Hierarki Jender dan Stripper Pria

Jenis kelamin kerap kali diidentikkan dengan perilaku atau karakteristik tertentu sesuai dengan stereotipe jender yang berkembang di masyarakat. Salah satu stereotipe yang terkait dengan relasi pria-wanita adalah hierarki jender, hubungan yang sifatnya subordinasi. Seksualitas tak luput dari hierarki semacam ini. Pria dianggap sebagai penikmat aktivitas seksual sementara wanita tak lain berfungsi sebagai penyedia layanan seksual untuk kenikmatan pria. Pria = dominasi, wanita = submisi. Pria = aktif, wanita = pasif. Meskipun mulai tahun 1960-an muncul revolusi feminis (di AS), hierarki jender tradisional yang demikian itu tetap melekat.

Salah satu fenomena yang menegaskan hierarki pria-wanita dalam seksualitas adalah tari telanjang atau striptease. Di sini tampak bahwa stripper wanita mengalami objektifikasi. Mereka direduksi menjadi sekedar objek seksual untuk dipandang (dan sangat mungkin, disentuh) kaum pria (dan mungkin juga lesbian, tapi bukan itu maksud saya) dan sebagai alat pelaris penjualan minuman yang biasa disediakan di klub striptease. Kemudian, diduga terjadi perbedaan persepsi masyarakat terhadap profesi stripper yang dilakoni pria dan wanita. Reaksi terhadap stripper wanita cenderung negatif (dianggap wanita murahan dan sebagainya). Bandingkan dengan stripper pria yang mampu bersikap positif terhadap pekerjaannya. Sebagai tambahan, rata-rata penghasilan stripper pria lebih tinggi dibandingkan stripper wanita.

Saya di atas menyebut tentang stripper pria (dengan konsumen wanita). Anda barangkali berpikir bahwa di pertunjukan striptease pria, hierarki jender tidaklah berlaku. Toh, di sini pria adalah penampil dan wanita adalah penikmatnya. Tahan dulu sangkaan Anda itu karena penelitian yang dilakukan oleh Margolis dan Arnold justru menemukan kebalikannya. Ya, hierarki jender tetap berlaku di situ.

Penelitian tersebut dilakukan di sebuah klub yang biasa menggelar pertunjukan striptease pria. Beberapa indikator hierarki jender yang ditemukan adalah stripper prialah yang berperan aktif, penonton wanita boleh menyentuh mereka, tapi limit penampil-konsumen sangat jelas terlihat. Sentuhan penonton malah dianjurkan (kebalikan dari pertunjukan stripper wanita) karena dianggap tidak berbahaya dengan pertimbangan stripper pria rata-rata kekar berotot (yum !) dan tentu saja kekuatan fisiknya melebihi penonton wanita. Kalau ada penonton yang menunjukkan penolakan ketika stripper pria beraksi dengannya, stripper tersebut menanggapi dengan perilaku menyerang. Citra yang dibangun stripper pria adalah agresor seksual, bukan penyedia layanan seksual. Para stripper pria menari di panggung yang letaknya di atas audiens. Dengan kata lain, stripper pria di atas angin dan mengendalikan penonton. Submisi wanita tampak pula pada aturan tak tertulis bahwa wanita didorong untuk bersorak atau menjerit agar stripper pria mau melucuti kostumnya dan makin terlihat dalam dive bomb, yaitu penonton wanita memasukkan lembaran fulus pakai mulut ke G string stripper pria (meniru fellatio). Kemudian, dengan tampil menari telanjang di hadapan penonton wanita, stripper pria bisa dibilang membantu pria pasangan para penonton wanita tersebut dengan cara membikin gairah wanita penontonnya meningkat (ingat, wanita cenderung lambat panas) sehingga ketika mereka pulang, mereka siap berhubungan seks dengan pasangannya.

Kesimpulannya, pertunjukan striptease pria bukan merupakan cermin atau pembalikan dari pertunjukan striptease wanita dalam hal hierarki jender. Dalam kedua pertunjukan tersebut yang dominan selalu pria. Cuma jenis kelamin penampil dan konsumennya saja yang dibalik. Begitulah.

Sumber :
Gender Hierarchies

Published in: on 1 Februari 2008 at 5:19 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/02/01/hierarki-jender-dan-stripper-pria/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: