Tentang Inses, Sanggahan terhadap Freud

Mendiang Mbah Sigmund Freud (dedengkotnya psikoanalisis yang dulu bikin heboh kancah psikologi) punya teori seperti ini tentang inses : manusia secara alamiah punya pembawaan inses. Anak laki dengan ibunya, anak perempuan dengan ayahnya. Nah, pembawaan itu bisa terkekang lantaran ada ketakutan akan kastrasi (kehilangan alat kelamin) ketika seorang anak tumbuh dalam keluarga yang dipersepsi di dalamnya ada cinta segitiga (antara anak laki/perempuan-ayah-ibu). Mark T. Erickson, M.D. berpendapat sebaliknya. Menurutnya, manusia justru mengembangkan penghindaran terhadap inses yang diaktifkan oleh adanya kedekatan dengan orang tua dan famili. Dalam proses kelekatan terbangun ikatan familial yang berfungsi mencegah terjadinya inses, sekaligus menumbuhkan altruisme terhadap orang-orang terdekat.

Asumsi Freud bahwa hewan (dalam hal ini termasuk manusia) berhubungan seksual secara inses terpatahkan oleh penelitian yang dimulai pada tahun 1960-an yang menunjukkan bukti bahwa inses jarang ditemukan pada primata (alias sepupu kita) sampai ke seluruh kerajaan hewan, dan kecenderungan ini tetap ada walau makhluknya berevolusi. Itu tadi pembuktian dari dunia hewan. Hasil penelitian pada dua kelompok subjek di Israel dan Taiwan (yang budayanya memungkinkan kedekatan pada masa kanak-kanak dan larangan hubungan seksual ketika dewasa tidak ada) menunjukkan bahwa anak-anak (lain jenis kelamin) yang dekat semasa kecil atau tumbuh bersama, cenderung menghindari hubungan seksual dengan teman kecilnya itu ketika dewasa. Kalaupun mereka sampai menikah (karena dijodohkan, seperti pada subjek Taiwan), angka perceraian mereka tinggi dan angka kelahiran anak dari pasangan tersebut rendah.

Erickson melihat penghindaran terhadap inses sebagai pertumbuhan yang normal dari anak-anak yang waktu kecil diasuh dengan baik dan penuh kasih. Oleh karena itulah Erickson juga menyimpulkan bahwa pelaku dan korban inses ditandai dengan penolakan dan tidak terpenuhinya kebutuhan emosional semasa kanak-kanak. Ketika kelekatan tercabik pada usia belia (bisa karena orang tua berpisah ataupun pengabaian), anak tumbuh dalam kebingungan, mengacaukan ketertarikan familial dengan ketertarikan seksual. Seperti mite Oedipus, perpisahan pada masa anak membawa individu pada reuni inses kala dewasa.

Teori Erickson ini jadi relevan bagi kita yang hidup pada zaman modern ini. Di era kita, banyak hal yang bisa mengacaukan, bahkan memutus ikatan orang tua-anak. Orang tua kerap sibuk (bekerja dan entah apa lagi) sehingga mengabaikan anak, yang kalau menurut Erickson, ini sama saja dengan menciptakan potensi inses. Sehingga, Erickson menyarankan pada para orang tua untuk terlibat pada pengasuhan anak, terutama pada tahun pertama, daripada menyerahkan anak pada pengasuh atau penitipan.

Sumber :
Psychology Today, Juli-Agustus 1993

Published in: on 23 Februari 2008 at 4:27 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/02/23/tentang-inses-sanggahan-terhadap-freud/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: