Slash, Sebuah Pengantar Bagian Kedua

Di tulisan pertama saya telah memperkenalkan secara singkat pada Anda apa itu slash dan kenyataan bahwa penggemar slash mayoritas adalah perempuan. Nah, tulisan bagian kedua ini akan membahas sebab musabab wanita menyukai slash dan teori tentang seksualitas dalam slash (plus sekilas kajian jender untuk memancing Anda meneruskan ke tulisan selanjutnya).

Pertama-tama, kenapa wanita suka slash? Penelitian bertajuk Journal of Slash Research yang bisa dilihat di sini mengungkap sejumlah hal yang umumnya diakui fans sebagai alasan mengapa mereka gandrung pada slash. Alasan-alasan tersebut adalah unsur seks atau pornografi dalam slash, aspek emosi atau percintaannya, karakter yang di-slash itu sendiri atau hubungan antarkarakter, kebebasan (baik kebebasan seksual, sosial maupun jender), kualitas tulisan/cerita, serta slash sebagai perluasan teks atau ekspresi diri. Sedangkan alasan yang kurang umum adalah suka melihat kebersamaan pria, tidak ada beda antara fiksi heteroseksual dengan homoseksual, manfaat dari komunitas slash, alasan edukasi atau lantaran penasaran, pemberdayaan lewat slash, tidak ada karakter wanita yang mengganggu (istilahnya Mary Sue), tidak ada sosok diri di dalamnya atau justru bisa melihat pantulan diri dalam slash, suka dengan pria yang submisif dan feminin, tidak perlu cemburu pada karakter wanita dan terakhir, mengurangi homofobia.

Sebuah makalah oleh Laura Hinton menyebutkan alasan perempuan menggemari slash adalah bahwa slash itu asyik dan atraktif secara seksual, menghibur karena karakternya pria, slash itu berbeda, percaya bahwa hubungan sesama jenis lebih menarik untuk dibaca karena lebih banyak konflik, serta isu jender dalam slash seperti eksplorasi karakter pria.

Sejumlah alasan di atas ditemukan dalam penelitian yang bersifat pelaporan diri (self report). Sementara itu para pakar juga memiliki berbagai macam konsep dan teori untuk menjelaskan pesona slash bagi wanita (serta implikasi keberadaan slash) yang bisa dikaitkan dengan unsur jender dan seks (dua hal itu kerap saling mengait dalam slash), media dan komunikasi, sampai teori literatur. Slash memang telah menjadi subjek kajian yang menarik minat para akademisi dan jurnalis.

Kita mulai dari masalah seksualitas dan jender dalam slash. Bersiaplah untuk pembahasan yang panjang lebar. Joanna Russ, seorang novelis pada 1980-an menyebut slash sebagai pornografi oleh wanita, untuk wanita, dengan cinta atau dapat dikatakan pornografi feminin. Senada dengan pendapat itu, beberapa ahli menyebut slash pornografi romantik. Slash disebut demikian dengan alasan bila wanita mestinya mendapat kepuasan emosional dari novel roman dan pria mendapatnya dari pornografi, slash menawarkan gabungannya, yaitu pornografi romantik. Telah ditarik hubungan paralel antara wanita yang menikmati slash dengan pria heteroseksual yang menonton film porno lesbian. Namun, ide bahwa wanita dapat memiliki minat menyaksikan pria gay bercinta dianggap melanggar kesepakatan umum bahwa wanita seharusnya tidak boleh begitu dan tubuh pria tidak bisa diobjektifikasi seperti itu. Justru pelanggaran batas itulah yang jadi daya tarik slash buat sebagian wanita.

Sementara pria tertarik pada tubuh bugil cewek lesbian untuk satu alasan saja, penyuka slash akan berkilah bahwa minat mereka lebih luas dari itu. Banyak fans slash yang mengindikasikan bahwa keintiman dan bukannya seks yang menarik minat mereka terhadap slash. Banyak pula cerita slash yang tidak mengandung adegan seks, hanya keintiman atau isyarat tentang seks. Slash mirip dengan novel roman dan erotika tradisional perempuan daripada pornografi untuk pria karena sering kali kisah cintanya lebih penting daripada adegan seks. Meski demikian, bukan berarti seks tidak menjadi daya tarik slash. Ketika ada dua karakter pria yang atraktif, mereka dua kali lebih atraktif bila digabungkan dan bercinta dengan panas. Wanita menggunakan kekuatan mereka dalam slash dengan menseksualisasi dan mengobjektifikasi tubuh pria yang biasanya mengobjektifikasi mereka, slash juga membuat wanita merasa lebih punya kekuatan dengan mengekspresikan hasrat seksual. Dalam bukunya Textual Poachers, Henry Jenkins menyebutkan bahwa slash adalah proyeksi fantasi dan hasrat seksual wanita ke dalam tubuh pria. Ia enggan menyebut slash sebagai pornografi. Walau demikian, bagi pembaca slash berlembar-lembar cerita menuju adegan seksnya bisa sama erotisnya dengan membaca adegan seks itu sendiri. Mayoritas cerita slash pun lebih menekankan pada kualitas emosi dalam hubungan seksual daripada aktivitas seks secara mendetil dan lebih berfokus pada sensualitas. Jadi, slash bisa saja disebut pornografi revolusioner untuk wanita.

Laura Hinton dalam makalahnya menyimpulkan bahwa teori feminis dan homoseksual umum dapat diaplikasikan dalam slash dengan beberapa cara. Pertama, slash dilihat sebagai medium di mana wanita dapat mengeksplorasi jender sebagai konstruksi sosial. Slash juga menjadi medium bagi wanita untuk menciptakan literatur sendiri. Lalu, slash bisa menjadi jalan bagi wanita untuk mendeobjektifikasi diri mereka. Slash memberi wanita ruang individu bagi karya-karya mereka, serta menyediakan pilihan untuk eksplorasi seksual tanpa objektifikasi wanita. Selain itu slash dapat dilihat sebagai kontrahegemoni.

Untuk kelanjutan pembahasan mengenai perspektif jender dalam slash, Anda dapat melihat tulisan bagian ketiga.

Published in: on 4 Februari 2009 at 3:34 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2009/02/04/slash-sebuah-pengantar-bagian-kedua/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: