Wanita Lambat Panas? Nanti Dulu…

Salah satu mitos yang diyakini sejak zaman dahulu kala (dan sampai kini pun masih) adalah bahwa pria lebih cepat terangsang atau “panas” ketimbang wanita. Ada yang menganalogikan pria dengan oven gelombang mikro dan wanita dengan kompor listrik. Dorongan seksual pria dapat langsung cepat menyala dan bekerja penuh dalam waktu beberapa detik saja, sedangkan wanita lambat mencapai suhu tertinggi dan untuk menurunkannya pun lama juga. Saya termasuk yang mempercayai mitos ini. Namun, sebuah penelitian dari Universitas McGill memperoleh hasil yang menjungkirbalikkan mitos yang telah begitu lama mengakar tersebut.

Dr. Irv Binik (profesor psikologi dari Universitas McGill) dan rekan-rekannya melakukan penelitian menggunakan teknologi pencitraan termal untuk mengukur tingkat keterangsangan seksual. Pencitraan termal atau termografi adalah pencitraan inframerah menggunakan kamera termografik yang mendeteksi radiasi yang dipancarkan oleh objek berdasarkan temperatur mereka. Pencitraan termal ini sangat berguna untuk mendeteksi objek hangat di malam hari dan teknologi ini biasa dipakai untuk kacamata penglihatan malam dalam operasi militer. Pengukuran keterangsangan seksual memakai pencitraan termal ini adalah yang pertama dilakukan. Biasanya para peneliti seks mengukurnya dengan instrumen yang memerlukan kontak dan manipulasi genital. Proses penelitiannya adalah para subjek diberi tontonan bermacam-macam, mulai dari film porno, film horor, komedi, dan lain-lain untuk memperoleh basis data, sementara peneliti memfokuskan kamera termografik pada daerah genital subjek. Kemudian subjek pria dan wanita secara terpisah diberi tontonan film seks eksplisit yang diyakini menggairahkan bagi masing-masing jender, juga dengan disorot kamera termografik.

Peneliti memonitor perubahan temperatur tubuh subjek dari komputer di ruang lain ketika subjek merespons terhadap film seks yang dilihatnya. Diperoleh hasil bahwa pria dan wanita menunjukkan bahwa mereka terangsang dalam 30 detik. Pria mencapai keterangsangan maksimal dalam 664,6 detik dan wanita dalam 743 detik, di mana perbedaan itu secara statistik tidak signifikan. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah membandingkan keterangsangan seksual antara pria dan wanita, tidak ditemukan ada perbedaan waktu yang dibutuhkan pria dan wanita muda yang sehat untuk mencapai puncak keterangsangan.

Hasil penelitian di atas tentu saja menarik sebab selama ini kita sudah begitu terbiasa berasumsi bahwa pria selalu lebih cepat terangsang, berbeda dengan wanita. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa wanita dapat sama cepat panasnya dengan pria, secara harfiah paling tidak. Sayang sekali saya tidak berhasil memperoleh artikel asli penelitian tersebut karena saya masih penasaran dengan dasar pemilihan metode pencitraan termal untuk mengukur keterangsangan seksual. Mengingat siklus respons seksual pada wanita yang cenderung lebih variatif dibanding pria, tidak aneh memang kalau ada wanita yang terangsang sama cepat dengan pria. Saya kira penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyibak mengapa sebagian wanita lambat panas dan yang lain bak oven gelombang mikro.

Sumber:
sciencedaily.com

Diterbitkan di:  on 14 April 2009 at 3:19 am Tinggalkan sebuah Komentar

Pil KB dan Pemilihan Pasangan yang Kompatibel

Tulisan ini boleh dikatakan masih serangkai dengan dua tulisan terdahulu mengenai kemampuan manusia (terutama wanita) memilih pasangan seksual berdasarkan aroma tubuh, di mana aroma tubuh menunjukkan profil sistem imun seseorang. Tampaknya cara memilih pasangan tanpa disadari tersebut sudah terancang dengan baik karena wanita secara umum memilih pria dengan gen yang komplemen dengan mereka berdasarkan aromanya, tapi apa yang terjadi jika ada satu faktor yang masuk dan mempengaruhi hormon reproduksi wanita, yaitu konsumsi pil KB?

Peneliti yang pertama kali menyelidiki kaitan antara aroma tubuh dan ketertarikan seksual, Claus Wedekind, menemukan bahwa wanita yang sedang menggunakan pil KB memilih aroma pria yang profil MHC-nya (sekuens gen imunitas) mirip dengan mereka, berlawanan dari wanita yang tidak memakai pil KB. Penelitian di Inggris olehS. Craig Roberts, PhD, juga menunjukkan hasil serupa. Pembalikan preferensi ini bisa jadi merefleksikan mekanisme kerja pil KB, yakni menghalangi ovarium melepaskan sel telur, menipu tubuh seolah terjadi kehamilan. Kehamilan adalah kondisi yang rentan sehingga membutuhkan kehadiran sanak famili, orang yang secara genetis mirip, untuk melindungi. Kecenderungan memilih pasangan dengan gen MHC mirip dapat mengganggu hubungan pengguna pil KB dengan pasangan dalam jangka panjang. Ada kesalahan biologis di sana. Charles Wysocki, seorang psikobiologis dari Florida State University, mengatakan bahwa ketika pasangan tersebut ingin punya anak dan si wanita berhenti memakai pil KB, dia mungkin akan mendapati bahwa dirinya jadi kurang tertarik pada pasangannya tanpa bisa menjelaskan sebabnya.

Pil KB mengubah kemampuan wanita untuk mengendus pasangan seksual yang kompatibel dengan cara membuat wanita salah menginterpretasi aroma yang dicium, selain itu kemungkinan pil KB mengganggu komunikasi olfaktori dengan cara mendistoris sinyal yang dikirim si wanita dan membuatnya kurang menarik bagi pria. Geoffrey Miller, psikolog evolusioner dari University of New Mexico, melakukan sebuah penelitian dengan hasil penari telanjang yang tidak menggunakan pil KB memperoleh 50% uang tips lebih banyak dibanding mereka yang memakai pil KB. Tampaknya ada perubahan yang tidak disadari pada wanita yang memakai pil KB dan ditanggapi pria secara tak sadar pula, yang hasilnya wanita pemakai pil KB dianggap kurang menarik.

Rachel Herz, PhD, berteori bahwa pemakaian pil KB yang meluas boleh jadi merupakan faktor penyebab tingginya angka perceraian. Menurutnya, konselor pernikahan berkata bahwa banyak wanita yang ingin mengakhiri hubungan dengan pasangannya mengeluh bahwa mereka tidak tahan dengan aroma tubuh pasangan. Jika kita tidak tahan bau tubuh orang, bagaimana bisa intim dengannya? Meski demikian, Herz menolak menyebut pil KB sebagai pil pembikin cerai. Tidak sesederhana itu masalahnya. Respons wanita terhadap bau badan alami pria juga dipengaruhi perasaan si wanita terhadap si pria. Begitu dua orang lekat secara emosional, mereka akan cenderung melihat dan mengendus satu sama lain secara positif. Misalnya, seorang wanita yang jatuh cinta karena bertemu di dunia maya, tentu lebih sulit terpengaruh faktor aroma tubuh. Meski demikian, Herz merekomendasikan wanita yang mencari pasangan jangka panjang (menikah) memakai alat kontrasepsi selain pil KB, setidaknya sampai wanita itu mengenal pasangannya dengan baik dan menyukai aromanya.

Sumber:

Psychology Today

webMD.com

Diterbitkan di:  on 9 Maret 2009 at 8:07 am Tinggalkan sebuah Komentar

Ketertarikan Seksual dan Aroma Tubuh

Sepanjang manusia masih bisa jatuh cinta, pertanyaan mengenai penyebab seseorang jadi tertarik dan jatuh cinta kepada orang lain akan senantiasa terlontar. Ada yang pernah mengatakan bahwa cinta tak perlu dipertanyakan sebabnya, kalau sampai dipertanyakan itu bukanlah cinta. Anda boleh setuju, boleh juga tidak dengan pernyataan tersebut. Namun, para ilmuwan saya kira tergolong kelompok yang kontra, sebab mereka tiada hentinya melakukan berbagai penelitian yang bertujuan untuk mengungkap, paling tidak memberi sepotong penjelasan masuk akal, tentang mengapa kita tertarik secara seksual (baca: jatuh cinta) kepada seseorang. Ketertarikan seksual memang masih merupakan misteri besar. Orang kerap punya kriteria pasangan ideal, tapi ujung-ujungnya mereka menikah dengan orang yang sama sekali tak sesuai kriteria awal tadi, hal ini sudah dibuktikan dari beberapa penelitian. Sejumlah pakar berpendapat bahwa aroma mungkin merupakan faktor yang tersembunyi dalam menjelaskan ketertarikan seksual, mengapa kita merasa ada “getaran” tertentu dengan seseorang dan tidak merasakannya bila bersama orang yang lain.

Randy Thornhill, seorang psikolog evolusioner dari University of New Mexico menyatakan bahwa ketertarikan fisik secara harfiah boleh jadi bermula dari bau. Kita tidak menghiraukan pentingnya komunikasi aromasentris itu karena ia bergerak pada tingkat yang subtil. Penelitian Claus Wedekind, seorang ahli biologi dari University of Lausanne di Switzerland memperoleh kesimpulan bahwa manusia menggunakan mekanisme sinyal berbasis aroma untuk menemukan kompatibilitas. Penelitiannya dilakukan dengan meminta sejumlah subjek pria untuk mengenakan baju kaus baru selama dua malam, kemudian kelompok subjek wanita diminta untuk mengendus baju kaus tersebut dan menunjukkan bau mana yang menurut mereka paling menarik. Hasilnya wanita memilih aroma baju kaus yang dikenakan oleh pria yang secara imunologis tidak mirip dengan mereka. Perbedaannya terletak pada sekuens yang mencakup lebih dari 100 gen imunitas yang disebut MHC (major histocompatibility complex). Kode protein genetik ini membantu sistem imun mengenali patogen. Kecenderungan wanita untuk memilih pria yang MHC-nya berbeda masuk akal dari sisi biologis. Sejak zaman dahulu pasangan yang masing-masing sistem imunnya berbeda menghasilkan keturunan yang lebih tahan penyakit. Orang tua dengan sistem imun yang berbeda menurunkan kombinasinya pada anak-anak mereka, yang pada gilirannya terlindungi dari jenis patogen dan racun yang lebih luas.

Penelitian yang dilakukan Martha McClintock, ahli biologi evolusioner dari University of Chicago memperoleh hasil yang kurang lebih sama, dengan tambahan bahwa itu tidak berarti wanita memilih pria dengan gen MHC yang paling berbeda dari mereka. Wanita tidak tertarik pada aroma pria yang gen MHC-nya tidak ada kesamaan dengan mereka sama sekali. Jadi dalam memilih pasangan tampaknya manusia mencari poros tengah, bukan yang terlalu berbeda maupun kelewat mirip. Kemudian, wanita secara konsisten lebih baik dari pria dalam uji sensitivitas bau. Pria juga sensitif pada bau, akan tetapi karena wanita yang beban reproduktifnya lebih besar, wanitalah yang lebih pemilih dalam soal menentukan pasangan dan dengan demikian lebih suka membeda-bedakan ketika mengendus kompatibilitas MHC.

Gen komplemen MHC sangat berbeda antara satu orang dengan orang lain dan profil MHC hampir seunik sidik jari sehingga cara untuk mengetahui kompatibilitas kita dengan seseorang adalah dari aroma tubuhnya, cara lain seperti melihat dari ras atau warna kulit tidak bisa memprediksi dengan ajek. Aroma tubuh merupakan manifestasi eksternal sistem imun (sebagai contoh, aroma tubuh yang manis menandakan orang itu mengidap diabetes) dan aroma yang menarik bagi kita datang dari orang yang paling kompatibel secara genetik dengan kita. Biasanya hidung kita memberi arahan yang tepat dalam soal memilih pasangan yang cocok, tapi bagaimana jika entah bagaimana kita berakhir dengan pasangan yang profil MHC-nya terlalu mirip dengan kita? Carol Ober, ahli genetika dari University of Chicago dalam penelitiannya menemukan bahwa andaipun kita terjebak dalam situasi mesti memilih pasangan yang masih ada hubungan keluarga (dengan kata lain variasi gennya rendah), wanita tetap dapat menemukan pasangan yang MHC-nya cukup berbeda. Namun, ditemukan pula sejumlah pasangan yang MHC-nya mirip dan mengalami masalah kesuburan, tingkat keguguran yang lebih tinggi dan jarak antarkehamilan yang lebih panjang. Pada pasangan heteroseksual dengan profil MHC yang mirip didapati juga berbagai masalah dalam hubungan mereka, salah satunya adalah kian mirip profil MHC, kemungkinan selingkuh makin besar.

Sudah dijabarkan di atas bahwa aroma tubuh memegang peranan penting dalam ketertarikan seksual, akan tetapi janganlah menjadikan aroma sebagai satu-satunya patokan dalam memilih pasangan. Ketertarikan seksual merupakan hasil dari interaksi banyak faktor, aroma tubuh hanyalah satu di antaranya, sehingga pengetahuan tentang aroma tubuh ini perlu digunakan sesuai situasi, tergantung penilaian Anda akan pentingnya kecocokan fisik.

Sumber:
Psychology Today Magazine, Jan/Feb 2008

Diterbitkan di:  on 24 Februari 2009 at 6:06 am Tinggalkan sebuah Komentar

Memetakan Tubuh

Tulisan ini masih ada kaitannya dengan tulisan saya beberapa waktu yang lalu mengenai zona erogen pada manusia yang bisa dibaca di sini. Di sana saya memaparkan mengenai pengertian zona erogen dan jenis-jenis zona erogen secara garis besar. Disebutkan pula bahwa eksplorasi yang disertai dengan komunikasi seksual yang baik adalah kunci untuk menemukan zona erogen dan menggunakannya untuk meningkatkan sensasi, kepuasan dan pengalaman seksual. Nah, eksplorasi itu merupakan komponen utama dari topik yang akan saya urai kali ini, yakni pemetaan tubuh (body mapping).

Konsep tentang pemetaan tubuh ini saya temukan di bukunya Dr. Ruth Westheimer, seorang pakar seks yang cukup top. Intinya, pemetaan tubuh dilakukan dengan menjelajahi tubuh untuk menemukan bagian mana yang paling sensitif terhadap stimulasi (zona erogen). Pemetaan tubuh berbeda dengan pijat memijat yang tujuannya untuk menciptakan sensasi tertentu dengan menyentuh seluruh bagian tubuh. Pemetaan tubuh juga tidak cuma dapat dilakukan seseorang pada pasangannya, melainkan juga bisa dilakukan seorang diri (ketika masturbasi, contohnya). Dalam pemetaan tubuh, kadang yang menimbulkan sensasi dahsyat bukan tempat yang disentuh itu sendiri, melainkan cara menyentuh. Berbagai cara menyentuh, mulai dari yang kasar, lembut, berkesinambungan, sebentar saja, dapat memiliki efek yang berbeda meski daerah yang disentuh sama, sehingga untuk menemukan mana yang menimbulkan kenikmatan tertinggi Anda bisa jadi perlu bereksperimen dengan tubuh pasangan maupun tubuh Anda sendiri. Dapat dengan mengelus, mencium, memijat, menggigit, menjilat, mengulum…apapun model rangsangan yang ada di kepala Anda.

Dr. Ruth menegaskan bahwa pemetaan tubuh merupakan hadiah indah yang timbal balik terus menerus karena setelah Anda dan pasangan telah saling mengeksplorasi tubuh masing-masing, menemukan daerah paling sensual dan stimulasi bagaimana yang paling optimal, Anda dapat memakai teknik tersebut sepanjang kehidupan seksual Anda dan pasangan (tentunya kalau ganti pasangan Anda perlu peta yang berbeda mengingat zona erogen tiap orang bervariasi). Jadi, pemetaan tubuh bukan hanya cara untuk memperpanjang permainan pendahuluan (foreplay), tapi merupakan semacam latihan yang minimal dilakukan sekali oleh tiap pasangan untuk membangun bank data informasi yang bisa dipakai setiap kali bercinta. Dan saya kira, semakin banyak berlatih, kian banyak pula informasi yang bisa diraup.

Namun, Anda perlu memperhatikan titik yang menimbulkan rasa geli. Kadang-kadang daerah yang merupakan zona erogen bisa membikin kegelian bila disentuh pada waktu tertentu, meskipun penjelasan ilmiah tentang ini belum ditemukan. Kalau suatu ketika pasangan Anda kegelian bila disentuh dan meminta Anda berhenti menyentuhnya di situ, tidak perlu kelewat khawatir. Kemungkinan itu terjadi hanya pada saat-saat tertentu. Tapi kalau pasangan tidak pernah mau disentuh atau terlalu sensitif, itu bisa menjadi tanda ada masalah psikis yang menghambat dia untuk ingin dekat dengan Anda dan Anda perlu membicarakannya dengan pasangan.

Sumber:
Sex for Dummies.

Diterbitkan di:  on 4 November 2008 at 4:16 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Apa Guna Rambut Pubis?

Saya termasuk orang yang yakin bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pastilah ada tujuan dan gunanya. Jadi apabila saya mendapati sesuatu hal yang tampaknya sia-sia belaka, saya berpikir bahwa itu karena saya (dan mungkin orang-orang lain juga) saja yang belum menemukan manfaatnya. Berangkat dari pemikiran di atas, saya yang agak penasaran dengan alasan ditumbuhkannya rambut di sekitar organ seksual manusia berupaya mencari sumber yang saya harap dapat menjawab keingintahuan saya, dan inilah hasilnya.

Ternyata cukup banyak teori yang berseliweran mengenai fungsi rambut pubis, dan belum semua dapat dibuktikan secara ilmiah, dengan kata lain tidak ada teori definitif. Salah satu teori yang cukup menonjol adalah rambut pubis sebagai daya tarik seksual. Teori ini terkait dengan feromon, suatu zat beraroma yang dihasilkan tubuh, yang dapat menstimulasi secara seksual orang lain yang menciumnya. Rambut pubis yang tumbuh di sekitar genital menangkap aroma eksotik yang disinyalir merupakan afrodisiak kuat itu. Feromon kerap terjebak di rambut pubis ketika kelenjar apokrin melepaskan sekresi tanpa bau di permukaan kulit yang tercampur dengan bakteri yang dibusukkan oleh sekresi dari kelenjar sebaseus. Feromon barangkali tidak bisa terang-terangan dihidu baunya seperti apa, tapi tampaknya bisa dideteksi secara tidak sadar. Jadi, kalau Anda bertanya-tanya mengapa Anda tertarik pada pasangan Anda yang sekarang (atau seseorang yang ingin Anda jadikan pasangan), bisa jadi feromon si dialah penyebabnya.

Teori lain yang masih berkaitan dengan rambut pubis sebagai daya tarik seksual menjelaskan bahwa rambut pubis berperan sebagai penanda visual seksualitas seseorang. Seleksi alam mungkin mempertahankan rambut di bagian pubis (sementara bulu di bagian tubuh lain menghilang, kalau Anda percaya teori evolusi) karena adanya rambut pubis menunjukkan bahwa seseorang sudah matang secara seksual dan dapat bereproduksi. Ada pula yang berteori bahwa rambut pubis berfungsi sebagai “bantalan” ketika berhubungan seksual, melindungi dari gesekan. Teori lainnya adalah bahwa rambut pubis gunanya itu untuk menjaga agar organ intim kita tetap hangat. Rambut pubis wanita bisa jadi menghalangi masuknya benda asing kecil ke dalam vagina (ini tidak menjelaskan rambut pubis pada pria).

Terakhir, ada teori yang tidak berhubungan dengan soal seks sama sekali, yaitu rambut pubis membantu melumasi area di antara kedua kaki sehingga menjadikan pergerakan lebih halus dan nyaman, seperti fungsi rambut di ketiak. Anda bisa mencoba mencukur habis rambut ketiak dan kemaluan untuk merasakan sendiri perbedaan friksi yang terjadi, bakal lebih terasa gesekan antara kedua paha ketika berjalan dan lengan kala bergerak.

Terserah Anda mau percaya teori yang mana. Buat saya, sejauh ini semua cukup masuk akal.

Sumber:
Dari berbagai sumber.

Diterbitkan di:  on 23 September 2008 at 1:35 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Zona Erogen 101

Sebuah kutipan yang pernah saya baca menyebutkan bahwa organ seks kita yang paling hebat sesungguhnya bukanlah yang berada di antara kedua belah paha, melainkan yang bersemayam di antara kedua daun telinga, alias otak. Hal itu memang benar adanya sebab dalam urusan membangkitkan gairah seksual, otak adalah organ pengindera yang paling berperan. Segala macam stimulus bisa menjadi stimulus seksual jika otak menginterpretasinya demikian. Di antara beragam stimulus, stimulus berupa sentuhan adalah yang cenderung dominan dalam aktivitas keintiman seksual. Sentuhan pada berbagai area permukaan kulit mungkin merupakan sumber yang paling kerap membangkitkan gairah seksual ketimbang stimulus lainnya. Meski demikian, karena penyebaran ujung-ujung saraf di kulit tidak merata, beberapa area tubuh dapat lebih sensitif terhadap sentuhan. Itulah zona erogen.

Zona erogen, yang pengertian akar bahasanya adalah melahirkan sensasi erotis, didefinisikan sebagai daerah-daerah di tubuh yang lebih responsif terhadap rangsangan taktil (sentuhan) atau stimulasi seksual. Para ahli membagi zona erogen ke dalam dua kategori, yaitu zona erogen primer dan zona erogen sekunder. Apa yang membedakan kedua zona tersebut? Zona erogen primer adalah area-area tubuh tempat konsentrasi ujung-ujung saraf (dengan kata lain, sudah didesain dari sananya untuk sensitif), sedangkan zona erogen sekunder adalah area tubuh yang menjadi sensitif secara erotik melalui pengalaman dan belajar.

Nah, sekarang daerah mana saja yang termasuk zona erogen? Kita mulai dari zona erogen primer dulu yang wilayahnya mencakup genital (alat kelamin), bokong, anus, perineum (area antara alat kelamin dan anus), payudara (terutama puting, baik pria maupun wanita), paha bagian dalam, ketiak, pusar, leher, telinga (terutama daun telinga) dan mulut (bibir, lidah dan seluruh rongga mulut, kalau Anda mau menjelajah). Sebagai tambahan, banyak orang yang mendapati bahwa jari tangan dan kaki mereka sensitif terhadap sentuhan. Namun, penting untuk diingat bahwa meski daerah-daerah di atas merupakan zona erogen, tidak ada jaminan bahwa menstimulasinya akan berhasil membangkitkan gairah seksual pasangan kita. Tampaknya ada perbedaan preferensi individual di sini. Apa yang bisa menyalakan gairah seseorang bisa jadi tidak berdampak apapun pada orang lain, bahkan mungkin dapat menjengkelkannya.

Itu tadi zona erogen primer. Sekarang, kira-kira daerah mana di tubuh yang termasuk zona erogen sekunder? Jawabannya adalah bisa seluruh bagian tubuh. Ingat bahwa zona erogen sekunder muncul karena ada unsur belajar, sehingga setiap area yang disentuh dan diasosiasikan dengan keintiman seksual bisa menjadi zona erogen sekunder. Contohnya, kalau seorang wanita dicium punggungnya ketika bercinta, dia mengaitkan daerah tersebut dengan seks dan jadilah punggung wanita itu sebagai zona erogen sekunder yang bila dicium lagi akan membangkitkan gairahnya.

Barangkali uraian mengenai zona erogen di atas menyisakan satu pertanyaan besar di benak Anda yaitu bagaimana kita mengetahui tepatnya di mana harus menyentuh pasangan (dan atau diri sendiri) untuk membangkitkan gairah? Saya cuma bisa bilang, eksplorasi, kreativitas dan komunikasi seksual yang baik adalah kunci untuk mengetahuinya (itu termasuk dalam pemetaan tubuh, mungkin saya akan bahas di tulisan lain). Sebagai penutup tulisan ini saya cantumkan potongan fan fiction (Starboard Home, karya Ezra’s Persian Kitty) yang bagi saya erotis dan pas untuk tulisan ini:

“We kissed, who moved first I don’t know, doesn’t matter, we kissed. The pulsing strong and hot in our veins. Mouths mating, lips sliding, tongues sweeping teeth, and breathing of each other like one being. Skin on skin on skin all over, smooth and bare and it was the most natural thing in the world, like breathing, like singing.”

Sumber:

Our Sexuality

Diterbitkan di:  on 10 Agustus 2008 at 5:39 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Rasanya Adalah…Karena…

Hidup adalah tentang interkoneksi dan kausalitas antara berbagai hal. Salah satu contohnya adalah kalimat yang pernah saya lihat muncul beberapa kali di artikel tentang kesehatan yang bunyinya, “Anda adalah apa yang Anda makan.” Kalau biasanya kalimat ini diasosiasikan dengan artikel tentang obesitas, bau badan, penyakit tertentu dan semacam itu, kali ini kalimat tersebut akan saya asosiasikan dengan sesuatu yang seksual. Tepatnya, kaitan antara makanan yang dilahap seorang pria dengan air mani yang dikeluarkan ketika ejakulasi.

Saya belum menemukan sumber yang membahas mengenai mekanismenya secara fisiologis. Namun, saya pajang sebuah daftar yang memuat tentang beberapa jenis rasa air mani (yang kata seorang ginekolog populer mengandung protein dan “anggap saja seperti segelas susu”) dan makanan (atau minuman atau obat) yang konon menyebabkan rasa demikian. Siapa tahu di antara Anda ada yang baik dengan sengaja maupun tidak pernah (atau sering) merasakan cairan ejakulasi milik lebih dari satu orang pria, dan penasaran mengapa rasanya berbeda.

1. Pahit, sumbernya dari: kopi, alkohol, rokok, mariyuana, bisa juga karena ada infeksi saluran kemih atau prostat.
2. Tajam/menusuk, sumbernya dari: daging merah, makanan berlemak, produk peternakan (contohnya susu), coklat, asparagus, brokoli, atau bayam.
3. Moderat, mengandung hanya satu atau dua faktor penyebab rasa tajam dan tidak mengonsumsi yang menyebabkan rasa pahit.
4. Mild (ringan), sumbernya dari: buah (terutama apel dan nanas), parsley, seledri, peppermint dan spearmint. Orangnya vegetarian.
5. Manis, sumbernya dari: minuman yang difermentasi alami atau karena orangnya diabetik atau di ambang batas diabetik.

Hm, sayang sekali penelitian tentang ini baru dilakukan di Barat. Saya ingin tahu apa efeknya makan jengkol dan petai terhadap rasa dan terutama aroma air mani.

Sumber:
Our Sexuality

Diterbitkan di:  on 18 Juli 2008 at 4:24 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Jangan Patahkan Apa yang Masih Mau Dipakai Lagi

Terjemahan bebas dari kutipan sebuah fanfiction (The Rascal, oleh Erestor) yang aslinya berbunyi, “Do not break anything off that you might wish to use again in future!” itu sengaja saya pakai buat judul tulisan ini. Soalnya adegan yang di dalamnya terdapat dialog tersebut merupakan satu ilustrasi (jenaka) tentang topik yang akan saya jabarkan di sini. Singkat saja, dalam adegan fanfiction itu dua (sebut saja) insan tengah bercinta sambil mengobrol. Ketika salah satu (si X) melontarkan kalimat yang mengejutkan, pasangannya (si Y) mengubah posisi tubuhnya dengan mendadak sehingga menyebabkan penisnya X nyaris patah. Ouch.

Anda barangkali mengerutkan kening membacanya. Penis patah? Ya, meskipun penis secara anatomi tidak ada tulangnya, tapi cedera yang secara medis biasa disebut penile fracture (patah penis) atau penile trauma itu bisa terjadi. Biasanya patah penis terjadi karena ada benturan keras ataupun penis tertekuk ketika ereksi sehingga menyebabkan putusnya selaput berserat tebal yang melindungi jaringan korpora kavernosum, yaitu pipa yang menggelembung saat ereksi. Gejala penis patah selain rasa sakit yang amat sangat adalah suara seperti letupan, penis langsung melembek dan hematoma di kulit. Gejala-gejala ini mirip dengan gejala memar atau lebam di penis.

Lantas bagaimana penanganannya? Penanganan yang dilakukan tergantung tingkat keparahan cederanya, berkisar dari pembelatan dan diberi es batu (untuk kasus ringan) sampai operasi kalau kondisinya benar-benar gawat (dan operasi perbaikan ini yang biasanya dilakukan). Kebanyakan pria yang mengalami penis patah bisa sembuh dan berfungsi normal secara seksual. Meski demikian tingkat komplikasi bisa meningkat bila penderita terlambat ditolong atau malah (sok tahu) mencoba menangani sendiri. Komplikasi yang bisa terjadi antara lain disfungsi ereksi, penis bengkok permanen, membahayakan saluran kencing dan rasa sakit ketika berhubungan seksual.

Biasanya penis patah terjadi ketika sedang berhubungan seksual (di Barat) atau memanipulasi penis untuk menghilangkan ereksi (di Timur Tengah). Untuk posisi misionaris (standar), cedera ini bisa terjadi ketika sedang panas-panasnya menikmati seks dan menimpakan beban terlalu berat pada penis kala hendak mempenetrasi vagina. Sedangkan untuk posisi wanita di atas, resiko patah penis meningkat dan cedera umumnya terjadi karena penis menabrak panggul atau bagian perineum (salah sasaran, kira-kira begitu). Oleh karena itu, komunikasi dengan pasangan saat berhubungan seksual itu penting. Dan tentu saja, jangan grasa-grusu.

Sumber:
Our Sexuality
wikipedia
Why Do Men Have Nipples?

Diterbitkan di:  on 26 Juni 2008 at 12:12 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Rasio Pinggang-Pinggul dan Daya Tarik Fisik

Mengapa Anda tertarik pada lawan jenis atau pasangan Anda? Dari jawaban yang Anda sekalian lontarkan, barangkali banyak di antaranya merupakan kualitas terkait dengan aspek kepribadian atau sosial seseorang karena Anda tak mau dinilai sebagai orang yang cuma memandang orang lain dari kulit luarnya belaka. Padahal, sebagai makhluk visual, kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa daya tarik fisik itu penting. Salah satu faktor fisik yang disinyalir turut andil dalam menentukan ketertarikan (seksual) kita pada seseorang yang akan diulik di sini adalah rasio pinggang-pinggul (waist-hip ratio atau WHR).

Rasio pinggang-pinggul adalah perbandingan antara keliling pinggang dengan pinggul. Rasio ini mengukur proporsi distribusi lemak di sekitar torso. Konsep dan signifikansi rasio ini pertama kali diteorikan oleh psikolog evolusioner Dr. Devendra Singh dari University of Texas pada tahun 1993, yang mengamati bahwa pada awal 1990-an model majalah Playboy dan kontestan Miss America secara gradual menjadi kurus antara 1960-1980, tapi rasio antara pinggang dan pinggul konstan. Singh kemudian melakukan eksperimen dengan materi gambar 12 wanita, 4 bertubuh kurus, 4 tubuhnya sedang dan sisanya gemuk yang rasio pinggang-pinggulnya dimanipulasi. Para pria yang menjadi subjek eksperimen (dengan rentang usia, ras dan latar belakang bervariasi) diminta menilai kedua belas gambar tersebut dari tingkat aktraktivitasnya, dan ditemukan hasil bahwa rasio pinggang-pinggul lebih berpengaruh daripada bentuk tubuh. Wanita dengan rasio 70% dinilai paling menarik oleh pria dari kultur Eropa (Barat), pria Asia lebih tertarik pada wanita dengan rasio 60%, sementara di Amerika Selatan dan Afrika wanita dengan rasio 80-90% idolanya. Sebagai catatan, pada penelitian di atas yang menyebabkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok rasial dan kultural adalah karena rasio yang dimanipulasi frontal (pada gambar wanita tampak depan). Ketika rasio yang diukur adalah rasio aktual (keliling pinggang dan pinggul), nilai yang disukai secara universal adalah 70%. Pinggang berukuran 70% dari pinggul.

Lantas, ada apa dengan angka keramat 70% itu? Menurut Singh, pria dan wanita sejak zaman kuno telah mempelajari informasi tersebut secara tidak sadar dan sampai kini informasi tersebut masih tertanam. Wanita dengan rasio pinggang-pinggul 70% memperlihatkan kesuburan tinggi dan secara umum lebih sehat daripada wanita lainnya. Menurut penelitian, mereka memiliki level estrogen yang optimal dan lebih kurang rentan terhadap penyakit mayor seperti diabetes, problem jantung dan kanker rahim. Wanita yang rasio pinggang-pinggulnya antara 67-80 persen masih berpeluang menarik perhatian pria meski dia agak kelebihan berat badan, jangan khawatir. Wanita dengan rasio demikian itu dinilai berkarakter jenaka, seksi, sehat dan cerdas, Wanita dengan pinggang tebal dipandang penuh perhatian dan setia, sedangkan wanita yang terlalu kurus dianggap agresif dan ambisius.

Baiklah, rasio pinggang-pinggul memang merupakan salah satu faktor fisik yang mempengaruhi daya tarik seorang wanita. Bagaimana dengan pria? Pria cenderung memiliki pinggang yang kurang menonjol dibandingkan wanita sehingga rasio pria yang dianggap menarik berkisar pada angka 90%. Pria dengan rasio demikian itu dianggap lebih sehat dan subur dengan resiko kanker testikular dan prostat yang lebih rendah. Dan mumpung saya masih mengoceh tentang daya tarik fisik pria, saya informasikan sekalian bahwa menurut buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, wanita tertarik pada pria berbentuk tubuh V dengan bahu lebar, pinggang sempit dan lengan yang kuat. Dagu yang kuat, garis hidung dan alis juga memberi kesan bahwa pria itu adalah sosok yang tangguh. Nah, konon wanita menyukai bokong pria yang kecil dan sempit. Alasannya bisa jadi karena bentuk bokong yang demikian itu memastikan pria dapat memberikan dorongan kuat ke depan selama bersanggama, sehingga meningkatkan kemungkinan pembuahan. Hm.

Sumber:
Dari berbagai sumber.

Diterbitkan di:  on 1 April 2008 at 8:03 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Pria Tinggi dan Wanita Berambut Panjang

“Cowok itu cakep, sih. Tapi sayang, pendek.” Ada di antara Anda kaum wanita yang pernah mengucapkan itu atau mendengar komentar serupa dari teman wanita Anda ? Atau Anda kaum pria yang terkesan pada gadis-gadis bintang iklan sampo yang rambutnya hitam lebat lurus indah panjang tergerai bak air terjun kelam di punggungnya ?

Ketertarikan kita pada pria bertubuh tinggi maupun wanita berambut panjang tampaknya cukup umum. Dalam riset yang dilakukan di Universitas Pecs, Hungaria disebutkan bahwa subjek pria menilai wanita yang wajahnya dibingkai rambut yang sedang sampai panjang lebih cantik. Bahkan wanita yang kurang menarik pun kalau rambutnya panjang jadi tampak lebih cantik. Pria juga mengasosiasikan kepribadian wanita dengan potongan rambutnya. Wanita yang rambutnya lebih panjang dinilai intelek, sehat dan matang, sementara wanita berambut pendek dianggap lebih muda, jujur, perhatian dan emosional. Secara umum, pria memilih wanita dengan kemudaan yang tampak di wajahnya karena sifat tersebut menandakan kesuburan, tapi kenapa pria tertarik pada wanita berambut panjang ? Peneliti mengajukan ide bahwa rambut yang panjang membutuhkan waktu untuk memanjangkan dan energi untuk merawatnya, sehingga rambut panjang wanita menandakan kesehatan dan kekayaannya. Itu bisa jadi alasan kenapa pria tertarik pada wanita berambut panjang.

Sekarang, bagaimana dengan pria bertubuh tinggi ? Menurut penelitian dengan subjek personil Yahoo, 23 persen pria mau kencan dengan wanita yang lebih tinggi dari mereka. Nah, kalau wanita, cuma 4 persen yang mau kencan dengan pria yang lebih pendek dari mereka. Dan kita bisa lihat sekilas memang lebih banyak pasangan yang prianya lebih tinggi. Kemudian, preferensi tinggi pasangan juga tidak terkait dengan feminisme. Penjelasannya adalah bahwa preferensi wanita terhadap pria tinggi terkait dengan sejarah evolusi kita. Pria bertubuh tinggi dianggap bisa memberi keamanan fisik dan emosional, sehingga hidup wanita dan anak-anaknya lebih terjamin.

Tulisan ini hanya memaparkan dua dari banyak macam faktor pencetus ketertarikan antara pria-wanita dan tentu saja tidak berlaku secara universal. Kemudian setiap manusia memiliki kriteria sendiri tentang lawan jenis yang bagaimana yang menarik baginya, sehingga kalau kebetulan Anda pria bertubuh pendek atau wanita berambut pendek, Anda tak perlu berpikir Anda akan dinilai kurang menarik. Buktinya, Tom Cruise, toh sukses menyabet dua bintang perempuan yang lebih tinggi darinya.

Sumber :
Psychology Today Magazine, Jan/Feb 2008

Diterbitkan di:  on 5 Maret 2008 at 9:56 am Komentar (1)
Tags: