Ketertarikan Seksual dan Aroma Tubuh

Sepanjang manusia masih bisa jatuh cinta, pertanyaan mengenai penyebab seseorang jadi tertarik dan jatuh cinta kepada orang lain akan senantiasa terlontar. Ada yang pernah mengatakan bahwa cinta tak perlu dipertanyakan sebabnya, kalau sampai dipertanyakan itu bukanlah cinta. Anda boleh setuju, boleh juga tidak dengan pernyataan tersebut. Namun, para ilmuwan saya kira tergolong kelompok yang kontra, sebab mereka tiada hentinya melakukan berbagai penelitian yang bertujuan untuk mengungkap, paling tidak memberi sepotong penjelasan masuk akal, tentang mengapa kita tertarik secara seksual (baca: jatuh cinta) kepada seseorang. Ketertarikan seksual memang masih merupakan misteri besar. Orang kerap punya kriteria pasangan ideal, tapi ujung-ujungnya mereka menikah dengan orang yang sama sekali tak sesuai kriteria awal tadi, hal ini sudah dibuktikan dari beberapa penelitian. Sejumlah pakar berpendapat bahwa aroma mungkin merupakan faktor yang tersembunyi dalam menjelaskan ketertarikan seksual, mengapa kita merasa ada “getaran” tertentu dengan seseorang dan tidak merasakannya bila bersama orang yang lain.

Randy Thornhill, seorang psikolog evolusioner dari University of New Mexico menyatakan bahwa ketertarikan fisik secara harfiah boleh jadi bermula dari bau. Kita tidak menghiraukan pentingnya komunikasi aromasentris itu karena ia bergerak pada tingkat yang subtil. Penelitian Claus Wedekind, seorang ahli biologi dari University of Lausanne di Switzerland memperoleh kesimpulan bahwa manusia menggunakan mekanisme sinyal berbasis aroma untuk menemukan kompatibilitas. Penelitiannya dilakukan dengan meminta sejumlah subjek pria untuk mengenakan baju kaus baru selama dua malam, kemudian kelompok subjek wanita diminta untuk mengendus baju kaus tersebut dan menunjukkan bau mana yang menurut mereka paling menarik. Hasilnya wanita memilih aroma baju kaus yang dikenakan oleh pria yang secara imunologis tidak mirip dengan mereka. Perbedaannya terletak pada sekuens yang mencakup lebih dari 100 gen imunitas yang disebut MHC (major histocompatibility complex). Kode protein genetik ini membantu sistem imun mengenali patogen. Kecenderungan wanita untuk memilih pria yang MHC-nya berbeda masuk akal dari sisi biologis. Sejak zaman dahulu pasangan yang masing-masing sistem imunnya berbeda menghasilkan keturunan yang lebih tahan penyakit. Orang tua dengan sistem imun yang berbeda menurunkan kombinasinya pada anak-anak mereka, yang pada gilirannya terlindungi dari jenis patogen dan racun yang lebih luas.

Penelitian yang dilakukan Martha McClintock, ahli biologi evolusioner dari University of Chicago memperoleh hasil yang kurang lebih sama, dengan tambahan bahwa itu tidak berarti wanita memilih pria dengan gen MHC yang paling berbeda dari mereka. Wanita tidak tertarik pada aroma pria yang gen MHC-nya tidak ada kesamaan dengan mereka sama sekali. Jadi dalam memilih pasangan tampaknya manusia mencari poros tengah, bukan yang terlalu berbeda maupun kelewat mirip. Kemudian, wanita secara konsisten lebih baik dari pria dalam uji sensitivitas bau. Pria juga sensitif pada bau, akan tetapi karena wanita yang beban reproduktifnya lebih besar, wanitalah yang lebih pemilih dalam soal menentukan pasangan dan dengan demikian lebih suka membeda-bedakan ketika mengendus kompatibilitas MHC.

Gen komplemen MHC sangat berbeda antara satu orang dengan orang lain dan profil MHC hampir seunik sidik jari sehingga cara untuk mengetahui kompatibilitas kita dengan seseorang adalah dari aroma tubuhnya, cara lain seperti melihat dari ras atau warna kulit tidak bisa memprediksi dengan ajek. Aroma tubuh merupakan manifestasi eksternal sistem imun (sebagai contoh, aroma tubuh yang manis menandakan orang itu mengidap diabetes) dan aroma yang menarik bagi kita datang dari orang yang paling kompatibel secara genetik dengan kita. Biasanya hidung kita memberi arahan yang tepat dalam soal memilih pasangan yang cocok, tapi bagaimana jika entah bagaimana kita berakhir dengan pasangan yang profil MHC-nya terlalu mirip dengan kita? Carol Ober, ahli genetika dari University of Chicago dalam penelitiannya menemukan bahwa andaipun kita terjebak dalam situasi mesti memilih pasangan yang masih ada hubungan keluarga (dengan kata lain variasi gennya rendah), wanita tetap dapat menemukan pasangan yang MHC-nya cukup berbeda. Namun, ditemukan pula sejumlah pasangan yang MHC-nya mirip dan mengalami masalah kesuburan, tingkat keguguran yang lebih tinggi dan jarak antarkehamilan yang lebih panjang. Pada pasangan heteroseksual dengan profil MHC yang mirip didapati juga berbagai masalah dalam hubungan mereka, salah satunya adalah kian mirip profil MHC, kemungkinan selingkuh makin besar.

Sudah dijabarkan di atas bahwa aroma tubuh memegang peranan penting dalam ketertarikan seksual, akan tetapi janganlah menjadikan aroma sebagai satu-satunya patokan dalam memilih pasangan. Ketertarikan seksual merupakan hasil dari interaksi banyak faktor, aroma tubuh hanyalah satu di antaranya, sehingga pengetahuan tentang aroma tubuh ini perlu digunakan sesuai situasi, tergantung penilaian Anda akan pentingnya kecocokan fisik.

Sumber:
Psychology Today Magazine, Jan/Feb 2008

Diterbitkan di: on 24 Februari 2009 at 6:06 am Tinggalkan sebuah Komentar

Coklat dan Seks

Sebetulnya tulisan ini tidak secara khusus dipublikasikan dalam rangka turut memeriahkan hari Valentine, tetapi mengingat temanya tentang coklat dan waktunya yang bertepatan dengan 14 Februari, kalau Anda mau mengira demikian, tak jadi soal. Perkara maraknya coklat beraneka ragam di pasaran menjelang perayaan hari kasih sayang beberapa tahun terakhir ini menarik perhatian saya. Di satu sisi, saya anggap itu adalah trik pemasaran yang tampaknya cukup sukses. Di segi lain, agar trik pemasaran itu dapat berhasil, tentu konsumen mesti percaya bahwa ada keterkaitan antara coklat dengan cinta (dan pada akhirnya, seks). Nah, sungguhkah ada hubungan antara coklat dan seks? Coba kita telisik.

Sejak awal bangsa Maya bercocok tanam biji coklat, sudah ada kepercayaan bahwa coklat memiliki efek euforik pada panca indera. Orang-orang Maya mengasosiasikan coklat dengan dewa kesuburan mereka. Kemudian, orang-orang Aztec menjadikan coklat sebagai afrodisiak khusus buat kalangan bangsawan kerajaan. Para penjelajah Spanyol melaporkan bahwa Kaisar Montezuma dari Aztec mengonsumsi minuman coklat dalam jumlah banyak sebelum masuk ke haremnya. Orang-orang Spanyol lalu menyebarkan kepercayaan si kaisar tadi bahwa coklat adalah afrodisiak atau penggugah gairah seksual dan membawanya ke Eropa. Kepercayaan macam begitu juga dimiliki oleh Giacomo Casanova, salah satu pencinta terpopuler dalam sejarah (atau pria mata keranjang paling kesohor, tergantung perspektif Anda). Sejak itulah penggunaan coklat sebagai bagian ritual bercinta berkembang. Dipercaya pula bahwa selain meningkatkan nafsu seksual, coklat juga menghasilkan sensasi kesenangan mirip orgasme.

Ilmuwan modern akhirnya berhasil menguak kandungan psikotropika dalam coklat dan efeknya terhadap manusia. Coklat memiliki kandungan stimulan dalam kadar sedang, yaitu kafein dan theo-bromine. Coklat juga diketahui meningkatkan level serotonin yang mengurangi kecemasan (serotonin juga diasosiasikan dengan efek memakai ganja, tapi jangan khawatir, Anda harus makan coklat banyak sekali untuk sampai ke sana). Tidak satupun dari bahan-bahan tersebut yang menguatkan hubungan antara makan coklat dan peningkatan kepuasan seksual dengan sendirinya. Penyebab kepercayaan orang tentang kaitan seks dan coklat adalah pelepasan endorfin yang diproduksi ketika makan coklat (khususnya coklat hitam) yang menimbulkan sensasi mirip kepuasan/kebahagiaan hubungan seksual yang sehat. Kemudian, coklat juga mengandung phenyl-ethylamine yang dikenal dapat menstimulasi pelepasan dopamin ke pusat kesenangan di otak yang umum diasosiasikan dengan orgasme. Phenyl-ethylamine dan serotonin dalam coklat diduga meningkatkan suasana hati dan merupakan stimulan seksual ringan. Makan coklat membuat Anda merasa senang sampai euforik. Coklat bisa juga dianggap afrodisiak karena ada kesenangan sensual ketika coklat meleleh di mulut (kaitannya dengan makanan erotis).

Sebuah penelitian perilaku telah dilakukan untuk mempelajari perbedaan perilaku seksual antara wanita yang makan banyak coklat dan yang tidak. Hasilnya, wanita yang makan lebih banyak coklat kehidupan seksnya lebih memuaskan. Namun, hasil ini juga bisa diinterpretasikan sebaliknya, yaitu wanita yang puas dengan kehidupan seksnya cenderung mengonsumsi coklat lebih banyak. Memang hubungan antara seks dan coklat tidak dapat dibuktikan seratus persen, tapi tampaknya hubungan tersebut ada, entah disebabkan oleh bahan-bahan dalam coklat, sensualitas coklat, kepercayaan sugestif tentang coklat, atau sebab lainnya. Dan itulah yang menyebabkan makanan satu ini tetap lestari dan senantiasa dicari.

Sumber:
sexscrolls.net
webMD.com

Diterbitkan di: on 14 Februari 2009 at 3:30 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Slash, Sebuah Pengantar Bagian Ketiga

Di tulisan yang merupakan penutup rangkaian tulisan tentang slash ini saya akan meneruskan kajian slash dari sisi jender, kritik tentang slash dan (tidak adanya?) slash di Indonesia.

Fans dan kaum akademisi sepakat bahwa slash merepresentasi cara berpikir dan menulis ulang maskulinitas tradisional. Daya tarik slash di antaranya terletak pada penempatan tanggung jawab emosional pada pria untuk mempertahankan hubungan ketika di dunia nyata pria biasanya menghindarinya (pria, antonimnya adalah komitmen, begitulah). Slash mengangkat isu tentang tekanan sosial yang menghalangi keintiman di antara pria. Kemudian, slash merupakan bentuk kritik atas maskulinitas tradisional atau menjadi visi utopis sebuah kontinum homososial-homoerotik pria. Slash mengguncang ide konvensional tentang maskulinitas dengan memunahkan penghalang yang menghambat realisasi hasrat homoseksual, slash menguak sisi erotis persahabatan antarpria, mengkonfrontasi ketakutan yang mencegah pria mencapai keintiman. Tidak heran bila penulis slash banyak dari kaum wanita karena konsep kontinum antara ikatan homososial dan homoseksual antarperempuan tidak sedikotomis pada lelaki (gampangnya, dua wanita yang tampak lekat cenderung tidak dicap homoseksual dibanding dua lelaki yang intensitas kelekatannya sama).

Bacon-Smith berpendapat bahwa wanita menulis slash karena kultur meremehkan kepribadian wanita sehingga wanita tidak bisa membayangkan dirinya sebagai karakter heroik kecuali mereka berimajinasi sebagai pria. Pendapat tersebut diperkuat oleh Shoshanna Green, Cynthia Jenkins and Henry Jenkins. Mereka menyebut beberapa alasan untuk mengidentifikasi diri dengan tokoh pahlawan pria: ia adalah tokoh utama dan ia melakukan hal yang menarik dan menikmatinya. Sedangkan alasan untuk tidak mengidentifikasi diri dengan tokoh pahlawan wanita: pahlawan wanita tidak berharga untuk diidentifikasi dan kalaupun berkarakter tangguh, seringkali ia menggunakan tipu-tipu femininnya. Jadi wanita lebih ingin menjadi tokoh pahlawan pria, si pahlawan pria ini punya teman pria dan berikutnya mereka saling tertarik karena kepribadian masing-masing. Terciptalah formula yang dinamakan slash.

Pakar fiksi fans perintis seperti Joanna Russ, Patricia Frazier Lamb, Diana Veith dan Constance Penley berargumen bahwa wanita yang menulis slash punya agenda feminis, yakni mencoba menantang ketidaksetaraan jender heteroseksual yang biasa ada dalam literatur romantis. Veith dan Lamb secara khusus menyoroti tentang androgynitas dalam slash, yaitu karakter pria yang kerap digambarkan merupakan kombinasi dari sifat maskulin dan feminin menurut stereotipe budaya Barat atau dengan kata lain ada perpaduan jender. Contohnya, karakter pria yang tangguh, tapi lembut pada kekasihnya. Banyak fans slash berpendapat bahwa gambaran perpaduan jender pada suatu tokoh itu erotik. Kalau Anda menyukai gambar iklan pria kekar sedang memeluk bayi mungil, Anda pasti paham apa daya tariknya. Perpaduan jender tersebut tidak menunjukkan upaya untuk membalikkan konstruk jender konvensional, melainkan sebaliknya.

Sementara Catherine Salmon dan Don Symons menyatakan bahwa slash mirip dengan novel roman arus utama. Kemiripannya antar lain slash intinya adalah kisah cinta dan berakhir dengan bahagia. Walau slash lebih banyak mengandung adegan seks eksplisit dibanding novel roman, adegan seks itu fokusnya lebih ke sisi emosional dan penggunaannya sesuai plot. Slash tampaknya bukan tentang homoseksualitas pria sama sekali, melainkan fantasi perempuan tentang seks heteroseksual diwujudkan seolah dalam tubuh pria. Hal yang mirip lainnya adalah tema tentang eksklusivitas dan kecemburuan seksual. Disebutkan pula pesona slash adalah kombinasi roman tradisional wanita dengan persahabatan pria, petualangan dan pengambilan resiko.

Reaksi orang terhadap slash beragam, mulai dari bingung, terhibur, sampai menuduh penggemar slash sebagai makhluk sesat. Fans slash juga dituduh sebagai eskapis, menolak tunduk pada kepatutan masyarakat dan dianggap mengancam heteroseksualitas. Orang yang mengkritik slash sering berargumen bahwa ada kemungkinan cerita homoseksual macam itu tak baik pengaruhnya buat anak-anak yang bisa menemukannya dengan gampang di internet. Kritik terhadap slash juga muncul dari kalangan sesama fans yang tidak suka karakter pujaannya ditulis sebagai homoseks. Kritik tersebut menampakkan kepanikan terhadap homoseksual yang ada dalam masyarakat. Muncul pula dorongan agar penulis slash berupaya menggambarkan “pria nyata” dalam slash, termasuk budaya gay dan seks gay yang realistis. Namun, beberapa penulis slash tidak setuju. Alasannya, menulis tentang kehidupan gay yang “realistis” bukan tanggung jawab mereka. Barangkali ada semacam “pendekatan turis” dalam slash, yaitu seseorang merasa lebih bebas berperilaku beda di tempat yang tidak langsung relevan dengan kesehariannya dan di mana penanda tempat itu meski tidak berbeda sekali cukup untuk digeser buat menciptakan persepsi baru. Dengan kata lain, dunia gay dianggap menjadi “tempat wisata” bagi penyuka slash, yang tidak mesti diceritakan dengan realistis.

Sebagai penutup, saya sampaikan bahwa pembahasan dan penelitian tentang slash di atas adalah berlatar budaya Barat. Terus terang selama saya bergumul dengan slash belum pernah saya jumpai rekan senegara di dunia (maya) slash, hanya satu orang teman sekampus saya yang akrab dengan slash. Kami berdua menulis beberapa cerita Lord of The Rings versi slash tapi tak pernah dipublikasikan di internet. Saya jadi bertanya-tanya, apakah slash tidak eksis di Indonesia? Sejauh pengamatan saya, di internet saya juga jarang menemukan fiksi fans karya orang Indonesia, walau saya yakin ide untuk menulis berdasarkan karya tertentu bukan monopoli orang Barat. Entah itu tidak terpublikasikan (untuk fiksi fans) atau memang perempuan kita masih terikat budaya tradisional yang kuat sehingga enggan menulis fantasinya tentang percintaan gay (untuk slash), kurangnya wilayah jelajah saya, atau ada alasan lain lagi, saya tidak tahu.

Sumber:
Dari berbagai sumber.

Diterbitkan di: on 11 Februari 2009 at 3:54 pm Komentar (5)
Tags: ,

Slash, Sebuah Pengantar Bagian Kedua

Di tulisan pertama saya telah memperkenalkan secara singkat pada Anda apa itu slash dan kenyataan bahwa penggemar slash mayoritas adalah perempuan. Nah, tulisan bagian kedua ini akan membahas sebab musabab wanita menyukai slash dan teori tentang seksualitas dalam slash (plus sekilas kajian jender untuk memancing Anda meneruskan ke tulisan selanjutnya).

Pertama-tama, kenapa wanita suka slash? Penelitian bertajuk Journal of Slash Research yang bisa dilihat di sini mengungkap sejumlah hal yang umumnya diakui fans sebagai alasan mengapa mereka gandrung pada slash. Alasan-alasan tersebut adalah unsur seks atau pornografi dalam slash, aspek emosi atau percintaannya, karakter yang di-slash itu sendiri atau hubungan antarkarakter, kebebasan (baik kebebasan seksual, sosial maupun jender), kualitas tulisan/cerita, serta slash sebagai perluasan teks atau ekspresi diri. Sedangkan alasan yang kurang umum adalah suka melihat kebersamaan pria, tidak ada beda antara fiksi heteroseksual dengan homoseksual, manfaat dari komunitas slash, alasan edukasi atau lantaran penasaran, pemberdayaan lewat slash, tidak ada karakter wanita yang mengganggu (istilahnya Mary Sue), tidak ada sosok diri di dalamnya atau justru bisa melihat pantulan diri dalam slash, suka dengan pria yang submisif dan feminin, tidak perlu cemburu pada karakter wanita dan terakhir, mengurangi homofobia.

Sebuah makalah oleh Laura Hinton menyebutkan alasan perempuan menggemari slash adalah bahwa slash itu asyik dan atraktif secara seksual, menghibur karena karakternya pria, slash itu berbeda, percaya bahwa hubungan sesama jenis lebih menarik untuk dibaca karena lebih banyak konflik, serta isu jender dalam slash seperti eksplorasi karakter pria.

Sejumlah alasan di atas ditemukan dalam penelitian yang bersifat pelaporan diri (self report). Sementara itu para pakar juga memiliki berbagai macam konsep dan teori untuk menjelaskan pesona slash bagi wanita (serta implikasi keberadaan slash) yang bisa dikaitkan dengan unsur jender dan seks (dua hal itu kerap saling mengait dalam slash), media dan komunikasi, sampai teori literatur. Slash memang telah menjadi subjek kajian yang menarik minat para akademisi dan jurnalis.

Kita mulai dari masalah seksualitas dan jender dalam slash. Bersiaplah untuk pembahasan yang panjang lebar. Joanna Russ, seorang novelis pada 1980-an menyebut slash sebagai pornografi oleh wanita, untuk wanita, dengan cinta atau dapat dikatakan pornografi feminin. Senada dengan pendapat itu, beberapa ahli menyebut slash pornografi romantik. Slash disebut demikian dengan alasan bila wanita mestinya mendapat kepuasan emosional dari novel roman dan pria mendapatnya dari pornografi, slash menawarkan gabungannya, yaitu pornografi romantik. Telah ditarik hubungan paralel antara wanita yang menikmati slash dengan pria heteroseksual yang menonton film porno lesbian. Namun, ide bahwa wanita dapat memiliki minat menyaksikan pria gay bercinta dianggap melanggar kesepakatan umum bahwa wanita seharusnya tidak boleh begitu dan tubuh pria tidak bisa diobjektifikasi seperti itu. Justru pelanggaran batas itulah yang jadi daya tarik slash buat sebagian wanita.

Sementara pria tertarik pada tubuh bugil cewek lesbian untuk satu alasan saja, penyuka slash akan berkilah bahwa minat mereka lebih luas dari itu. Banyak fans slash yang mengindikasikan bahwa keintiman dan bukannya seks yang menarik minat mereka terhadap slash. Banyak pula cerita slash yang tidak mengandung adegan seks, hanya keintiman atau isyarat tentang seks. Slash mirip dengan novel roman dan erotika tradisional perempuan daripada pornografi untuk pria karena sering kali kisah cintanya lebih penting daripada adegan seks. Meski demikian, bukan berarti seks tidak menjadi daya tarik slash. Ketika ada dua karakter pria yang atraktif, mereka dua kali lebih atraktif bila digabungkan dan bercinta dengan panas. Wanita menggunakan kekuatan mereka dalam slash dengan menseksualisasi dan mengobjektifikasi tubuh pria yang biasanya mengobjektifikasi mereka, slash juga membuat wanita merasa lebih punya kekuatan dengan mengekspresikan hasrat seksual. Dalam bukunya Textual Poachers, Henry Jenkins menyebutkan bahwa slash adalah proyeksi fantasi dan hasrat seksual wanita ke dalam tubuh pria. Ia enggan menyebut slash sebagai pornografi. Walau demikian, bagi pembaca slash berlembar-lembar cerita menuju adegan seksnya bisa sama erotisnya dengan membaca adegan seks itu sendiri. Mayoritas cerita slash pun lebih menekankan pada kualitas emosi dalam hubungan seksual daripada aktivitas seks secara mendetil dan lebih berfokus pada sensualitas. Jadi, slash bisa saja disebut pornografi revolusioner untuk wanita.

Laura Hinton dalam makalahnya menyimpulkan bahwa teori feminis dan homoseksual umum dapat diaplikasikan dalam slash dengan beberapa cara. Pertama, slash dilihat sebagai medium di mana wanita dapat mengeksplorasi jender sebagai konstruksi sosial. Slash juga menjadi medium bagi wanita untuk menciptakan literatur sendiri. Lalu, slash bisa menjadi jalan bagi wanita untuk mendeobjektifikasi diri mereka. Slash memberi wanita ruang individu bagi karya-karya mereka, serta menyediakan pilihan untuk eksplorasi seksual tanpa objektifikasi wanita. Selain itu slash dapat dilihat sebagai kontrahegemoni.

Untuk kelanjutan pembahasan mengenai perspektif jender dalam slash, Anda dapat melihat tulisan bagian ketiga.

Diterbitkan di: on 4 Februari 2009 at 3:34 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Slash, Sebuah Pengantar Bagian Pertama

Saya tahu di satu waktu saya harus menulis tentang slash, soalnya ia adalah salah satu penyebab saya jadi tertarik pada seksologi. Namun, saya mengalami dilema, apakah harus menulis berdasarkan bahan-bahan akademik (yang ternyata banyak juga) atau opini pribadi hasil pengalaman beberapa tahun berkecimpung dalam dunia slash. Akhirnya saya putuskan untuk mengolaborasi keduanya dan jadinya adalah tulisan yang saya bagi dalam beberapa bagian ini (karena tentu saja, sekali saya bicara tentang slash sukar distop).

Slash secara literal artinya adalah garis miring (garing). Slash yang saya bicarakan ini tentu saja bukan sekadar tanda baca, meski ada hubungannya. Definisi slash secara bebas adalah jenis karya buatan fans yang mengandung hubungan romantik dan atau seksual antara dua (atau lebih) karakter sesama jenis yang diambil dari media atau figur publik (buku, film, serial teve, komik, band, aktor dan sebagainya). Genre tersebut disebut slash karena tanda garis miring antara dua (atau lebih) karakternya yang menunjukkan mereka memiliki hubungan homoerotik dalam karya tersebut. Misalnya kalau Anda menemukan Harry/Draco berarti siap-siap disuguhi karya yang bertemakan hubungan cinta Harry Potter dan Draco Malfoy (kalau Anda kira ini sudah aneh, Anda salah besar). Secara umum, slash fiction (karya fiksi bertema slash) adalah yang paling mudah dan banyak dijumpai di berbagai situs di internet, meski karya slash vid (video bikinan fans dengan tema slash) dan slash art (bisa berupa manipulasi gambar atau lukisan/sketsa/kartun buatan sendiri) juga bertebaran. Karena itu, untuk selanjutnya ketika saya menyebut slash saya merujuk pada slash fiction. Yang jelas, slash adalah sesuatu yang sukar dihindari lantaran hampir semua fandom (dunia fans dan segala aktivitasnya) mengandung slash, apalagi yang sifatnya potensial untuk di-slash, seperti ada dua atau lebih karakter pria utama.

Konsep slash itu sendiri masih kerap menimbulkan perdebatan antarfans dari segi pembatasan apa yang masuk di dalamnya, barangkali karena konsep slash yang ambigu. Salah satu perdebatan yang jamak terjadi adalah apakah slash itu khusus hanya untuk menyebut hubungan antarpria atau juga mencakup antarwanita. Sebagian fans menganggap slash cuma mencakup kaum pria dan karya bertema cinta sesama wanita disebut femslash. Kemudian, isu lain yang dipermasalahkan adalah apakah slash itu hanya untuk pasangan yang di luar ketentuan (canon) karya asli. Contoh kasusnya: apakah fiksi tentang Brian/Justin yang memang dikisahkan homoseksual dalam serial Queer As Folk bisa dianggap slash. Ada pula yang berpendapat bahwa slash itu meliputi semua karya dengan tema seksual-romantik dan pasangan dalam karya itu tidak harus homoseksual (Oryn/Ezra Standish, untuk menyebut contoh yang sangat khayali). Selain itu, sejumlah fans menyempitkan batasan bahwa yang disebut slash itu bila penulis dan pembacanya adalah wanita (akan saya bahas nanti). Dan setahu saya beragam silang pendapat di atas masih lestari.

Slash memiliki subkategori yang klasifikasinya dilihat dari kandungan dalam karya tersebut. Misalnya, suatu cerita fiksi yang disebut “lemon” berarti mengandung adegan seks yang eksplisit antarpria (ekuivalennya untuk seks lesbian adalah “lime”). Penulis slash biasanya mencantumkan rating pada karya mereka yang berdasarkan pada rating film dari MPAA, yaitu G, PG, PG-13, R atau NC-17. Cerita dengan rating PG mungkin cuma tentang dua tokoh pria yang berteman tapi suka lirik-lirikan, sementara cerita yang dilabel NC-17 adegan seksnya bisa membikin Anda panas dingin (banyak panasnya, barangkali) dan boleh jadi butuh konfirmasi umur Anda sebelum Anda diizinkan mengakses.

Kemunculan slash dipercaya oleh banyak orang berawal dari majalah fans Star Trek: The Original Series yang memuat cerita dengan tokoh Kirk/Spock pada akhir 1970-an. Pada zaman itu slash disebarkan utamanya lewat majalah fans, surat-suratan dan dari teman ke teman sesama fans. Kini slash dipublikasikan di situs-situs internet dan bisa diakses oleh siapapun dari seluruh penjuru dunia (termasuk oleh si selebriti yang dijadikan objek slash, kadang-kadang). Komunitas slash juga tumbuh dengan amat subur dan dinamis di dunia maya.

Menilik definisinya, Anda boleh jadi berasumsi bahwa orang yang aktif, tertarik dan terlibat dalam dunia slash itu adalah kaum pria homoseksual. Anda keliru berat kalau berpikir demikian, sebab faktanya slash adalah “teritori” kaum hawa, tak peduli orientasi seksualnya. Walau tidak menafikan sejumlah pria gay (dan pria heteroseksual juga, mungkin?) yang terjun dalam dunia slash, dari berbagai survei terlihat bahwa mayoritas penulis dan pembaca slash adalah perempuan. Boleh dibilang, slash adalah karya dari wanita, oleh wanita, untuk wanita. Mengapa bisa demikian? Di tulisan bagian kedua dan ketiga saya akan membahas mengenai hal tersebut, juga menyertakan beberapa penelitian akademis mengenai slash.

Diterbitkan di: on 27 Januari 2009 at 4:20 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

Perempuan di Jagat Pornografi Maya

Kalau ditanya apa posisi perempuan dalam dunia pornografi, boleh jadi sebagian besar dari Anda akan menjawab bahwa perempuan mejadi objek seks, dieksploitasi untuk kepentingan konsumen pornografi yang notabene mayoritas kaum pria, dan lontaran sejenis itu. Namun, yang akan saya bicarakan di sini bukan tentang perempuan sebagai aktris porno dengan berbagai atribut yang disematkan padanya, melainkan mengenai perempuan yang ada di balik layar pornografi, khususnya pornografi dunia maya atau siber (cyberporn). Para perempuan yang bisa dikatakan sebagai wiraswastawati dengan pornografi sebagai bidang usaha.

Sebuah berita yang diturunkan oleh The Independent (London) beberapa tahun yang lalu menyebutkan bahwa kaum wanita saat itu telah meraih kontrol industri seks dan menguasai lebih dari lima puluh persen situs porno di jagat siber. Berita tersebut juga mengulas sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kimberlianne Podlas, seorang psikolog dari The Bryant Institute, New Jersey, tentang perempuan yang memiliki situs porno. Hasil penelitian itu dipresentasikan dalam konferensi tahunan American Psychological Association (APA) di Washington. Jika selama ini dikenal adanya dua macam pekerja, yaitu pekerja kerah putih dan pekerja kerah biru, ada satu lagi jenis pekerja, yaitu pekerja kerah merah, yang tak lain adalah perempuan dalam industri seks. Beberapa tahun terakhir, mereka berpindah dari aktivitas tradisional seperti melacur dan menari telanjang untuk menjadi pemilik situs porno dengan pemasukan yang jauh di atas lumayan. Dari penelitian Dr. Podlas, diketahui rata-rata perempuan pemilik situs porno berusia akhir 20-an sampai pertengahan 30-an, pembayar pajak yang tampak di mata orang awam sebagai perempuan baik-baik yang bekerja di sektor perniagaan via internet (mengutip kata dosen saya dengan sedikit perubahan, jualan gambar/video daging mentah).

Mengapa para wanita itu tertarik menjadi pemilik dan atau pengelola situs porno? Pemberdayaan, begitulah kurang lebih jawabannya. Dengan menjalankan situs porno, wanita-wanita tersebut bisa memperoleh pendapatan sendiri, mengendalikan lingkungan kerja dan jam kerja yang fleksibel. Pendapatan mereka setara dengan guru atau pekerja administrasi. Banyak dari mereka yang punya anak dan memiliki kehidupan “normal” karena dilindungi anonimitas internet. Sejumlah kecil melakukannya untuk ekspresi seni dan seksual, serta untuk kesenangan erotik pribadi.

Dr. Podlas berkesimpulan bahwa memiliki situs porno adalah pembebasan sesungguhnya bagi wanita dalam industri seks. Wanita pemilik situs porno merefleksikan sepenggal emansipasi dari kontrol ekonomi dan citra perempuan yang didominasi pria, jauh dari ikut andil dalam penindasan dan eksploitasi terhadap wanita. Pornografi siber selama ini dituduh sebagai momok yang meningkatkan kekerasan fisik terhadap wanita, tapi Dr. Podlas berpendapat bahwa pornografi siber yang dikontrol perempuan telah melawan citra negatif dan meningkatkan kekuasaan wanita. Ancaman kekerasan atau pemaksaan dalam situs porno yang dikendalikan wanita dapat dikurangi, contoh konkretnya adalah penghapusan tuntutan fotografer atau kamerawan untuk mengambil adegan tertentu. Pornografi dan internet adalah alat ciptaan pria, tapi dengan alat ini sekarang di tangan wanita, keduanya dapat dipakai dengan lebih jinak.

Penelitian yang menarik, tapi sayang di artikel tersebut tidak dijelaskan perbedaan antara situs porno yang dimiliki perempuan dengan yang dimiliki pria. Jika situs porno yang dimiliki perempuan sungguh-sungguh bisa lebih ramah terhadap perempuan yang terlibat di dalamnya, tapi tetap memikat konsumennya, baru dapat dikatakan perjuangan pembebasan para wiraswastawati situs porno itu sukses.

Sumber:
The Independent.

Diterbitkan di: on 18 Januari 2009 at 12:17 pm Komentar (2)
Tags:

Orientasi Seksual yang Keempat

Setelah tiga jenis orientasi seksual yang sudah umum dikenal yaitu heteroseksual, homoseksual dan biseksual, rupanya masih ada satu macam orientasi seksual lagi, meski yang ini lebih tidak banyak dijumpai. Orientasi tersebut adalah aseksual, yang kalau mau dijelaskan dengan permainan kata yakni orientasi seksual di mana seseorang tidak berorientasi seksual. Dalam salah satu tulisan saya terdahulu pernah saya muatkan tentang skala Kinsey tentang orientasi seksual, di mana heteroseksual dan homoseksual adalah dua kutub paling ekstrem dari sebuah kontinum. Nah, Michael D. Storms dari University of Kansas pada tahun 1979 mereka ulang skala tersebut. Homoseksual dan heteroseksual dipisah menjadi dua aksis (bayangkan sebuah grafik dengan sumbu X dan Y). Seorang biseksual akan memperoleh nilai yang tinggi baik pada sisi homoseksual maupun heteroseksual, sedangkan orang aseksual nilainya akan rendah pada kedua sisi tersebut.

Aseksual didefinisikan sebagai orientasi seksual untuk menggambarkan orang-orang yang tidak mengalami ketertarikan seksual. Aseksual tidak sama dengan selibat (tidak melakukan aktivitas seksual). Beberapa orang aseksual melakukan hubungan seksual dan banyak orang selibat yang bukan aseksual, misalnya pemuka agama tertentu yang tunduk pada sumpah kesucian, mereka bukan aseksual, tapi memilih untuk menekan atau mengalihkan gairah seksualnya. Aseksual juga berbeda dengan impotensi dan sikap malu-malu kucing. Definisi aseksual sendiri masih amat luas dan banyak variasi perilaku di antara orang yang mengaku aseksual. Beberapa melakukan masturbasi untuk melepaskan tegangan seksual, lainnya merasa tidak perlu. Kebutuhan untuk masturbasi terpisah dari ketertarikan seksual, jadi masturbasi dianggap sebagai mekanisme biologis belaka, bukan merupakan seksualitas yang terpendam. Orang aseksual juga berbeda dalam opini tentang aktivitas seksual. Ada yang cuek dan mau berhubungan seksual untuk menyenangkan pasangan, ada pula yang tidak mau melakukannya sama sekali. Beberapa orang aseksual mengaku, mereka bukannya tidak punya dorongan seksual. Mereka mungkin bisa bergairah, tapi tidak merasa perlu untuk berhubungan seksual. Alasan mengapa seseorang menjadi aseksual pun beragam, bisa karena libidonya memang rendah, jijik, merasa berjarak dari aktivitas seksual itu sendiri, dan macam-macam lagi. Dalam sebuah penelitian disinyalir stres sosial dapat menurunkan libido dan menurunkan minat terhadap seks pada manusia (juga primata dan domba, rupanya).

Namun, bukan berarti orang aseksual tidak dapat menikah. Orang aseksual dapat merasakan ketertarikan secara romantik pada orang lain yang sesuai dengan orientasi afeksional (perasaan sayang) mereka. Orang aseksual dapat berpacaran, bahkan sampai menikah dengan seseorang yang seksual, tapi hubungan mereka tidak membutuhkan aktivitas seksual, hanya berdasar rasa sayang. Secara kasar dapat dikatakan bahwa di situ ada pemisahan antara cinta dan seks. Jika rendahnya gairah seksual seorang aseksual menyebabkan masalah dalam hubungannya dengan seorang yang seksual, secara medis ia didiagnosis mengidap Gangguan Gairah Seksual Hipoaktif atau Gangguan Penghindaran Seksual. Salah satu kriteria gangguan tersebut adalah rendahnya dorongan seksual menyebabkan distres pribadi atau masalah interpersonal, jadi aseksualitas itu sendiri bukan penyakit atau gangguan. Gangguan di atas lebih kepada gambaran akan masalah yang boleh jadi dialami seorang aseksual dalam perkembangan diri dan hubungannya dengan orang lain.

Penelitian tentang aseksualitas sudah ada sejak era 1940-an, tapi baru pada tahun 1970-an aseksualitas dimasukkan dalam kategori orientasi seksual. Satu penelitian yang paling banyak dikutip adalah survei komprehensif tahun 1994 di Inggris yang menunjukkan hasil sekitar 1% subjeknya adalah aseksual, meski generalisasinya perlu dilakukan dengan hati-hati. Satu persen dari enam triliun penduduk dunia kan 60 juta orang. Saya kok tidak terlampau yakin orang aseksual sampai sebanyak itu, walaupun akhir-akhir ini terlihat tren peningkatan jumlah orang aseksual, mungkin karena pengaruh zaman yang memungkinkan orang lebih berani mengakui orientasi seksualnya, apapun itu. Meningkatnya jumlah orang yang mengaku aseksual diwadahi oleh berbagai komunitas, satu komunitas aseksual maya terbesar adalah AVEN (The Asexual Visibility and Education Network) yang didirikan pada 2001 dengan tujuan menciptakan penerimaan dan diskusi publik tentang aseksualitas dan memfasilitasi tumbuhnya komunitas aseksual. Kalau Anda merasa diri Anda aseksual atau tertarik dengan aseksualitas, Anda dapat mulai mencari informasi dari situs komunitas tersebut.

Yah, dari satu sisi aseksualitas paling tidak bisa berkontribusi menekan pertumbuhan jumlah penduduk dunia.

Sumber:
wikipedia
The Guardian

Diterbitkan di: on 11 Januari 2009 at 9:08 am Komentar (2)

Seks (Tidak Selalu) Menjual

Topik ini muncul dipicu oleh ingatan samar saya akan sepotong adegan dari serial teve Queer As Folk (ya, serial tentang homoseksual itu). Dalam adegan itu, tokoh Brian Kinney yang pekerja bidang pariwara berusaha menjual konsep iklannya dengan merombak total konsep terdahulu, menggantikannya dengan iklan yang kental dengan aroma seks. Saya tak begitu ingat apakah upayanya berhasil atau tidak. Yang jelas, adegan itu menuntun pikiran saya pada kesadaran begitu banyak iklan-iklan berbau seks yang berhamburan di media masa, mulai dari yang implisit sampai eksplisit, dari yang produknya berhubungan dengan seks sampai yang rasanya tak punya kaitan (contoh, pompa air, kalau yang diiklankan itu pompa penis saya akan lebih maklum). Dan pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, apakah seks itu betul-betul bersifat menjual? Soalnya para pembuat iklan itu saya kira juga tidak bodoh-bodoh amat dan sebelum iklan dipampangkan ke muka publik tentunya sudah ada uji responden. Bila konsep seks dinilai berpengaruh negatif, pastinya iklan tidak akan menggunakan itu. Jadi, para pembuat iklan percaya bahwa seks dapat menjual produk, tapi apakah kenyataannya demikian?

Kita lihat fenomenanya. Iklan hadir dalam kebanyakan media atau berdiri sendiri, misalnya dalam bentuk billboard, dan keduanya sama-sama membombardir ruang visual dan audio kita. Gambaran seksual dalam iklan didesain untuk menangkap perhatian dan selanjutnya menjual produk. Iklan berbau seks berdasar pada janji palsu bahwa cinta atau seks atau keduanya akan hadir seiring dengan memiliki produk tertentu. Kebanyakan iklan berbau seks menyempitkan makna seks dan menguatkan ide bahwa hanya tubuh yang muda dan kencang yang layak jadi perhatian (pernah lihat eyang-eyang jadi model celana dalam?), kecuali pada iklan-iklan tertentu untuk generasi yang lebih matang.

Penggunaan seks untuk menjual biasanya berhasil. Contohnya pada tahun 1980-an ketika Brooke Shields mengiklankan produk celana jins dan di iklan tersebut mengaku dia pakai jins itu tanpa celana dalam, penjualan jins merek itu meningkat. Atau pada kasus saya, salah satu iklan yang saya ingat benar adalah iklan parfum Axe versi adegan panas (quickie?) di lift. Seks dalam iklan tampaknya paling efektif bila produk yang diiklankan secara intrinsik terkait dengan seks, misalnya parfum dan pakaian dalam. Saya dapat menawarkan penjelasan ala mahasiswa psikologi tingkat satu untuk ini, yaitu terkait dengan teori belajar asosiasi. Ketika diberi dua stimulus secara bersamaan, orang belajar mengasosiasikan kedua stimulus tersebut.

Namun, kembali ke pertanyaan di atas, apakah seks selalu menjual? Rupanya, ketika gambaran tentang seks dimunculkan pada iklan produk yang tidak terkait dengan seks, gambaran tentang seksnya itu yang lebih diperhatikan daripada produk yang diiklankan. Penelitian telah menguak bahwa program televisi yang kuat kandungan seksualitasnya membuat perhatian pemirsa teralih dari produk yang diiklankan. Desain penelitian yang dilakukan ringkasnya adalah meminta subjek menonton dua jenis acara, yang satu netral, yang lain bermuatan seksual, kemudian subjek diminta mengingat iklan yang ditayangkan di sela acara. Hasilnya, subjek yang menonton acara netral lebih mampu mengingat iklannya. Kemudian, penelitian lain menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam mengingat merek produk antara subjek yang diberi iklan netral dan subjek yang diberi iklan bermuatan seksual. Penjelasan ala mahasiswa psikologi tingkat satu untuk ini berhubungan dengan teori persepsi, yaitu stimulus yang lebih menarik kemungkinannya untuk dipersepsi akan lebih tinggi. Bila digabungkan dengan iklan produk yang tidak terkait dengan seks, terang saja elemen seksnya yang lebih diperhatikan (soalnya jarang ada orang yang tidak tertarik pada seks). Dan kalau mau ditambahi teori ingatan, penjelasannya adalah apa yang dipersepsi sebagai menarik akan lebih diingat.

Jadi, elemen seks yang digunakan dalam iklan ternyata tidak selalu menjual. Efektivitasnya tergantung pada berbagai faktor, di antaranya jenis acara yang diselipi iklan, jenis produk yang diiklankan dan jenis kelamin orang yang terpapar iklan (pria lebih cenderung ingat iklan berbau seks daripada wanita).

Sumber:
Our Sexuality
psyblog

Diterbitkan di: on 29 Desember 2008 at 6:18 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Beberapa Mitos Keliru tentang Seks

Berbicara tentang seks tidak akan lepas dari berbagai mitos, bisik-bisik dan kepercayaan yang menyelimuti subjek yang satu ini. Saya sendiri tidak yakin bagaimana mitos tentang seks bisa berkembang demikian subur di hampir semua kebudayaan, mungkin ini ada kaitannya dengan sifat seks sebagai sesuatu yang terkesan disorong ke balik tirai, tak pernah betul-betul jelas, sehingga orang mengembangkan aneka kepercayaan kolektif untuk mencoba menjelaskan dan mengatur seks. Tidak semua mitos itu buruk, tentu saja. Namun, ada beberapa yang ternyata menyimpang dari fakta seks yang sebenarnya (contoh, masturbasi bisa bikin dengkul kopong) dan jika orang terus berpegang pada mitos yang keliru ini, yah, ia mungkin tidak dapat mengontrol seksualitasnya dan bisa tidak menikmati seks. Jadi, berikut ini adalah beberapa mitos yang keliru tentang seks.

- Seks itu sesuatu yang kotor, berdosa dan tidak menyenangkan.
Biasanya ini terkait dengan ajaran agama (yang kelewat ekstrem), meski tidak menutup kemungkinan munculnya kepercayaan ini dari pengalaman pribadi dan norma budaya. Faktanya, Anda bisa menjadi seseorang yang religius sekaligus berhubungan seksual untuk kesenangan (tentu saja dengan pasangan sah). Ada seorang pemuka agama yang pernah berkata, “Jika Tuhan tidak ingin manusia berhubungan seksual, Dia tidak akan menjadikan seks itu terasa menyenangkan.”

- Ejakulasi menghabiskan energi seorang pria
Mitos ini sudah ada sejak tahun 600 di India. Orang percaya bahwa semakin banyak pria berejakulasi, makin banyak suplai energi yang harus diperbaharui dan makin banyak ia kehilangan energi yang berharga. Nyatanya, produksi semen itu tidak butuh banyak energi. Seperti aktivitas lain yang dilakukan dengan semangat, seks yang dahsyat mungkin bikin capek, tapi seks yang hebat dapat memberi energi tambahan. Tampaknya ada perbedaan individual dalam hal ini, beberapa pria langsung teler setelah berhubungan seksual, beberapa lainnya bisa langsung minta ronde kedua. Untuk pembahasan secara medis, Anda bisa membaca Why Do Men Fall Asleep After Sex (sudah ada terjemahannya).

- Kepuasan seksual tidak bertahan sepanjang hidup
Percayalah bahwa Anda bisa terus merasakan kepuasan seksual sepanjang hidup bila Anda melakukannya dengan tepat. Usia tidak menjadi faktor penghambat, malah beberapa orang mengaku kehidupan seksualnya di usia lanjut sama menyenangkannya seperti ketika dia muda dulu. Apalagi bila konsep seks di mata Anda bukan sekedar sanggama, melainkan keintiman dan proses dalam hubungan dengan pasangan.

- Pria selalu ingin berhubungan seksual dan tidak bisa setia pada satu orang
Menurut biologi evolusi, spesies jantan memiliki jutaan sperma untuk disebarkan dengan membuahi sel telur sebanyak-banyaknya. Namun, ini belum tentu relevan di era kontemporer. Pria tidak perlu menyebarkan benih mereka sebanyak-banyaknya, mereka bisa hidup menetap dengan satu pasangan. Pria juga bisa setia, sepanjang mereka memilih untuk setia.

- Wanita tidak boleh minta berhubungan seksual dan tidak boleh senang bercinta
Wanita yang menginginkan seks mungkin khawatir dia akan disebut atau dikira jalang kalau dia meminta dengan terus terang. Tapi, tanyakan pada diri Anda, apa yang salah dengan wanita yang menikmati seks? Tidak ada, bukan? Jadi, seks itu dapat dinikmati baik pria maupun wanita dan wanita boleh meminta untuk dipenuhi kebutuhan biologisnya, serta menikmatinya. Malah, banyak pria yang penasaran dan berupaya bagaimana agar dapat memuaskan seorang wanita (meski alasannya tak selalu altruistik).

Sumber:
The Complete Idiot’s Guide to Amazing Sex

Diterbitkan di: on 26 Desember 2008 at 5:00 am Tinggalkan sebuah Komentar

Riwayat Seksual

Saya sebetulnya belum menemukan pengertian baku mengenai riwayat seksual, tapi dari istilah lain yang juga digunakan untuk menyebut riwayat seksual yaitu sejarah seksual, kita bisa menarik maknanya. Kata “sejarah” membawa implikasi tentang hal-hal di masa lalu. Dengan demikian, sejarah atau riwayat seksual dapat diartikan sebagai segala hal mengenai seksualitas seseorang di masa lalu (secara kronologis) yang boleh jadi mempengaruhi seksualitasnya saat ini dan di masa depan. Riwayat seksual bisa bersifat medis, yang Anda paparkan bila ditanya oleh dokter atau terapis. Selain itu, ada riwayat seksual yang ditulis untuk diri sendiri sebagai latihan, yang bentuknya lebih bebas.

Ada beberapa keuntungan menulis riwayat seksual jika Anda ingin mengembangkan seksualitas dan kehidupan seksual Anda, yaitu riwayat seksual memberi kesempatan Anda untuk merefleksikan pengalaman dari masa lalu sampai sekarang dan memikirkan pilihan yang sudah diambil beserta konsekuensinya, Anda bisa melihat kehidupan seksual Anda dari perspektif gambaran besarnya sehingga Anda dapat menemukan pola dan jalan yang biasanya tidak diperhatikan. Menulis riwayat seksual juga menawarkan kesempatan bagi Anda untuk mengidentifikasi hal yang Anda suka dan tidak suka, memahami daerah seksual Anda dengan cara baru, memperoleh rasa kontrol emosi dan psikologis terhadap sejarah seksual Anda dan bagaimana Anda mengalami kembali sisi positif-negatif pengalaman masa lalu, serta menjadikan Anda lebih dapat mengontrol perilaku seksual masa kini.

Bila Anda telah membaca sampai di sini dan mulai tertarik untuk menulis riwayat seksual Anda, barangkali Anda akan bertanya, apa saja yang bisa ditulis dalam riwayat seksual? Ingatlah bahwa sejarah terdiri lebih dari sekedar nama dan tanggal, jadi sejarah seksual pun tidak cuma berisi perilaku seksual yang pernah Anda lakukan, kapan dan dengan siapa. Apapun yang Anda kira terkait atau relevan dengan kehidupan seksual dan seksualitas Anda bisa dimasukkan ke dalam riwayat seksual. Kemudian, Anda tidak harus menjadi penulis yang paham gramatika untuk menulis riwayat seksual. Riwayat seksual adalah milik Anda pribadi dan seperti buku harian, Anda bisa menulisnya dengan cara apapun yang Anda suka, sepanjang tujuannya, yaitu membuat elemen dalam sejarah seksual menjadi eksplisit untuk diri Anda, tercapai. Tidak harus runut, bisa digambari, dibuat sebagai puisi, tergantung keinginan Anda. Yang jelas, riwayat tersebut mesti mampu mengkomunikasikan perkembangan seksual Anda pada Anda sendiri (dan pada pasangan, kalau Anda mau membagi riwayat seksual Anda dengan si dia). Sebagai tambahan, menulis riwayat seksual memang tidak selalu gampang, tetapi keuntungan yang bisa Anda peroleh sebanding dengan susahnya.

Supaya Anda tidak gamang dalam memulai penulisan riwayat seksual Anda, berikut ini ada beberapa poin yang dapat Anda tulis di dalamnya:

- Pendidikan seks, misalnya kapan Anda belajar tentang seks, dari siapa.
- Orang di sekitar Anda, bagaimana seksualitas Anda dipengaruhi oleh keluarga, teman, pahlawan Anda.
- Tonggak bersejarah seksualitas Anda, misalnya kapan Anda pertama kali berhubungan seksual, peristiwa apa yang menghasilkan penemuan seksual penting dalam hidup Anda.
- Kepuasan seksual, fluktuasinya dan elemen untuk mencapainya.
- Orientasi seksual, kepada siapa Anda tertarik, berhubungan secara romantis, mungkin ketidakyakinan tentang orientasi seksual Anda.
- Seks solo (maksudnya swalayan atau perilaku seksual yang dilakukan sendiri). Ini sering terlewatkan dalam sejarah seksual tradisional (medis).
- Pasangan seks, apa cara Anda bercinta berubah seiring waktu, pengalaman seksual favorit dan yang tidak disukai, pelajaran yang ditarik dari pasangan.
- Fantasi seksual, sejak kapan dimulai, gambaran fantasi Anda, fantasi yang dibawa ke alam nyata.
- Apa yang mempengaruhi seksualitas Anda, seperti budaya, agama, tempat tinggal.
- Gangguan seksual, gambarkan jika pernah dialami, penanganannya bagaimana, apakah menganggu kehidupan seksual Anda.
- Nilai tentang seks, Anda dibesarkan dengan nilai-nilai yang bagaimana tentang seks, apa ada konflik antara gairah dengan nilai.
- Trauma seksual, jika ini yang langsung terlintas di benak Anda ketika memulai riwayat seksual, ada baiknya Anda mencari dukungan sebelum mengeksplorasinya.
- Resiko seksual, apa Anda pernah melakukan aktivitas seksual beresiko dan mendapat konsekuensi negatifnya, atau baru mau rencana coba-coba.
- Identitas seksual, bagaimana Anda menggambarkan diri seksual Anda pada orang lain, termasuk siapa yang Anda inginkan sebagai pasangan seksual.
- Identitas jender, bagaimana Anda memandang diri sebagai maskulin, feminin atau yang lainnya.
- Penyesalan dan kehilangan, misalnya pasangan yang sudah tiada, aktivitas seksual yang tidak bisa dilakukan lagi, dan sebagainya.
- Perubahan seksual besar (menikah, contohnya).
- KB atau kontrasepsi.
- Rasa sakit ketika beraktivitas seksual.
- Tubuh seksual Anda.
- Perasaan Anda tentang seks.
- Jiwa seksual Anda, terkait dengan spiritualitas.

Selamat menulis.

Sumber:
about.com

Diterbitkan di: on 18 Desember 2008 at 12:32 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: