Serat Centhini

Pernah saya menyusuri satu jalan di Yogyakarta yang terkenal dengan kios-kios buku yang berjajar di hampir sepanjang tepi jalan tersebut. Waktu itu saya ke sana untuk mencari buku Serat Centhini edisi bahasa Indonesia. Saya pulang dengan tangan kosong, plus ingatan akan tampang setiap pedagang buku yang senyum-senyum aneh begitu saya menyebutkan judul buku yang saya cari. Kesimpulan sederhana saya adalah reaksi penjual buku itu tampaknya mewakili persepsi masyarakat mengenai Serat Centhini, yaitu kitab seks kuno dari Jawa. Padahal setelah saya membaca beberapa bagian Serat Centhini (selain bagian adegan seks), saya pikir julukan “ensiklopedi kebudayaan Jawa” yang disematkan pada kitab tersebut sungguh tepat. Serat Centhini, pembaca sekalian, lebih dari sekedar kitab seks belaka.

Serat Centhini (yang nama resminya Suluk Tembang Raras) terdiri dari 12 jilid, kalau diketik bisa mencapai 4.200 halaman folio, termasuk naskah nusantara paling tebal. Serat Centhini ditulis mulai tahun 1814 sampai 1823 oleh satu tim yang diprakarsai oleh raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V dan beranggotakan tiga pujangga kerajaan. Konon, Paku Buwana sendiri yang menangani seluruh adegan seksnya. Ada enam versi Serat Centhini berbahasa Jawa (dalam tulisan Jawa pula) dan sepengetahuan saya ada satu versi yang sudah dilatinkan lengkap 12 jilid (masih dalam bahasa Jawa, tentu). Nah, Serat Centhini yang disadur ke bahasa Indonesia baru ada 10 jilid, jilid 1-4 diterbitkan Balai Pustaka, sedangkan jilid 5-10 diterbitkan UGM. Mudah-mudahan saja proyek penerjemahan itu bisa dituntaskan sampai jilid 12. Kalau Anda tertarik membaca versi ringkasnya dalam bahasa Indonesia tapi sudah direinterpretasi di sana-sini, 4 jilid buku karya Elizabeth Inandiak bisa dilirik.

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, Serat Centhini tidak hanya berisi adegan dan ajaran seks, melainkan berbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat Jawa pada abad kesembilan belas. Segala unsur kebudayaan ada di situ, mulai dari adat istiadat, tata cara, psikologi, arsitektur, sejarah, geografi, farmasi, pengetahuan alam, makanan, seni, filsafat, sampai ilmu berbau mistik. Ilmu agama Islam pun ada di situ, meski Mohammed Rasjidi dalam disertasinya menyatakan bahwa ajaran Islam dalam Serat Centhini banyak ngawurnya. Namun, sepertinya bagian seks (yang juga cukup banyak) itu yang paling diingat orang.

Berbeda dengan Kama Sutra atau Ananga Ranga, seksualitas dalam Serat Centhini tidak dituangkan dalam bentuk panduan langsung seperti buku manual, melainkan dijalin ke dalam rangkaian plot yang berwarna-warni. Adegan seks dalam Serat Centhini barangkali lebih vulgar daripada stensilan porno, tetapi cara penggambarannya yang deskriptif itu justru terasa segar, sering lucu dan sesekali hiperbolis. Gaya penceritaannya khas orang Jawa, blak-blakan dan mengena, kadang bikin kita geleng-geleng kepala. Sekilas pandang, tampaknya stereotipe gender tentang seks didobrak oleh Serat Centhini, yang terlihat dari tokoh-tokoh wanita yang mengidap deviasi seksual (hiperseks dan eksibisionis) dan beberapa kali digambarkan bahwa wanita bisa menjadi inisiator hubungan seksual. Namun, kita tidak bisa sembarangan mengambil kesimpulan demikian mengingat penulis Serat Centhini adalah pria dan apa yang ditulisnya bisa jadi fantasi belaka (seperti wanita yang menggemari fiksi cinta sesama pria dan pria menyukai adegan wanita bercumbu dengan sesamanya). Satu hal lagi, Serat Centhini adalah satu-satunya naskah kuno yang menggambarkan hubungan homoseksual (penetrasi anal) dengan deskriptif. Ini membuktikan bahwa homoseksualitas sudah ada sejak berabad-abad lalu di Indonesia.

Dan Anda mau tahu resep ala Serat Centhini (yang sama sekali tidak terjamin secara medis) untuk menyembuhkan sakit gonorrhea? Masukkan saja penis yang sedang ereksi ke dalam liangnya kuda betina…

Published in: on 8 Mei 2008 at 5:04 am  Comments (2)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/05/08/serat-centhini/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. kmrn tgl 25Juli 2008 ada Hari Huru Hara Cnthini,lengkap..

    n skr juga udah ada versi indonesianya lho, tulisannya Elizabeth-babad alas, klo ga slh ingt harganya 80-an ribu gitu…

  2. Kalau tidak salah itu kumpulan dari empat buku Elizabeth sebelumnya, mungkin ditambah sedikit. Saya sudah lihat di toko buku, tapi karena sudah punya empat buku kecilnya jadi tidak beli.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: