Teori Maltz tentang Hierarki Interaksi Seksual

Kadang barangkali kita berpikir ketika membaca berita, katakanlah tentang perkosaan atau kekerasan seksual pada anak, bagaimana sesuatu yang demikian indah seperti seks bisa menjadi begitu mengerikan. Wendy Maltz, seorang penulis dan terapis seks, mencoba menjelaskan dengan teorinya sebuah kontinum ekspresi seksualitas, dari kutub paling negatif yang destruktif sampai kutub paling positif yang konstruktif. Menurut Maltz, energi seksual sifatnya netral, tidak baik dan tidak buruk. Namun, niat dan konsekuensi dari perilaku seksual dapat menuju pada arah yang negatif maupun positif. Dicontohkan oleh Maltz, hubungan seksual dalam perkawinan bisa menjadi perekat keintiman suami-istri, tapi juga dapat menimbulkan kerenggangan bila diwujudkan dalam bentuk perkosaan dalam perkawinan (marital rape).

Maltz membagi interaksi seksual ke dalam dua sisi, positif dan negatif, dengan energi seksual yang bernilai netral di antara keduanya. Sisi positif ditandai dengan interaksi seksual yang dibangun berdasarkan pilihan mutual, rasa hormat, kasih sayang dan keamanan. Sisi negatif menggambarkan interaksi seksual yang dapat menjadi traumatis atau mengganggu. Masing-masing sisi memiliki tiga level yang akan dijabarkan sebagai berikut.

Level positif 1 (+1): pemenuhan peran positif.
Level ini merefleksikan peran jender yang dikukuhkan oleh adat sosial atau agama di mana pria sebagai inisiator dan wanita yang reseptif. Interaksi seksual pada level ini ditandai oleh saling menghormati, rendahnya pemaksaan dan kebencian, rasa aman dan prediktabilitas yang kuat. Tujuan hubungan seksual adalah untuk reproduksi dan pelepasan dari tekanan seksual.

Level positif 2 (+2): bercinta.
Pada level ini yang ditekankan adalah kepuasan bersama melalui kreativitas dan eksperimen seksual. Perilaku jender tradisional ditepikan dan seks diperluas menjadi pengalaman erotik rekreasional. Masing-masing pihak membuka diri lebih dalam lewat ekspresi diri seksual dan komunikasi yang menciptakan keintiman mendalam.

Level positif 3 (+3): keintiman seksual otentik.
Level ini adalah tentang rasa keterhubungan yang mendalam dan dirasakan oleh masing-masing pihak, serta penghargaan akan tubuh dalam pengalaman erotik. Keindahan nikmat seksual mencakup ekspresi cinta yang mendalam pada pasangan. Kejujuran emosional dan keterbukaan sangat penting, masing-masing pihak merasa utuh. Level ini dapat menjadi sepotong pengalaman puncak, maupun muncul pada setiap kali bercinta.

Level negatif 1 (-1): interaksi impersonal.
Penanda level ini adalah kurangnya rasa menghargai dan tanggung jawab pada diri sendiri dan pasangan. Individu mengabaikan konsekuensi negatif untuk dirinya atau pasangannya, seperti kehamilan tak diinginkan, tertular PMS, dan sebagainya. Pada level ini seseorang menahankan hubungan seksual yang tidak menyenangkan atau tidak jujur mengenai masalah kesehatan penting pada pasangan, sehingga menimbulkan perasaan tak nyaman.

Level negatif 2 (-2): interaksi abusif (kasar)
Level ini melibatkan dominasi satu pihak terhadap pihak lain menggunakan pemaksaan psikis, juga komunikasi yang penuh pemaksaan dan merendahkan. Contoh interaksi seksual pada level ini adalah inses atau perkosaan tanpa kekerasan. Pihak yang memaksa merasionalisasi atau menyangkal luka yang ditimbulkannya pada orang lain dan biasanya harga diri pihak yang dieksploitasi itu terganggu.

Level negatif 3(-3): interaksi dengan kekerasan.
Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, pada level ini energi seksual digunakan dengan sengaja untuk mengekspresikan rasa bermusuhan. Organ seksual menjadi senjata dan target serangan sekaligus. Contoh paling ekstrem level ini adalah perkosaan dengan kekerasan.

Maltz menambahkan, agar ekspresi seksual dapat memperkokoh hubungan dengan pasangan dan perasaan diri sendiri, ekspresi seksual perlu dialami pada satu dari tiga level positif di atas (dan tentu saja, menghindari jatuh ke level negatif). Dengan kata lain, tidak berasumsi bahwa setiap orang harus mencapai level tertinggi yang positif tiga. Yang penting adalah ekspresi seksual dilakukan secara positif dan sesuai dengan sistem nilai yang dianut masing-masing individu. Kalau Anda misalnya merasa cocok dengan level positif satu, maka itu yang baik untuk Anda.

Sumber:
Our Sexuality.

Published in: on 21 November 2008 at 3:49 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/11/21/teori-maltz-tentang-hierarki-interaksi-seksual/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: