Deviasi dan Disfungsi Seksual 101

Anda barangkali pernah membaca, mendengar atau terlibat (baik langsung maupun tidak) dengan beberapa contoh peristiwa seperti ini

– Seorang pria yang berkeliling di lingkungan perumahan kemudian memamerkan organ seks dan atau ketelanjangannya pada seorang atau sekelompok wanita.

– Pemasang-pemasang iklan di koran atau majalah yang mengklaim bahwa mereka sanggup mengobati masalah ereksi yang dihadapi kaum pria dan menjadikan mereka kembali “perkasa” dan memuaskan pasangannya.

– Teman wanita yang membuka rahasia bahwa dirinya senantiasa merasa kesakitan luar biasa tiap kali berhubungan seks dengan pasangannya. Bisa terkait dengan ini, wanita yang mengaku bahwa dia tidak pernah mengalami orgasme.

Peristiwa-peristiwa di atas menurut hemat saya sudah cukup lazim ditemui dan masyarakat melabelinya dengan fraseĀ  gangguan seksual, penyimpangan seksual, dan sebagainya. Label yang diberikan masyarakat itu sebetulnya tak terlalu keliru, saya pun tidak hendak memperumit masalah. Di sini saya hanya menawarkan sedikit penjelasan mendasar mengenai kategorisasi masalah-masalah seksual agar Anda bisa lebih teliti dalam mengklasifikasikan fenomena yang Anda temui di kehidupan sehari-hari.

Secara garis besar, terdapat dua jenis abnormalitas dalam fungsi, perilaku dan respons seksual, yakni deviasi seksual dan disfungsi seksual. Deviasi seksual adalah perilaku seksual yang berbeda mencolok sekali dari standar yang ditentukan oleh suatu masyarakat tertentu. Definisi tersebut juga merupakan karakter sexual pervertion, hanya dalam sexual pervertion ada unsur pelarangan ecara khusus oleh hukum di kebanyakan negara. Deviasi seksual kerap dikaitkan dengan parafilia (secara harfiah bermakna “di luar cinta yang lazim”), yang berarti dorongan dan fantasi seksual yang berulang, intens dan atipikal, baik itu diperturutkan maupun tidak. Parafilia secara umum terbagi menjadi parafilia yang koersif (dengan pemaksaan) dan nonkoersif. Ada banyak macam parafilia. Eksibisionisme, pedofilia, inses, pemerkosaan, adalah beberapa di antaranya untuk sekedar menyebut contoh.

Pengertian disfungsi seksual adalah kesulitan dalam aktivitas seksual yang normal terkait dengan gairah dan performa seksual. Disfungsi seksual terwujud dalam berbagai gangguan seksual, yang terbagi dalam beberapa kategori, yaitu :
– Gangguan hasrat seksual atau hasrat seksual yang hipoaktif, mencakup gangguan penghindaran seksual.
– Gangguan gairah seksual (sexual arousal disorder), mencakup gangguan gairah seksual wanita dan gangguan ereksi pada pria.
– Gangguan orgasme, mencakup gangguan orgasme wanita, ejakulasi prematur, dan gangguan orgasme pria.
– Gangguan rasa sakit seksual, mencakup dyspareunia (rasa sakit pada genital selama atau sesudah sanggama) dan vaginismus (kejang otot vagina).

Nah, setelah menyimak penuturan (yang mungkin agak membosankan karena sifatnya teknis) di atas, tentu Anda bisa menentukan sendiri, yang mana saja dari contoh-contoh di awal tulisan yang termasuk deviasi seksual atau disfungsi seksual.

Sumber :
Kamus Psikologi.
Abnormal Psychology. Understanding Human Problems.

Published in: on 7 Januari 2008 at 2:42 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/01/07/deviasi-dan-disfungsi-seksual-101/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: