Orientasi Seksual yang Keempat

Setelah tiga jenis orientasi seksual yang sudah umum dikenal yaitu heteroseksual, homoseksual dan biseksual, rupanya masih ada satu macam orientasi seksual lagi, meski yang ini lebih tidak banyak dijumpai. Orientasi tersebut adalah aseksual, yang kalau mau dijelaskan dengan permainan kata yakni orientasi seksual di mana seseorang tidak berorientasi seksual. Dalam salah satu tulisan saya terdahulu pernah saya muatkan tentang skala Kinsey tentang orientasi seksual, di mana heteroseksual dan homoseksual adalah dua kutub paling ekstrem dari sebuah kontinum. Nah, Michael D. Storms dari University of Kansas pada tahun 1979 mereka ulang skala tersebut. Homoseksual dan heteroseksual dipisah menjadi dua aksis (bayangkan sebuah grafik dengan sumbu X dan Y). Seorang biseksual akan memperoleh nilai yang tinggi baik pada sisi homoseksual maupun heteroseksual, sedangkan orang aseksual nilainya akan rendah pada kedua sisi tersebut.

Aseksual didefinisikan sebagai orientasi seksual untuk menggambarkan orang-orang yang tidak mengalami ketertarikan seksual. Aseksual tidak sama dengan selibat (tidak melakukan aktivitas seksual). Beberapa orang aseksual melakukan hubungan seksual dan banyak orang selibat yang bukan aseksual, misalnya pemuka agama tertentu yang tunduk pada sumpah kesucian, mereka bukan aseksual, tapi memilih untuk menekan atau mengalihkan gairah seksualnya. Aseksual juga berbeda dengan impotensi dan sikap malu-malu kucing. Definisi aseksual sendiri masih amat luas dan banyak variasi perilaku di antara orang yang mengaku aseksual. Beberapa melakukan masturbasi untuk melepaskan tegangan seksual, lainnya merasa tidak perlu. Kebutuhan untuk masturbasi terpisah dari ketertarikan seksual, jadi masturbasi dianggap sebagai mekanisme biologis belaka, bukan merupakan seksualitas yang terpendam. Orang aseksual juga berbeda dalam opini tentang aktivitas seksual. Ada yang cuek dan mau berhubungan seksual untuk menyenangkan pasangan, ada pula yang tidak mau melakukannya sama sekali. Beberapa orang aseksual mengaku, mereka bukannya tidak punya dorongan seksual. Mereka mungkin bisa bergairah, tapi tidak merasa perlu untuk berhubungan seksual. Alasan mengapa seseorang menjadi aseksual pun beragam, bisa karena libidonya memang rendah, jijik, merasa berjarak dari aktivitas seksual itu sendiri, dan macam-macam lagi. Dalam sebuah penelitian disinyalir stres sosial dapat menurunkan libido dan menurunkan minat terhadap seks pada manusia (juga primata dan domba, rupanya).

Namun, bukan berarti orang aseksual tidak dapat menikah. Orang aseksual dapat merasakan ketertarikan secara romantik pada orang lain yang sesuai dengan orientasi afeksional (perasaan sayang) mereka. Orang aseksual dapat berpacaran, bahkan sampai menikah dengan seseorang yang seksual, tapi hubungan mereka tidak membutuhkan aktivitas seksual, hanya berdasar rasa sayang. Secara kasar dapat dikatakan bahwa di situ ada pemisahan antara cinta dan seks. Jika rendahnya gairah seksual seorang aseksual menyebabkan masalah dalam hubungannya dengan seorang yang seksual, secara medis ia didiagnosis mengidap Gangguan Gairah Seksual Hipoaktif atau Gangguan Penghindaran Seksual. Salah satu kriteria gangguan tersebut adalah rendahnya dorongan seksual menyebabkan distres pribadi atau masalah interpersonal, jadi aseksualitas itu sendiri bukan penyakit atau gangguan. Gangguan di atas lebih kepada gambaran akan masalah yang boleh jadi dialami seorang aseksual dalam perkembangan diri dan hubungannya dengan orang lain.

Penelitian tentang aseksualitas sudah ada sejak era 1940-an, tapi baru pada tahun 1970-an aseksualitas dimasukkan dalam kategori orientasi seksual. Satu penelitian yang paling banyak dikutip adalah survei komprehensif tahun 1994 di Inggris yang menunjukkan hasil sekitar 1% subjeknya adalah aseksual, meski generalisasinya perlu dilakukan dengan hati-hati. Satu persen dari enam triliun penduduk dunia kan 60 juta orang. Saya kok tidak terlampau yakin orang aseksual sampai sebanyak itu, walaupun akhir-akhir ini terlihat tren peningkatan jumlah orang aseksual, mungkin karena pengaruh zaman yang memungkinkan orang lebih berani mengakui orientasi seksualnya, apapun itu. Meningkatnya jumlah orang yang mengaku aseksual diwadahi oleh berbagai komunitas, satu komunitas aseksual maya terbesar adalah AVEN (The Asexual Visibility and Education Network) yang didirikan pada 2001 dengan tujuan menciptakan penerimaan dan diskusi publik tentang aseksualitas dan memfasilitasi tumbuhnya komunitas aseksual. Kalau Anda merasa diri Anda aseksual atau tertarik dengan aseksualitas, Anda dapat mulai mencari informasi dari situs komunitas tersebut.

Yah, dari satu sisi aseksualitas paling tidak bisa berkontribusi menekan pertumbuhan jumlah penduduk dunia.

Sumber:
wikipedia
The Guardian

Published in: on 11 Januari 2009 at 9:08 am  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2009/01/11/orientasi-seksual-yang-keempat/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. hai oryn..
    bagaimana menyelamatkan orang yang sudah terjun ke komunitas homo??
    saya terjebak rasa dengan salah satu mereka..

    • Apa maksud Anda dengan “menyelamatkan”? Apakah berarti mengubah orientasi seksual dia? Kalau itu yang Anda maksud, beberapa sumber yang saya baca menyebutkan upaya yang biasa dilakukan adalah psikoterapi dan pendekatan agama, tapi tingkat keberhasilannya relatif rendah. Secara pribadi saya pikir orang bisa berubah jika ia ingin, tapi kadang keinginan itupun tidak cukup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: