Permohonan Maaf

Terkait dengan kesibukan saya yang meningkat, dengan menyesal saya beritahukan bahwa untuk sementara saya belum dapat memperbaharui tulisan di blog ini. Saya mohon maaf karenanya.

Jika ada di antara Anda yang bersedia bekerja sama atau menyumbang artikel untuk blog ini, saya akan sangat berterima kasih.

Published in: on 3 Juni 2009 at 2:55 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Parafilia 101

Apa, sih parafilia itu? Istilah parafilia kerap digunakan secara bergantian dengan istilah penyimpangan/deviasi seksual, tetapi meskipun sama-sama meliputi berbagai perilaku seksual yang tidak sesuai dengan standar nilai masyarakat, parafilia saya kira lebih bersifat klinis. Secara harfiah, parafilia berarti “di luar cinta yang lazim”. Definisi parafilia kurang lebih adalah dorongan dan fantasi seksual yang intens dan berulang tentang preferensi seksual tidak biasa yang boleh jadi diperturutkan atau telah menyebabkan stres setidaknya selama enam bulan. Parafilia dapat berkisar pada objek seksual tertentu atau aktivitas seksual tertentu. Dorongan dan fantasi parafilia umumnya meliputi objek nonmanusia, penderitaan atau rasa dipermalukan baik pada pasangan maupun diri sendiri, atau anak-anak dan orang dalam keadaan terpaksa.

Parafilia berbeda dari eksperimen seksual sporadik. Orang dengan parafilia secara tipikal dikuasai oleh pemikiran untuk mencapai pemenuhan kepuasan seksual sampai tanggung jawab dan aktivitas lain terabaikan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, ada unsur stres pada pelaku untuk dapat dikategorikan sebagai parafilia, jadi orang yang memikirkan suatu fantasi seksual tapi tidak merasa terganggu karenanya dan tidak memperturutkan fantasi tersebut tidak dapat dikatakan memiliki gangguan ini.

Sifat parafilia secara umum spesifik dan tidak berubah-ubah, kebanyakan parafilia lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita. Ada beberapa fitur yang dapat ditemui pada penderita parafilia. Penderita parafilia mungkin memilih pekerjaan atau mengembangkan suatu hobi yang memungkinkan dia kontak dengan stimulus erotis yang dikehendaki. Contohnya seorang pedofil yang menjadi guru TK. Lalu, disfungsi seksual seperti disfungsi ereksi atau gangguan ejakulasi umum ditemui jika orang dengan parafilia mencoba melakukan aktivitas seksual tanpa tema parafilik. Selanjutnya, boleh jadi ada gangguan lain yang menyertai parafilia, seperti penyalahgunaan obat dan alkohol, gangguan emosi dan kepribadian. Beberapa penderita tergantung sepenuhnya pada parafilia untuk memperoleh kepuasan seksual, sementara sebagian lainnya mungkin masih dapat melakukan aktivitas seksual konvensional. Bagi beberapa pengidapnya, perilaku dan dorongan parafilia itu kronis dan seumur hidup, dalam situasi tertentu, preferensi parafilia terjadi secara episodik, misalnya ketika sedang stres.

Secara garis besar tingkatan keparahan parafilia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
– Ringan: seseorang terlihat jelas stres karena dorongan parafilik dalam dirinya, tapi tidak pernah memperturutkan dorongan itu.
– Sedang: seseorang yang sesekali memperturutkan dorongan parafiliknya.
– Berat: seseorang yang berulang kali memperturutkan dorongan parafiliknya.

Terakhir, beberapa jenis parafilia mungkin tampak asing atau aneh sehingga sukar bagi Anda membayangkan bagaimana hal itu dapat membangkitkan gairah seksual seseorang. Namun, beberapa perilaku parafilia ada yang sebenarnya kerap digunakan oleh pasangan-pasangan yang ingin menambah bumbu kehidupan seksual mereka, tentu saja dalam takaran ringan. Contohnya menampar bokong pasangan, diikat dengan longgar ketika berhubungan seksual, dan sebagainya. Nah, kalau perilaku yang tadinya dimaksudkan untuk variasi itu sudah menjadi menu wajib tak tergantikan yang senantiasa menghantui, itu sudah melangkah menuju parafilia.

Sumber:
Abnormal Psyhchology. Understanding Human Problems.
Human Sexuality.

Published in: on 20 Mei 2009 at 10:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perbedaan dan Persamaan antara Mimpi Seksual dan Fantasi Seksual

Pengalaman seksual tidaklah melulu mengenai perilaku seksual yang melibatkan tubuh atau fisik. Beberapa bentuk pengalaman seksual dapat terjadi dalam pikiran seseorang, dengan atau tanpa disertai perilaku seksual. Mimpi seksual/erotis dan fantasi seksual adalah bentuk pengalaman seksual macam itu. Sebagai bentuk pengalaman seksual secara mental, mimpi seksual dan fantasi seksual memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Tulisan ini mencoba mengupas beberapa di antaranya.

Pada dasarnya, mimpi seksual dan fantasi seksual sama-sama merupakan pengalaman mental yang timbul dari imajinasi atau pengalaman hidup atau distimulasi oleh berbagai hal, seperti buku, film, lukisan, dan sebagainya. Baik mimpi seksual dan fantasi seksual memiliki variasi yang sangat luas dalam segi isi, apa saja dapat masuk ke dalamnya, mulai dari ekspresi seksualitas yang dianggap normal sampai yang paling tabu dan secara normatif menyimpang. Persamaan lainnya adalah mimpi seksual dan fantasi seksual dapat menjadi cara untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi dimensi pengalaman, perasaan dan gairah seseorang.

Mimpi seksual secara umum memiliki beberapa perbedaan dengan fantasi seksual. Waktu terjadinya saja sudah berlainan. Mimpi seksual dapat terjadi saat seseorang sedang tidur tanpa diarahkan oleh kesadaran orang itu, sedangkan fantasi seksual umumnya muncul ketika seseorang tengah melamun, melakukan masturbasi atau beraktivitas seksual dengan pasangan. Dapat dikatakan bahwa mimpi seksual lebih merupakan produk alam bawah sadar atau subsadar kita, sementara fantasi seksual adalah hasil alam sadar. Perbedaan lainnya adalah fantasi seksual biasanya menggairahkan secara erotis, terbentang dengan cara yang dapat diprediksi dan fantasi seksual mengikuti suatu jalan cerita yang tidak rumit. Di sisi lain, mimpi seksual kadang tidak menggairahkan secara erotis sama sekali, biasanya mengandung kejutan-kejutan, plot yang berliku dan jalan ceritanya bisa jadi cukup kompleks. Kebanyakan orang menciptakan fantasi seksual untuk merangsang dirinya, sementara mimpi seksual datang tanpa diundang dan dapat membikin si pemimpi terkaget-kaget sendiri.

Terkait dengan konflik atau problem dalam kehidupan seksual, mimpi seksual kita menceritakan sesuatu tentang seksualitas dan relasi seksual kita, dengan cara yang lebih jauh atau mendalam daripada fantasi. Mimpi seksual dapat menunjukkan saat kita dalam masalah, bagaimana masalah bisa terjadi pada kita dan cara untuk keluar dari sana, jika kita menggunakan dan memahami mimpi tersebut dengan tepat. Sementara itu, kita dapat mengidentifikasi konflik seksual kita dengan bertanya pada diri sendiri apakah suatu fantasi tertentu membuat kita terlepas dari rasa bersalah atau malu.

Nah, ada satu jenis fantasi seksual dan mimpi seksual spesifik yang dapat menunjukkan besar perbedaan antara keduanya, yaitu dipaksa berhubungan seksual dengan segala variasinya. Fantasi tentang hal tersebut dapat terasa menyenangkan, tapi mimpi dipaksa berhubungan seksual itu amat jarang, bahkan boleh dikatakan tidak pernah, menyenangkan. Pada kebanyakan kasus, mimpi seksual lebih kompleks dibanding fantasi seksual dalam hal mengeksplorasi dan mengukur eksistensi dan sebab dari konflik seksual dan emosional. Mimpi dipaksa berhubungan seksual sering menandakan konflik mendalam, rasa bersalah dan terkadang penyiksaan seksual. Dengan kata lain, Anda perlu lebih waspada jika mendapati diri Anda bermimpi dipaksa berhubungan seksual ketimbang kalau Anda sekadar berfantasi tentang itu.

Sumber:
Our Sexuality.
Sensual Dreaming.

Published in: on 8 Mei 2009 at 5:52 am  Comments (4)  

Adegan Film Porno yang Sebaiknya Tidak Anda Tiru

Ada banyak perilaku manusia yang dipelajari atau dibentuk tidak melalui pengalaman langsung, melainkan dengan mengamati orang lain untuk kemudian mencontoh tindak-tanduknya, salah satunya adalah perilaku seksual. Tentu saja ketika mempelajari perilaku seksual orang jarang mencontoh langsung perilaku seksual orang lain (kecuali para voyeuris alias tukang intip), melainkan mempergunakan media seperti film porno. Saya tidak dapat menyalahkan orang-orang yang belajar tentang seksualitas melalui film porno karena walaupun kini sikap masyarakat kian terbuka terhadap seks, masih sedikit sekali materi pendidikan seks sehat yang dapat diakses secara luas oleh semua orang dari segala kalangan. Sebagaimana sudah saya kemukakan dalam tulisan yang lalu, seks dalam film porno tidak merepresentasikan aktivitas seksual yang nyata dan umum, sehingga kalau Anda hendak mempraktekkan apa yang Anda lihat dalam film porno, Anda perlu mempertimbangkan dengan seksama. Berikut ini adalah beberapa contoh adegan dalam film porno yang sebaiknya tidak Anda lakukan ketika beraktivitas seksual dengan pasangan.

– Tamparan penis
Dalam film porno kerap dijumpai aktornya menamparkan penis mereka pada bokong, payudara atau wajah aktris lawan mainnya. Penjelasan yang mungkin untuk perilaku tersebut adalah untuk membantu supaya penis sang aktor tetap keras atau merupakan metode buat mendegradasi sang aktris. Apapun alasannya, sebaiknya adegan ini tidak dicontoh, setidaknya jangan dilakukan tanpa peringatan dan pasangan yang tepat. Bila Anda sulit untuk mempertahankan ketegangan penis, gunakan tangan Anda atau minta bantuan pasangan.

– Ejakulasi di wajah
Adegan paling penting dalam film porno adalah ejakulasi eksternal karena pembuat film ingin penontonnya melihat saat-saat orgasme dan mereka biasanya ingin melihat hasilnya bergelimangan di punggung, bokong, dada atau wajah sang aktris. Yang jelas, jangan pernah berejakulasi di atas tubuh pasangan tanpa memberi peringatan. Rata-rata perempuan juga tidak suka pasangannya berejakulasi di wajah mereka, meski untuk di bagian tubuh lainnya biasanya tidak terlalu dipermasalahkan sepanjang ada kesepakatan. Terkena cairan seminal di mata tidak enak rasanya dan kalau melekat di rambut sukar membersihkannya. Jadi, hati-hati dengan arah klimaks Anda.

– Posisi mesin lantak
Posisi ini dinamakan berdasarkan gerakan gulat, yang dari namanya saja sudah ketahuan bahwa posisi ini bagusnya buat bintang porno saja. Posisinya kira-kira begini: wanita menjatuhkan diri kepala duluan di tepi ranjang, kemudian mendukung dirinya dengan bahu dan leher, kaki diangkat ke atas. Prianya berdiri di depan si wanita, mengarahkan penisnya ke bawah dan mempenetrasi. Posisi ini sama sekali tidak nyaman bagi wanita dan prianya. Tidak banyak pria yang penisnya secara alami mengarah seperti itu dan gerakan yang salah bisa menimbulkan rasa sakit di daerah yang sensitif.

– Telan bulat-bulat
Atau disebut juga deep throat. Aktor porno biasanya suka menjejalkan penis mereka sedalam mungkin ke kerongkongan lawan mainnya. Tren ini jadi populer sejak munculnya film porno klasik tahun 60-an yang judulnya Deep Throat, yang ceritanya si karakter perempuan utama memiliki anomali medis, yaitu klitorisnya berada di ujung kerongkongannya dan karenanya senang-senang saja menelan bulat-bulat penis lawan mainnya. Perempuan dalam dunia nyata tentu tidak demikian, sehingga jika Anda ingin melakukan seks oral habis-habisan dengan pasangan, berundinglah dulu. Mendorong penis tiba-tiba ke kerongkongan seseorang bisa membuatnya tercekik dan muntah. Bintang porno sering sengaja mencekik pasangan mereka, tapi ini tentu tidak bisa diteladani.

– Anal tanpa persiapan
Seks anal sudah merupakan hal yang biasa dilakukan dalam film porno. Stimulasi anal bisa menjadi bumbu penyedap aktivitas seksual, tetapi jangan melakukannya dengan mencontoh mentah-mentah seks anal dalam film porno. Saya pribadi tidak menganjurkan seks anal karena amat beresiko. Namun, kalaupun Anda ingin melakukannya, jangan asal memberi ludah di penis lalu langsung dimasukkan ke anus. Aktor porno bisa saja berbuat begitu karena aktris porno otot-otot di sekitar anusnya sudah terbiasa, selain itu bukan mustahil ada adegan pengaplikasian pelumas yang tidak dimasukkan dalam film.

– Anus ke mulut
Secara akal sehat saja tidak sukar untuk memahami mengapa adegan model begini tidak perlu dicontoh. Apapun yang baru dimasukkan ke dalam anus, baik penis, mainan seks atau yang lainnya, setelahnya jangan pernah langsung dimasukkan ke dalam mulut (dan juga vagina) tanpa dibersihkan.

Pornografi memang dibuat untuk menyediakan penyaluran bagi fantasi seksual, akan tetapi tidak semua fantasi perlu dibawa ke realita. Beberapa orang barangkali tidak keberatan melakukan adegan seperti dalam film porno, tapi ingat bahwa tidak semua orang mau. Komunikasi dengan pasangan amat diperlukan agar masing-masing pihak memahami batasan yang ditetapkan dan bisa berkompromi.

Sumber:
askmen.com

Published in: on 22 April 2009 at 3:56 am  Comments (4)  

Wanita Lambat Panas? Nanti Dulu…

Salah satu mitos yang diyakini sejak zaman dahulu kala (dan sampai kini pun masih) adalah bahwa pria lebih cepat terangsang atau “panas” ketimbang wanita. Ada yang menganalogikan pria dengan oven gelombang mikro dan wanita dengan kompor listrik. Dorongan seksual pria dapat langsung cepat menyala dan bekerja penuh dalam waktu beberapa detik saja, sedangkan wanita lambat mencapai suhu tertinggi dan untuk menurunkannya pun lama juga. Saya termasuk yang mempercayai mitos ini. Namun, sebuah penelitian dari Universitas McGill memperoleh hasil yang menjungkirbalikkan mitos yang telah begitu lama mengakar tersebut.

Dr. Irv Binik (profesor psikologi dari Universitas McGill) dan rekan-rekannya melakukan penelitian menggunakan teknologi pencitraan termal untuk mengukur tingkat keterangsangan seksual. Pencitraan termal atau termografi adalah pencitraan inframerah menggunakan kamera termografik yang mendeteksi radiasi yang dipancarkan oleh objek berdasarkan temperatur mereka. Pencitraan termal ini sangat berguna untuk mendeteksi objek hangat di malam hari dan teknologi ini biasa dipakai untuk kacamata penglihatan malam dalam operasi militer. Pengukuran keterangsangan seksual memakai pencitraan termal ini adalah yang pertama dilakukan. Biasanya para peneliti seks mengukurnya dengan instrumen yang memerlukan kontak dan manipulasi genital. Proses penelitiannya adalah para subjek diberi tontonan bermacam-macam, mulai dari film porno, film horor, komedi, dan lain-lain untuk memperoleh basis data, sementara peneliti memfokuskan kamera termografik pada daerah genital subjek. Kemudian subjek pria dan wanita secara terpisah diberi tontonan film seks eksplisit yang diyakini menggairahkan bagi masing-masing jender, juga dengan disorot kamera termografik.

Peneliti memonitor perubahan temperatur tubuh subjek dari komputer di ruang lain ketika subjek merespons terhadap film seks yang dilihatnya. Diperoleh hasil bahwa pria dan wanita menunjukkan bahwa mereka terangsang dalam 30 detik. Pria mencapai keterangsangan maksimal dalam 664,6 detik dan wanita dalam 743 detik, di mana perbedaan itu secara statistik tidak signifikan. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah membandingkan keterangsangan seksual antara pria dan wanita, tidak ditemukan ada perbedaan waktu yang dibutuhkan pria dan wanita muda yang sehat untuk mencapai puncak keterangsangan.

Hasil penelitian di atas tentu saja menarik sebab selama ini kita sudah begitu terbiasa berasumsi bahwa pria selalu lebih cepat terangsang, berbeda dengan wanita. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa wanita dapat sama cepat panasnya dengan pria, secara harfiah paling tidak. Sayang sekali saya tidak berhasil memperoleh artikel asli penelitian tersebut karena saya masih penasaran dengan dasar pemilihan metode pencitraan termal untuk mengukur keterangsangan seksual. Mengingat siklus respons seksual pada wanita yang cenderung lebih variatif dibanding pria, tidak aneh memang kalau ada wanita yang terangsang sama cepat dengan pria. Saya kira penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyibak mengapa sebagian wanita lambat panas dan yang lain bak oven gelombang mikro.

Sumber:
sciencedaily.com

Published in: on 14 April 2009 at 3:19 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kemampuan Orgasme dan Gaya Jalan Wanita

Anda pernah dengar mitos yang mengaitkan seksualitas dengan bagian kaki seseorang? Misalnya, kalau seorang pria doyan masturbasi maka dengkulnya kopong atau untuk mengetahui apa seorang wanita masih perawan atau tidak dapat dilihat cara dia berjalan. Nah, penelitian yang akan saya paparkan dalam tulisan kali ini boleh dibilang menemukan hasil yang agak-agak mirip dengan mitos di atas, yaitu ada kaitan antara gaya berjalan seorang wanita dengan kemampuannya untuk mencapai orgasme. Tentu hasil yang diperoleh tersebut dijelaskan secara ilmiah, meski terkesan rada kontroversial.

Penelitian yang dilaksanakan Stuart Brody, dkk. dan dimuat dalam Journal of Sexual Medicine itu dilatarbelakangi oleh penemuan sebelumnya bahwa ada hubungan antara orgasme vaginal dengan kesehatan mental yang lebih baik (suatu penemuan yang sangat beraroma Freudian, saya kira) dan ada sejumlah teori psikoterapi yang menyatakan bahwa ada kaitan antara gangguan atau hambatan otot dan gangguan fungsi seksual dan karakter. Teori yang mengandung ide tersebut antara lain terapi fungsional-seksologis yang fokus perawatannya adalah perbaikan gerakan disengaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara gerakan tubuh sehari-hari dengan sejarah orgasme vaginal atau secara lebih spesifik apakah sejarah orgasme vaginal wanita dapat diketahui dengan mengamati gaya berjalan mereka.

Penelitian ini dilakukan dengan merekam sekelompok mahasiswi Belgia yang tengah berjalan dan meminta mereka untuk mengisi angket tentang perilaku seksual. Rekaman tersebut diperlihatkan pada empat orang seksolog terlatih dan mereka diminta untuk menduga apakah wanita dalam rekaman itu pernah atau dapat mengalami orgasme vaginal, tanpa mengetahui sejarah perilaku seksual wanita yang dinilai, tentu saja. Hasilnya, penilaian para seksologis tersebut 81,25% tepat. Analisis lebih lanjut yang dilakukan membawa hasil yaitu besar rotasi pelvis dan vertebral, serta panjang langkah tampaknya menjadi karakteristik gaya jalan wanita yang mengalami orgasme vaginal. Karakteristik itu merefleksikan aliran enegi yang bebas, tanpa hambatan dari kaki melalui pelvis menuju tulang belakang. Ditambahkan pula, pengamat yang betul-betul jeli bisa menebak pengalaman orgasme vaginal seorang wanita dari gaya berjalannya yang tampak luwes, mengandung energi, sensualitas, bebas, dan tidak ada otot yang lemah dan terkunci.

Penjelasan yang diajukan oleh Brody mengenai hasil penelitiannya adalah ciri anatomis wanita dapat mempengaruhi tingkat kemungkinan ia mengalami orgasme vaginal. Otot pelvis yang terganggu dapat diasosiasikan dengan gangguan psikoseksual, sementara keduanya dapat mengurangi respons orgasme vaginal dan mempengaruhi gaya berjalan. Namun, di sisi lain hasil penelitian itu juga bisa ditafsirkan begini, bahwa wanita yang dapat orgasme vaginal mungkin merasa lebih percaya diri dengan seksualitas mereka yang terpancar dari gaya berjalannya. Bagaimanapun, hasil penelitian Brody, dkk. ini menambah kredibilitas ide untuk memasukkan latihan bergerak, pernafasan dan pola otot ke dalam penanganan disfungsi seksual.

Sumber:
The Journal of Sexual Medicine

Published in: on 6 April 2009 at 9:45 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Musik dan Seks

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya ketika menonton sebuah adegan dalam satu episode serial Barat. Adegan tersebut menggambarkan sepasang kekasih heteroseksual tengah berpacaran. Si wanita, dengan tipikal, sebelumnya sudah membuat si pria berjanji bahwa dalam kencan itu mereka cuma akan berbincang, saling mengenal, tak lebih. Namun, ketika lokasi kencan pindah ke rumah si pria, si wanita menuduh si pria menggodanya untuk berhubungan seksual karena musik yang diputar si pria adalah musik seks. Saya mengejapkan mata dan berpikir, apa hubungan antara musik dan seks? Dan benarkah ada jenis musik tertentu yang memiliki kualitas afrodisiak?

Salah satu bentuk hubungan antara musik dan seks saya kira dapat dilihat dari inkorporasi elemen seksual dalam musik, baik itu lirik, video musik, gaya artis, penampilan di panggung, dan sebagainya. Dari tahun ke tahun, ekspresi dan kesan seksual dalam musik tampaknya kian kental saja. Konon, sekitar lima puluh persen video musik yang beredar saat ini mengandung elemen seksual. Saya tidak perlu menjabarkan tentang lirik lagu karena mayoritas lagu yang ada bertemakan cinta, sementara seks dianggap dekat dengan cinta atau merupakan perpanjangan romansa. Kemudian, mengingat para produser rekaman banyak yang berusaha memasarkan artis dan albumnya dengan berpedoman pada kredo: seks itu menjual, tidak heran jika elemen seksual menjadi berkait-kelindan dengan industri musik.

Selain bentuk hubungan di atas, musik juga berpengaruh terhadap seks dengan cara lain, yaitu mendorong, memicu atau melatari terjadinya aktivitas seksual. Dr. Tim Griffith, seorang profesor bidang neurologi kognitif dari Newcastle University, menyatakan bahwa inti dari musik adalah emosi yang dihasilkannya. Dr. Griffith dalam penelitiannya menemukan bahwa cara otak merespons terhadap musik sama dengan cara otak merespons seks. Pengukuran aktivitas otak seseorang yang menangkap getaran musik dan pengukuran aktivitas otak seseorang yang mengalami hubungan seksual menyenangkan adalah sama persis. Dr. Daniel Nettle, juga dari Newcastle University, pada penelitiannya tahun 2005 mendapati hasil bahwa pemusik melakukan hubungan seksual dua kali lebih banyak dari rata-rata orang biasa. Lalu, jumlah pasangan seksual meningkat seiring dengan produksi kreativitas.

Nah, hal yang belum terjawab oleh Dr. Griffith dan tim penelitinya adalah mengapa suatu musik tertentu dapat menghasilkan kesenangan atau kepuasan bagi beberapa orang, tapi tidak berpengaruh pada sebagian yang lain. Ini merupakan lahan yang masih sangat terbuka untuk diteliti. Akan menarik untuk mengetahui karakteristik tertentu dari sepotong musik yang dapat membuat orang jadi bergairah. Namun, menurut pendapat saya pribadi, boleh jadi ada pengaruh faktor pengalaman dan belajar di dalamnya. Orang yang mengasosiasikan seks dengan musik tertentu yang disukainya akan lebih cenderung berpikir tentang seks ketika mendengar musik itu dimainkan. Ada perbedaan individual di sana.

Sekarang, apa soundtrack seks Anda?

Sumber:
nsrc.sfsu.edu

Published in: on 27 Maret 2009 at 3:57 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Film Porno untuk Wanita

Entah berapa juta film porno yang telah dan sedang dijual di seluruh penjuru dunia sampai saat ini, tapi dari jumlah yang membeludak itu berapa banyak yang dibuat untuk dikonsumsi kaum wanita? Jawabannya, seperti bisa Anda duga, sangatlah sedikit. Bahkan, mungkin Anda akan mengerutkan dahi dan menganggap pertanyaan seperti itu tak usah ditanyakan karena film porno memang bukan untuk wanita. Faktanya, hanya sedikit sutradara dan produser film dewasa yang menciptakan filmnya dengan wanita sebagai target pemirsa, padahal saya kira bukan hanya pria yang mengonsumsi film porno.

Salah satu masalah dengan film porno arus utama adalah bahwa mereka dibuat oleh pria, untuk pria. Industri pornografi berkembang karena pria banyak mengonsumsi film porno. Masalah lainnya adalah rendahnya kualitas produk industri film dewasa. Teknologi digital yang ada saat ini menyebabkan biaya pembuatan film menjadi murah dan kualitas film menurun. Pada era analog, film porno cukup mahal biayanya dan mereka harus dibuat dengan cukup baik agar laku terjual dan investor bisa balik modal. Seiring turunnya biaya produksi, film porno dibuat seadanya, asal cepat jadi dan dapat dijual. Kondisi demikian itu menjadikan banyak beredar film porno murahan yang alih-alih membikin terangsang, malah memuakkan. Dan wanita sangat cepat memutuskan untuk berhenti menonton bila mereka melihat sesuatu yang tidak disukai.

Persoalan di atas membuat wanita kesulitan untuk menemukan film porno yang sesuai dengan seleranya, ditambah jika harus mengaduk-aduk di antara timbunan film porno untuk pria. Namun, adanya internet memudahkan wanita dalam mencari film dewasa. Terdapat beragam situs yang menyediakan layanan itu. CEO salah satu situs tersebut, Dr. Petra Zebroff, menjelaskan alasannya mendirikan situs tersebut, bahwa setelah menyelesaikan studi doktoratnya tentang seksualitas wanita dia menyadari betapa sukarnya bagi wanita untuk mengakses produk dan video seksual tanpa memasuki toko yang berorientasi pria dan mengalami saat-saat memalukan. Internet menawarkan tempat aman dan anonim untuk mencari informasi dan produk seksual dengan atmosfer yang elegan, berfokus pada pengalaman seks wanita sebagai partisipan, bukan objek seks (seperti banyak digambarkan dalam film porno untuk pria).

Menurut Dr. Zebroff, ada beberapa elemen yang membuat suatu film dewasa cocok untuk ditonton kaum wanita. Kedalaman karakter dan pemahaman mengapa karakter dalam film berhubungan seksual adalah satu di antaranya. Jadi skenario yang asal ada satu pria, satu wanita (atau lebih, kombinasinya bisa macam-macam) bertemu lalu tanpa basa-basi tancap saja berhubungan seksual tidak merangsang bagi wanita. Kemudian, Dr. Zebroff menekankan pentingnya menginkorporasi sensualitas ke dalam film, mengingat wanita berpikir tentang seksualitas dengan seluruh tubuh mereka, tidak hanya daerah genital. Film porno yang berfokus pada adegan seputar selangkangan tanpa permainan pendahuluan tidak berefek bagi banyak wanita. Wanita suka mengkhayalkan dirinya masuk dalam skenario dan bila skenarionya tak membuat mereka merasa seksi, film itu tidak merangsang mereka. Adegan selangkangan jarak dekat juga tidak terlalu merangsang wanita karena ketika berhubungan seksual wanita tidak melihat dirinya dari sudut pandang seperti itu, sehingga mereka tidak merasa terhubung dengan adegan itu.

Banyak pembuat film dewasa yang memenuhi kebutuhan pasangan penonton membuat kesalahan dengan mengira wanita cuma menginginkan romansa. Wanita menyukai variasi adegan seksual dengan derajat keeksplisitan yang berbeda-beda. Banyak wanita yang menyukai film eksplisit dengan tema hardcore. Konyolnya, banyak sutradara film porno yang menyuguhkan tema hardcore dengan merendahkan wanita. Masih menurut Dr. Zebroff, yang membuat wanita jadi tak tertarik pada film porno adalah bila karakter wanitanya menjadi fokus setiap adegan, apalagi kalau tubuh wanita bintang porno itu tidak realistis dan sudah banyak dipermak. Kebanyakan wanita suka melihat dan menikmati keindahan tubuh pria.

Jadi, wanita ternyata juga mengonsumsi film dewasa dan film porno untuk konsumsi wanita perlu memiliki beberapa karakter yang berbeda dari film porno untuk pria agar dapat sukses di pasaran.

Sumber:
aphroditewomenshealth.com

Published in: on 16 Maret 2009 at 7:06 am  Comments (23)  

Pil KB dan Pemilihan Pasangan yang Kompatibel

Tulisan ini boleh dikatakan masih serangkai dengan dua tulisan terdahulu mengenai kemampuan manusia (terutama wanita) memilih pasangan seksual berdasarkan aroma tubuh, di mana aroma tubuh menunjukkan profil sistem imun seseorang. Tampaknya cara memilih pasangan tanpa disadari tersebut sudah terancang dengan baik karena wanita secara umum memilih pria dengan gen yang komplemen dengan mereka berdasarkan aromanya, tapi apa yang terjadi jika ada satu faktor yang masuk dan mempengaruhi hormon reproduksi wanita, yaitu konsumsi pil KB?

Peneliti yang pertama kali menyelidiki kaitan antara aroma tubuh dan ketertarikan seksual, Claus Wedekind, menemukan bahwa wanita yang sedang menggunakan pil KB memilih aroma pria yang profil MHC-nya (sekuens gen imunitas) mirip dengan mereka, berlawanan dari wanita yang tidak memakai pil KB. Penelitian di Inggris olehS. Craig Roberts, PhD, juga menunjukkan hasil serupa. Pembalikan preferensi ini bisa jadi merefleksikan mekanisme kerja pil KB, yakni menghalangi ovarium melepaskan sel telur, menipu tubuh seolah terjadi kehamilan. Kehamilan adalah kondisi yang rentan sehingga membutuhkan kehadiran sanak famili, orang yang secara genetis mirip, untuk melindungi. Kecenderungan memilih pasangan dengan gen MHC mirip dapat mengganggu hubungan pengguna pil KB dengan pasangan dalam jangka panjang. Ada kesalahan biologis di sana. Charles Wysocki, seorang psikobiologis dari Florida State University, mengatakan bahwa ketika pasangan tersebut ingin punya anak dan si wanita berhenti memakai pil KB, dia mungkin akan mendapati bahwa dirinya jadi kurang tertarik pada pasangannya tanpa bisa menjelaskan sebabnya.

Pil KB mengubah kemampuan wanita untuk mengendus pasangan seksual yang kompatibel dengan cara membuat wanita salah menginterpretasi aroma yang dicium, selain itu kemungkinan pil KB mengganggu komunikasi olfaktori dengan cara mendistoris sinyal yang dikirim si wanita dan membuatnya kurang menarik bagi pria. Geoffrey Miller, psikolog evolusioner dari University of New Mexico, melakukan sebuah penelitian dengan hasil penari telanjang yang tidak menggunakan pil KB memperoleh 50% uang tips lebih banyak dibanding mereka yang memakai pil KB. Tampaknya ada perubahan yang tidak disadari pada wanita yang memakai pil KB dan ditanggapi pria secara tak sadar pula, yang hasilnya wanita pemakai pil KB dianggap kurang menarik.

Rachel Herz, PhD, berteori bahwa pemakaian pil KB yang meluas boleh jadi merupakan faktor penyebab tingginya angka perceraian. Menurutnya, konselor pernikahan berkata bahwa banyak wanita yang ingin mengakhiri hubungan dengan pasangannya mengeluh bahwa mereka tidak tahan dengan aroma tubuh pasangan. Jika kita tidak tahan bau tubuh orang, bagaimana bisa intim dengannya? Meski demikian, Herz menolak menyebut pil KB sebagai pil pembikin cerai. Tidak sesederhana itu masalahnya. Respons wanita terhadap bau badan alami pria juga dipengaruhi perasaan si wanita terhadap si pria. Begitu dua orang lekat secara emosional, mereka akan cenderung melihat dan mengendus satu sama lain secara positif. Misalnya, seorang wanita yang jatuh cinta karena bertemu di dunia maya, tentu lebih sulit terpengaruh faktor aroma tubuh. Meski demikian, Herz merekomendasikan wanita yang mencari pasangan jangka panjang (menikah) memakai alat kontrasepsi selain pil KB, setidaknya sampai wanita itu mengenal pasangannya dengan baik dan menyukai aromanya.

Sumber:

Psychology Today

webMD.com

Published in: on 9 Maret 2009 at 8:07 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ikuti Hidung Anda

Saya sudah memaparkan mengenai aroma tubuh (pria) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi ketertarikan seksual (wanita) dalam tulisan saya yang terdahulu. Intinya adalah aroma tubuh seseorang merupakan manifestasi eksternal sistem imunnya dan manusia (secara tidak disadari?) dapat mendeteksi kompatibilitas sistem imun orang lain dengan dirinya dari aroma tubuh. Manusia cenderung tertarik secara seksual kepada orang yang memiliki sistem imun yang kompatibel dengan dirinya. Nah, kalau Anda tertarik ingin melakukan uji mengendus aroma tubuh pasangan (atau calon pasangan) untuk mengetahui apa kira-kira Anda kompatibel dengan si dia, berikut ini ada beberapa langkah yang bisa diikuti. Sebelumnya, uji mengendus ini hanya dapat dilakukan bila Anda sedang tidak menggunakan pil KB.

1. Ciptakan satu hari bebas penipuan untuk lubang hidung Anda. Mintalah pasangan Anda mandi dengan sabun bebas pewangi dan mengenakan pakaian bersih dari katun sehari penuh, menjauh dari perokok dan orang-orang berparfum. Maksudnya adalah agar aroma alami tubuhnya tidak terkontaminasi. Pastikan Anda sedang tidak flu dan Anda sendiri sudah menghindari perokok selama beberapa hari.

2. Setelah si dia menghabiskan sehari semalam dalam pakaian katunnya, sebelum melayang ke keranjang pakaian kotor, ambil pakaiannya dan endus aromanya dalam-dalam. Jika bau pakaian si dia tidak Anda rasakan mengganggu, artinya Anda cocok dengannya. Lebih bagus lagi kalau Anda berpikir bahwa aromanya memikat atau seksi. Ketertarikan itu adalah cara alam untuk memberi tahu bahwa si dia adalah kontributor yang baik untuk susunan genetis keturunan Anda.

3. Apabila bau pasangan Anda mengingatkan Anda akan ayah atau saudara Anda, mungkin Anda perlu berkonsultasi ke dokter dan cari informasi tentang tes genetik sebelum mencoba punya anak. Katakan kepada dokter bahwa Anda ingin tahu apakah Anda dan pasangan memiliki profil MHC atau HLA (antigen leukosit manusia) yang dekat.

4. Ketidakcocokan genetik bukan satu-satunya alasan bau tubuh si dia terasa mengganggu. Coba Anda ingat-ingat, apa bau tubuhnya terasa luar biasa menyengat? Barangkali ada kondisi medis tertentu yang menjelaskan aroma itu. Anda bisa menyebutkan perkara bau badan itu ketika si dia menjalani tes kesehatan rutin. Aroma yang sangat manis kadang merupakan tanda diabetes atau skizoprenia (dua-duanya bisa diturunkan). Bicarakan masalah ini dengan si dia dan dokter Anda sebelum berupaya punya anak.

5. Periksa juga menu makanan pasangan Anda. Makanan yang berbumbu atau mengandung bawang putih yang banyak dapat menimbulkan bau badan yang kuat.

6. Kalau bau badan pasangan Anda masih juga terasa menyebalkan, jangan-jangan deterjen penyebabnya. Beberapa jenis deterjen bisa menimbulkan aroma yang mengganggu bila berbaur dengan bau alami tubuh. Coba minta si dia (atau Anda sendiri, kalau Anda yang mencuci pakaiannya) ganti deterjen.

Sumber: Psychology Today

Published in: on 28 Februari 2009 at 1:18 pm  Comments (1)