Redefinisi Perawan

Bahasa (atau kata-kata) ada karena kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Namun, meski sebagian besar manusia yang berbahasa sama memiliki semacam kesepakatan dalam memaknai garis besar konsep yang terkandung dalam kata tertentu, tetap saja ada perbedaan individual dalam memahami dan membatasi pengertian suatu kata. Contohnya, kata “seks”. Menurut buku Language and Sexuality, sebuah riset yang pernah dilakukan menunjukkan hasil bahwa orang-orang memiliki pengertian yang beragam tentang “seks”. Ada orang yang menganggap hanya sanggama yang termasuk “seks”. Ada yang berpendapat bahwa semua aktivitas menyangkut alat kelamin itu adalah “seks”. Dan sebagainya. Nah, ada sebuah kata yang boleh jadi bersangkutan dengan kata “seks” yaitu “perawan”. Bagaimana orang mendefinisikan “perawan”?

Keperawanan (atau keperjakaan) dalam pengertian tradisional (yang nyatanya masih digunakan dalam buku teks seksologi keluaran tahun 2000-an) adalah pertama kali vagina dipenetrasi oleh penis. Dengan kata lain seorang perawan (atau perjaka) adalah orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual penetratif (vagina). Definisi tersebut tampaknya diterima secara universal. Lantas kemudian seiring perkembangan zaman muncul pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan batas keperawanan. Misalnya, apakah orang yang melakukan seks virtual (cybersex) masih perawan? Atau, apakah seorang wanita lesbian (yang tidak pernah dipenetrasi pria tapi berhubungan seksual dengan wanita) bisa dianggap perawan? Berbagai pertanyaan model begitulah agaknya yang membuat Dono Baswardono (seorang sarjana Psikologi dan master Kebijakan Publik) menulis beberapa buku khusus membahas tentang keperawanan (buku yang berguna untuk pemula, tapi tidak saya rekomendasikan kalau Anda sudah punya pengetahuan seks lumayan, soalnya tak banyak hal baru di situ).

Definisi keperawanan perlu dikembangkan, itu pendapat Dono dalam buku-bukunya. Dia menawarkan sebuah konsep yang lebih luas tentang keperawanan. Keperawanan menurut Dono bisa dibagi menjadi dua, yaitu keperawanan fisik dan keperawanan emosional (saya lebih suka menyebutnya keperawanan psikologis). Keperawanan fisik artinya kurang lebih sama dengan keperawanan tradisional (yaitu belum pernah melakukan hubungan badan), sedangkan keperawanan emosional maknanya kira-kira belum pernah memiliki perasaan rela melepaskan keperawanan dirinya pada seseorang. Keperawanan dalam konsep Dono cenderung aktif, dalam artian tidak ada orang yang kehilangan keperawanan, melainkan orang itu melepaskan atau menyerahkan keperawanannya. Dari konsep Dono ini dapat dikatakan bahwa keadaan perawannya seseorang tidak dilihat dari segi fisik belaka, tapi juga segi emosi. Sehingga kalau ada perempuan yang diperkosa, boleh jadi dia tidak perawan secara fisik, akan tetapi dia masih perawan secara emosional karena tidak pernah merelakan dirinya berhubungan seksual.

Konsep yang ditawarkan Dono di atas bagi saya cukup menarik karena melengkapi pengertian keperawanan tradisional. Dan konsep yang demikian itu tampak mengakomodasi subjektivitas seseorang dalam menentukan status keperawanan dirinya, terutama keperawanan emosionalnya. Namun, tetap saja ada pertanyaan yang mengganjal di benak saya, seperti apakah kedua tipe keperawanan tersebut terpisah atau ada kaitannya, serta kalau ada kaitannya bagaimana dinamika interaksi keperawanan emosional dan keperawanan fisik (yang toh kalau terlepas mau tak mau ada pengaruh psikisnya). Saya kira Dono perlu memperdalam lagi konsep keperawanannya (atau saya yang mesti lebih tekun mencermati bukunya).

Sumber:
Perawan Tiga Detik

Published in: on 15 Agustus 2008 at 12:22 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/08/15/perawan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: