Zona Erogen dalam Mode

Secara teknis, seperti yang sudah saya bahas di salah satu tulisan yang lalu, zona erogen berarti daerah tertentu pada tubuh yang peka terhadap stimulus seksual dan bila disentuh dapat membangkitkan gairah. Zona erogen dasar yaitu penis dan kemaluan wanita tidak ditekankan dalam mode pakaian ala Barat (kecuali codpiece pada abad keenam belas, itupun lebih condong sebagai simbol vitalitas ketimbang seksual). Namun, bagaimana menjelaskan fenomena zona erogen sebagai kekuatan paling provokatif dalam mode pakaian wanita (mode pakaian pria pada umumnya tampak jelas mengelak menekankan zona erogen)?

Menurut Harold Koda, direktur asosiasi dari Costume Institute, semua zona erogen tergantung pada kecenderungan kita berfantasi. Contohnya, ketika wanita sudah lama memakai rok sangat mini, pria jadi terbiasa melihat paha-paha (baik yang mulus maupun tidak) berseliweran. Begitu zaman celana jin sobek moncer, sepotong kulit yang tersingkap di sela koyakan celana jadi pusat perhatian. Itulah sifat dari penzonaan erogen dalam mode. Bukan sekadar asal bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan sekwilda (sekitar wilayah dada) atau model berbuka-bukaan lainnya, penzonaan erogen adalah tentang membuka sepotong kulit secara strategis yang kemudian diperhitungkan dalam pikiran. Penzonaan erogen bahkan telah eksis dalam mode wanita sebelum istilahnya ditemukan. Area yang biasa ditonjolkan adalah area yang menunjukkan karakter seks sekunder, mencakup dada, pinggul, bokong dan selanjutnya pinggang, punggung, kaki, pergelangan kaki dan bagian depan badan.

Dengan kata lain, zona erogen dalam mode bisa jadi sedikit berbeda maknanya dengan zona erogen secara teknis dalam literatur seksual. Zona erogen dalam mode dapat berawal dari zona erogen teknis (baik primer maupun sekunder), bisa juga tidak, yang kemudian mendapat penekanan dalam berpakaian dan menimbulkan kesan sensual (atau seksual) karena pengaruh persepsi orang yang melihatnya. Anda pernah melihat gambar atau lukisan geisha berkimono dan merasa heran, apanya dari mereka itu yang bisa dibilang sensual mengingat kimono yang panjang, tak berbentuk, berlapis-lapis pula. Pria Jepang zaman dulu rupanya mengapresiasi bagian belakang leher geisha sampai ke punggung atas, yang memang ditonjolkan dengan model kimono yang agak terbuka di bagian itu.

Zona erogen dalam mode wanita mengalami perkembangan dari masa ke masa. Pada abad keempat-lima belas bagian perut yang menggembung seolah sedang hamil karena model gaun yang berlapis disukai. Pada abad kedelapan belas, awal dari relasi sosial dan seksual modern, pakaian wanita mulai lebih terbuka. Pada zaman kerajaan, payudara disangga di atas korset dan puting diekspos di sela tudung, sementara pada era Victoria ketelanjangan transparan tadi berubah, pinggul dan bokong dikebat dalam rok berangka rumit. Bagian bawah kaki akhirnya diekspos pada tahun 1920-an, ketika istilah zona erogen dirumuskan. Seorang murid Freud bernama J.C. Flugel menawarkan ide bahwa area di tubuh yang bermuatan seksual mengalami pasang-surut sebagai jalan mempertahankan minat, area tersebut dinamainya zona erogen. Sampai sekarang sejarahwan mode terus berdebat tentang apakah perubahan penzonaan merefleksikan perubahan minat pria pada bagian tubuh wanita ataukah dorongan mode yang menuntut keterbaruan.

Apapun zona erogen yang populer dalam mode berikutnya, kejutan personal dan kultural yang muncul sesudahnya akan memaksa kita menata ulang penilaian kita akan tubuh dan apa yang membuatnya indah. Mungkin, tatkala kita sudah melihat semua bagian tubuh dibuka dan sedikit sekali yang tersisa, kita akan saksikan mode pakaian yang mulai menutup.

Sekadar catatan, sepertinya para perancang UU Pornografi tidak memperhitungkan zona erogen dalam mode ketika memformulasikan definisi pornografi sebagai “menyiratkan ketelanjangan dan membangkitkan hasrat seksual” dalam UU tersebut.

Sumber:
Psychology Today.

Published in: on 13 November 2008 at 3:12 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/11/13/zona-erogen-dalam-mode/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: