Sungguhankah Seks dalam Film Porno?

Saya tidak tahu statistiknya, tapi saya kira kebanyakan orang dewasa pada suatu masa hidupnya sudah pernah menonton film porno (baik sengaja maupun tidak, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan). Barangkali ada yang berpikir bahwa film porno merupakan bentuk pendidikan seks karena lewat film pornolah seseorang awalnya terpapar materi tentang seksualitas. Kemudian, karena sebagai orang dewasa amat sedikit kesempatan untuk melakukan perbincangan jujur dan terbuka tentang seks dengan orang dari berbagai latar belakang, boleh jadi apa yang disajikan dalam film porno dianggap merepresentasikan aktivitas seksual yang umum dilakukan dan otentik oleh banyak orang. Kedua asumsi tersebut, bila dibicarakan dalam konteks pornografi arus utama, sesungguhnya keliru.

Pertama, walaupun orang menonton film porno, mengambil ide dari situ lalu mempraktekkannya, hal itu berbeda dari pendidikan seks. Dan yang kedua, dalam film porno yang termasuk arus utama sangat sedikit yang merepresentasikan aktivitas seksual umum. Namanya juga film, film porno sejatinya tak jauh beda dengan film Hollywood. Coba saja Anda lihat, mana ada dunia nyata yang semua manusianya bertampang rupawan (film Hollywood) atau hubungan seksual yang jarang pakai kondom dan dilakukan oleh manusia-manusia yang senantiasa tampak sempurna dalam posisi apapun (film porno). Kalau Anda kurang yakin dengan pernyataan di atas, berikut ini adalah beberapa alasan yang menjelaskan bahwa pornografi arus utama tidak merepresentasikan pengalaman seksual manusia pada umumnya.

1. Film porno tidak dibikin untuk aktornya
Sekali lagi, ini dalam konteks pornografi arus utama, bukan seperti video seks dua (atau lebih) kekasih. Kalau hubungan seksual bertujuan untuk memuaskan pelakunya, film porno sebaliknya. Kala orang dibayar untuk berhubungan seksual di depan kamera, mereka itu bekerja dan pekerjaannya bukan untuk memuaskan diri mereka, melainkan penontonnya (dan mesti menghemat biaya pembuatan filmnya, serta memudahkan kerja sutradara dan editor).

2. Kebanyakan film porno dibuat tanpa konteks
Pengalaman seksual aslinya terjadi dalam konteks sosial. Setiap kali manusia berhubungan seksual dia membawa pengalaman terdahulu dan nilai-nilai yang dianutnya. Film porno tidak begitu. Kemudian, perilaku seksual dapat menjadi bentuk komunikasi antar manusia yang rumit sementara pornografi tidak.

3. Tubuh aktor-aktrisnya tidak nyata
Karena itu, jangan bandingkan tubuh Anda dengan aktor-aktris dalam film porno. Sederhana saja, mereka memang dipilih untuk main film porno karena bentuk/ukuran tubuhnya. Rata-rata ukuran penis bintang porno tidak mewakili ukuran pria pada umumnya (para pria boleh bernafas lega), begitu juga ukuran payudara (dan bokong dan apapun yang bisa dipermak) milik aktris porno.

4. Manipulasi
Selain operasi plastik dan memilih pemain dengan tubuh sempurna, pembuat film porno memakai berbagai macam trik agar tubuh para pemain filmnya tampak lebih besar, halus dan indah dari aslinya. Caranya bisa dengan mengatur pencahayaan, sudut pengambilan gambar, make up dan bahkan model cukuran rambut pubis.

5. Posisi seks untuk kamera
Posisi seksual yang disajikan dalam film porno dipilih karena berbagai alasan, di antaranya variasi pemandangan dan memungkinkan akses kamera menjangkau bagian tersembunyi sampai sedetil-detilnya (yang bahkan bisa menyorot bagian yang tidak bisa dilihat si pemain film itu sendiri). Jadi, posisi seksual dalam film porno tidak mewakili apa yang umumnya orang lakukan, bahkan beberapa di antaranya membuat si bintang porno tidak nyaman.

6. Tujuan film porno
Film porno dibikin untuk merangsang dan mengejutkan pemirsanya, sehingga apa yang ditampilkan di dalam film porno memang sudah dirancang untuk memenuhi tujuan itu. Di samping itu, para pembuat film porno juga merasa perlu untuk meyakinkan penonton bahwa adegan seks dalam film itu adalah sungguhan, sehingga adegan ejakulasi eksternal (cum shots, istilahnya) selalu ada dalam film porno meskipun hal itu tidak terlalu umum dilakukan orang.

7. Film porno ada editornya
Kebanyakan film porno tidak diambil gambarnya secara berkesinambungan dari awal sampai akhir. Ada jeda dan interupsi selama menyorot satu adegan dan mungkin pengambilan gambarnya tidak urut. Yang Anda lihat adalah hasil akhirnya yang sudah diedit dan bukan adegan seks yang sebenarnya terjadi.

Meskipun adegan seks dalam film porno tidak bisa dibilang betul-betul nyata dan umum, kita tidak dapat langsung mengatakan bahwa menonton film porno itu buruk dan salah. Ada beberapa ahli yang sepakat bahwa menonton film porno merupakan ekspresi seksual manusia dewasa yang sehat. Jadi, itu tergantung pada bagaimana diri kita menilai dan menempatkan film porno secara proporsional.

Sumber:
WebMD.com

Published in: on 20 Agustus 2008 at 4:54 pm  Comments (3)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/08/20/sungguhankah-seks-dalam-film-porno/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. pendidikan seks yang sebenarnya pernah di tayangkan di tv inggris, dibahas dari segi keilmuan secara ilmiah dan rasional. sayangnya gak bakalan bisa pernah tayang di indonesia, pasti kena sensor. jika anda setuju dengan kebebasan dalam memperoleh informasi mengenai pendidikan seks, silahkan untuk selanjutnya membaca artikel saya ini secara utuh dan komprehensif di: http://duniamaya98.blogspot.com/2008/10/pendidikan-seks-khusus-untuk-kalangan.html

  2. artikel yang bagus, salam kenal dari bandung

  3. Trims. Salam kenal juga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: