Islam dan Seksualitas

Sebelum Anda membaca tulisan di bawah ini, saya cuma ingin menyatakan bahwa saya sama sekali bukan ahli agama Islam, meski saya memang menganut agama tersebut. Mengaku religius pun saya agak ragu (saya lebih condong menyebut diri saya spiritual). Jadi yang saya tulis mengenai seksualitas dalam agama (Islam) ini adalah dari kacamata seorang awam. Seandainya di antara pembaca sekalian ada yang lebih paham persoalan ini daripada saya dan berniat mengoreksi opini saya ini, saya akan senang sekali.

Pada dasarnya, saya tidak menganggap agama dan seksualitas sebagai dua hal yang senantiasa bertentangan, seperti banyak orang yang kalau mendengar kata agama langsung punya persepsi bahwa agama serba melarang apapun yang berbau seksual. Ini itu haram. Saya kira, seksualitas adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga agama Islam yang disebut sebagai agama lengkap pastilah di dalamnya terdapat aturan yang membahas mengenai seksualitas sebagai fitrah manusia agar dapat dilampiaskan dengan sebaik-baiknya. Islam tidak melarang aktivitas seksual, melainkan membatasinya agar manusia tidak turun derajatnya. Ada kebebasan seksual dalam Islam, akan tetapi kebebasan tersebut adalah kebebasan yang terbatas oleh ketentuan dalam Islam. Seksolog dari Barat saja menilai bahwa Islam bersikap sangat positif terhadap kebanyakan aktivitas dan ekspresi seksual. Batas perilaku seksual yang bisa diterima dalam Islam menurut pemikiran saya yang awam ini dasarnya adalah perilaku seksual heteroseksual, dilakukan oleh pasangan nikah yang sah, bersifat privat/pribadi, tidak menyakiti dan atas persetujuan kedua belah pihak. Dalam Islam dikenal apa saja yang tidak dilarang dibolehkan, sehingga bisa dikatakan bahwa aktivitas seksual yang berada dalam lingkup batasan dasar itu pada prinsipnya boleh dilakukan.

Seksualitas dalam Islam dianggap sebagai karunia dari Allah sehingga Islam melarang hidup membujang dan sangat menganjurkan pernikahan, bahkan pada usia muda (asal sudah dianggap baligh atau dewasa). Pernikahan merupakan satu-satunya jalan melegalkan hubungan seksual dan menghindarkan manusia dari zina (hubungan seksual di luar nikah). Hubungan seksual yang dilakukan suami-istri bahkan dianggap sebagai ibadah dan diberi pahala. Jadi bukan hanya memuaskan kebutuhan seksual, tetapi juga mendapat amal baik. Kalau tak salah, suami memiliki kewajiban berhubungan seksual dengan istrinya minimal sekali dalam empat bulan (yang demikian itu menjadi hak seorang istri) dan sebaik-baiknya hubungan seksual yang dilakukan adalah yang memuaskan kedua pihak. Kemudian, Islam membolehkan poligami sampai empat orang istri, tapi saya menganggap Islam secara implisit cenderung mendukung monogami. Meski perceraian dalam Islam dibolehkan, hal itu tidak disarankan, sejalan dengan pandangan Islam yang mementingkan pernikahan.

Al Qur’an sendiri mengandung beberapa ayat mengenai seksualitas manusia. Salah satu yang paling populer kalau tak salah surat Al Baqarah (tidak tahu ayatnya) yang intinya istri adalah ladang bagi suami dan bisa digarap dengan cara apa saja yang disukai. Satu ayat lagi (tidak tahu surat dan ayatnya) yang saya sering dengar bermakna istri adalah pakaian bagi suaminya dan sebaliknya. Cara Al Qur’an menuntun mengenai seksualitas memang tidak blak-blakan, melainkan dengan halus dan sopan beradab. Saya kira sikap demikian itu yang dianjurkan pada umat Islam ketika berhadapan dengan seksualitas.

Nah, walau sudah jelas bahwa Islam memahami seksualitas manusia dan menyediakan jalan untuk memuaskan kebutuhan seksual, mengapa banyak orang yang masih berpikir bahwa seksualitas tidak sejalan dengan Islam? Kalau saya boleh berpendapat, barangkali bukan Islamnya itu sendiri yang menimbulkan persepsi seperti itu, tapi faktor kultural. Islam diturunkan di jazirah Arab dan otomatis orang jadi menganggap budaya represif terhadap seksualitas di Arab itu sebagai ajaran Islam, padahal Islam sejatinya menerapkan kebebasan seksual yang terbatas (dengan garis batas yang sebenarnya cukup longgar) dan bertanggung jawab.

Saya akhiri di sini sebelum tulisan ini berubah menjadi naskah ceramah.

Published in: on 1 Agustus 2008 at 2:24 pm  Comments (1)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/08/01/islam-dan-seksualitas/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. seks adalah sebuah fitrah manusia,hanya saja Islam mengajarkan sebuah tuntunan yang indah dalam hal yang satu ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: