Film Porno untuk Wanita

Entah berapa juta film porno yang telah dan sedang dijual di seluruh penjuru dunia sampai saat ini, tapi dari jumlah yang membeludak itu berapa banyak yang dibuat untuk dikonsumsi kaum wanita? Jawabannya, seperti bisa Anda duga, sangatlah sedikit. Bahkan, mungkin Anda akan mengerutkan dahi dan menganggap pertanyaan seperti itu tak usah ditanyakan karena film porno memang bukan untuk wanita. Faktanya, hanya sedikit sutradara dan produser film dewasa yang menciptakan filmnya dengan wanita sebagai target pemirsa, padahal saya kira bukan hanya pria yang mengonsumsi film porno.

Salah satu masalah dengan film porno arus utama adalah bahwa mereka dibuat oleh pria, untuk pria. Industri pornografi berkembang karena pria banyak mengonsumsi film porno. Masalah lainnya adalah rendahnya kualitas produk industri film dewasa. Teknologi digital yang ada saat ini menyebabkan biaya pembuatan film menjadi murah dan kualitas film menurun. Pada era analog, film porno cukup mahal biayanya dan mereka harus dibuat dengan cukup baik agar laku terjual dan investor bisa balik modal. Seiring turunnya biaya produksi, film porno dibuat seadanya, asal cepat jadi dan dapat dijual. Kondisi demikian itu menjadikan banyak beredar film porno murahan yang alih-alih membikin terangsang, malah memuakkan. Dan wanita sangat cepat memutuskan untuk berhenti menonton bila mereka melihat sesuatu yang tidak disukai.

Persoalan di atas membuat wanita kesulitan untuk menemukan film porno yang sesuai dengan seleranya, ditambah jika harus mengaduk-aduk di antara timbunan film porno untuk pria. Namun, adanya internet memudahkan wanita dalam mencari film dewasa. Terdapat beragam situs yang menyediakan layanan itu. CEO salah satu situs tersebut, Dr. Petra Zebroff, menjelaskan alasannya mendirikan situs tersebut, bahwa setelah menyelesaikan studi doktoratnya tentang seksualitas wanita dia menyadari betapa sukarnya bagi wanita untuk mengakses produk dan video seksual tanpa memasuki toko yang berorientasi pria dan mengalami saat-saat memalukan. Internet menawarkan tempat aman dan anonim untuk mencari informasi dan produk seksual dengan atmosfer yang elegan, berfokus pada pengalaman seks wanita sebagai partisipan, bukan objek seks (seperti banyak digambarkan dalam film porno untuk pria).

Menurut Dr. Zebroff, ada beberapa elemen yang membuat suatu film dewasa cocok untuk ditonton kaum wanita. Kedalaman karakter dan pemahaman mengapa karakter dalam film berhubungan seksual adalah satu di antaranya. Jadi skenario yang asal ada satu pria, satu wanita (atau lebih, kombinasinya bisa macam-macam) bertemu lalu tanpa basa-basi tancap saja berhubungan seksual tidak merangsang bagi wanita. Kemudian, Dr. Zebroff menekankan pentingnya menginkorporasi sensualitas ke dalam film, mengingat wanita berpikir tentang seksualitas dengan seluruh tubuh mereka, tidak hanya daerah genital. Film porno yang berfokus pada adegan seputar selangkangan tanpa permainan pendahuluan tidak berefek bagi banyak wanita. Wanita suka mengkhayalkan dirinya masuk dalam skenario dan bila skenarionya tak membuat mereka merasa seksi, film itu tidak merangsang mereka. Adegan selangkangan jarak dekat juga tidak terlalu merangsang wanita karena ketika berhubungan seksual wanita tidak melihat dirinya dari sudut pandang seperti itu, sehingga mereka tidak merasa terhubung dengan adegan itu.

Banyak pembuat film dewasa yang memenuhi kebutuhan pasangan penonton membuat kesalahan dengan mengira wanita cuma menginginkan romansa. Wanita menyukai variasi adegan seksual dengan derajat keeksplisitan yang berbeda-beda. Banyak wanita yang menyukai film eksplisit dengan tema hardcore. Konyolnya, banyak sutradara film porno yang menyuguhkan tema hardcore dengan merendahkan wanita. Masih menurut Dr. Zebroff, yang membuat wanita jadi tak tertarik pada film porno adalah bila karakter wanitanya menjadi fokus setiap adegan, apalagi kalau tubuh wanita bintang porno itu tidak realistis dan sudah banyak dipermak. Kebanyakan wanita suka melihat dan menikmati keindahan tubuh pria.

Jadi, wanita ternyata juga mengonsumsi film dewasa dan film porno untuk konsumsi wanita perlu memiliki beberapa karakter yang berbeda dari film porno untuk pria agar dapat sukses di pasaran.

Sumber:
aphroditewomenshealth.com

Diterbitkan di:  on 16 Maret 2009 at 7:06 am Komentar (6)

Coklat dan Seks

Sebetulnya tulisan ini tidak secara khusus dipublikasikan dalam rangka turut memeriahkan hari Valentine, tetapi mengingat temanya tentang coklat dan waktunya yang bertepatan dengan 14 Februari, kalau Anda mau mengira demikian, tak jadi soal. Perkara maraknya coklat beraneka ragam di pasaran menjelang perayaan hari kasih sayang beberapa tahun terakhir ini menarik perhatian saya. Di satu sisi, saya anggap itu adalah trik pemasaran yang tampaknya cukup sukses. Di segi lain, agar trik pemasaran itu dapat berhasil, tentu konsumen mesti percaya bahwa ada keterkaitan antara coklat dengan cinta (dan pada akhirnya, seks). Nah, sungguhkah ada hubungan antara coklat dan seks? Coba kita telisik.

Sejak awal bangsa Maya bercocok tanam biji coklat, sudah ada kepercayaan bahwa coklat memiliki efek euforik pada panca indera. Orang-orang Maya mengasosiasikan coklat dengan dewa kesuburan mereka. Kemudian, orang-orang Aztec menjadikan coklat sebagai afrodisiak khusus buat kalangan bangsawan kerajaan. Para penjelajah Spanyol melaporkan bahwa Kaisar Montezuma dari Aztec mengonsumsi minuman coklat dalam jumlah banyak sebelum masuk ke haremnya. Orang-orang Spanyol lalu menyebarkan kepercayaan si kaisar tadi bahwa coklat adalah afrodisiak atau penggugah gairah seksual dan membawanya ke Eropa. Kepercayaan macam begitu juga dimiliki oleh Giacomo Casanova, salah satu pencinta terpopuler dalam sejarah (atau pria mata keranjang paling kesohor, tergantung perspektif Anda). Sejak itulah penggunaan coklat sebagai bagian ritual bercinta berkembang. Dipercaya pula bahwa selain meningkatkan nafsu seksual, coklat juga menghasilkan sensasi kesenangan mirip orgasme.

Ilmuwan modern akhirnya berhasil menguak kandungan psikotropika dalam coklat dan efeknya terhadap manusia. Coklat memiliki kandungan stimulan dalam kadar sedang, yaitu kafein dan theo-bromine. Coklat juga diketahui meningkatkan level serotonin yang mengurangi kecemasan (serotonin juga diasosiasikan dengan efek memakai ganja, tapi jangan khawatir, Anda harus makan coklat banyak sekali untuk sampai ke sana). Tidak satupun dari bahan-bahan tersebut yang menguatkan hubungan antara makan coklat dan peningkatan kepuasan seksual dengan sendirinya. Penyebab kepercayaan orang tentang kaitan seks dan coklat adalah pelepasan endorfin yang diproduksi ketika makan coklat (khususnya coklat hitam) yang menimbulkan sensasi mirip kepuasan/kebahagiaan hubungan seksual yang sehat. Kemudian, coklat juga mengandung phenyl-ethylamine yang dikenal dapat menstimulasi pelepasan dopamin ke pusat kesenangan di otak yang umum diasosiasikan dengan orgasme. Phenyl-ethylamine dan serotonin dalam coklat diduga meningkatkan suasana hati dan merupakan stimulan seksual ringan. Makan coklat membuat Anda merasa senang sampai euforik. Coklat bisa juga dianggap afrodisiak karena ada kesenangan sensual ketika coklat meleleh di mulut (kaitannya dengan makanan erotis).

Sebuah penelitian perilaku telah dilakukan untuk mempelajari perbedaan perilaku seksual antara wanita yang makan banyak coklat dan yang tidak. Hasilnya, wanita yang makan lebih banyak coklat kehidupan seksnya lebih memuaskan. Namun, hasil ini juga bisa diinterpretasikan sebaliknya, yaitu wanita yang puas dengan kehidupan seksnya cenderung mengonsumsi coklat lebih banyak. Memang hubungan antara seks dan coklat tidak dapat dibuktikan seratus persen, tapi tampaknya hubungan tersebut ada, entah disebabkan oleh bahan-bahan dalam coklat, sensualitas coklat, kepercayaan sugestif tentang coklat, atau sebab lainnya. Dan itulah yang menyebabkan makanan satu ini tetap lestari dan senantiasa dicari.

Sumber:
sexscrolls.net
webMD.com

Diterbitkan di:  on 14 Februari 2009 at 3:30 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Beberapa Mitos Keliru tentang Seks

Berbicara tentang seks tidak akan lepas dari berbagai mitos, bisik-bisik dan kepercayaan yang menyelimuti subjek yang satu ini. Saya sendiri tidak yakin bagaimana mitos tentang seks bisa berkembang demikian subur di hampir semua kebudayaan, mungkin ini ada kaitannya dengan sifat seks sebagai sesuatu yang terkesan disorong ke balik tirai, tak pernah betul-betul jelas, sehingga orang mengembangkan aneka kepercayaan kolektif untuk mencoba menjelaskan dan mengatur seks. Tidak semua mitos itu buruk, tentu saja. Namun, ada beberapa yang ternyata menyimpang dari fakta seks yang sebenarnya (contoh, masturbasi bisa bikin dengkul kopong) dan jika orang terus berpegang pada mitos yang keliru ini, yah, ia mungkin tidak dapat mengontrol seksualitasnya dan bisa tidak menikmati seks. Jadi, berikut ini adalah beberapa mitos yang keliru tentang seks.

- Seks itu sesuatu yang kotor, berdosa dan tidak menyenangkan.
Biasanya ini terkait dengan ajaran agama (yang kelewat ekstrem), meski tidak menutup kemungkinan munculnya kepercayaan ini dari pengalaman pribadi dan norma budaya. Faktanya, Anda bisa menjadi seseorang yang religius sekaligus berhubungan seksual untuk kesenangan (tentu saja dengan pasangan sah). Ada seorang pemuka agama yang pernah berkata, “Jika Tuhan tidak ingin manusia berhubungan seksual, Dia tidak akan menjadikan seks itu terasa menyenangkan.”

- Ejakulasi menghabiskan energi seorang pria
Mitos ini sudah ada sejak tahun 600 di India. Orang percaya bahwa semakin banyak pria berejakulasi, makin banyak suplai energi yang harus diperbaharui dan makin banyak ia kehilangan energi yang berharga. Nyatanya, produksi semen itu tidak butuh banyak energi. Seperti aktivitas lain yang dilakukan dengan semangat, seks yang dahsyat mungkin bikin capek, tapi seks yang hebat dapat memberi energi tambahan. Tampaknya ada perbedaan individual dalam hal ini, beberapa pria langsung teler setelah berhubungan seksual, beberapa lainnya bisa langsung minta ronde kedua. Untuk pembahasan secara medis, Anda bisa membaca Why Do Men Fall Asleep After Sex (sudah ada terjemahannya).

- Kepuasan seksual tidak bertahan sepanjang hidup
Percayalah bahwa Anda bisa terus merasakan kepuasan seksual sepanjang hidup bila Anda melakukannya dengan tepat. Usia tidak menjadi faktor penghambat, malah beberapa orang mengaku kehidupan seksualnya di usia lanjut sama menyenangkannya seperti ketika dia muda dulu. Apalagi bila konsep seks di mata Anda bukan sekedar sanggama, melainkan keintiman dan proses dalam hubungan dengan pasangan.

- Pria selalu ingin berhubungan seksual dan tidak bisa setia pada satu orang
Menurut biologi evolusi, spesies jantan memiliki jutaan sperma untuk disebarkan dengan membuahi sel telur sebanyak-banyaknya. Namun, ini belum tentu relevan di era kontemporer. Pria tidak perlu menyebarkan benih mereka sebanyak-banyaknya, mereka bisa hidup menetap dengan satu pasangan. Pria juga bisa setia, sepanjang mereka memilih untuk setia.

- Wanita tidak boleh minta berhubungan seksual dan tidak boleh senang bercinta
Wanita yang menginginkan seks mungkin khawatir dia akan disebut atau dikira jalang kalau dia meminta dengan terus terang. Tapi, tanyakan pada diri Anda, apa yang salah dengan wanita yang menikmati seks? Tidak ada, bukan? Jadi, seks itu dapat dinikmati baik pria maupun wanita dan wanita boleh meminta untuk dipenuhi kebutuhan biologisnya, serta menikmatinya. Malah, banyak pria yang penasaran dan berupaya bagaimana agar dapat memuaskan seorang wanita (meski alasannya tak selalu altruistik).

Sumber:
The Complete Idiot’s Guide to Amazing Sex

Diterbitkan di:  on 26 Desember 2008 at 5:00 am Tinggalkan sebuah Komentar

Pro dan Kontra Kecanduan Pornografi

Bisakah seseorang kecanduan pornografi? Tampaknya belum ada jawaban definitif untuk pertanyaan itu dan kemungkinan masih akan belum ada dalam waktu dekat. Soalnya, sejauh pengetahuan saya, sampai saat ini pun para ahli psikologi masih bersilang pendapat mengenai apakah ada itu konsep kecanduan pornografi. Di Amerika Serikat pada bulan November 2004 di depan subkomite Senat (DPR-nya AS) diadakan panel yang dihadiri oleh sekelompok ahli dengan agenda membahas pornografi yang disinyalir membuat jutaan warga AS kecanduan. Menurut para ahli tersebut, efek pornografi pada otak disebut sebagai racun dan dibandingkan dengan kokain. Seorang psikolog bahkan mengklaim bahwa pemaparan berkepanjangan pada pornografi menstimulasi pemilihan pelukisan hubungan seksual berkelompok, praktek SM dan kontak seksual dengan hewan.

Isu kecanduan pornografi saat ini terasa urgensinya lantaran kini kian gampang mengakses pornografi, sejalan dengan perkembangan internet. Menurut terapis seks Louanne Cole Weston, PhD. , buat orang yang sukar berhenti, untuk melihat lebih banyak materi porno hanya butuh satu klik lagi (dan lagi, dan lagi…). Tidak diragukan lagi bahwa pada beberapa orang, konsumsi pornografi mereka bisa menimbulkan masalah seperti berkurangnya waktu tidur, pengabaian tanggung jawab atau mengacuhkan orang-orang tercinta, sampai persoalan alokasi uang untuk memperoleh materi porno. Weston sendiri termasuk yang kontra dengan istilah kecanduan pornografi. Buat dia, kata kompulsif lebih tepat.

Perbedaan antara perilaku kecanduan dan kompulsif itu penting, meskipun subtil. Seorang peneliti di Kinsey Institute, Erick Janssen PhD. , mengkritik penggunaan istilah kecanduan pornografi karena itu hanya mendeskripsikan perilaku seseorang yang mirip kecanduan, tapi memperlakukan mereka layaknya pecandu ketika mengobati bisa jadi tidak menolong. Pun para profesional di bidang kesehatan mental tidak punya kriteria standar untuk mendiagnosis kecanduan pornografi. Yang ada hanya orang awam yang mendiagnosis diri mereka mengalami kecanduan pornografi setelah baca-baca buku.

Lain lagi pendapat Mary Anne Layden, PhD. , psikolog dari University of Pennsylvania yang hadir di rapat dengar pendapat di depan Senat tadi. Menurutnya, kriteria yang dipakai untuk mendiagnosis masalah seperti berjudi patologis atau penyalahgunaan obat bisa juga diaplikasikan untuk kecanduan pornografi karena terapis yang mengobati pecandu pornografi berkata bahwa mereka berlaku seperti pecandu lainnya. Salah satu kunci dalam kecanduan adalah perkembangan toleransi terhadap barang adiktif. Jadi, kalau pecandu obat butuh dosis yang semakin tinggi, pecandu pornografi perlu materi yang kian ekstrem. Pernyataan tersebut disanggah Janssen yang berkata bahwa belum ada bukti ilmiah yang menyokong itu. Janssen sendiri membantah bahwa perilaku orang-orang yang melihat materi porno mengalami perkembangan seperti itu.

Terkait dengan penggunaan pornografi sebelum atau ketika masturbasi, Violet Blue, pendidik seks dan
penulis The Ultimate Guide to Adult Videos, berpendapat bahwa label kecanduan pornografi hanya sebuah alat untuk menekan perilaku yang kurang disetujui secara sosial, yaitu masturbasi. Sementara pakar seks Dr. Ruth Westheimer beropini bahwa orang yang doyan pornografi tidak dapat dikatakan sebagai pecandu, tapi mengakui bahwa pornografi dapat memiliki efek destruktif pada hubungan dengan pasangan.

Barangkali para anggota dewan yang (tidak) terhormat, khususnya panitia perumus RUU Pornografi yang amat kontroversial itu, berdiri di sisi yang sama dengan para ahli yang berpendapat bahwa orang bisa kecanduan materi porno sehingga mereka bersikeras mengegolkan RUU itu menjadi UU, walaupun cara-caranya masih perlu dipertanyakan.

Sumber:
WebMD.com
Sex for Dummies

Diterbitkan di:  on 10 Oktober 2008 at 4:27 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Uji Pengetahuan Anda tentang Kondom

Kondom merupakan salah satu alat kontrasepsi untuk kaum pria yang populer, setidaknya dibandingkan alternatifnya, vasektomi, sehingga saya cukup yakin untuk dapat menduga bahwa Anda pastilah sudah tak asing lagi dengan benda yang satu ini. Namun, sebagaimana hal-hal lain yang terkait dengan urusan seks, kondom pun tidak lepas dari berbagai mitos yang disebarkan melalui pergaulan sosial dan dipercayai oleh banyak orang, padahal belum tentu benar adanya. Oleh karena itu, saya muatkan kuis sederhana (yang ditinjau oleh para dokter di The Cleveland Clinic Department of Obstetrics and Gynecology) dalam blog ini, dengan tujuan menguji seberapa akurat pengetahuan Anda sejauh ini tentang kondom.

1. Kondom berbahan lateks (karet) direkomendasikan untuk melindungi dari kehamilan tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.
Benar atau salah?

2. Pelumas berbahan dasar minyak, seperti Vaseline atau minyak bayi aman digunakan dengan kondom lateks.
Benar atau salah?

3. Kondom bisa robek/rusak kalau ujungnya tidak dipencet untuk menghilangkan gelembung udara.
Benar atau salah?

4. Setelah berhubungan seksual, pria harus mengeluarkan diri dari pasangannya sesegera mungkin dengan memegang/menahan pangkal kondom.
Benar atau salah?

5. Jika dicuci dengan sangat hati-hati, kondom aman-aman saja dipakai berulang kali.
Benar atau salah?

6. Agar selalu siap sedia, ada baiknya selalu punya stok kondom di dompet.

Benar atau salah?

7. Kondom, seperti makanan, ada tanggal kadaluarsanya.
Benar atau salah?

8. Kalau sudah menyangkut kondom, satu ukuran muat untuk semua orang.
Benar atau salah?

Jawaban yang benar dan penjelasannya bisa dilihat di sini

Sumber:
WebMD.com

Diterbitkan di:  on 11 September 2008 at 9:22 am Komentar (1)

Turunkan Berat Badan dengan Seks

Saya sudah pernah memaparkan tentang beragam manfaat aktivitas seksual bagi kesehatan, spesifiknya kesehatan fisik. Nah, ini ada satu lagi nilai plus dari melakukan hubungan seksual, yakni sebagai metode (mengasyikkan) untuk menurunkan dan menjaga berat badan. Kerry McCloskey, seorang model dan aktris dari New York City, menulis buku yang diberi titel Ultimate Sex Diet. Latar belakang penulisan buku tersebut adalah pengalaman pribadinya. Ceritanya, enam bulan setelah bertunangan bobotnya turun 23 pon (konversinya sekitar 11-an kilo, mungkin), tapi itu bukan disebabkan oleh stres dan kecemasan mempersiapkan pernikahan, melainkan gara-gara banyak melakukan hubungan seksual dengan tunangan tercinta. McCloskey juga mengatakan bahwa dia merasa lebih baik karena seks meningkatkan suasana hati. Kian banyak beraktivitas seksual, endorfin (zat kimia yang menimbulkan perasaan senang) makin banyak dilepaskan.

Seks diet ala McCloskey dimulai dengan pemikiran yang seksi dan menjadikan seks sebagai prioritas. Dia merekomendasikan berhubungan seksual tiga sampai lima kali seminggu, waktunya terserah Anda. Rata-rata kalori yang dibakar dengan berhubungan seksual antara 150-250 kalori per setengah jam. Saya kira hitungan tersebut masuk akal, sesuai dengan apa yang pernah saya baca di buku pintar bahwa energi yang dihasilkan orang yang berhubungan seksual cukup besar untuk menghidupkan peralatan elektronik (saya lupa detilnya). Pendapat McCloskey bahwa seks adalah bentuk latihan fisik yang baik diamini oleh Laura Berman, PhD, LCSW, asisten klinis profesor obgyn dan psikiatri di Feinberg School of Medicine of Northwestern University, Chicago. Seks meningkatkan detak jantung, meskipun yang dilakukan aktivitas seksual yang “standar” alias tidak neko-neko (akrobatik). Seks dengan melakukan variasi posisi dan aktif bergerak adalah olahraga yang sangat baik (tentu saja kalau Anda punya kemampuan fisik dan stamina untuk itu). Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa berolahraga dalam jangka waktu pendek-pendek bisa sama efektifnya dengan yang dilakukan langsung dalam jangka waktu 30-40 menit. Seks bisa digunakan untuk memenuhi jatah 15-20 menit latihan rutin sehingga Anda dapat melakukan olahraga lainnya di lain waktu.

Manfaat seks bagi kesehatan dan penurunan berat badan juga diakui oleh Howard Shapiro, MD, spesialis penurunan berat badan dari New York City, meski tidak secara langsung. Menurutnya, bila kehidupan seksual seseorang sehat, orang itu cenderung kurang frustrasi dan orang yang tidak frustrasi cenderung makan lebih sedikit (kecuali pada orang-orang tertentu). Orang biasanya makan lebih banyak kalau sedang kesepian, sementara orang yang memiliki relasi romantik (seksual) yang penuh kasih tentu tidak bisa dibilang kesepian (dan konsekuensinya tidak makan berlebihan). Shapiro juga mengingatkan bahwa jika seseorang punya banyak pasangan seksual, itu bisa menyebabkan stres dan meningkatkan resiko penularan PMS, jadi banyak hubungan seksual model begini tentu tidak sehat.

Jadi, buat Anda yang ingin menurunkan berat badan, cara yang satu ini perlu dicoba. Tentunya dilakukan dengan pasangan resmi atau tetap, dan Anda atau pasangan berada dalam kondisi kesehatan kardiovaskular (jantung) yang prima.

Sumber:
WebMD.com

Diterbitkan di:  on 30 Agustus 2008 at 1:26 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Sungguhankah Seks dalam Film Porno?

Saya tidak tahu statistiknya, tapi saya kira kebanyakan orang dewasa pada suatu masa hidupnya sudah pernah menonton film porno (baik sengaja maupun tidak, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan). Barangkali ada yang berpikir bahwa film porno merupakan bentuk pendidikan seks karena lewat film pornolah seseorang awalnya terpapar materi tentang seksualitas. Kemudian, karena sebagai orang dewasa amat sedikit kesempatan untuk melakukan perbincangan jujur dan terbuka tentang seks dengan orang dari berbagai latar belakang, boleh jadi apa yang disajikan dalam film porno dianggap merepresentasikan aktivitas seksual yang umum dilakukan dan otentik oleh banyak orang. Kedua asumsi tersebut, bila dibicarakan dalam konteks pornografi arus utama, sesungguhnya keliru.

Pertama, walaupun orang menonton film porno, mengambil ide dari situ lalu mempraktekkannya, hal itu berbeda dari pendidikan seks. Dan yang kedua, dalam film porno yang termasuk arus utama sangat sedikit yang merepresentasikan aktivitas seksual umum. Namanya juga film, film porno sejatinya tak jauh beda dengan film Hollywood. Coba saja Anda lihat, mana ada dunia nyata yang semua manusianya bertampang rupawan (film Hollywood) atau hubungan seksual yang jarang pakai kondom dan dilakukan oleh manusia-manusia yang senantiasa tampak sempurna dalam posisi apapun (film porno). Kalau Anda kurang yakin dengan pernyataan di atas, berikut ini adalah beberapa alasan yang menjelaskan bahwa pornografi arus utama tidak merepresentasikan pengalaman seksual manusia pada umumnya.

1. Film porno tidak dibikin untuk aktornya
Sekali lagi, ini dalam konteks pornografi arus utama, bukan seperti video seks dua (atau lebih) kekasih. Kalau hubungan seksual bertujuan untuk memuaskan pelakunya, film porno sebaliknya. Kala orang dibayar untuk berhubungan seksual di depan kamera, mereka itu bekerja dan pekerjaannya bukan untuk memuaskan diri mereka, melainkan penontonnya (dan mesti menghemat biaya pembuatan filmnya, serta memudahkan kerja sutradara dan editor).

2. Kebanyakan film porno dibuat tanpa konteks
Pengalaman seksual aslinya terjadi dalam konteks sosial. Setiap kali manusia berhubungan seksual dia membawa pengalaman terdahulu dan nilai-nilai yang dianutnya. Film porno tidak begitu. Kemudian, perilaku seksual dapat menjadi bentuk komunikasi antar manusia yang rumit sementara pornografi tidak.

3. Tubuh aktor-aktrisnya tidak nyata
Karena itu, jangan bandingkan tubuh Anda dengan aktor-aktris dalam film porno. Sederhana saja, mereka memang dipilih untuk main film porno karena bentuk/ukuran tubuhnya. Rata-rata ukuran penis bintang porno tidak mewakili ukuran pria pada umumnya (para pria boleh bernafas lega), begitu juga ukuran payudara (dan bokong dan apapun yang bisa dipermak) milik aktris porno.

4. Manipulasi
Selain operasi plastik dan memilih pemain dengan tubuh sempurna, pembuat film porno memakai berbagai macam trik agar tubuh para pemain filmnya tampak lebih besar, halus dan indah dari aslinya. Caranya bisa dengan mengatur pencahayaan, sudut pengambilan gambar, make up dan bahkan model cukuran rambut pubis.

5. Posisi seks untuk kamera
Posisi seksual yang disajikan dalam film porno dipilih karena berbagai alasan, di antaranya variasi pemandangan dan memungkinkan akses kamera menjangkau bagian tersembunyi sampai sedetil-detilnya (yang bahkan bisa menyorot bagian yang tidak bisa dilihat si pemain film itu sendiri). Jadi, posisi seksual dalam film porno tidak mewakili apa yang umumnya orang lakukan, bahkan beberapa di antaranya membuat si bintang porno tidak nyaman.

6. Tujuan film porno
Film porno dibikin untuk merangsang dan mengejutkan pemirsanya, sehingga apa yang ditampilkan di dalam film porno memang sudah dirancang untuk memenuhi tujuan itu. Di samping itu, para pembuat film porno juga merasa perlu untuk meyakinkan penonton bahwa adegan seks dalam film itu adalah sungguhan, sehingga adegan ejakulasi eksternal (cum shots, istilahnya) selalu ada dalam film porno meskipun hal itu tidak terlalu umum dilakukan orang.

7. Film porno ada editornya
Kebanyakan film porno tidak diambil gambarnya secara berkesinambungan dari awal sampai akhir. Ada jeda dan interupsi selama menyorot satu adegan dan mungkin pengambilan gambarnya tidak urut. Yang Anda lihat adalah hasil akhirnya yang sudah diedit dan bukan adegan seks yang sebenarnya terjadi.

Meskipun adegan seks dalam film porno tidak bisa dibilang betul-betul nyata dan umum, kita tidak dapat langsung mengatakan bahwa menonton film porno itu buruk dan salah. Ada beberapa ahli yang sepakat bahwa menonton film porno merupakan ekspresi seksual manusia dewasa yang sehat. Jadi, itu tergantung pada bagaimana diri kita menilai dan menempatkan film porno secara proporsional.

Sumber:
WebMD.com

Diterbitkan di:  on 20 Agustus 2008 at 4:54 pm Komentar (3)
Tags:

Redefinisi Perawan

Bahasa (atau kata-kata) ada karena kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Namun, meski sebagian besar manusia yang berbahasa sama memiliki semacam kesepakatan dalam memaknai garis besar konsep yang terkandung dalam kata tertentu, tetap saja ada perbedaan individual dalam memahami dan membatasi pengertian suatu kata. Contohnya, kata “seks”. Menurut buku Language and Sexuality, sebuah riset yang pernah dilakukan menunjukkan hasil bahwa orang-orang memiliki pengertian yang beragam tentang “seks”. Ada orang yang menganggap hanya sanggama yang termasuk “seks”. Ada yang berpendapat bahwa semua aktivitas menyangkut alat kelamin itu adalah “seks”. Dan sebagainya. Nah, ada sebuah kata yang boleh jadi bersangkutan dengan kata “seks” yaitu “perawan”. Bagaimana orang mendefinisikan “perawan”?

Keperawanan (atau keperjakaan) dalam pengertian tradisional (yang nyatanya masih digunakan dalam buku teks seksologi keluaran tahun 2000-an) adalah pertama kali vagina dipenetrasi oleh penis. Dengan kata lain seorang perawan (atau perjaka) adalah orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual penetratif (vagina). Definisi tersebut tampaknya diterima secara universal. Lantas kemudian seiring perkembangan zaman muncul pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan batas keperawanan. Misalnya, apakah orang yang melakukan seks virtual (cybersex) masih perawan? Atau, apakah seorang wanita lesbian (yang tidak pernah dipenetrasi pria tapi berhubungan seksual dengan wanita) bisa dianggap perawan? Berbagai pertanyaan model begitulah agaknya yang membuat Dono Baswardono (seorang sarjana Psikologi dan master Kebijakan Publik) menulis beberapa buku khusus membahas tentang keperawanan (buku yang berguna untuk pemula, tapi tidak saya rekomendasikan kalau Anda sudah punya pengetahuan seks lumayan, soalnya tak banyak hal baru di situ).

Definisi keperawanan perlu dikembangkan, itu pendapat Dono dalam buku-bukunya. Dia menawarkan sebuah konsep yang lebih luas tentang keperawanan. Keperawanan menurut Dono bisa dibagi menjadi dua, yaitu keperawanan fisik dan keperawanan emosional (saya lebih suka menyebutnya keperawanan psikologis). Keperawanan fisik artinya kurang lebih sama dengan keperawanan tradisional (yaitu belum pernah melakukan hubungan badan), sedangkan keperawanan emosional maknanya kira-kira belum pernah memiliki perasaan rela melepaskan keperawanan dirinya pada seseorang. Keperawanan dalam konsep Dono cenderung aktif, dalam artian tidak ada orang yang kehilangan keperawanan, melainkan orang itu melepaskan atau menyerahkan keperawanannya. Dari konsep Dono ini dapat dikatakan bahwa keadaan perawannya seseorang tidak dilihat dari segi fisik belaka, tapi juga segi emosi. Sehingga kalau ada perempuan yang diperkosa, boleh jadi dia tidak perawan secara fisik, akan tetapi dia masih perawan secara emosional karena tidak pernah merelakan dirinya berhubungan seksual.

Konsep yang ditawarkan Dono di atas bagi saya cukup menarik karena melengkapi pengertian keperawanan tradisional. Dan konsep yang demikian itu tampak mengakomodasi subjektivitas seseorang dalam menentukan status keperawanan dirinya, terutama keperawanan emosionalnya. Namun, tetap saja ada pertanyaan yang mengganjal di benak saya, seperti apakah kedua tipe keperawanan tersebut terpisah atau ada kaitannya, serta kalau ada kaitannya bagaimana dinamika interaksi keperawanan emosional dan keperawanan fisik (yang toh kalau terlepas mau tak mau ada pengaruh psikisnya). Saya kira Dono perlu memperdalam lagi konsep keperawanannya (atau saya yang mesti lebih tekun mencermati bukunya).

Sumber:
Perawan Tiga Detik

Diterbitkan di:  on 15 Agustus 2008 at 12:22 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Penggugah Gairah, Mitos atau Fakta

Dari berabad-abad yang lalu sampai sekarang manusia tak henti-hentinya berupaya mencari (dan mempercayai adanya kemungkinan) suatu zat yang berfungsi meningkatkan gairah seksual atau meningkatkan kapasitas seksual seseorang. Zat tersebut lazim disebut dengan istilah afrodisiak (gampang saja menebak dari mana asal kata ini, Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan Yunani). Meski kurang sokongan bukti ilmiah, tetap saja industri berkenaan dengan penguat, penggugah dan penaik gairah ini berkembang di seluruh penjuru dunia sejalan kebutuhan orang akan ekstase, kepuasan seksual tertinggi. Beraneka produk yang diklaim mampu bikin hubungan seksual jadi tahan lama dan luar biasa, pria perkasa bak Bima (atau wanita jadi tidak frigid) dan semacam itu toh laris manis di pasar. Bahkan pada beberapa kasus kegilaan orang menguber afrodisiak ini telah turut berkontribusi terhadap punahnya jenis satwa tertentu yang bagian tubuhnya dipercaya punya sifat afrodisiak.

Namun, sebenarnya ada tidak, sih, afrodisiak itu? Maaf kalau saya mencoblos gelembung impian Anda, tapi saat ini kebanyakan ahli medis setuju bahwa tidak ada itu yang namanya afrodisiak murni, yaitu suatu obat atau zat yang dengan sendirinya memunculkan, meningkatkan atau memperpanjang gairah seksual. Jadi, tidak ada “obat ajaib” yang dengan simsalabim bisa membuat aktivitas seksual Anda jadi tak terkatakan hebringnya. Banyak makanan atau zat yang dipercaya memiliki kualitas afrodisiak (misalnya benda-benda yang wujudnya mirip penis, seperti tanduk badak) sebetulnya tidak demikian adanya. Paling-paling efek yang ada sifatnya umum, seperti meningkatkan stamina. Malah cukup banyak juga zat yang dikira afrodisiak tapi ternyata bersifat sebaliknya (anafrodisiak) seperti alkohol. Meski dengan kemajuan ilmu pengetahuan seks dan teknologi tidak tertutup di masa yang akan datang bisa ditemukan afrodisiak murni, tetapi untuk saat ini hal itu belum ada.

Peneliti saat ini tengah mempelajari satu zat yang tampaknya memiliki kualitas afrodisiak pada sejumlah orang. Zat yang cukup intensif (dan sudah cukup lama) diteliti itu adalah yohimbine, suatu substansi yang dibuat dari kulit pohon yohimbe yang tumbuh di Afrika Barat. Penelitian oleh Stanford University menunjukkan bahwa suntikan yohimbine meningkatkan gairah dan performa seksual pada tikus jantan (seolah mereka masih butuh afrodisiak, lihat saja populasi tikus mengganggu yang berkeliaran di muka bumi…maaf saya melantur). Dari sejumlah studi dengan subjek manusia dapat disimpulkan bahwa pemberian yohimbine memiliki kapasitas secara positif mempengaruhi gairah dan performa seksual, setidaknya pada pria dengan gangguan ereksi. Riset yang cukup baru menunjukkan adanya peningkatan gairah seksual pada wanita pascamenopause yang memiliki gairah seksual di bawah normal dengan pemberian yohimbine. Namun, ada yang berpendapat yohimbine efeknya lebih ke arah psikosomatis.

Barangkali Anda akan protes begini, “Saya percaya adanya afrodisiak karena teman saya/saya sendiri pernah menggunakan zat tertentu untuk meningkatkan atau memunculkan gairah dan ternyata itu bisa dilakukan.” Nah, itulah sebenarnya kunci afrodisiak (baca: zat-zat yang dianggap orang sebagai afrodisiak). Penelitian mengenai efek afrodisiak telah menunjukkan kuatnya peran pikiran dalam aktivitas seksual manusia. Dengan kata lain, semua tergantung pada kepercayaan dan sugesti dalam diri Anda. Ketika Anda yakin bahwa sesuatu adalah afrodisiak dan Anda pakai itu, kepuasan seksual Anda secara subjektif bisa meningkat. Prinsipnya sama dengan efek harapan alkohol yang pernah saya sebut di tulisan saya sebelumnya. Hal ini mungkin karena pengalaman seksual itu terdiri dari fisik dan psikis. Yang saya maksud dengan kepuasan subjektif adalah kepuasan secara psikis. Jadi tidak heran kalau mitos-mitos tentang afrodisiak begitu subur.

Sumber:
Our Sexuality
Sexualia

Diterbitkan di:  on 8 Juli 2008 at 3:57 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Di Balik Mimpi Sensual

Mimpi itu cuma kembang tidur, begitu kerap orang menasehati bila ada yang mengalami mimpi buruk atau mengganggu lantas resah karenanya. Namun, nyatakan nasehat itu pada segenap ilmuwan yang bidang kajian dan keahliannya adalah mimpi, niscaya mereka akan menembakkan seribu satu argumen menentang Anda. Ya, soalnya bagi para ilmuwan tersebut mimpi bukan sekedar bumbu orang terlelap belaka. Dr. Gayle Delaney salah seorang yang berpendapat demikian. Doktor yang berperan aktif dan mendirikan pusat studi mimpi di AS ini menyatakan bahwa mimpi kita, khususnya mimpi erotis/seksual, jika dimaknai dengan tepat dapat membuka mata kita akan pemahaman yang membebaskan kita dari ketakutan dan membantu kita mengembangkan kehidupan seksual dan emosional yang lebih baik. Menurutnya, ketika kita bermimpi kita lebih jujur pada diri sendiri, memandang kehidupan dengan lebih matang, bijak dan tidak defensif. Kadang apa yang kita mimpikan merupakan pemahaman yang jauh lebih maju ketimbang yang kita sadari. Kemudian, bisa jadi mimpi nonseks sebetulnya membawa pemahaman tentang seks dan sebaliknya. Semua akan terungkap dan dipahami asal kita dapat menginterpretasinya dengan tepat.

Interpretasi, eh? Lupakan buku-buku tafsir mimpi yang menganggap bahwa citra apapun di mimpi akan berarti sama bagi setiap orang, juga analisis yang stereotip (mimpi gigi tanggal artinya ada yang mau meninggal, semacam itulah). Dr. Delaney menawarkan metode wawancara mimpi yang memungkinkan setiap orang melihat mimpinya mengandung metafora bagi hal-hal penting yang terjadi dalam hidup sehingga kita dapat belajar darinya. Langkah pertama jika Anda tertarik untuk menginterpretasi mimpi sensual Anda adalah buatlah jurnal mimpi yang di dalamnya tercatat gambaran mimpi Anda dan komentar Anda tentang mimpi itu. Setelah terkumpul bahan untuk dianalisis, baru kita ke langkah selanjutnya. Dan ingatlah, Anda adalah kunci untuk menyibak apa yang ada di balik mimpi sensual Anda.

Pada dasarnya jika kita ingin tahu apa makna suatu mimpi spesifik bagi seseorang ada beberapa hal yang perlu dicari, yaitu apa yang si pemimpi pikirkan dan rasakan tentang setting mimpi, karakter, objek, dan aksi; memori, pikiran dan perasaan apa yang menyusun pengalaman dengan elemen-elemen mimpi tersebut, bagaimana setiap elemen mimpi masuk ke adegan dramatik mimpi, serta bagaimana citra dan perasaan dalam mimpi terhubung dengan masalah hidup si pemimpi.

Anda dapat memulai wawancara, baik dengan orang lain maupun bertanya pada diri sendiri tentang mimpi Anda. Bertanyalah seakan Anda makhluk dari planet lain yang tidak tahu apapun tentang manusia, artinya jangan menyimpulkan sebelum Anda menelusuri mimpi dengan spesifik beserta perasaan dan asosiasinya (contoh: saya mimpi tentang Brad Pitt. Siapa dia? ).Karena apa yang terjadi dalam mimpi bisa sangat ruwet, ada baiknya elemen dalam mimpi diidentifikasi agar jelas apa setting-nya, karakter, objek, aksi, dan perasaan. Kemudian mimpi yang sudah dicatat di jurnal ditandai dengan lambang tertentu per elemen.

Secara umum ada enam tahap dalam wawancara mimpi, saya paparkan singkat saja di sini. Tahap pertama adalah mengumpulkan deskripsi yang kaya tentang mimpi dan seluruh elemennya, seperti yang sudah dikemukakan di atas. Tanyakan pada si pemimpi tentang deskripsi/definisi per elemen dengan melibatkan penilaian dan perasaannya. Tahap dua adalah rekapitulasi, mengikhtisarkan setiap deskripsi menggunakan kata-kata dan nada si pemimpi. Jangan masukkan asosiasi atau kata-kata si pewawancara. Ini maksudnya untuk menyediakan cermin bagi si pemimpi. Tahap ketiga yaitu membangun jembatan (baca:hubungan) antara situasi spesifik dalam mimpi dengan kehidupan nyata. Tahap empat adalah menguji kekuatan jembatan/hubungan tersebut dengan verifikasi dan klarifikasi. Jangan sampai si pemimpi membikin hubungan asal pas saja dan mengabaikan hal-hal yang tampaknya remeh. Tahap kelima adalah membuat kesimpulan untuk setiap deskripsi dan jembatan, sekaligus mengoreksi interpretasi dan meminta si pemimpi berkomentar. Tahap terakhir adalah refleksi. Tanyakan pemahaman apa yang sudah didapat si pemimpi dan tulis rangkuman interpretasi untuk dibaca-baca lagi.

Terdengar rumit? Barangkali bila membaca teorinya saja memang demikian, tapi kalau Anda percaya mimpi bukan sekedar kembang tidur atau penasaran dengan mimpi-mimpi erotis Anda, silakan mencoba. Yang jelas, Dr. Delaney telah memberi banyak contoh betapa orang bisa lebih memahami hidup dan memecahkan masalahnya dengan interpretasi mimpi.

Sumber:
Sensual Dreaming. How to Understand and Interpret the Erotic Content of Your Dream.