Sadomasokisme, dari Penyimpangan sampai Katarsis, Bagian Tiga

Bagian ini merupakan kelanjutan dari bagian kedua yang membahas tentang subdivisi-subdivisi kultur BDSM. Di sini saya akan memaparkan aspek fisik dan psikologis BDSM, dan apa yang mungkin bisa disebut pandangan kontemporer tentang BDSM.

Dalam tingkatan fisik, BDSM terkait dengan pemberian rasa sakit fisik, penderitaan dan sensasi intens lainnya secara intensional. Praktisi BDSM sering membandingkan efek yang disebabkan pelepasan endorphin (substansi kimia yang bisa membuat orang “melayang” setelah melakukan aktiitas tertentu, seperti seks dan merupakan respon tubuh terhadap sensasi intens tertentu) ketika melakukan praktek BDSM dengan “melayang” ala pemakai narkoba atau kondisi pascaorgasme. Efek mirip trans (trance) mental ini dikatakan sangat nyaman. Seorang filsuf, Edmund Burke, menyebut sensasi kenikmatan oleh rasa sakit ini dengan kata “sublim”. Ada pula yang berpendapat bahwa area di otak yang mengatur stimulus seksual dan rasa sakit bertumpang tindih sehingga ada orang yang mengasosiasikan rasa sakit dengan kenikmatan seksual.

Kesenangan yang diperoleh dalam satu sesi BDSM sangat erat bergantung pada kompetensi pasangan yang di “atas” dan kondisi mental dan fisik pasangan yang di “bawah”. Untuk dapat berbagi pikiran dan rasa diperlukan pula saling percaya dan kegairahan seksual. Sebagian kecil praktisi BDSM malah ikut dalam sesi tidak untuk memperoleh kesenangan pribadi, melainkan semata-mata agar pasangannya terpenuhi kebutuhannya. Banyak orang terlibat dalam BDSM karena mengidamkan sensasi fisik tertentu. Untuk memperoleh kepuasan, kuncinya adalah menggubah jenis sensasi yang tepat dengan intensitas yang tepat. Ada praktisi BDSM yang mengibaratkan sensasi tertentu dengan komposisi musik, setiap sensasi bagaikan satu not musik. Jadi, kesan sensasi yang berbeda dikombinasikan untuk menciptakan pengalaman total yang senantiasa dikenang. Namun, bagi beberapa orang, bukan sensasi intensnya yang menyenangkan, tapi pengalaman menguji ketahanan dan batasan-batasan diri.

Di bagian kedua sudah saya singgung sekilas tentang hubungan yang mempraktekkan BDSM (D/s, khususnya) secara sengaja. Hubungan yang demikian itu disebut play relationship dan definisinya adalah hubungan yang dalam kehidupan kesehariannya dilingkupi oleh konsep BDSM bahkan di luar aktivitas seksual. Pasangan dengan tipe hubungan seperti ini sehari-hari menjaga keseimbangan kekuasaan dan menjadikan aspek BDSM sebagai bagian konsisten dari gaya hidup mereka. Play relationship juga disebut 24/7 relationship, maknanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu mempraktekkan BDSM. Dalam hubungan ini pasangan yang dominan mengontrol mayoritas aspek kehidupan pasangan yang submisif, dengan pengecualian pada area pekerjaan, keluarga, teman, dll. Ada satu bentuk hubungan BDSM yang paling tidak umum, yaitu total power exchange di mana pasangan dominan menguasai pasangan submisif secara total.

Saat ini keinginan atau pemikiran terkait dengan BDSM sudah dianggap normal, bahkan sehat, ketika para ahli mulai mempertimbangkan nilai potensi psikologisnya. BDSM menawarkan pelepasan energi seksual dan emosional yang bagi beberapa orang sukar dilakukan lewat seks tradisional. Menurut psikolog sosial dari Case Western Reserve University, Roy Baumeister, Ph.D. , kepuasan dari BDSM adalah sesuatu yang lebih dari seks biasa, itu bisa menjadi pelepasan emosi total. Banyak orang yang melaporkan bahwa hubungan seksual mereka lebih baik ketika dilakukan setelah satu sesi BDSM, tapi tujuan BDSM bukanlah sanggama. Buku S&M: No Longer A Pathology menyatakan bahwa satu sesi yang hebat tidak berujung pada orgasme, melainkan katarsis. Katarsis itu sendiri adalah pembebasan, pelepasan ketegangan dan kecemasan dengan mencurahkan kejadian traumatis masa lalu yang dulunya ditekan.

Terakhir, BDSM bukan hanya cara memenuhi fantasi seksual, tapi juga merupakan jalan spiritual Banyak orang mendapati bahwa rasa sakit, submisi atau dominasi membawa mereka ke kondisi mirip trans (trance) yang dalam. Dalam kondisi demikian, mereka bisa memperoleh visi dan revelasi (dibukakan matanya). Kadang visi tersebut membantu dalam hidup, ditransformasikan dalam seni dan membuat orang jadi lebih bersentuhan dengan alam dan Sang Pencipta.

Sumber:
Dari berbagai sumber

Published in: on 16 Februari 2008 at 5:22 am  Comments (6)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/02/16/sadomasokisme-dari-penyimpangan-sampai-katarsis-bagian-tiga/trackback/

RSS feed for comments on this post.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. maap nih, perasaan dari tadi BDSM-BDSM, apa sih BDSM? (sotoy…)

  2. Udah baca yang bagian duanya ? Di situ ada definisinya.

  3. Wah, tadinya saya pikir ujung dari semua ini adalah orgasme. Bisa tolong diterangkan, bagaimana BDSMer bisa melepaskan ketegangan dg tindakannya? Orgasme bg orang2 ini perlu nggak? Kalau mencapai katarsis tanpa orgasme?

    Sekali lagi, tadinya saya pikir konteks dari semua ini adalah seksualitas. Jd, bagaimana adegan atau sesi BDSM dpt dihubung2kan ke Sang Pencipta? Mohon diterangkan.

    Trims.

  4. Sebetulnya saya bukan ahli dan praktisi BDSM, tapi akan saya coba jawab. Menurut saya, tidak semua aktivitas BDSM terkait dengan seks, jadi tidak selalu berujung pada orgasme fisik. Mungkin juga bisa orgasme mental atau spiritual. Kalau yang Anda maksud apakah praktisi BDSM butuh orgasme atau tidak itu secara fisik-seksual, saya kira belum tentu, tergantung pada konteks apa dia melakukan BDSM. Sehubungan dengan Tuhan, ada sebuah teori yang mengatakan bahwa BDSM (terutama masokisme) itu adalah salah satu cara memenuhi kebutuhan untuk tunduk pada sesuatu (Tuhan), di mana kebutuhan itu sudah melekat pada manusia. Saya kira BDSM merupakan cara untuk mendekati Tuhan, seperti beberapa aliran kepercayaan yang penganutnya menyiksa diri untuk mencapai tingkat spiritual tertentu.

  5. hai, saya baru memulai blog saya sebagai penganut setia BDSM.
    saya merasa BDSM sangat awam di Indonesia padahal pengikutnya sudah banyak.

    bisa coba diliat kehidupan nyata saya:

    http://www.lovelychained.blogspot.com

    saya yakin banyak yang memiliki hasrat BDSM tapi tidak tau harus kemana. Maka dari itu blog nya saya buat biar bisa saling share🙂

    • bloger tidak ditemukan non


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: