Mempriakan Waria dalam “Be A Man”

Ketika saya tengah memencet-mencet tombol pengganti kanal di remote televisi dengan kecepatan suara, mata saya tertumbuk pada sepotong iklan acara reality show di satu stasiun televisi swasta, yang dijuduli “Be A Man”. Saya perhatikan iklan tersebut. Makin ditonton, makin dalam kerutan di kening saya (wah, gawat ini. Bisa-bisa jidat saya jadi kembaran dengan Lord Elrond…LOTR, anyone?). Saya belum menonton acara tersebut, tapi dari iklannya saya memperoleh gambaran kira-kira bentuk acaranya seperti apa, dan gambaran tersebut yang menjadi dasar tulisan saya kali ini (atau lebih tepat dibilang rave and rant).

Sebagaimana semua acara reality show di televisi, “Be A Man” juga mengeksploitasi pesertanya. Kalau acara-acara lain sudah menjadikan pria, wanita, anak-anak, bule, dsb. sebagai objeknya, “Be A Man” mencoba tampil beda dengan menampilkan peserta kaum waria. Dari melihat sekilas iklan dan mengaitkan dengan judul acaranya, tidak perlu jenius untuk bisa menerka maksud dan tujuan acara tersebut. Para waria peserta acara “dididik” di lingkungan yang bersifat militer agar mereka bisa menjadi “pria” yang “membela negara”. What the heck?

Di mata saya, acara tersebut menunjukkan penegasan supremasi budaya patriarki dan sangat kental dengan stereotipe jender. Apa maksudnya dengan menjadi “pria”? Kalau menilik acara tersebut, maka yang layak disebut “pria” adalah yang macho, militan, dan segala sifat lainnya yang biasa diidentikkan dengan maskulinisme. Jadi, para waria dianggap sebagai bukan pria atau belum jadi pria, sehingga perlu dilatih bagaimana caranya menjadi pria. Ide semacam ini bukan hanya naif, tapi juga menyesatkan. Kemudian, acara ini secara implisit merendahkan femininisme (atribut yang senantiasa dilekatkan pada wanita). Ketika seorang wanita memiliki sifat maskulin, dia dianggap naik kelas karena makin dekat dengan kaum pria. Namun, tatkala ada pria yang cenderung feminin, turun derajatlah dia lantaran kian dekat dengan kaum wanita. Padahal secara teori pria belum tentu maskulin dan wanita tidak selalu feminin. Bagi pria yang kebetulan feminin, acara semacam ini tentu merupakan pelecehan dan pengingkaran akan sifat alaminya.

Tidak ada yang menghibur dari acara ini. Kalau maksudnya mau melucu, apanya yang bisa ditertawakan dari melihat waria dengan gaya khasnya pontang-panting mengikuti latihan militer nan disiplin. Kecuali selera humor yang tidak cerdas memang sudah menjadi bagian kepribadian bangsa ini (ngakak karena melihat orang lain jatuh, misalnya). Lantas, ketika diwawancara tentang bela negara, para waria itu saya rasa bukannya terlampau bodoh sampai tak bisa menjawab, melainkan mereka bingung mesti memberi jawaban yang bagaimana. Pengertian bela negara tidak bisa dimaknai secara sempit sebagai ikut berperang, menjaga keamanan, dan sebangsanya. Bela negara adalah semua usaha yang bisa kita lakukan untuk membuat kehidupan di negara ini lebih baik dan menjaga kehormatan bangsa. Para waria tersebut, katakanlah tidak ikut siskamling, toh mereka bisa bekerja (secara halal) sesuai keahlian masing-masing, bahkan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Apa itu bukan bela negara namanya?

Sebagai perbandingan buat acara bodoh ini, saya pernah menonton ulasan The Oprah Show tentang sebuah acara reality show di AS, saya lupa judulnya, tapi intinya di situ pesertanya (pria) diceburkan ke dalam dunia wanita dan mesti hidup di sana beberapa hari. Meski agak konyol, tetapi menurut saya ada pesan yang bisa ditarik dari sana: empati. Para pria tersebut jadi makin memahami wanita dan setelah acara selesai mereka punya perspektif yang berbeda dalam memandang wanita. Apakah “Be A Man” bisa menyebarkan muatan yang demikian?

Jangan-jangan “Be A Man” muncul sebagai refleksi dari sikap masyarakat kita yang masih kerap melecehkan, meremehkan dan menganggap asing waria. Waria adalah fenomena aneh, sang liyan, manusia berjenis kelamin in between yang jangankan dimengerti dan ditolerir, keberadaannya saja ditampik dan ditatap curiga. Kadang menimbulkan rasa ingin tahu, tapi tak pernah diakrabi.

Published in: on 14 April 2008 at 7:21 am  Comments (8)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/04/14/mempriakan-waria-dalam-be-a-man/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bukan fenomena yang aneh ketika kita membahas tentang waria.bukan manusia yang berjenis kelamin in beetwen,mereka adalah generasi yang cukup tua yang sudah ada sejak pria dan wanita jg ada.ketika kita membahas tentang waria, sama halnya ketika kitamembahas tentang wanita, pria,kambing,pohon nangka dan sebagainya.
    artinya itu semua hal yang biasa bukan?

    Kenapa harus memandang curiga kepada mereka?
    kenapa ingin tahu tentang mereka?

    Apakah mereka jg tmemandang curiga kepada KITA?

  2. Saya pikir program-program televisi seperti ini sudah cukup banyak (dimana program tersebut merupakan sebuah program yang tidak bermutu), sehingga membuat saya, pribadi menjadi tidak terkejut. Bukan rahasia lagi, kalau masyarakat kita memang memandang ‘miring’ terhadap kaum waria ini. Bagaikan mendua, masyarakat terkadang seperti menjadi pro terhadap mereka, tetapi tidak jarang juga yang menjadi kontra. Misal, ketika kaum waria tersebut bergerak di bidang entertainment (melawak, menari, dll), masyarakat seperti menyukai mereka. Tidak memperlihatkan sikap yang berlawanan. Namun jika di hal-hal lain, masyarakat justru berbalik melawan mereka. Aneh ya?

    Jadi ketika, para petinggi di Indonesia bilang kesamarataan di dalam hidup bermasyarakat, ekonomi, pendidikan dan lain-lain; sepertinya kesamarataan ini tidak terjadi pada hal seksualitas. Kesamarataan untuk mendapatkan hak yang sama, prilaku yang sama dengan yang lain.

    Program-program televisi memang sudah banyak yang tidak bermutu. Dan kita tidak dapat berbuat banyak selain hanya menerima dan sisanya melancarkan protes keras. Tapi, apa gunanya kalau kita hanya melayangkan sikap protes, sekedar membuat review di media-media namun tidak melakukan hal-hal yang lebih real. Langsung bersikap tanpa perlu berkata-kata.

    Ayo kita lakukan itu bersama-sama.

    • Retiara Haswidya Nasution nya the adams…??

  3. Bukannya dengan menulis review itu juga sudah berbuat sesuatu? Saya tidak tahu apakah ini juga termasuk “berbuat sesuatu”, tapi yang jelas saya tidak pernah menonton reality show lokal dan memprovokasi orang serumah untuk tidak menonton juga.

  4. Komentar yang menarik. Saya rasa itu masalah perspektif, apakah waria dianggap sebagai produk pengalaman/belajar atau sifat alami.

  5. yaa kan para okama alias waria yg jadi peserta kontes itu adalah waria yg benar2 INGIN berubah menjadi seorang laki2…

    jadi menurut saya yg ingin ditonjolkan dalam acara ini ialah betapa beratnya jalan yang harus dilalui dan ujian atas kekuatan tekad para pesertanya.

    personally, I don’t see this program as an insult.

    • Terima kasih komentarnya. Dalam memandang suatu acara, setiap orang akan memiliki opini yang berbeda karena perspektif yang digunakan berbeda pula. Saya memang tidak pernah menonton acara tersebut dan karenanya tidak mengetahui apakah pesertanya adalah waria yang ingin berubah menjadi laki-laki tulen, apapun itu artinya.

  6. hahay . . . searang malaaah ada lanutan episode nya loowgh . . .
    =P


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: