Musik dan Seks

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya ketika menonton sebuah adegan dalam satu episode serial Barat. Adegan tersebut menggambarkan sepasang kekasih heteroseksual tengah berpacaran. Si wanita, dengan tipikal, sebelumnya sudah membuat si pria berjanji bahwa dalam kencan itu mereka cuma akan berbincang, saling mengenal, tak lebih. Namun, ketika lokasi kencan pindah ke rumah si pria, si wanita menuduh si pria menggodanya untuk berhubungan seksual karena musik yang diputar si pria adalah musik seks. Saya mengejapkan mata dan berpikir, apa hubungan antara musik dan seks? Dan benarkah ada jenis musik tertentu yang memiliki kualitas afrodisiak?

Salah satu bentuk hubungan antara musik dan seks saya kira dapat dilihat dari inkorporasi elemen seksual dalam musik, baik itu lirik, video musik, gaya artis, penampilan di panggung, dan sebagainya. Dari tahun ke tahun, ekspresi dan kesan seksual dalam musik tampaknya kian kental saja. Konon, sekitar lima puluh persen video musik yang beredar saat ini mengandung elemen seksual. Saya tidak perlu menjabarkan tentang lirik lagu karena mayoritas lagu yang ada bertemakan cinta, sementara seks dianggap dekat dengan cinta atau merupakan perpanjangan romansa. Kemudian, mengingat para produser rekaman banyak yang berusaha memasarkan artis dan albumnya dengan berpedoman pada kredo: seks itu menjual, tidak heran jika elemen seksual menjadi berkait-kelindan dengan industri musik.

Selain bentuk hubungan di atas, musik juga berpengaruh terhadap seks dengan cara lain, yaitu mendorong, memicu atau melatari terjadinya aktivitas seksual. Dr. Tim Griffith, seorang profesor bidang neurologi kognitif dari Newcastle University, menyatakan bahwa inti dari musik adalah emosi yang dihasilkannya. Dr. Griffith dalam penelitiannya menemukan bahwa cara otak merespons terhadap musik sama dengan cara otak merespons seks. Pengukuran aktivitas otak seseorang yang menangkap getaran musik dan pengukuran aktivitas otak seseorang yang mengalami hubungan seksual menyenangkan adalah sama persis. Dr. Daniel Nettle, juga dari Newcastle University, pada penelitiannya tahun 2005 mendapati hasil bahwa pemusik melakukan hubungan seksual dua kali lebih banyak dari rata-rata orang biasa. Lalu, jumlah pasangan seksual meningkat seiring dengan produksi kreativitas.

Nah, hal yang belum terjawab oleh Dr. Griffith dan tim penelitinya adalah mengapa suatu musik tertentu dapat menghasilkan kesenangan atau kepuasan bagi beberapa orang, tapi tidak berpengaruh pada sebagian yang lain. Ini merupakan lahan yang masih sangat terbuka untuk diteliti. Akan menarik untuk mengetahui karakteristik tertentu dari sepotong musik yang dapat membuat orang jadi bergairah. Namun, menurut pendapat saya pribadi, boleh jadi ada pengaruh faktor pengalaman dan belajar di dalamnya. Orang yang mengasosiasikan seks dengan musik tertentu yang disukainya akan lebih cenderung berpikir tentang seks ketika mendengar musik itu dimainkan. Ada perbedaan individual di sana.

Sekarang, apa soundtrack seks Anda?

Sumber:
nsrc.sfsu.edu

Diterbitkan di:  on 27 Maret 2009 at 3:57 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Slash, Sebuah Pengantar Bagian Ketiga

Di tulisan yang merupakan penutup rangkaian tulisan tentang slash ini saya akan meneruskan kajian slash dari sisi jender, kritik tentang slash dan (tidak adanya?) slash di Indonesia.

Fans dan kaum akademisi sepakat bahwa slash merepresentasi cara berpikir dan menulis ulang maskulinitas tradisional. Daya tarik slash di antaranya terletak pada penempatan tanggung jawab emosional pada pria untuk mempertahankan hubungan ketika di dunia nyata pria biasanya menghindarinya (pria, antonimnya adalah komitmen, begitulah). Slash mengangkat isu tentang tekanan sosial yang menghalangi keintiman di antara pria. Kemudian, slash merupakan bentuk kritik atas maskulinitas tradisional atau menjadi visi utopis sebuah kontinum homososial-homoerotik pria. Slash mengguncang ide konvensional tentang maskulinitas dengan memunahkan penghalang yang menghambat realisasi hasrat homoseksual, slash menguak sisi erotis persahabatan antarpria, mengkonfrontasi ketakutan yang mencegah pria mencapai keintiman. Tidak heran bila penulis slash banyak dari kaum wanita karena konsep kontinum antara ikatan homososial dan homoseksual antarperempuan tidak sedikotomis pada lelaki (gampangnya, dua wanita yang tampak lekat cenderung tidak dicap homoseksual dibanding dua lelaki yang intensitas kelekatannya sama).

Bacon-Smith berpendapat bahwa wanita menulis slash karena kultur meremehkan kepribadian wanita sehingga wanita tidak bisa membayangkan dirinya sebagai karakter heroik kecuali mereka berimajinasi sebagai pria. Pendapat tersebut diperkuat oleh Shoshanna Green, Cynthia Jenkins and Henry Jenkins. Mereka menyebut beberapa alasan untuk mengidentifikasi diri dengan tokoh pahlawan pria: ia adalah tokoh utama dan ia melakukan hal yang menarik dan menikmatinya. Sedangkan alasan untuk tidak mengidentifikasi diri dengan tokoh pahlawan wanita: pahlawan wanita tidak berharga untuk diidentifikasi dan kalaupun berkarakter tangguh, seringkali ia menggunakan tipu-tipu femininnya. Jadi wanita lebih ingin menjadi tokoh pahlawan pria, si pahlawan pria ini punya teman pria dan berikutnya mereka saling tertarik karena kepribadian masing-masing. Terciptalah formula yang dinamakan slash.

Pakar fiksi fans perintis seperti Joanna Russ, Patricia Frazier Lamb, Diana Veith dan Constance Penley berargumen bahwa wanita yang menulis slash punya agenda feminis, yakni mencoba menantang ketidaksetaraan jender heteroseksual yang biasa ada dalam literatur romantis. Veith dan Lamb secara khusus menyoroti tentang androgynitas dalam slash, yaitu karakter pria yang kerap digambarkan merupakan kombinasi dari sifat maskulin dan feminin menurut stereotipe budaya Barat atau dengan kata lain ada perpaduan jender. Contohnya, karakter pria yang tangguh, tapi lembut pada kekasihnya. Banyak fans slash berpendapat bahwa gambaran perpaduan jender pada suatu tokoh itu erotik. Kalau Anda menyukai gambar iklan pria kekar sedang memeluk bayi mungil, Anda pasti paham apa daya tariknya. Perpaduan jender tersebut tidak menunjukkan upaya untuk membalikkan konstruk jender konvensional, melainkan sebaliknya.

Sementara Catherine Salmon dan Don Symons menyatakan bahwa slash mirip dengan novel roman arus utama. Kemiripannya antar lain slash intinya adalah kisah cinta dan berakhir dengan bahagia. Walau slash lebih banyak mengandung adegan seks eksplisit dibanding novel roman, adegan seks itu fokusnya lebih ke sisi emosional dan penggunaannya sesuai plot. Slash tampaknya bukan tentang homoseksualitas pria sama sekali, melainkan fantasi perempuan tentang seks heteroseksual diwujudkan seolah dalam tubuh pria. Hal yang mirip lainnya adalah tema tentang eksklusivitas dan kecemburuan seksual. Disebutkan pula pesona slash adalah kombinasi roman tradisional wanita dengan persahabatan pria, petualangan dan pengambilan resiko.

Reaksi orang terhadap slash beragam, mulai dari bingung, terhibur, sampai menuduh penggemar slash sebagai makhluk sesat. Fans slash juga dituduh sebagai eskapis, menolak tunduk pada kepatutan masyarakat dan dianggap mengancam heteroseksualitas. Orang yang mengkritik slash sering berargumen bahwa ada kemungkinan cerita homoseksual macam itu tak baik pengaruhnya buat anak-anak yang bisa menemukannya dengan gampang di internet. Kritik terhadap slash juga muncul dari kalangan sesama fans yang tidak suka karakter pujaannya ditulis sebagai homoseks. Kritik tersebut menampakkan kepanikan terhadap homoseksual yang ada dalam masyarakat. Muncul pula dorongan agar penulis slash berupaya menggambarkan “pria nyata” dalam slash, termasuk budaya gay dan seks gay yang realistis. Namun, beberapa penulis slash tidak setuju. Alasannya, menulis tentang kehidupan gay yang “realistis” bukan tanggung jawab mereka. Barangkali ada semacam “pendekatan turis” dalam slash, yaitu seseorang merasa lebih bebas berperilaku beda di tempat yang tidak langsung relevan dengan kesehariannya dan di mana penanda tempat itu meski tidak berbeda sekali cukup untuk digeser buat menciptakan persepsi baru. Dengan kata lain, dunia gay dianggap menjadi “tempat wisata” bagi penyuka slash, yang tidak mesti diceritakan dengan realistis.

Sebagai penutup, saya sampaikan bahwa pembahasan dan penelitian tentang slash di atas adalah berlatar budaya Barat. Terus terang selama saya bergumul dengan slash belum pernah saya jumpai rekan senegara di dunia (maya) slash, hanya satu orang teman sekampus saya yang akrab dengan slash. Kami berdua menulis beberapa cerita Lord of The Rings versi slash tapi tak pernah dipublikasikan di internet. Saya jadi bertanya-tanya, apakah slash tidak eksis di Indonesia? Sejauh pengamatan saya, di internet saya juga jarang menemukan fiksi fans karya orang Indonesia, walau saya yakin ide untuk menulis berdasarkan karya tertentu bukan monopoli orang Barat. Entah itu tidak terpublikasikan (untuk fiksi fans) atau memang perempuan kita masih terikat budaya tradisional yang kuat sehingga enggan menulis fantasinya tentang percintaan gay (untuk slash), kurangnya wilayah jelajah saya, atau ada alasan lain lagi, saya tidak tahu.

Sumber:
Dari berbagai sumber.

Diterbitkan di:  on 11 Februari 2009 at 3:54 pm Komentar (5)
Tags: ,

Slash, Sebuah Pengantar Bagian Kedua

Di tulisan pertama saya telah memperkenalkan secara singkat pada Anda apa itu slash dan kenyataan bahwa penggemar slash mayoritas adalah perempuan. Nah, tulisan bagian kedua ini akan membahas sebab musabab wanita menyukai slash dan teori tentang seksualitas dalam slash (plus sekilas kajian jender untuk memancing Anda meneruskan ke tulisan selanjutnya).

Pertama-tama, kenapa wanita suka slash? Penelitian bertajuk Journal of Slash Research yang bisa dilihat di sini mengungkap sejumlah hal yang umumnya diakui fans sebagai alasan mengapa mereka gandrung pada slash. Alasan-alasan tersebut adalah unsur seks atau pornografi dalam slash, aspek emosi atau percintaannya, karakter yang di-slash itu sendiri atau hubungan antarkarakter, kebebasan (baik kebebasan seksual, sosial maupun jender), kualitas tulisan/cerita, serta slash sebagai perluasan teks atau ekspresi diri. Sedangkan alasan yang kurang umum adalah suka melihat kebersamaan pria, tidak ada beda antara fiksi heteroseksual dengan homoseksual, manfaat dari komunitas slash, alasan edukasi atau lantaran penasaran, pemberdayaan lewat slash, tidak ada karakter wanita yang mengganggu (istilahnya Mary Sue), tidak ada sosok diri di dalamnya atau justru bisa melihat pantulan diri dalam slash, suka dengan pria yang submisif dan feminin, tidak perlu cemburu pada karakter wanita dan terakhir, mengurangi homofobia.

Sebuah makalah oleh Laura Hinton menyebutkan alasan perempuan menggemari slash adalah bahwa slash itu asyik dan atraktif secara seksual, menghibur karena karakternya pria, slash itu berbeda, percaya bahwa hubungan sesama jenis lebih menarik untuk dibaca karena lebih banyak konflik, serta isu jender dalam slash seperti eksplorasi karakter pria.

Sejumlah alasan di atas ditemukan dalam penelitian yang bersifat pelaporan diri (self report). Sementara itu para pakar juga memiliki berbagai macam konsep dan teori untuk menjelaskan pesona slash bagi wanita (serta implikasi keberadaan slash) yang bisa dikaitkan dengan unsur jender dan seks (dua hal itu kerap saling mengait dalam slash), media dan komunikasi, sampai teori literatur. Slash memang telah menjadi subjek kajian yang menarik minat para akademisi dan jurnalis.

Kita mulai dari masalah seksualitas dan jender dalam slash. Bersiaplah untuk pembahasan yang panjang lebar. Joanna Russ, seorang novelis pada 1980-an menyebut slash sebagai pornografi oleh wanita, untuk wanita, dengan cinta atau dapat dikatakan pornografi feminin. Senada dengan pendapat itu, beberapa ahli menyebut slash pornografi romantik. Slash disebut demikian dengan alasan bila wanita mestinya mendapat kepuasan emosional dari novel roman dan pria mendapatnya dari pornografi, slash menawarkan gabungannya, yaitu pornografi romantik. Telah ditarik hubungan paralel antara wanita yang menikmati slash dengan pria heteroseksual yang menonton film porno lesbian. Namun, ide bahwa wanita dapat memiliki minat menyaksikan pria gay bercinta dianggap melanggar kesepakatan umum bahwa wanita seharusnya tidak boleh begitu dan tubuh pria tidak bisa diobjektifikasi seperti itu. Justru pelanggaran batas itulah yang jadi daya tarik slash buat sebagian wanita.

Sementara pria tertarik pada tubuh bugil cewek lesbian untuk satu alasan saja, penyuka slash akan berkilah bahwa minat mereka lebih luas dari itu. Banyak fans slash yang mengindikasikan bahwa keintiman dan bukannya seks yang menarik minat mereka terhadap slash. Banyak pula cerita slash yang tidak mengandung adegan seks, hanya keintiman atau isyarat tentang seks. Slash mirip dengan novel roman dan erotika tradisional perempuan daripada pornografi untuk pria karena sering kali kisah cintanya lebih penting daripada adegan seks. Meski demikian, bukan berarti seks tidak menjadi daya tarik slash. Ketika ada dua karakter pria yang atraktif, mereka dua kali lebih atraktif bila digabungkan dan bercinta dengan panas. Wanita menggunakan kekuatan mereka dalam slash dengan menseksualisasi dan mengobjektifikasi tubuh pria yang biasanya mengobjektifikasi mereka, slash juga membuat wanita merasa lebih punya kekuatan dengan mengekspresikan hasrat seksual. Dalam bukunya Textual Poachers, Henry Jenkins menyebutkan bahwa slash adalah proyeksi fantasi dan hasrat seksual wanita ke dalam tubuh pria. Ia enggan menyebut slash sebagai pornografi. Walau demikian, bagi pembaca slash berlembar-lembar cerita menuju adegan seksnya bisa sama erotisnya dengan membaca adegan seks itu sendiri. Mayoritas cerita slash pun lebih menekankan pada kualitas emosi dalam hubungan seksual daripada aktivitas seks secara mendetil dan lebih berfokus pada sensualitas. Jadi, slash bisa saja disebut pornografi revolusioner untuk wanita.

Laura Hinton dalam makalahnya menyimpulkan bahwa teori feminis dan homoseksual umum dapat diaplikasikan dalam slash dengan beberapa cara. Pertama, slash dilihat sebagai medium di mana wanita dapat mengeksplorasi jender sebagai konstruksi sosial. Slash juga menjadi medium bagi wanita untuk menciptakan literatur sendiri. Lalu, slash bisa menjadi jalan bagi wanita untuk mendeobjektifikasi diri mereka. Slash memberi wanita ruang individu bagi karya-karya mereka, serta menyediakan pilihan untuk eksplorasi seksual tanpa objektifikasi wanita. Selain itu slash dapat dilihat sebagai kontrahegemoni.

Untuk kelanjutan pembahasan mengenai perspektif jender dalam slash, Anda dapat melihat tulisan bagian ketiga.

Diterbitkan di:  on 4 Februari 2009 at 3:34 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Slash, Sebuah Pengantar Bagian Pertama

Saya tahu di satu waktu saya harus menulis tentang slash, soalnya ia adalah salah satu penyebab saya jadi tertarik pada seksologi. Namun, saya mengalami dilema, apakah harus menulis berdasarkan bahan-bahan akademik (yang ternyata banyak juga) atau opini pribadi hasil pengalaman beberapa tahun berkecimpung dalam dunia slash. Akhirnya saya putuskan untuk mengolaborasi keduanya dan jadinya adalah tulisan yang saya bagi dalam beberapa bagian ini (karena tentu saja, sekali saya bicara tentang slash sukar distop).

Slash secara literal artinya adalah garis miring (garing). Slash yang saya bicarakan ini tentu saja bukan sekadar tanda baca, meski ada hubungannya. Definisi slash secara bebas adalah jenis karya buatan fans yang mengandung hubungan romantik dan atau seksual antara dua (atau lebih) karakter sesama jenis yang diambil dari media atau figur publik (buku, film, serial teve, komik, band, aktor dan sebagainya). Genre tersebut disebut slash karena tanda garis miring antara dua (atau lebih) karakternya yang menunjukkan mereka memiliki hubungan homoerotik dalam karya tersebut. Misalnya kalau Anda menemukan Harry/Draco berarti siap-siap disuguhi karya yang bertemakan hubungan cinta Harry Potter dan Draco Malfoy (kalau Anda kira ini sudah aneh, Anda salah besar). Secara umum, slash fiction (karya fiksi bertema slash) adalah yang paling mudah dan banyak dijumpai di berbagai situs di internet, meski karya slash vid (video bikinan fans dengan tema slash) dan slash art (bisa berupa manipulasi gambar atau lukisan/sketsa/kartun buatan sendiri) juga bertebaran. Karena itu, untuk selanjutnya ketika saya menyebut slash saya merujuk pada slash fiction. Yang jelas, slash adalah sesuatu yang sukar dihindari lantaran hampir semua fandom (dunia fans dan segala aktivitasnya) mengandung slash, apalagi yang sifatnya potensial untuk di-slash, seperti ada dua atau lebih karakter pria utama.

Konsep slash itu sendiri masih kerap menimbulkan perdebatan antarfans dari segi pembatasan apa yang masuk di dalamnya, barangkali karena konsep slash yang ambigu. Salah satu perdebatan yang jamak terjadi adalah apakah slash itu khusus hanya untuk menyebut hubungan antarpria atau juga mencakup antarwanita. Sebagian fans menganggap slash cuma mencakup kaum pria dan karya bertema cinta sesama wanita disebut femslash. Kemudian, isu lain yang dipermasalahkan adalah apakah slash itu hanya untuk pasangan yang di luar ketentuan (canon) karya asli. Contoh kasusnya: apakah fiksi tentang Brian/Justin yang memang dikisahkan homoseksual dalam serial Queer As Folk bisa dianggap slash. Ada pula yang berpendapat bahwa slash itu meliputi semua karya dengan tema seksual-romantik dan pasangan dalam karya itu tidak harus homoseksual (Oryn/Ezra Standish, untuk menyebut contoh yang sangat khayali). Selain itu, sejumlah fans menyempitkan batasan bahwa yang disebut slash itu bila penulis dan pembacanya adalah wanita (akan saya bahas nanti). Dan setahu saya beragam silang pendapat di atas masih lestari.

Slash memiliki subkategori yang klasifikasinya dilihat dari kandungan dalam karya tersebut. Misalnya, suatu cerita fiksi yang disebut “lemon” berarti mengandung adegan seks yang eksplisit antarpria (ekuivalennya untuk seks lesbian adalah “lime”). Penulis slash biasanya mencantumkan rating pada karya mereka yang berdasarkan pada rating film dari MPAA, yaitu G, PG, PG-13, R atau NC-17. Cerita dengan rating PG mungkin cuma tentang dua tokoh pria yang berteman tapi suka lirik-lirikan, sementara cerita yang dilabel NC-17 adegan seksnya bisa membikin Anda panas dingin (banyak panasnya, barangkali) dan boleh jadi butuh konfirmasi umur Anda sebelum Anda diizinkan mengakses.

Kemunculan slash dipercaya oleh banyak orang berawal dari majalah fans Star Trek: The Original Series yang memuat cerita dengan tokoh Kirk/Spock pada akhir 1970-an. Pada zaman itu slash disebarkan utamanya lewat majalah fans, surat-suratan dan dari teman ke teman sesama fans. Kini slash dipublikasikan di situs-situs internet dan bisa diakses oleh siapapun dari seluruh penjuru dunia (termasuk oleh si selebriti yang dijadikan objek slash, kadang-kadang). Komunitas slash juga tumbuh dengan amat subur dan dinamis di dunia maya.

Menilik definisinya, Anda boleh jadi berasumsi bahwa orang yang aktif, tertarik dan terlibat dalam dunia slash itu adalah kaum pria homoseksual. Anda keliru berat kalau berpikir demikian, sebab faktanya slash adalah “teritori” kaum hawa, tak peduli orientasi seksualnya. Walau tidak menafikan sejumlah pria gay (dan pria heteroseksual juga, mungkin?) yang terjun dalam dunia slash, dari berbagai survei terlihat bahwa mayoritas penulis dan pembaca slash adalah perempuan. Boleh dibilang, slash adalah karya dari wanita, oleh wanita, untuk wanita. Mengapa bisa demikian? Di tulisan bagian kedua dan ketiga saya akan membahas mengenai hal tersebut, juga menyertakan beberapa penelitian akademis mengenai slash.

Diterbitkan di:  on 27 Januari 2009 at 4:20 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Seks (Tidak Selalu) Menjual

Topik ini muncul dipicu oleh ingatan samar saya akan sepotong adegan dari serial teve Queer As Folk (ya, serial tentang homoseksual itu). Dalam adegan itu, tokoh Brian Kinney yang pekerja bidang pariwara berusaha menjual konsep iklannya dengan merombak total konsep terdahulu, menggantikannya dengan iklan yang kental dengan aroma seks. Saya tak begitu ingat apakah upayanya berhasil atau tidak. Yang jelas, adegan itu menuntun pikiran saya pada kesadaran begitu banyak iklan-iklan berbau seks yang berhamburan di media masa, mulai dari yang implisit sampai eksplisit, dari yang produknya berhubungan dengan seks sampai yang rasanya tak punya kaitan (contoh, pompa air, kalau yang diiklankan itu pompa penis saya akan lebih maklum). Dan pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, apakah seks itu betul-betul bersifat menjual? Soalnya para pembuat iklan itu saya kira juga tidak bodoh-bodoh amat dan sebelum iklan dipampangkan ke muka publik tentunya sudah ada uji responden. Bila konsep seks dinilai berpengaruh negatif, pastinya iklan tidak akan menggunakan itu. Jadi, para pembuat iklan percaya bahwa seks dapat menjual produk, tapi apakah kenyataannya demikian?

Kita lihat fenomenanya. Iklan hadir dalam kebanyakan media atau berdiri sendiri, misalnya dalam bentuk billboard, dan keduanya sama-sama membombardir ruang visual dan audio kita. Gambaran seksual dalam iklan didesain untuk menangkap perhatian dan selanjutnya menjual produk. Iklan berbau seks berdasar pada janji palsu bahwa cinta atau seks atau keduanya akan hadir seiring dengan memiliki produk tertentu. Kebanyakan iklan berbau seks menyempitkan makna seks dan menguatkan ide bahwa hanya tubuh yang muda dan kencang yang layak jadi perhatian (pernah lihat eyang-eyang jadi model celana dalam?), kecuali pada iklan-iklan tertentu untuk generasi yang lebih matang.

Penggunaan seks untuk menjual biasanya berhasil. Contohnya pada tahun 1980-an ketika Brooke Shields mengiklankan produk celana jins dan di iklan tersebut mengaku dia pakai jins itu tanpa celana dalam, penjualan jins merek itu meningkat. Atau pada kasus saya, salah satu iklan yang saya ingat benar adalah iklan parfum Axe versi adegan panas (quickie?) di lift. Seks dalam iklan tampaknya paling efektif bila produk yang diiklankan secara intrinsik terkait dengan seks, misalnya parfum dan pakaian dalam. Saya dapat menawarkan penjelasan ala mahasiswa psikologi tingkat satu untuk ini, yaitu terkait dengan teori belajar asosiasi. Ketika diberi dua stimulus secara bersamaan, orang belajar mengasosiasikan kedua stimulus tersebut.

Namun, kembali ke pertanyaan di atas, apakah seks selalu menjual? Rupanya, ketika gambaran tentang seks dimunculkan pada iklan produk yang tidak terkait dengan seks, gambaran tentang seksnya itu yang lebih diperhatikan daripada produk yang diiklankan. Penelitian telah menguak bahwa program televisi yang kuat kandungan seksualitasnya membuat perhatian pemirsa teralih dari produk yang diiklankan. Desain penelitian yang dilakukan ringkasnya adalah meminta subjek menonton dua jenis acara, yang satu netral, yang lain bermuatan seksual, kemudian subjek diminta mengingat iklan yang ditayangkan di sela acara. Hasilnya, subjek yang menonton acara netral lebih mampu mengingat iklannya. Kemudian, penelitian lain menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam mengingat merek produk antara subjek yang diberi iklan netral dan subjek yang diberi iklan bermuatan seksual. Penjelasan ala mahasiswa psikologi tingkat satu untuk ini berhubungan dengan teori persepsi, yaitu stimulus yang lebih menarik kemungkinannya untuk dipersepsi akan lebih tinggi. Bila digabungkan dengan iklan produk yang tidak terkait dengan seks, terang saja elemen seksnya yang lebih diperhatikan (soalnya jarang ada orang yang tidak tertarik pada seks). Dan kalau mau ditambahi teori ingatan, penjelasannya adalah apa yang dipersepsi sebagai menarik akan lebih diingat.

Jadi, elemen seks yang digunakan dalam iklan ternyata tidak selalu menjual. Efektivitasnya tergantung pada berbagai faktor, di antaranya jenis acara yang diselipi iklan, jenis produk yang diiklankan dan jenis kelamin orang yang terpapar iklan (pria lebih cenderung ingat iklan berbau seks daripada wanita).

Sumber:
Our Sexuality
psyblog

Diterbitkan di:  on 29 Desember 2008 at 6:18 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Zona Erogen dalam Mode

Secara teknis, seperti yang sudah saya bahas di salah satu tulisan yang lalu, zona erogen berarti daerah tertentu pada tubuh yang peka terhadap stimulus seksual dan bila disentuh dapat membangkitkan gairah. Zona erogen dasar yaitu penis dan kemaluan wanita tidak ditekankan dalam mode pakaian ala Barat (kecuali codpiece pada abad keenam belas, itupun lebih condong sebagai simbol vitalitas ketimbang seksual). Namun, bagaimana menjelaskan fenomena zona erogen sebagai kekuatan paling provokatif dalam mode pakaian wanita (mode pakaian pria pada umumnya tampak jelas mengelak menekankan zona erogen)?

Menurut Harold Koda, direktur asosiasi dari Costume Institute, semua zona erogen tergantung pada kecenderungan kita berfantasi. Contohnya, ketika wanita sudah lama memakai rok sangat mini, pria jadi terbiasa melihat paha-paha (baik yang mulus maupun tidak) berseliweran. Begitu zaman celana jin sobek moncer, sepotong kulit yang tersingkap di sela koyakan celana jadi pusat perhatian. Itulah sifat dari penzonaan erogen dalam mode. Bukan sekadar asal bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan sekwilda (sekitar wilayah dada) atau model berbuka-bukaan lainnya, penzonaan erogen adalah tentang membuka sepotong kulit secara strategis yang kemudian diperhitungkan dalam pikiran. Penzonaan erogen bahkan telah eksis dalam mode wanita sebelum istilahnya ditemukan. Area yang biasa ditonjolkan adalah area yang menunjukkan karakter seks sekunder, mencakup dada, pinggul, bokong dan selanjutnya pinggang, punggung, kaki, pergelangan kaki dan bagian depan badan.

Dengan kata lain, zona erogen dalam mode bisa jadi sedikit berbeda maknanya dengan zona erogen secara teknis dalam literatur seksual. Zona erogen dalam mode dapat berawal dari zona erogen teknis (baik primer maupun sekunder), bisa juga tidak, yang kemudian mendapat penekanan dalam berpakaian dan menimbulkan kesan sensual (atau seksual) karena pengaruh persepsi orang yang melihatnya. Anda pernah melihat gambar atau lukisan geisha berkimono dan merasa heran, apanya dari mereka itu yang bisa dibilang sensual mengingat kimono yang panjang, tak berbentuk, berlapis-lapis pula. Pria Jepang zaman dulu rupanya mengapresiasi bagian belakang leher geisha sampai ke punggung atas, yang memang ditonjolkan dengan model kimono yang agak terbuka di bagian itu.

Zona erogen dalam mode wanita mengalami perkembangan dari masa ke masa. Pada abad keempat-lima belas bagian perut yang menggembung seolah sedang hamil karena model gaun yang berlapis disukai. Pada abad kedelapan belas, awal dari relasi sosial dan seksual modern, pakaian wanita mulai lebih terbuka. Pada zaman kerajaan, payudara disangga di atas korset dan puting diekspos di sela tudung, sementara pada era Victoria ketelanjangan transparan tadi berubah, pinggul dan bokong dikebat dalam rok berangka rumit. Bagian bawah kaki akhirnya diekspos pada tahun 1920-an, ketika istilah zona erogen dirumuskan. Seorang murid Freud bernama J.C. Flugel menawarkan ide bahwa area di tubuh yang bermuatan seksual mengalami pasang-surut sebagai jalan mempertahankan minat, area tersebut dinamainya zona erogen. Sampai sekarang sejarahwan mode terus berdebat tentang apakah perubahan penzonaan merefleksikan perubahan minat pria pada bagian tubuh wanita ataukah dorongan mode yang menuntut keterbaruan.

Apapun zona erogen yang populer dalam mode berikutnya, kejutan personal dan kultural yang muncul sesudahnya akan memaksa kita menata ulang penilaian kita akan tubuh dan apa yang membuatnya indah. Mungkin, tatkala kita sudah melihat semua bagian tubuh dibuka dan sedikit sekali yang tersisa, kita akan saksikan mode pakaian yang mulai menutup.

Sekadar catatan, sepertinya para perancang UU Pornografi tidak memperhitungkan zona erogen dalam mode ketika memformulasikan definisi pornografi sebagai “menyiratkan ketelanjangan dan membangkitkan hasrat seksual” dalam UU tersebut.

Sumber:
Psychology Today.

Diterbitkan di:  on 13 November 2008 at 3:12 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Serat Centhini

Pernah saya menyusuri satu jalan di Yogyakarta yang terkenal dengan kios-kios buku yang berjajar di hampir sepanjang tepi jalan tersebut. Waktu itu saya ke sana untuk mencari buku Serat Centhini edisi bahasa Indonesia. Saya pulang dengan tangan kosong, plus ingatan akan tampang setiap pedagang buku yang senyum-senyum aneh begitu saya menyebutkan judul buku yang saya cari. Kesimpulan sederhana saya adalah reaksi penjual buku itu tampaknya mewakili persepsi masyarakat mengenai Serat Centhini, yaitu kitab seks kuno dari Jawa. Padahal setelah saya membaca beberapa bagian Serat Centhini (selain bagian adegan seks), saya pikir julukan “ensiklopedi kebudayaan Jawa” yang disematkan pada kitab tersebut sungguh tepat. Serat Centhini, pembaca sekalian, lebih dari sekedar kitab seks belaka.

Serat Centhini (yang nama resminya Suluk Tembang Raras) terdiri dari 12 jilid, kalau diketik bisa mencapai 4.200 halaman folio, termasuk naskah nusantara paling tebal. Serat Centhini ditulis mulai tahun 1814 sampai 1823 oleh satu tim yang diprakarsai oleh raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V dan beranggotakan tiga pujangga kerajaan. Konon, Paku Buwana sendiri yang menangani seluruh adegan seksnya. Ada enam versi Serat Centhini berbahasa Jawa (dalam tulisan Jawa pula) dan sepengetahuan saya ada satu versi yang sudah dilatinkan lengkap 12 jilid (masih dalam bahasa Jawa, tentu). Nah, Serat Centhini yang disadur ke bahasa Indonesia baru ada 10 jilid, jilid 1-4 diterbitkan Balai Pustaka, sedangkan jilid 5-10 diterbitkan UGM. Mudah-mudahan saja proyek penerjemahan itu bisa dituntaskan sampai jilid 12. Kalau Anda tertarik membaca versi ringkasnya dalam bahasa Indonesia tapi sudah direinterpretasi di sana-sini, 4 jilid buku karya Elizabeth Inandiak bisa dilirik.

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, Serat Centhini tidak hanya berisi adegan dan ajaran seks, melainkan berbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat Jawa pada abad kesembilan belas. Segala unsur kebudayaan ada di situ, mulai dari adat istiadat, tata cara, psikologi, arsitektur, sejarah, geografi, farmasi, pengetahuan alam, makanan, seni, filsafat, sampai ilmu berbau mistik. Ilmu agama Islam pun ada di situ, meski Mohammed Rasjidi dalam disertasinya menyatakan bahwa ajaran Islam dalam Serat Centhini banyak ngawurnya. Namun, sepertinya bagian seks (yang juga cukup banyak) itu yang paling diingat orang.

Berbeda dengan Kama Sutra atau Ananga Ranga, seksualitas dalam Serat Centhini tidak dituangkan dalam bentuk panduan langsung seperti buku manual, melainkan dijalin ke dalam rangkaian plot yang berwarna-warni. Adegan seks dalam Serat Centhini barangkali lebih vulgar daripada stensilan porno, tetapi cara penggambarannya yang deskriptif itu justru terasa segar, sering lucu dan sesekali hiperbolis. Gaya penceritaannya khas orang Jawa, blak-blakan dan mengena, kadang bikin kita geleng-geleng kepala. Sekilas pandang, tampaknya stereotipe gender tentang seks didobrak oleh Serat Centhini, yang terlihat dari tokoh-tokoh wanita yang mengidap deviasi seksual (hiperseks dan eksibisionis) dan beberapa kali digambarkan bahwa wanita bisa menjadi inisiator hubungan seksual. Namun, kita tidak bisa sembarangan mengambil kesimpulan demikian mengingat penulis Serat Centhini adalah pria dan apa yang ditulisnya bisa jadi fantasi belaka (seperti wanita yang menggemari fiksi cinta sesama pria dan pria menyukai adegan wanita bercumbu dengan sesamanya). Satu hal lagi, Serat Centhini adalah satu-satunya naskah kuno yang menggambarkan hubungan homoseksual (penetrasi anal) dengan deskriptif. Ini membuktikan bahwa homoseksualitas sudah ada sejak berabad-abad lalu di Indonesia.

Dan Anda mau tahu resep ala Serat Centhini (yang sama sekali tidak terjamin secara medis) untuk menyembuhkan sakit gonorrhea? Masukkan saja penis yang sedang ereksi ke dalam liangnya kuda betina…

Diterbitkan di:  on 8 Mei 2008 at 5:04 am Komentar (2)
Tags:

Sejarah Sabuk Kesucian Wanita

Pemerintah akhir-akhir ini tampaknya sedang getol-getolnya membikin peraturan dan melancarkan berbagai tindakan dengan alasan memperbaiki atau menjaga moral bangsa. Setelah ribut pro-kontra RUU Antipornografi, muncul upaya memblokir keberadaan dan akses ke situs-situs porno. Itu yang skalanya nasional. Pemerintah daerah tak mau kalah dengan membikin aturan sendiri, misalnya yang membuat wanita yang “mencurigakan” bisa digelandang dan dituduh pelacur. Dan yang terbaru, menganjurkan perempuan pekerja di panti pijat menggembok celana dalam mereka. Saya tidak hendak ikut bersuara mendukung atau menolak, tapi mumpung isunya sedang hangat, saya ingin memaparkan sejarah sabuk kesucian (wanita).

Sabuk kesucian adalah suatu jenis sandang berpengunci yang dirancang untuk mencegah terjadinya sanggama dan masturbasi. Barang ini sebenarnya telah diciptakan baik untuk pria maupun wanita, tapi yang akan dibahas di sini adalah yang khusus untuk wanita. Sabuk kesucian berawal dari pemikiran tentang menjaga kesetiaan seorang wanita, yang menurut biologi evolusi dianggap penting untuk memastikan suksesi gen pria dan keselamatan hidup wanita. Sabuk kesucian aslinya dikembangkan untuk melindungi wanita dari perkosaan, tapi pada prakteknya malah digunakan para suami pencemburu untuk mencegah istrinya berselingkuh. Tentu saja, kalau sang istri pintar (dan memang sudah berikhtiar selingkuh), dia akan membikin kunci cadangannya.

Ada mitos yang menyebutkan bahwa sabuk kesucian digunakan pertama kali oleh para istri ksatria Perang Salib, akan tetapi tidak ada bukti adanya sabuk kesucian sampai sekitar abad kelima belas, lebih dari seabad setelah Perang Salib. Ada sumber yang menyatakan sabuk kesucian kemungkinan dikembangkan di Italia pada abad keempat belas. Sabuk versi abad pertengahan ini terdiri dari simpai logam berkunci yang melintasi bagian depan dan belakang panggul wanita dengan lubang-lubang kecil untuk pembuangan, tapi efektif untuk menghalangi sanggama. Penggunaan sabuk kesucian pada masa itu terbatas karena pandai logam dengan keahlian logam yang belum secanggih sekarang kesulitan membuat sabuk yang bisa (dan nyaman) dipakai dalam waktu lama.

Di dunia barat, sabuk kesucian pertama kali disebut-sebut dalam bukunya Konrad Kyeser von Eichstätt, Bellifortis pada sekitar tahun 1400-an. Di situ ada gambar celana besi perempuan Florentina. Sabuk dalam gambar tersebut tampak berat dan kikuk, beda dengan model sabuk kesucian yang lebih maju. Sayangnya buku tersebut tidak diperkuat dengan bukti atau dokumen lain. Baru pada 1889 sebuah sabuk berbahan kulit dan besi ditemukan kolektor barang antik Jerman, A. M. Pachinger di Austria, tepatnya di kuburan seorang wanita muda yang diperkirakan dimakamkan pada abad keenam belas. Beberapa jenis sabuk semacam itu pernah dipamerkan di museum di kota-kota besar Eropa, tapi ditarik karena diragukan otentisitasnya. Pergeseran tujuan pemakaian sabuk terjadi pada tahun 1700-1930 ketika masturbasi dinilai berbahaya bagi kesehatan. Selama kurun waktu tersebut dapat ditemukan banyak usulan penggunaan alat sejenis sabuk kesucian dalam jurnal medis untuk mencegah anak dan remaja bermasturbasi. Malah cukup banyak juga alat semacam itu yang dipatenkan.

Sabuk kesucian tampaknya bukan monopoli budaya Barat saja. Di Indonesia, tepatnya di Jawa, ditemukan alat penutup kelamin wanita terbuat dari emas bernama bhadong milik Mangkunegaran. Alat ini harus dikenakan wanita bangsawan yang akan bepergian atau ditinggal suaminya pergi. Namun, tidak disebutkan dari abad keberapa alat tersebut berasal. Tahun lalu, Komisi HAM Asia mengeluarkan pernyataan bahwa di Rajasthan, India, wanita dipaksa mengenakan sabuk kesucian.

Sabuk kesucian pada zaman modern meski masih digunakan oleh segelintir orang untuk mencegah perkosaan, perselingkuhan atau masturbasi, juga digunakan dalam aktivitas BDSM sebagai salah satu bentuk permainan seksual dan penyerahan kontrol perilaku seksual. Bahan yang digunakan bermacam-macam, mulai dari plastik (bisa dibeli di toko aksesori seks), kulit, sampai baja antikarat yang didesain khusus. Sabuk kesucian zaman sekarang umumnya berupa sabuk yang melingkari pinggang dan pelindung yang menutup area genital, dengan berbagai variasi model dan tentu saja lebih memperhatikan higienitas, kenyamanan dan keamanan (ada yang sampai sukar ditembus pemotong gerendel segala).

Omong-omong soal sabuk kesucian, ingatan saya mau tak mau jadi tertambat pada film Robin Hood: Men in Tights nan kocak itu. Terutama adegan terakhirnya. Syahdan, dikisahkan Robin Hood yang sudah ngebet ingin bermalam pertama dengan istri tercintanya, Lady Marian, terpaksa gigit jari. Soalnya konyol, kunci gembok sabuk kesucian sang Lady (yang bermerek Everlast) raib entah ke mana…

Sumber:
Dari berbagai sumber

Diterbitkan di:  on 14 April 2008 at 7:13 am Komentar (2)
Tags:

Erotika dan Pornografi, Samakah?

Ayu Utami dalam kolom bahasanya di Majalah Tempo pernah menulis tentang RUU Antipornografi yang ternyata mengandung banyak kekeliruan bahasa. Salah satu hal yang menurutnya keliru itu adalah tim penyusun RUU tersebut menyamakan erotika dengan kecabulan (dalam pornografi) yaitu sama-sama melanggar kesopanan dan/atau kesusilaan. Ayu berargumen, dalam bahasa Indonesia, erotika memiliki makna netral, yakni karya yang berkenaan dengan kebirahian, tanpa diartikan melanggar kesopanan sehingga tidak bisa dipukul rata dengan kecabulan (pornografi).

Itu hanya satu contoh betapa masih banyak orang yang tidak merasa perlu membedakan antara erotika dengan pornografi, padahal dua kata tersebut memiliki definisi dan konsep yang berbeda. Mari kita cermati, pornografi berasal dari bahasa Yunani “pornographia” yang bisa diurai menjadi “porne” (pelacuran), “grapho” (merekam atau mencatat) dan akhiran “-ia” (dalam kondisi, tempat untuk) sehingga dapat diartikan sebagai tempat untuk mencatat pelacuran. Kata tersebut memiliki berkonotasi dominasi terhadap wanita. Sedangkan erotika berasal dari kata “eros”, bermakna cinta yang bergairah. Tidak ada konotasi semacam itu.

Bagaimana dengan definisi dan konsepnya? Pornografi diartikan sebagai pelukisan materi seksual secara eksplisit, baik berupa audio, visual maupun tertulis, yang digunakan untuk membangkitkan gairah seksual audiensnya. Secara objektif, pornografi adalah penggambaran detil tentang adegan seksual eksplisit yang sering dinilai eksploitatif dan merendahkan (wanita). Pornografi cenderung memperkuat mitos bahwa perkosaan dan serangan seksual adalah perilaku yang tepat (dan beberapa mitos lain yang tidak dibahas di sini).

Erotika berbeda dari pornografi, terlepas dari eksplisitas materinya. Erotika didefinisikan sebagai penggambaran seksualitas yang mengandung mutualitas, saling menghormati, kasih sayang dan keseimbangan kekuasaan. Erotika merujuk pada karya seni, termasuk literatur, fotografi, film, patung dan lukisan yang kandungan utamanya adalah deskripsi yang menstimulasi secara erotis atau menggairahkan, tapi murni untuk tujuan artistik. Erotika merupakan kata modern yang dipakai untuk mendeskripsikan penggambaran anatomi manusia dan seksualitas dengan aspirasi seni untuk membedakan karya tersebut dari pornografi komersial. Erotika lebih realistis dan tidak merendahkan jenis kelamin manapun. Yang menarik, ketika wanita zaman sekarang makin terlibat dalam produksi materi seksual eksplisit, erotika menjadi lebih dominan dibanding pornografi.

Satu karakter lain yang penting dalam membedakan pornografi dengan erotika adalah ketahanan terhadap waktu. Karya-karya yang termasuk erotika, seperti Kama Sutra, novel Lady Chatterley’s Lover, dsb. tak lekang dimakan zaman, senantiasa dinilai sebagai karya seni nan artistik dan dikenang orang. Sedangkan pornografi niscaya lekas dilupakan begitu muncul keluaran terbaru. Secara singkat, seorang penulis menyimpulkan bahwa erotika menguatkan kehidupan, sementara pornografi meniadakan kehidupan.

Memang tidak selalu gampang menilai apakah suatu karya termasuk dalam erotika atau pornografi. Relativitas yang terkait dengan subjektivitas manusia sering bermain di area abu-abu ini. Barangkali karena itulah muncul pameo yang kalau tak salah berbunyi begini: pornografi bagi satu orang, bisa jadi erotika buat orang lain dan erotika menurut satu orang, bisa bikin orang lain keluar isi perutnya (muak).

Sumber:
Dari berbagai sumber.

Diterbitkan di:  on 15 Maret 2008 at 7:01 am Komentar (2)
Tags: ,

Sejarah Kondom

Saya awali tulisan ini dengan sedikit paparan tentang etimologi (asal kata) kondom. Banyak teori yang bertebaran mengenai masalah ini dan menurut kesimpulan William E. Kruck, asal kata kondom tidak diketahui secara pasti. Salah satu pendapat yang berupaya menjelaskan asal kata kondom menyatakan bahwa kondom berasal dari kata Latin “condon”, artinya penampung. Yang lain bilang bahwa kondom berasal dari kata Latin “condamina” yang bermakna rumah. Ada pula yang spekulasi kondom itu dari kata Italia “guantone” berasal dari “guanto”, maksudnya sarung. Di Inggris beda lagi teorinya. Menurut cerita rakyat sana, kata kondom ditarik dari nama dokter Condom atau Quondam yang membikin benda itu buat Raja Charles II (tapi tak ada bukti ilmiahnya). Satu teori menyebutkan ada opsir tentara Inggris bernama Cundum yang mempopulerkan kondom antara tahun 1680-1717. Macam-macam saja. Makanya daripada bingung mending diputuskan bahwa asal katanya tidak diketahui, bereslah perkara.

Sekarang kita lanjut ke sejarahnya. Sebuah lukisan Mesir Kuno yang diperkirakan usianya 3.000 tahun menggambarkan tentang sarung penis dekoratif yang sedang dipakai kaum pria. Belum diketahui apakah orang Mesir memakai kondom tersebut untuk tujuan ritual atau kontrasepsi, tapi tampaknya benda itu lebih condong digunakan sebagai pelindung terhadap penyakit dan serangga. Legenda Yunani tentang Minos yang dikisahkan oleh Antonius Liberalis pada tahun 150 menggambarkan pemakaian kandung kemih kambing sebagai tindakan protektif ketika sanggama, tapi tujuan praktek semacam itu tidak betul-betul jelas. Di Jepang, konon sarung penis digunakan pada awal 1500-an.

Kondom pertama ditemukan pada tahun 1564 ketika seorang dokter bangsa Italia bernama Gabrielo Fallopia (ya, salah satu saluran reproduksi wanita dinamakan berdasarkan nama si dokter ini) merekomendasikan penggunaan sarung linen yang berfungsi sebagai pelindung terhadap penyakit menular seksual. Caranya, sarung linen tersebut dibasahi dengan larutan kimia tertentu dan dikeringkan sebelum dipakai. Si dokter ini mengaku melakukan eksperimen pada 1.100 subjek dan melaporkan bahwa sarung tersebut melindungi pemakainya dari sifilis. Sementara, kondom paling tua yang ditemukan berasal dari Kastil Dudley di Inggris pada tahun 1640 (wah, awet betul). Kondom tersebut dibikin dari usus hewan dan dipercaya digunakan sebagai pelindung dari penularan penyakit menular seksual. Pada abad ke-19 di Jepang sudah tersedia kondom dari kulit, selongsong kura-kura atau tanduk. Di Cina disebutkan bahwa benda sejenis juga ada, tapi bahannya dari kertas sutra berminyak (apa tidak menimbulkan suara gemersik ya? ).

Sampai pertengahan abad ke-18 kondom dibikin dari usus hewan. Kondom karet baru diproduksi pada tahun 1855 setelah Charles Goodyear menciptakan vulkanisasi karet. Tentu saja wujudnya belum seperti sekarang. Kondom karet generasi awal itu dijahit pada sisi-sisinya dan tebalnya mencapai 1-2 mm. Dan bisa dipakai berulang kali (asal jangan lupa dicuci, barangkali). Baru pada 1912 seorang Jerman bernama Julius Fromm mengembangkan teknik produksi kondom yang baru, yaitu dengan mencelupkan adonan kaca ke dalam larutan karet mentah sehingga kondom jadi lebih tipis dan tanpa jahitan. Sejak masa 1930-an kondom telah mengalami perkembangan menjadi kondom sekali pakai yang tipis dan murah seperti sekarang.

Tadi itu perkara kondom pria, kini kita melangkah ke urusan kondom wanita. Pada tahun 1988 beberapa negara mulai mengetes kondom wanita. Kondom wanita disetujui untuk dijual untuk umum di Amerika Serikat mulai tahun 1992. Di Indonesia juga saya samar-samar ingat sudah dipasarkan. Kondom wanita terbuat dari lateks atau polyurethane, bentuknya mirip kondom biasa (baca: pria), tapi dikenakan di dalam tubuh wanita. Di ujung sarungnya yang tertutup terdapat cincin plastik fleksibel yang pas dengan leher rahim, mirip diafragma. Di ujung yang berlawanan terdapat cincin yang melingkari daerah labia (bibir kemaluan). Meskipun kondom wanita ukurannya pas dengan kontur vagina, penis bisa bergerak bebas di dalam sarung tersebut yang dilapisi pelumas berbahan dasar silikon.

Sebagai penutup, saya ketengahkan beberapa macam arah pengembangan kondom yang menurut saya menarik. Université Laval di Quebec, Kanada mengembangkan kondom tak kasat mata. Bentuknya berupa jel yang dioleskan di penis dan mengeras (jelnya, bukan penisnya) ketika terjadi peningkatan suhu saat penetrasi anal atau vaginal. Jel tersebut luruh setelah beberapa jam, tapi jel ini masih dalam tahap uji coba klinis. Berita di teve Swiss tanggal 29 November 2006 menyebutkan ilmuwan Jerman, Jan Vinzenz Krause dari Institut untuk Konsultasi Kondom tengah mengembangkan kondom semprot yang kering dalam lima detik saja dan kini sedang tes pasar. Keuntungan dari dua model pengembangan kondom terbaru tersebut adalah pasti pas untuk penis ukuran dan model apapun. Kalau produk-produk tersebut dipasarkan, selamat tinggal kasus kondom kedodoran atau robek lantaran sempit.

Sumber :
Dari berbagai sumber

Diterbitkan di:  on 11 Maret 2008 at 5:48 am Komentar (2)
Tags: , ,