Sekilas tentang Seksologi

Seksologi, mungkin Anda bisa menerka definisinya, adalah ilmu yang mempelajari seksualitas. Kalau Anda bertanya-tanya, bagaimana cara mempelajari seks, Anda perlu meneruskan membaca. Seksologi adalah cabang ilmu yang relatif masih amat muda, baru muncul pada abad ke-20. Seksologi lahir untuk menguji berbagai asumsi tentang seksualitas secara ilmiah, guna menemukan apakah asumsi tersebut tepat atau keliru dan mendokumentasi hubungan dalam asumsi tersebut, serta apa yang mungkin tersimpan di baliknya. Tugas ini jelas tidak bisa dibilang gampang. Seks memang secara intrinsik menarik bagi kita, tapi perilaku seksual sukar diteliti karena termasuk dalam area sangat pribadi yang jarang orang mau membicarakannya secara terbuka. Orang kerap merasa malu atau bahkan terancam ketika diminta berbagi tentang kehidupan seksualnya. Satu lagi yang menyulitkan penelitian seksologi adalah bertaburannya mitos, pembesar-besaran, kerahasiaan dan nilai yang melingkupi perilaku seksual. Meskipun demikian, peneliti seks telah mengakumulasi pengetahuan tentang perilaku seksual manusia yang terus berkembang.

Tujuan seksologi ada tiga, yaitu memahami, memprediksi dan mengontrol seksualitas. Bagian memahami dan memprediksi tidak kelewat sukar dimengerti. Tujuan ketiga, yaitu mengontrol perilaku menggunakan pengetahuan ilmiah, merupakan konsep yang sulit dimengerti. Banyak isu yang menyelimuti masalah pengontrolan perilaku ini, seperti legitimasi dan etika. Contohnya, apakah pengetahuan menciptakan bayi tabung dengan jenis kelamin sesuai pesanan orang tua dapat diterapkan?

Secara garis besar ada dua metode yang digunakan dalam penelitian seksologi, yaitu metode noneksperimen dan metode eksperimen. Metode noneksperimen mencakup studi kasus, survei dan pengamatan langsung. Studi kasus biasanya menghasilkan informasi yang banyak tentang satu atau sedikit subjek, fleksibel dan dapat mengeksplorasi dengan mendalam. Kelemahannya adalah kurang kontrol investigatif, bias peneliti dan hasil penelitian sulit digeneralisasi. Metode survei lain lagi. Kelebihannya pada anonimitas, murah dan cepat. Bila kuesioner ditanyakan langsung maka bisa tercipta hubungan baik dengan responden. Namun, metode survei umumnya mengandung masalah antara lain kesulitan mendapat sampel representatif, bias nonpartisipan, akurasi dan bias demografi. Metode selanjutnya, yaitu pengamatan langsung jauh lebih sedikit digunakan peneliti (gampang saja, siapa yang mau bercinta dengan pengetahuan ada mata-mata yang memelototi di balik punggung Anda?). Bahkan jikalau ada subjek yang bersedia diamati pun, performanya bisa berbeda karena tahu diamati peneliti. Bias peneliti juga bisa muncul di sini. Kelebihan pengamatan langsung terletak pada penurunan falsifikasi data.

Pada metode eksperimen, subjek diberi stimulus di bawah situasi terkendali sehingga pengukuran reaksi mereka dapat dipercaya. Contoh, subjek diberi film porno lalu diukur respons seksualnya. Tujuan eksperimen adalah mencari hubungan kausal antara stimulus yang diberikan dengan perilaku yang muncul. Kelebihan penelitian eksperimen adalah bisa dilakukan kontrol terhadap variabel yang relevan dan analisis langsung faktor penyebab dan akibat. Kelemahannya yakni kemungkinan reaksi subjek ketika di laboratorium dan di kehidupan sehari-hari berbeda.

Penelitian seks terkini telah memanfaatkan berbagai teknologi, seperti peralatan elektronik untuk mengukur keterbangkitan seksual dan kuesioner terkomputerisasi untuk mengukur perilaku seksual. Oh, dan jangan lupakan penelitian seks lewat internet. Penelitian lewat internet ini lebih murah, cepat dan minim galat dibanding survei tradisional, tapi dapat mengandung problem bias sampel, tingkat respons rendah dan mengirim jawaban lebih dari sekali.

Setiap peneliti seks mesti mempertimbangkan dengan hati-hati kelemahan dan kelebihan metode penelitian yang dipilihnya, disesuaikan dengan apa yang mau diteliti. Kemudian, dalam menjalankan penelitian, peneliti harus mematuhi etika penelitian untuk memastikan martabat, kesejahteraan, hak dan keselamatan subjek manusia mereka. Sungguh, tidak mudah menjadi peneliti seksologi, tapi toh mereka yang ada terus berkarya mengembangkan organisasi pengetahuan manusia tentang seksualitas agar kita lebih paham tentang topik yang dianggap misterius tapi kerap kita terima sebagaimana adanya saja itu. Angkat topi buat para seksolog.

Sumber:
Our Sexuality.

Published in: on 5 Desember 2008 at 9:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2008/12/05/sekilas-tentang-seksologi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: