Antiporn

Seorang guru bahasa Inggris saya (orang Australia) pernah bilang pada saya kira-kira begini, “Saya heran dengan televisi kalian (Indonesia). Mereka memotong adegan ciuman, tapi tidak kekerasan.” Yah, saya kira itu memang betul. Sepanjang yang saya tahu, pada umumnya badan sensor kita dalam menyensor sesuatu lebih banyak memotong adegan yang mengarah atau memperlihatkan aktivitas seksual, tetapi cenderung lebih longgar terhadap adegan yang menayangkan baku gebuk berdarah-darah atau sebangsanya. Padahal kalau mau dipikir dua-duanya bisa sama jelek efeknya. Kasarnya, yang satu mengilhami pemerkosa, satunya menginspirasi jadi tukang main tangan. Dan memang sepengetahuan saya, di luar negeri label 17 plus itu diberikan bukan hanya untuk materi yang berisi adegan seks, tapi juga yang mengandung kekerasan derajat tinggi. Namun, kelihatannya di Indonesia agak beda penerapannya. Makanya seseorang juga pernah berkata pada saya (menanggapi ucapan guru saya tadi), “Wong ciuman saja dilarang, itu kan menunjukkan ekspresi cinta, kalau dibandingkan dengan adegan orang berantem.”

Dan yang bikin saya geli-geli sinis adalah parlemen kita yang (amat sangat tidak) terhormat itu sekarang sedang menggodok RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Saya baca di berbagai media, ramai betul tanggapan tentang ini dan banyak opini yang menyatakan bahwa ini adalah tindakan bodoh. Mereka yang kontra menyebutkan bahwa RUU itu tidak menyentuh inti permasalahannya, yakni eksploitasi seks sebagai dagangan (atau bisa dibilang melacurkan seks), tapi mengenai semua perbuatan asusila di muka umum dengan batasan yang sangat subjektif. Kemudian, ditulis pula bahwa perempuan jadi korban dua kali lantaran ini, mereka jadi korban sebagai objek pornografi, eh dalam penanggulangan menjadi korban pula. Kemudian, RUU itu malah “mempornoaksikan masyarakat”. Tambahan pula, dalam RUU itu tidak membedakan antara pornografi, erotisme dan seksualitas, rada mengaburkan jadinya. Saya rasa mereka betul.

Saya pikir, pornografi itu pada tingkat tertentu sama dengan alkohol, prostitusi, judi, bahkan rokok. Membersihkan total dunia dari keberadaan mereka adalah suatu utopia. Yang bisa dilakukan adalah dengan mengendalikannya. Untuk pornografi misalnya, kan bisa peredarannya diperketat dan diawasi dengan baik agar benda itu sampai hanya ke orang yang tepat. Intinya seperti lokalisasi, begitu. Lalu, saya percaya bahwa segala stimulus, termasuk pornografi, adalah netral. Yang memberikan makna adalah yang menangkap stimulus tersebut. Jadi, kenapa tidak kita dewasakan masyarakat kita agar bisa berpikir lebih jernih tentang pornografi dan kalaupun menggunakan materinya, itu dilakukan untuk tujuan yang relatif baik. Toh, tidak ada sesuatu yang murni buruk. Pornografi, sekecil apapun pasti ada manfaatnya. Kan pada beberapa situasi, tujuan yang lurus bisa dicapai dengan cara yang bengkok. Pornografi tidak ditekan, tapi dikontrol. Penekanan hanya buat anak-anak di bawah umur. Lagipula, masalah ekspresi seksual adalah hal yang sangat subjektif bagi setiap orang. Menentukan batasan porno atau tidak itu jelas tidak bakal bisa dapat. Barangkali kalau UU itu khusus untuk pornografi dalam konteks publik, itu masih agak kena, sejalan dengan “pengendalian” di atas. Tapi, kalau dalam lingkup personal, aku tidak yakin. Satu-satunya negara di dunia yang menerapkan UU yang merepres pornografi seperti RUU kita hanya Singapura. Mau menyusul ?

Yang saya pikirkan juga adalah, kalau nanti benar-benar RUU-nya jadi diberlakukan, apa betul bisa menjamin pornografi musnah di bumi Indonesia ? Dan bukankah sesuatu yang dilarang itu malah menjadi godaan yang menarik ? Nah.

(Benar kata Gus Dur, RUU ini mesti dibahas dengan mendalam dan panjang lebar sebelum disahkan. Dan satu komentar iseng, hebat juga si Inul (dan segala “penggoyang” lainnya). Secara tidak langsung, RUU ini ada karena mereka)
___

Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog saya di Friendster.

Published in: on 8 Januari 2008 at 7:56 am  Comments (2)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/01/08/antiporn/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Jujur, memang masuk akal apa yang ditulis di atas. Memang sering kali yang berwenang (bukan kita) menggembar-gemborkan masalah ini di depan khalayak ramai dengan dalih untuk melindungi rakyat namun mereka tidak melihat dari sisi lain juga.

    Bila dilihat dari sisi kekerasan sendiri, menurut saya, masih mending adegan-adegan yang terkadang kita bilang pornografi. Tidak perlu merasa minder namun sekarang ini bila berkata seksualitas itu dikatakan taboo kenapa masih banyak adanya lokalisasi yang ada di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan hal ini bertambah parah bila memang aturan dikeluarkan.

    Berharap saja, semua ini berakhir dengan sesuai yang kita inginkan bersama. Semoga!

  2. indonesia masih mencari bentuk/jati diri . . . kita baru merdeka bu . . . jangan dibandingkan dengan negara yang sudah merdeka beratus-ratus tahun yang lalu . . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: