Slash, Sebuah Pengantar Bagian Pertama

Saya tahu di satu waktu saya harus menulis tentang slash, soalnya ia adalah salah satu penyebab saya jadi tertarik pada seksologi. Namun, saya mengalami dilema, apakah harus menulis berdasarkan bahan-bahan akademik (yang ternyata banyak juga) atau opini pribadi hasil pengalaman beberapa tahun berkecimpung dalam dunia slash. Akhirnya saya putuskan untuk mengolaborasi keduanya dan jadinya adalah tulisan yang saya bagi dalam beberapa bagian ini (karena tentu saja, sekali saya bicara tentang slash sukar distop).

Slash secara literal artinya adalah garis miring (garing). Slash yang saya bicarakan ini tentu saja bukan sekadar tanda baca, meski ada hubungannya. Definisi slash secara bebas adalah jenis karya buatan fans yang mengandung hubungan romantik dan atau seksual antara dua (atau lebih) karakter sesama jenis yang diambil dari media atau figur publik (buku, film, serial teve, komik, band, aktor dan sebagainya). Genre tersebut disebut slash karena tanda garis miring antara dua (atau lebih) karakternya yang menunjukkan mereka memiliki hubungan homoerotik dalam karya tersebut. Misalnya kalau Anda menemukan Harry/Draco berarti siap-siap disuguhi karya yang bertemakan hubungan cinta Harry Potter dan Draco Malfoy (kalau Anda kira ini sudah aneh, Anda salah besar). Secara umum, slash fiction (karya fiksi bertema slash) adalah yang paling mudah dan banyak dijumpai di berbagai situs di internet, meski karya slash vid (video bikinan fans dengan tema slash) dan slash art (bisa berupa manipulasi gambar atau lukisan/sketsa/kartun buatan sendiri) juga bertebaran. Karena itu, untuk selanjutnya ketika saya menyebut slash saya merujuk pada slash fiction. Yang jelas, slash adalah sesuatu yang sukar dihindari lantaran hampir semua fandom (dunia fans dan segala aktivitasnya) mengandung slash, apalagi yang sifatnya potensial untuk di-slash, seperti ada dua atau lebih karakter pria utama.

Konsep slash itu sendiri masih kerap menimbulkan perdebatan antarfans dari segi pembatasan apa yang masuk di dalamnya, barangkali karena konsep slash yang ambigu. Salah satu perdebatan yang jamak terjadi adalah apakah slash itu khusus hanya untuk menyebut hubungan antarpria atau juga mencakup antarwanita. Sebagian fans menganggap slash cuma mencakup kaum pria dan karya bertema cinta sesama wanita disebut femslash. Kemudian, isu lain yang dipermasalahkan adalah apakah slash itu hanya untuk pasangan yang di luar ketentuan (canon) karya asli. Contoh kasusnya: apakah fiksi tentang Brian/Justin yang memang dikisahkan homoseksual dalam serial Queer As Folk bisa dianggap slash. Ada pula yang berpendapat bahwa slash itu meliputi semua karya dengan tema seksual-romantik dan pasangan dalam karya itu tidak harus homoseksual (Oryn/Ezra Standish, untuk menyebut contoh yang sangat khayali). Selain itu, sejumlah fans menyempitkan batasan bahwa yang disebut slash itu bila penulis dan pembacanya adalah wanita (akan saya bahas nanti). Dan setahu saya beragam silang pendapat di atas masih lestari.

Slash memiliki subkategori yang klasifikasinya dilihat dari kandungan dalam karya tersebut. Misalnya, suatu cerita fiksi yang disebut “lemon” berarti mengandung adegan seks yang eksplisit antarpria (ekuivalennya untuk seks lesbian adalah “lime”). Penulis slash biasanya mencantumkan rating pada karya mereka yang berdasarkan pada rating film dari MPAA, yaitu G, PG, PG-13, R atau NC-17. Cerita dengan rating PG mungkin cuma tentang dua tokoh pria yang berteman tapi suka lirik-lirikan, sementara cerita yang dilabel NC-17 adegan seksnya bisa membikin Anda panas dingin (banyak panasnya, barangkali) dan boleh jadi butuh konfirmasi umur Anda sebelum Anda diizinkan mengakses.

Kemunculan slash dipercaya oleh banyak orang berawal dari majalah fans Star Trek: The Original Series yang memuat cerita dengan tokoh Kirk/Spock pada akhir 1970-an. Pada zaman itu slash disebarkan utamanya lewat majalah fans, surat-suratan dan dari teman ke teman sesama fans. Kini slash dipublikasikan di situs-situs internet dan bisa diakses oleh siapapun dari seluruh penjuru dunia (termasuk oleh si selebriti yang dijadikan objek slash, kadang-kadang). Komunitas slash juga tumbuh dengan amat subur dan dinamis di dunia maya.

Menilik definisinya, Anda boleh jadi berasumsi bahwa orang yang aktif, tertarik dan terlibat dalam dunia slash itu adalah kaum pria homoseksual. Anda keliru berat kalau berpikir demikian, sebab faktanya slash adalah “teritori” kaum hawa, tak peduli orientasi seksualnya. Walau tidak menafikan sejumlah pria gay (dan pria heteroseksual juga, mungkin?) yang terjun dalam dunia slash, dari berbagai survei terlihat bahwa mayoritas penulis dan pembaca slash adalah perempuan. Boleh dibilang, slash adalah karya dari wanita, oleh wanita, untuk wanita. Mengapa bisa demikian? Di tulisan bagian kedua dan ketiga saya akan membahas mengenai hal tersebut, juga menyertakan beberapa penelitian akademis mengenai slash.

Published in: on 27 Januari 2009 at 4:20 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2009/01/27/slash-sebuah-pengantar-bagian-pertama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: