Sadomasokisme, dari Penyimpangan sampai Katarsis, Bagian Satu

Sengaja tulisan ini saya bagi menjadi tiga bagian, yang satu masuk divisi Deviasi dan Disfungsi Seksual, dua lainnya dicemplungkan dalam kategori Perilaku Seksual. Memang buku-buku tentang seks yang saya baca umumnya menyorot sadomasokisme dari perspektif parafilia (penyimpangan seksual). Namun, konsep sadomasokisme (gabungan sadisme dan masokisme) terus meluas seiring perkembangan seksualitas manusia. Sadomasokisme saat ini tidak hanya dipandang sebagai suatu penyimpangan, melainkan dapat dilihat sebagai preferensi atau variasi seksual, gaya hidup atau hubungan, metode pencapaian puncak spiritualitas, pelepas ketegangan dan bahkan, tak mesti melibatkan elemen seksual. Bagian pertama tulisan ini khusus membahas sadomasokisme “tradisional”, sadomasokisme sebagai parafilia, sedangkan sisanya saya akan uraikan di bagian selanjutnya.

Definisi tentang sadisme seksual yang saya rangkum dari beberapa buku adalah penyimpangan seksual di mana seseorang secara nyata menyebabkan rasa sakit fisik maupun psikologis pada orang lain secara sengaja untuk memperoleh kepuasan seksual dan atau membangkitkan gairah seksual. Sedangkan masokisme seksual merupakan penyimpangan seksual di mana seseorang punya kebutuhan untuk mengalami (melibatkan tindakan nyata yang menyebabkan) rasa sakit fisik dan psikologis untuk memperoleh kepuasan seksual dan atau membangkitkan gairah seksual.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV, 1994) memaknai sadisme seksual dan masokisme seksual secara terpisah, definisinya kurang lebih sama dengan definisi di atas. Namun, untuk dapat dikatakan suatu gangguan (penyakit), fantasi, dorongan seksual dan perilaku sadomasokisme tersebut mesti telah menimbulkan distres (stres negatif) dan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi penting lainnya secara signifikan dan bersifat klinis, dan atau tidak ada persetujuan mutual oleh kedua belah pihak. Kemudian aktivitas sadomasokisme merupakan satu-satunya cara pemuasan seksual selama enam bulan. Tanpa kriteria di atas, aktivitas sadomasokisme tidak bisa diklasifikasikan sebagai gangguan mental. Sekadar informasi, gangguan preferensi seksual bisa terjadi bersama dengan praktek sadomasokisme.

Sadisme seksual berbeda dengan gangguan kepribadian sadistik. Orang dengan gangguan kepribadian sadistik kejam, agresif, merendahkan orang lain. Ia menggunakan kekerasan dan kekejian untuk mencapai tujuan, memperlakukan orang lain dengan kasar, menggemari penderitaan makhluk hidup, mengendalikan orang lain dengan rasa takut, mengekang kebebasan orang lain dan tertarik dengan kekerasan, senjata dan luka. Perilakunya tersebut tidak hanya ditujukan pada satu orang tertentu dan karakter utama yang membedakannya dengan sadisme seksual, kekejamannya bukan untuk memperoleh kepuasan seksual. Jadi ingat kata dosen saya (kredit untuk Pak Martono), “Orang kejam itu enak saja karena tidak merasa ada yang salah. Yang susah, kan korban kekejamannya.”

Masokisme seksual juga harus dibedakan dari sindrom martir (orang yang ingin jadi martir, mencari penderitaan atau penganiayaan untuk memenuhi kebutuhan psikologis) dan gangguan kepribadian mengalahkan diri (meski juga dikenal dengan gangguan kepribadian masokistik). Gangguan kepribadian mengalahkan diri merupakan pola perilaku mengalahkan diri, menghindar dari kesenangan dan tertarik pada penderitaan. Orang dengan gangguan kepribadian ini mencari orang untuk mengecewakan diri sendiri, menolak pertolongan, hal positif yang dialami direspon dengan depresi atau menyakiti diri, suka memancing amarah dan penolakan, mencari pasangan yang mengabaikannya dan sejenisnya. Perilaku tersebut tidak khusus terkait dengan respon seksual dan tidak hanya terjadi ketika depresi.

Ada lagi yang namanya sindrom Skoptic, yaitu kondisi di mana seseorang terfokus pada atau melakukan sendiri mutilasi genital (pikirkan orang yang memotong penisnya sendiri…ouch…). Orang dengan kondisi masokisme yang ekstrem bisa melakukan ini, tapi seorang masokis belum tentu mengidap sindrom Skoptic (yang bikin alat kelamin ciptaan Tuhan jadi mubazir lantaran dirusak sampai tak bisa berfungsi).

Perihal sadomasokisme sebagai gangguan atau penyimpangan seks sudah saya uraikan. Pada bagian selanjutnya saya akan membahas tentang sadomasokisme nonparafilia atau sadomasokisme secara kultural.

Sumber :

Dari berbagai sumber

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/02/16/sadomasokisme-dari-penyimpangan-sampai-katarsis-bagian-satu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

17 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wuah makasih pak dokter untuk penerangannya, jadi masokis memang sakit tapi enaak, gak berbeda seperti penggemar makanan dengan sambal cabe rawit.

    • Terima kasih komentarnya. Tapi maaf, Anda merujuk saya dengan jenis kelamin dan profesi yang keliru.

  2. Penulis yang terhormat, sedikit sebagai bahan analisa anda, bahwa pada dasarnya semua manusia berpotensi memiliki sifat sadomasokis.Dan mungkin ini sudah menjadi kodrat manusia. Bedanya, mereka yang akhirnya dipandang memiliki penyimpangan seksual adalah mereka yang bertindak terlalu berlebihan. Kalau boleh jujur, hampir setiap laki-laki memiliki sifat buas untuk menyiksa pasangannya. Bahkan mereka akan semakin bergairah melakukan aktifitas seks, ketika seorang wanita merasa kesakitan. Seperti saat gadis mengalami malam pertamanya. Sementara wanita ternyata kebanyakan juga demikian. Menurut pengalaman saya, bebepa wanita justru merasa menikmati seks ketika pasangannya dianggap kalah. Mereka senang dikatakan sebagai wanita-wanita yang gila seks.

    • Terima kasih komentarnya. Saya setuju bahwa dalam diri manusia ada potensi untuk menjadi sadis maupun masokis. Namun, potensi ini tidak terbatas hanya dalam soal seks, tapi juga menjadi dasar perilaku sehari-hari.

  3. hy, salam kenal..
    aq mo minta ijin u/ meng-copy data2ny untuk tambahan bahan2 presentasi qu, boleh tidak??

    bahan2 yang qu dapat dr sni, keren abis, yang tadinya aq cm tau2an ajj, jd tau bneran..
    thx b4.. \(^O^)/

    • Terima kasih komentarnya. Silakan dikopi asal menyebutkan sumbernya. Senang bisa menambah pengetahuan Anda.

  4. Kebetulan saya punya video perilaku sadomasokism, hasil nemu di website tanpa bermaksud mencarinya. dan video itu benar2 membuat saya traumatis dan sampe skrg gak berani melihat video itu lagi. disitu saya menyadari bahwa kekuatan fantasi manusia itu mengalahkan rasa sakit (the power of mind). saya juga mo curhat sedikit..saya paling suka jika diperlakukan kasar oleh wanita (secara fisik) seperti ditampar, digigit, dicekik asal tidak dilempar pake bangku atau disundut rokok aja..ngamuk saya hehe. anyway apakah itu sudah termasuk kategori sadomasochis? jika iya apakah masih dalam tahap wajar? hehe sory bnyk nanya..nice blog btw

    • Saya kira itu bisa digolongkan dalam kategori masokis. Namun, Anda sendiri sudah menentukan batasan sejauh mana orang lain berhak mengasari Anda sehingga Anda tidak membahayakan diri. Soal wajar atau tidaknya, saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Tebakan saya, itu memang preferensi pribadi Anda.

  5. terima kasih atas informasinya itu. teteapi ijinkan saya ya untuk berpendapat ya!? menurut saya sado-masokism bukanlah penyakit, melainkan orientasi seks! saya jujur aja sih, saya di kategorikan masokism.saya sangat senang dengan kepuasan seks ini! dan saya pikir orientasi ini memberikan mutual bagi saya sendiri.dan setiap manusia pada awalnya ingin menang sendiri atau ingin bahagia dan tidak ada yang ingin menderita.mengapa mutual? karena masokism yang di lakukan dengan cara seks tidak akan mendapat dosa. karena saya tidak membutuhkan aurat malah saya ingin membuat orang senang dan puas!!! apa saya di inginkan orang itu saya turuti! tapi sih bedasarkan moment tertentu!!! terima kasih!

  6. oh yah satu lagi nih saya ingin berpendapat!!!! menurut anda apakah masokisme itu harus di obati? terima kasih!

    • Terima kasih komentarnya. Saya hanya ingin tahu apakah Anda sudah membaca seluruh rangkaian tulisan saya tentang sadomasokisme? Di sana saya menulis rentang konsep sadomasokisme mulai dari yang dianggap penyakit sampai semacam katarsis atau penyembuhan/pelepasan secara mental. Bagi saya, masokisme yang perlu diobati itu tergantung di titik mana perilaku tersebut berada. Jika sudah berada dalam wilayah penyimpangan seksual secara klinis, saya kira perlu diobati.

      • terima kasih atas pertanyaan dan pendapat anda dan izin anda. yah saya sudah baca.dari anda menulis masokisme itu harus di bedakan dari sindrom martir hingga yang parahnya sindrom skoptik.tapi anda menyebutkan bahwa sado masokisme itu adalah gangguan prefensi seksual.dan anda menulis ”selain penyimpangan seksual…..”
        jika itu adalah gangguan dan penyimpangan maka akan membentuk suatu negatif pada diri sendiri dan orang lain terkecuali sado memang negatif. tapi masokisme apakah berbahaya dan apakah itu gangguan? dan sebenarnya kegiatan masokisme itu tidak hanya untuk si sado. tapi pada orang yang tidak sado juga bisa.di dalam masokisme kita belajar bahwa mengalah itu daripada menang tetapi tah harmonis(perang).terimakasih.btw sorry kepanjangan

      • Saya sebenarnya belum benar-benar menangkap arah pertanyaan Anda, tapi saya coba jawab. Sado, maksud anda sadis? Oke, kebanyakan orang menilai bahwa perilaku sadis selalu negatif, tapi saya kira masokisme juga ada sisi negatifnya. Minimal dia bisa membahayakan diri sendiri, misalnya pada kasus auto-erotic asphyxiation. Jika masokisme itu dilakukan bersama pasangan (baik itu dengan orang yang sadis maupun tidak) sampai melampaui batas, lalu si masokis itu tewas, pasangannya bisa kena jerat hukum juga kan.

  7. bu Oryn, kalau yan g begini penyakit apa ya ? :
    saya sangat suka kalimat pengulangan dalam pikiran saya, seperti disko. tertama jika kalimat itu tidak wajar seperti :

    “kamu adalah anjing saya yang imut” , dalam pikiran saya :”anjing anjing anjing anjing….”
    atau seperti berikut :

    “Mamang gelandangan itu mmungut nasi bungkus dari tempat sampah”, sampah sampah sampah sampah……

    itu namanya penyakit apa dalam otak saya ya bu?

    • Maaf baru membalas, saya pernah membaca sekilas ada sebuah istilah untuk gangguan dengan gejala seperti yang Anda ceritakan, tapi saya lupa tepatnya. Namun, hal itu bisa disebut gangguan bila terjadi terus-menerus dan, yah, mengganggu Anda. Jika Anda merasa sangat terganggu dengan itu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

  8. bagus pak tulisannya.
    saya ingin bertanya, apa masokis itu hanya dalam ranah seksual semata? atau bisa dalam hubungan cinta tanpa aktivitas seksual? misal seperti tindakan sewenang-wenang oleh satu pasangan yang diterima oleh pasangannya tersebut tanpa melawan….

  9. Anda merujuk saya dengan jenis kelamin yang keliru, tapi baiklah. Jika Anda membaca semua tulisan saya tentang BDSM, di bagian terakhir disebutkan bahwa BDSM tidak terbatas pada ranah seksualitas. Contoh yang Anda sebutkan bisa jadi merupakan hubungan bertipe BDSM, tapi perlu dilihat sebab mengapa ia tidak melawan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: