Sadomasokisme, dari Penyimpangan sampai Katarsis, Bagian Dua

Di bagian pertama tulisan ini sudah saya jabarkan tentang sadomasokisme yang bagaimana yang dianggap sebagai penyimpangan seksual. Nah, berhubung di bagian kedua ini saya akan ungkapkan tentang sadomasokisme secara kultural, saya akan memakai istilah BDSM. Alasannya, BDSM merupakan satu singkatan yang memayungi beberapa subdivisi dalam kultur ini, yaitu B&D (bondage and discipline, kekangan dan disiplin), D/s (dominasi dan submisi), dan S&M (sadisme dan masokisme), serta memiliki cakupan perilaku yang luas.

Seperti yang sudah saya kemukakan di bagian pertama, para ahli saat ini menganggap bahwa BDSM yang dilakukan dengan adanya persetujuan kedua belah pihak bukanlah penyakit atau penyimpangan. BDSM dianggap penyakit bila terkait dengan gangguan kepribadian lainnya. Praktisi BDSM secara jelas juga menetapkan batasan antara BDSM konsensual dengan penyiksaan seksual. Yang penting adalah ada kesediaan dari masing-masing pihak. Aktivitas BDSM cenderung berbentuk “adegan” atau “sesi” yang dilakukan pada waktu tertentu di mana kedua pihak menikmati skenario yang melibatkan salah satu pihak melepaskan kontrol atau otoritas. Pihak tersebut suka rela, bukan dipaksa, melakukan hal-hal yang diminta dari mereka. Semua pihak yang terlibat menikmati sesi tersebut, meski praktek yang dilakukan (disakiti, dikekang, dll) dalam situasi normal tidak menyenangkan. Pihak yang submisif menyerahkan kontrol pada pihak dominan melalui ritual pertukaran kekuasaan. Pihak dominan biasa disebut “dom(inan)” atau “atas”, sedangkan pihak submisif dinamai “bawah” atau “sub(misif)”. Hubungan seksual (baik itu oral, anal atau vaginal) dapat terjadi dalam satu sesi, tapi tidak esensial.

Itu tadi BDSM secara umum, sekarang mari kita bedah subdivisinya secara terpisah, meskipun dalam prakteknya antara subdivisi BDSM yang satu dengan yang lain kerap tumpang tindih. Baiklah, kita mulai dari yang pertama : Bondage and Discipline. Bondage and Discipline merupakan dua aspek BDSM yang tak selalu saling mengait, tapi bisa muncul bersamaan. Bondage meliputi praktek-praktek pengekangan untuk mendapat kepuasan, biasanya (tapi tak selalu) merupakan praktek seksual. Bondage dipraktekkan dengan mengikat anggota tubuh pasangan, bisa dengan borgol atau tali (atau scarf, kalau cuma setengah niat), dapat pula dengan merantai tubuh pasangan ke jeruji perentang atau menyalibkan pasangan. Riset dengan subjek praktisi BDSM di AS menunjukkan bahwa separuh subjek pria dan banyak wanita menganggap bondage erotis.

Discipline dalam konteks BDSM prakteknya agak berbeda dengan disiplin sebagai nilai kehidupan pada umumnya, meski intinya sama : patuh pada peraturan. Istilah discipline dalam BDSM mencakup penggunaan aturan dan hukuman untuk mengendalikan perilaku pasangan. Hukuman bisa berupa fisik (dirotan), psikologis (dipermalukan), maupun kehilangan kebebasan secara fisik (dirantai). Discipline juga dapat berupa latihan terstruktur bagi pasangan yang di “bawah”. Discipline kadang dipraktekkan bersama dengan bondage dan ini membuat pembedaan antara bondage dan discipline kadang sulit ditetapkan, apalagi discipline juga kerap digabungkan dengan aspek sadomasokisme.

Sekarang kita menginjak subdivisi berikutnya, yaitu D/s, dominasi dan submisi. D/s merupakan satu set perilaku, ritual, kebiasaan berkenaan dengan memberi dan menerima dominasi satu individu atas individu lainnya dalam konteks erotis atau gaya hidup. D/s cenderung mengeksplorasi BDSM dari aspek mental. Banyak relasi manusia yang mengandung unsur D/s meski tidak dianggap sebagai penganut BDSM. Misalnya pasangan suami-istri yang istrinya amat dominan dalam kehidupan rumah tangga dan suaminya sangat penurut pada istrinya. Relasi tersebut termasuk BDSM jika D/s dipraktekkan secara sadar (sengaja) dan suka rela. Mengontrol dan dikontrol orang lain umumnya lebih ke arah dinamika kekuasaan dalam satu hubungan, ketimbang perilaku tertentu dan kadang (tapi tidak selalu) melibatkan sadomasokisme.

Sampailah kita ke subdivisi S&M, sadomasokisme. Dalam konteks aktivitas seksual konsensual, sadomasokisme merujuk pada kepuasan dan bangkitnya gairah seksual karena menerima atau menyebabkan rasa sakit, malu atau penderitaan pada orang lain. Tapi jabaran istilah ini secara psikologis tidak betul-betul akurat. Sadisme secara absolut adalah orang yang kesenangannya melukai orang tak tergantung persetujuan korbannya. Tak adanya persetujuan bisa merupakan hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang sadis murni. Seorang masokis dalam BDSM konsensual adalah orang yang menikmati fantasi seksual atau dorongan untuk dibuat menderita, baik sebagai pengganti maupun penyedap kenikmatan seksual, biasanya dilakukan sesuai dengan skenario “adegan” yang disepakati. Jadi, seorang masokis tidak menikmati rasa sakit di luar skenario, misalnya karena kecelakaan, dioperasi, dsb. Sadomasokisme tidak hanya dipraktekkan dalam konteks seksual, tapi ada juga yang nonseksual.

Sadomasokisme cenderung mengarah pada aspek fisik dalam BDSM. Fokusnya pada memberi dan menerima rasa sakit. Anda barangkali mengira bahwa permainan kekuasaan dalam S&M sejalan dengan D/s, yang berkedudukan di “atas” yang mendominasi. Namun, nyatanya kebalikannyalah yang berlaku. Kekuasaan kerap terletak pada pasangan yang di “bawah” karena dialah yang biasanya menciptakan skenario dan menetapkan batasan untuk setiap “adegan”. Si sadis dapat saja harus bekerja keras untuk menyediakan jenis siksaan sesuai dengan yang dimaui si masokis.

Agar tulisan ini tidak makin panjang, saya potong dulu di sini. Di bagian ketiga (terakhir) saya akan mengupas aspek fisik dan psikologis BDSM, dan bagaimana BDSM kini melampaui konsep tradisionalnya yang hanya mencakup kepuasan seksual belaka.

Sumber :
Dari berbagai sumber

Published in: on 16 Februari 2008 at 5:19 am  Comments (2)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/02/16/sadomasokisme-dari-penyimpangan-sampai-katarsis-bagian-dua/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. “mwmwmwfff!!! grhrrhrrhrrrrrhh, mkshwhwhw…….”

    artinya:
    Makasih untuk penjelasannya dok

  2. bagaimana kalo pasangan sado tidak suka? namun tidak mampu melawan? apakah bisa diajukan ke ranah hukum? akibat kekerasan yang “bisa” membahayakan fisiknya, misal dicekik sampai tidak dapat bernapas….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: