saat ini keinginan atau pemikiran terkait dengan BDSM sudah dianggap normal, bahkan sehat, ketika para ahli mulai mempertimbangkan nilai potensi psikologisnya. BDSM menawarkan pelepasan energi seksual dan emosional yang bagi beberapa orang sukar dilakukan lewat seks tradisional. Menurut psikolog sosial dari Case Western Reserve University, Roy Baumeister, Ph.D. , kepuasan dari BDSM adalah sesuatu yang lebih dari seks biasa, itu bisa menjadi pelepasan emosi total. Banyak orang yang melaporkan bahwa hubungan seksual mereka lebih baik ketika dilakukan setelah satu sesi BDSM, tapi tujuan BDSM bukanlah sanggama. Buku S&M: No Longer A Pathology menyatakan bahwa satu sesi yang hebat tidak berujung pada orgasme, melainkan katarsis. Katarsis itu sendiri adalah pembebasan, pelepasan ketegangan dan kecemasan dengan mencurahkan kejadian traumatis masa lalu yang dulunya ditekan.

Terakhir, BDSM bukan hanya cara memenuhi fantasi seksual, tapi juga merupakan jalan spiritual Banyak orang mendapati bahwa rasa sakit, submisi atau dominasi membawa mereka ke kondisi mirip trans (trance) yang dalam. Dalam kondisi demikian, mereka bisa memperoleh visi dan revelasi (dibukakan matanya). Kadang visi tersebut membantu dalam hidup, ditransformasikan dalam seni dan membuat orang jadi lebih bersentuhan dengan alam dan Sang Pencipta.

Sumber:
Dari berbagai sumber

Diterbitkan di:  on 16 Februari 2008 at 5:22 am Komentar (4)
Tags: , , ,

Sadomasokisme, dari Penyimpangan sampai Katarsis, Bagian Dua

Di bagian pertama tulisan ini sudah saya jabarkan tentang sadomasokisme yang bagaimana yang dianggap sebagai penyimpangan seksual. Nah, berhubung di bagian kedua ini saya akan ungkapkan tentang sadomasokisme secara kultural, saya akan memakai istilah BDSM. Alasannya, BDSM merupakan satu singkatan yang memayungi beberapa subdivisi dalam kultur ini, yaitu B&D (bondage and discipline, kekangan dan disiplin), D/s (dominasi dan submisi), dan S&M (sadisme dan masokisme), serta memiliki cakupan perilaku yang luas.

Seperti yang sudah saya kemukakan di bagian pertama, para ahli saat ini menganggap bahwa BDSM yang dilakukan dengan adanya persetujuan kedua belah pihak bukanlah penyakit atau penyimpangan. BDSM dianggap penyakit bila terkait dengan gangguan kepribadian lainnya. Praktisi BDSM secara jelas juga menetapkan batasan antara BDSM konsensual dengan penyiksaan seksual. Yang penting adalah ada kesediaan dari masing-masing pihak. Aktivitas BDSM cenderung berbentuk “adegan” atau “sesi” yang dilakukan pada waktu tertentu di mana kedua pihak menikmati skenario yang melibatkan salah satu pihak melepaskan kontrol atau otoritas. Pihak tersebut suka rela, bukan dipaksa, melakukan hal-hal yang diminta dari mereka. Semua pihak yang terlibat menikmati sesi tersebut, meski praktek yang dilakukan (disakiti, dikekang, dll) dalam situasi normal tidak menyenangkan. Pihak yang submisif menyerahkan kontrol pada pihak dominan melalui ritual pertukaran kekuasaan. Pihak dominan biasa disebut “dom(inan)” atau “atas”, sedangkan pihak submisif dinamai “bawah” atau “sub(misif)”. Hubungan seksual (baik itu oral, anal atau vaginal) dapat terjadi dalam satu sesi, tapi tidak esensial.

Itu tadi BDSM secara umum, sekarang mari kita bedah subdivisinya secara terpisah, meskipun dalam prakteknya antara subdivisi BDSM yang satu dengan yang lain kerap tumpang tindih. Baiklah, kita mulai dari yang pertama : Bondage and Discipline. Bondage and Discipline merupakan dua aspek BDSM yang tak selalu saling mengait, tapi bisa muncul bersamaan. Bondage meliputi praktek-praktek pengekangan untuk mendapat kepuasan, biasanya (tapi tak selalu) merupakan praktek seksual. Bondage dipraktekkan dengan mengikat anggota tubuh pasangan, bisa dengan borgol atau tali (atau scarf, kalau cuma setengah niat), dapat pula dengan merantai tubuh pasangan ke jeruji perentang atau menyalibkan pasangan. Riset dengan subjek praktisi BDSM di AS menunjukkan bahwa separuh subjek pria dan banyak wanita menganggap bondage erotis.

Discipline dalam konteks BDSM prakteknya agak berbeda dengan disiplin sebagai nilai kehidupan pada umumnya, meski intinya sama : patuh pada peraturan. Istilah discipline dalam BDSM mencakup penggunaan aturan dan hukuman untuk mengendalikan perilaku pasangan. Hukuman bisa berupa fisik (dirotan), psikologis (dipermalukan), maupun kehilangan kebebasan secara fisik (dirantai). Discipline juga dapat berupa latihan terstruktur bagi pasangan yang di “bawah”. Discipline kadang dipraktekkan bersama dengan bondage dan ini membuat pembedaan antara bondage dan discipline kadang sulit ditetapkan, apalagi discipline juga kerap digabungkan dengan aspek sadomasokisme.

Sekarang kita menginjak subdivisi berikutnya, yaitu D/s, dominasi dan submisi. D/s merupakan satu set perilaku, ritual, kebiasaan berkenaan dengan memberi dan menerima dominasi satu individu atas individu lainnya dalam konteks erotis atau gaya hidup. D/s cenderung mengeksplorasi BDSM dari aspek mental. Banyak relasi manusia yang mengandung unsur D/s meski tidak dianggap sebagai penganut BDSM. Misalnya pasangan suami-istri yang istrinya amat dominan dalam kehidupan rumah tangga dan suaminya sangat penurut pada istrinya. Relasi tersebut termasuk BDSM jika D/s dipraktekkan secara sadar (sengaja) dan suka rela. Mengontrol dan dikontrol orang lain umumnya lebih ke arah dinamika kekuasaan dalam satu hubungan, ketimbang perilaku tertentu dan kadang (tapi tidak selalu) melibatkan sadomasokisme.

Sampailah kita ke subdivisi S&M, sadomasokisme. Dalam konteks aktivitas seksual konsensual, sadomasokisme merujuk pada kepuasan dan bangkitnya gairah seksual karena menerima atau menyebabkan rasa sakit, malu atau penderitaan pada orang lain. Tapi jabaran istilah ini secara psikologis tidak betul-betul akurat. Sadisme secara absolut adalah orang yang kesenangannya melukai orang tak tergantung persetujuan korbannya. Tak adanya persetujuan bisa merupakan hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang sadis murni. Seorang masokis dalam BDSM konsensual adalah orang yang menikmati fantasi seksual atau dorongan untuk dibuat menderita, baik sebagai pengganti maupun penyedap kenikmatan seksual, biasanya dilakukan sesuai dengan skenario “adegan” yang disepakati. Jadi, seorang masokis tidak menikmati rasa sakit di luar skenario, misalnya karena kecelakaan, dioperasi, dsb. Sadomasokisme tidak hanya dipraktekkan dalam konteks seksual, tapi ada juga yang nonseksual.

Sadomasokisme cenderung mengarah pada aspek fisik dalam BDSM. Fokusnya pada memberi dan menerima rasa sakit. Anda barangkali mengira bahwa permainan kekuasaan dalam S&M sejalan dengan D/s, yang berkedudukan di “atas” yang mendominasi. Namun, nyatanya kebalikannyalah yang berlaku. Kekuasaan kerap terletak pada pasangan yang di “bawah” karena dialah yang biasanya menciptakan skenario dan menetapkan batasan untuk setiap “adegan”. Si sadis dapat saja harus bekerja keras untuk menyediakan jenis siksaan sesuai dengan yang dimaui si masokis.

Agar tulisan ini tidak makin panjang, saya potong dulu di sini. Di bagian ketiga (terakhir) saya akan mengupas aspek fisik dan psikologis BDSM, dan bagaimana BDSM kini melampaui konsep tradisionalnya yang hanya mencakup kepuasan seksual belaka.

Sumber :
Dari berbagai sumber

Chatting Beraroma Seks dan Selingkuh

Kalau Anda pernah chatting di internet, yang paling standar saja, menggunakan program MIRC atau Yahoo! Messenger misalnya, maka boleh jadi Anda kemungkinan besar pernah mendapat kiriman pesan-pesan bernada “mengundang”. Entah itu berisi mengajak Anda gabung ke ruang chat tertentu yang obrolannya bersifat tripel X, atau langsung menawari Anda untuk melakukan seks di dunia maya dengan si pengirim pesan. Model lain dari seks di dunia maya ini adalah dengan masuk ke grup milis yang bertujuan untuk itu, contohnya Yahoo!’s Married_Flirting yang intinya memungkinkan orang untuk bergenit-genit dengan orang lain yang bukan pasangan nikahnya. Mulai dari main api yang levelnya cuma menyulut korek api, sampai ke tingkat yang bisa membakar rumah.

Beatriz Avila Mileham (dari University of Florida) yang meneliti tentang ketidaksetiaan online berpendapat bahwa adanya komputer mengubah cara orang berselingkuh. Katanya, ada unsur interaktif dalam ruang chat yang membuat orang-orang yang berpartisipasi lebih serius ketimbang sekadar berfantasi. Penelitian yang dilakukan Mileham melibatkan 76 pria dan 10 wanita secara kualitatif selama satu tahun. Subjek penelitian direkrut dari beberapa milis seperti yang saya contohkan di atas. Menurut para subjek, saling goda di dunia maya awalnya tidak dianggap sebagai suatu perselingkuhan. 80 % dari mereka merasa bahwa mereka hanya bicara dengan komputer. Mungkin seperti berhadapan dengan video game karena sosok yang berkomunikasi dengannya bersifat maya. Meskipun demikian, kencan di dunia maya punya tendensi untuk meningkat. 30 % subjek akhirnya melakukan kopi darat…dan nyaris semua jadi selingkuh betulan.

Ruang chat yang demikian itu biasanya dipenuhi agresivitas dan atmosfer berbau seks. Mileham sudah membuktikannya, selama penelitian dia memperoleh pengagum yang keukeuh menguber-ubernya. Namun, masih belum jelas apakah bergenitan secara maya mendorong orang untuk selingkuh. Meski demikian, Cooper dan Tangerman menemukan bahwa banyak terapis perkawinan yang mengatakan bahwa jumlah pasangan yang datang untuk terapi setelah perselingkuhan salah satu dari mereka lewat internet ketahuan meningkat secara signifikan. Dengan adanya internet, kesempatan untuk memiliki hubungan di luar pasangan nikah menjadi lebih terbuka.

Jennifer P. Schneider, doktor yang spesialisasinya di kecanduan obat dan menulis Cybersex Exposed: Simple Fantasy or Obsession ? dari Tucson, Arizona, menyatakan bahwa belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa ruang chat mengarahkan orang untuk selingkuh. Si doktor tersebut juga memperingatkan bahwa internet bisa menjadikan normal perilaku yang biasanya ditabukan. Lalu, lewat internet kita bisa menemukan orang-orang yang seminat dengan kita…dan melakukan apa saja.

Sumber :
Psychology Today Magazine
Our Sexuality

Diterbitkan di:  on 14 Januari 2008 at 4:14 am Komentar (3)
Tags: ,