Beberapa Mitos tentang Respons Seksual

Seksualitas, seperti banyak topik populer lainnya, tak luput dari berbagai mitos yang tercipta dan berkembang di masyarakat. Dan sebagaimana biasanya mitos, ada sebagian yang memang kemudian terbukti benar, tapi lebih banyak lagi yang tidak masuk di akal. Di sini saya akan mecoba menguraikan beberapa mitos yang umum dijumpai berkaitan dengan respons seksual dan apakah mitos itu betul-betul benar.

Salah satu kepercayaan yang dipegang oleh masyarakat adalah bahwa pria memiliki kapasitas seksual yang lebih besar ketimbang wanita. Sebetulnya, yang benar adalah kebalikannya. Secara agama (Islam) dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa kekuatan dan hasrat seksual wanita sesungguhnya jauh melebihi pria, sampai 99 : 1 (wah ! Tapi konon ada hadis juga yang menyebut 9 : 1, intinya wanita lebih tinggilah). Namun, wanita lebih bisa menahan diri karena dibekali rasa malu yang lebih kuat. Kalau dilihat dari sisi kemampuan fisik, wanita memiliki potensi orgasmik yang nyaris tiada batas. Sementara pria, karena ada periode refraktori, tidak dapat ejakulasi berulang-ulang (dalam hal ini ejakulasi disamakan dengan orgasme, walau tidak selalu bisa begitu). Kebanyakan pria juga kesulitan untuk segera ereksi setelah ejakulasi. Jadi secara mekanis dapat dikatakan bahwa kapasitas pria untuk sanggama berulang-ulang kurang dari wanita.

Mitos lainnya adalah bahwa pria senantiasa dapat menentukan apakah pasangannya (wanita) orgasme atau tidak. Kenyataannya tidak selalu demikian. Kadang pria disibukkan oleh gairahnya sendiri atau tak mengenali tanda fisik orgasme wanita. Atau pada situasi lainnya, pria ditipu oleh wanita yang memalsukan orgasmenya (yang bisa dilakukan dengan cara mengerang, mengkontraksi vagina, bernafas dengan berat, dll…Anda dapat idenya, kan ?).

Masih berkaitan dengan orgasme, ada mitos (yang dipopulerkan lewat media) bahwa semua orgasme adalah kondisi yang intens, menakjubkan, bak meledakkan dunia dan semacamnya. Namun, meski secara umum refleks orgasme pada manusia sama, orgasme yang dirasakan masing-masing orang pada situasi berbeda bisa berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kondisi fisik (seperti kelelahan) dan emosional pada saat melakukan hubungan seks. Jadi, beberapa orgasme mungkin rasanya dahsyat, beberapa lainnya terasa hangat dan sedang-sedang saja. Dan Anda tak perlu gelisah kalau kebetulan tidak mengalami orgasme yang bukan main hebat rasanya.

Satu lagi, pada tahun 1950-an di Amerika gagasan tentang orgasme mutual (pasangan yang mengalami puncak kepuasan pada saat yang sama) dipopulerkan lewat manual pernikahan. Banyak orang yang mencoba untuk “menyetel” respons seksual mereka, tapi hubungan seks yang pakai dikoreografi begitu malah jadi kurang seru dan spontan. Bisa orgasme bareng tentu saja menyenangkan, tapi kalau masing-masing kelewat sibuk dengan responsnya sendiri, orgasme partnernya bisa saja terlewatkan.

Sumber :
Human Sexuality
Panduan Seks Islami

Published in: on 16 Januari 2008 at 5:22 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/01/16/beberapa-mitos-tentang-respons-seksual/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: