Cybersex, Bermanfaat atau Berbahaya?

Tidak terlalu keliru memang bila banyak orang mengasosiasikan internet dengan seks, sebab dari berbagai penelitian didapat hasil bahwa situs-situs internet yang orientasinya seksual termasuk yang paling banyak dilongok peselancar dunia maya. Setelah komputer dan peranti lunak, situs seks adalah sektor ekonomi ketiga terbesar di internet dan hal itu tak perlu diherankan karena yang mengunjungi situs seks setidaknya sepertiga pengguna internet. Yang menjadi pertanyaan, apakah mencari dan menikmati situs seks adalah indikator perilaku bermasalah dan patut mendapat perhatian dari seluruh masyarakat?

Sebagian orang berpendapat bahwa menjelajah situs seks adalah bentuk hiburan yang tidak berbahaya. Situs seks menyediakan penyaluran hasrat seksual yang aman dari kemungkinan tertular PMS dan resiko lain bila berhubungan secara nyata dengan seseorang. Selain itu, internet juga dapat menjadi media yang tepat bagi orang-orang yang ingin mengeksplorasi fantasi seksual mereka dengan cara yang aman dan privat. Pendapat demikian itu bisa diterima dan memang banyak dari mereka yang mengakses situs-situs seks melakukannya cuma sebagai rekreasi dan tidak melakukan hal-hal yang mengkhawatirkan.

Pendapat lain yang cenderung negatif muncul ketika mulai disadari bahwa ada sekelompok kecil orang yang mengakses situs seks awalnya untuk stimulasi erotik dan penyaluran gairah seksual, yang kemudian karena faktor keterjangkauan, aksesibilitas dan anonimitas di internet melahirkan perilaku kompulsi seksual kecanduan seks siber (cybersex). Kompulsi itu sendiri adalah dorongan untuk berperilaku tertentu terus menerus. Banyak dari mereka yang melakukan seks siber terpisah dari relasi yang lain dan jumlah orang-orang seperti itu terus meningkat. Belum diketahui secara pasti peran internet dalam memfasilitasi kompulsi seksual, tapi internet disinyalir menyediakan lingkungan yang cocok bagi perkembangan kompulsivitas seksual.

Riset yang dilakukan psikolog dari Stanford, Al Cooper dan kawan-kawan pada 10.000 orang yang mengunjungi situs seks menunjukkan bahwa sekitar 1% dari jumlah itu mengalami kecanduan seks siber serius. Orang-orang itu bisa menghabiskan berjam-jam setiap hari menjelajah situs seks, masturbasi sambil melihat gambar-gambar eksplisit atau melakukan chat seks mutual. Baik Cooper dan psikolog Mark Scwartz (dari Institut Masters dan Johnson) sependapat bahwa kompulsi seks siber bisa dibandingkan dengan kecanduan obat karena sama-sama merenggut kehidupan orang yang kecanduan.

Dampak kecanduan seks siber juga meluas pada orang-orang di sekitar pecandu, seperti keluarga, teman dan terutama pasangan. Pasangan pecandu dilaporkan merasa diacuhkan, ditelantarkan atau dikhianati karena perilaku kompulsi seks siber pasangannya. Beberapa pecandu terjun total dalam seks siber sampai mengabaikan tanggung jawab keluarga dan pekerjaannya. Dan kalau Anda kira pecandunya hanya pria, yah, saya sajikan hasil penelitian bahwa 20% subjek pria dan 12% subjek wanita menggunakan internet di kantor untuk tujuan seks. Bayangkan kalau aksi mereka ini tertangkap oleh monitor kantor.

Selanjutnya, kemungkinan bahaya kecanduan seks siber ini adalah ketika pecandu seks siber kopi darat dengan pasangan maya yang dikenalnya di internet. Sudah banyak cerita tentang orang-orang yang tertular PMS gara-gara berhubungan seksual secara nyata dengan pasangan mayanya atau diserang secara seksual. Wanita yang lebih riskan menghadapi bahaya seperti ini karena merekalah yang cenderung mengunjungi ruang chat seks atau menjalin hubungan di internet, sementara pria lebih suka melihat pornografi.

Seks siber mungkin membawa manfaat relatif pada sebagian orang, tapi para profesional kesehatan mental di atas telah mengingatkan bahwa seks siber juga dapat menimbulkan masalah serius kalau sampai kecanduan. Bila dalam kehidupan seks Anda ada seks siber, ingat saja bahwa seks siber hanya sebuah cara membangkitkan dan menyalurkan gairah seksual. Anda yang patut mengendalikannya, bukan Anda yang dikendalikan.

Sumber:
Our Sexuality.

Published in: on 29 November 2008 at 4:07 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/11/29/cybersex-bermanfaat-atau-berbahaya/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: