Pro dan Kontra Kecanduan Pornografi

Bisakah seseorang kecanduan pornografi? Tampaknya belum ada jawaban definitif untuk pertanyaan itu dan kemungkinan masih akan belum ada dalam waktu dekat. Soalnya, sejauh pengetahuan saya, sampai saat ini pun para ahli psikologi masih bersilang pendapat mengenai apakah ada itu konsep kecanduan pornografi. Di Amerika Serikat pada bulan November 2004 di depan subkomite Senat (DPR-nya AS) diadakan panel yang dihadiri oleh sekelompok ahli dengan agenda membahas pornografi yang disinyalir membuat jutaan warga AS kecanduan. Menurut para ahli tersebut, efek pornografi pada otak disebut sebagai racun dan dibandingkan dengan kokain. Seorang psikolog bahkan mengklaim bahwa pemaparan berkepanjangan pada pornografi menstimulasi pemilihan pelukisan hubungan seksual berkelompok, praktek SM dan kontak seksual dengan hewan.

Isu kecanduan pornografi saat ini terasa urgensinya lantaran kini kian gampang mengakses pornografi, sejalan dengan perkembangan internet. Menurut terapis seks Louanne Cole Weston, PhD. , buat orang yang sukar berhenti, untuk melihat lebih banyak materi porno hanya butuh satu klik lagi (dan lagi, dan lagi…). Tidak diragukan lagi bahwa pada beberapa orang, konsumsi pornografi mereka bisa menimbulkan masalah seperti berkurangnya waktu tidur, pengabaian tanggung jawab atau mengacuhkan orang-orang tercinta, sampai persoalan alokasi uang untuk memperoleh materi porno. Weston sendiri termasuk yang kontra dengan istilah kecanduan pornografi. Buat dia, kata kompulsif lebih tepat.

Perbedaan antara perilaku kecanduan dan kompulsif itu penting, meskipun subtil. Seorang peneliti di Kinsey Institute, Erick Janssen PhD. , mengkritik penggunaan istilah kecanduan pornografi karena itu hanya mendeskripsikan perilaku seseorang yang mirip kecanduan, tapi memperlakukan mereka layaknya pecandu ketika mengobati bisa jadi tidak menolong. Pun para profesional di bidang kesehatan mental tidak punya kriteria standar untuk mendiagnosis kecanduan pornografi. Yang ada hanya orang awam yang mendiagnosis diri mereka mengalami kecanduan pornografi setelah baca-baca buku.

Lain lagi pendapat Mary Anne Layden, PhD. , psikolog dari University of Pennsylvania yang hadir di rapat dengar pendapat di depan Senat tadi. Menurutnya, kriteria yang dipakai untuk mendiagnosis masalah seperti berjudi patologis atau penyalahgunaan obat bisa juga diaplikasikan untuk kecanduan pornografi karena terapis yang mengobati pecandu pornografi berkata bahwa mereka berlaku seperti pecandu lainnya. Salah satu kunci dalam kecanduan adalah perkembangan toleransi terhadap barang adiktif. Jadi, kalau pecandu obat butuh dosis yang semakin tinggi, pecandu pornografi perlu materi yang kian ekstrem. Pernyataan tersebut disanggah Janssen yang berkata bahwa belum ada bukti ilmiah yang menyokong itu. Janssen sendiri membantah bahwa perilaku orang-orang yang melihat materi porno mengalami perkembangan seperti itu.

Terkait dengan penggunaan pornografi sebelum atau ketika masturbasi, Violet Blue, pendidik seks dan
penulis The Ultimate Guide to Adult Videos, berpendapat bahwa label kecanduan pornografi hanya sebuah alat untuk menekan perilaku yang kurang disetujui secara sosial, yaitu masturbasi. Sementara pakar seks Dr. Ruth Westheimer beropini bahwa orang yang doyan pornografi tidak dapat dikatakan sebagai pecandu, tapi mengakui bahwa pornografi dapat memiliki efek destruktif pada hubungan dengan pasangan.

Barangkali para anggota dewan yang (tidak) terhormat, khususnya panitia perumus RUU Pornografi yang amat kontroversial itu, berdiri di sisi yang sama dengan para ahli yang berpendapat bahwa orang bisa kecanduan materi porno sehingga mereka bersikeras mengegolkan RUU itu menjadi UU, walaupun cara-caranya masih perlu dipertanyakan.

Sumber:
WebMD.com
Sex for Dummies

Published in: on 10 Oktober 2008 at 4:27 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/10/10/pro-dan-kontra-kecanduan-pornografi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: