Pemeriksaan Wajib Wanita

Pertanyaan bagi Anda kaum wanita, di luar pemeriksaan kehamilan, berapa kali Anda mengunjungi seorang ginekolog? Kunjungan yang saya maksud adalah yang bersifat profesional, tentu saja. Mayoritas dari Anda barangkali akan menjawab jarang atau tidak pernah, kecuali kalau memang punya masalah dengan organ reproduksi. Dan saya tidak heran dengan itu. Di Indonesia, jangankan mengunjungi ginekolog untuk pemeriksaan kesehatan reproduksi rutin, pemeriksaan kehamilan saja masih sulit terjangkau oleh perempuan, terutama yang termasuk masyarakat miskin dan pedalaman. Atau mungkin juga wanita banyak yang merasa cemas dan malu memeriksakan diri. Padahal dengan pemeriksaan berkala, wanita dapat mengetahui kondisi organ reproduksinya dan jika ada abnormalitas dapat segera ditangani sebelum menjadi parah.

Salah satu pemeriksaan khusus wanita yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan pelvis atau pemeriksaan internal. Pemeriksaan pelvis ini dapat digunakan untuk mendianosis kehamilan, infeksi vagina, kanker leher rahim (salah satu kanker mematikan bagi wanita), beberapa penyebab ketidaksuburan dan tumor rahim. Memasukkan diafragma dan IUD juga lewat pemeriksaan ini.

Bagaimana pemeriksaan pelvis dilakukan ? Ketika diperiksa, pasien wanita berbaring telentang di meja periksa dengan lutut ditekuk, kaki mengangkang dan tumit ditempatkan di penunjang kaki. Dokter atau perawat akan memulai pemeriksaan dengan menginspeksi struktur luar alat kelamin, mengecek labia, klitoris dan bukaan vagina untuk mencari siapa tahu ada tanda infeksi, iritasi, ruam, pembengkakan, dsb. Selanjutnya, dengan sarung tangan karet tipis pemeriksa memasukkan satu jarinya ke vagina untuk mengecek vaginismus atau abnormalitas lain (sekedar cerita, konon seorang ginekolog terkenal pernah dijepit atau terjepit jarinya di vagina ketika memeriksa pasien). Setelah itu, sebuah instrumen bernama speculum dimasukkan dalam vagina untuk merenggangkan dinding vagina. Kedengarannya menyakitkan ya? Tapi, meski beberapa wanita mungkin merasa agak tidak nyaman, pemeriksaan ini tak menyakitkan bila instrumennya diposisikan dengan tepat. Speculum ada beragam ukurannya sehingga kalau terasa tak enak sekali, pasien bisa minta ganti alat dengan yang kecilan atau lebih sempit.

Dengan speculum terpasang, leher rahim bisa diamati dan dilakukanlah pulasan Pap (Pap smear). Pulasan Pap dilaksanakan dengan mengorek area di mulut leher rahim memakai spatula kayu yang tipis. Prosedur ini sungguh tidak menyakitkan dan cuma makan waktu dua detik. Malah banyak wanita tak sadar kalau prosedur ini sudah kelar. Hasil pulasan itu diletakkan di slide mikroskop untuk dianalisis. Pulasan Pap menunjukkan cikal bakal kanker leher rahim dan abnormalitas lainnya. Umumnya, pulasan kedua juga diambil untuk memeriksa tanda mikroskopik infeksi pada sekresi vagina.

Kemudian saudara-saudara, akhirnya speculum ditarik dari vagina sementara pemeriksa melihat dinding vagina kalau-kalau ada sesuatu yang tak biasa. Nah, baru setelah itu dilakukan pemeriksaan dengan tangan. Pemeriksa memasukkan dua jarinya yang bersarung tangan ke dalam vagina, menekan ke bawah perut bagian bawah dengan tangan satunya. Dengan cara ini ia bisa merasakan ukuran, bentuk dan posisi indung telur, tube Fallopian dan rahim. Ketika pemeriksaan ini berlangsung, pasien mungkin akan merasa ada yang menekan, tapi tidak menyakitkan.

Pemeriksaan semacam itu adalah hal yang sangat privat dan tidak semua tenaga medis tanggap dan sensitif terhadap perasaan wanita ketika menjalaninya, sehingga penting bagi wanita untuk menemukan dokter atau perawat yang dapat membuatnya nyaman dan dapat berkomunikasi dengannya. Kalau si pasien tegang dan cemas menjelang pemeriksaan, otot pelvisnya juga ikut tegang sehingga pemeriksaan bisa jadi sangat tidak enak. Situasi ini dapat dihindari dengan mengajari pasien untuk relaksasi dan pemeriksaan tidak terburu-buru. Banyak pula pasien yang suka bila pemeriksa menjelaskan setiap langkah pemeriksaan padanya dan pasien bisa menonton pemeriksaan lewat cermin. Saya pribadi menyarankan jika memungkinkan si pasien didampingi suami atau teman agar tidak cemas, dengan catatan hanya kalau kehadiran pendamping bisa menyamankan pasien.

Bagi Anda para wanita yang telah aktif secara seksual, pemeriksaan pelvis dan pulasan Pap dianjurkan untuk Anda lakukan setahun sekali. Jika Anda memakai pil KB atau punya sejarah herpes genital, lakukan pulasan Pap dua kali setahun. Rekomendasi terbaru dari American Cancer Society adalah setiap wanita usia 20 ke atas harus melakukan pulasan Pap sekali setahun, bila hasilnya negatif dua kali berturut-turut baru bisa melakukan pulasan Pap per tiga tahun sampai usia 65 tahun. Pemeriksaan pelvis mesti dilakukan sebagai bagian pemeriksaan kesehatan umum setiap tiga tahun bagi wanita berusia 20-40 tahun, di atas 40 tahun perlu periksa setahun sekali. Kemudian, ini ada beberapa faktor yang akan membuat Anda perlu lebih sering melakukan pemeriksaan, yaitu hubungan seksual pertama di usia belia, pasangan seks berganti-ganti, ketidaksuburan, perdarahan tak normal, sejarah herpes genital, obesitas, pemakaian estrogen, dan kutil.

Sumber:
Human Sexuality

Published in: on 24 Maret 2008 at 7:16 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/03/24/pemeriksaan-wajib-wanita/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: