Ketertarikan Seksual dan Aroma Tubuh

Sepanjang manusia masih bisa jatuh cinta, pertanyaan mengenai penyebab seseorang jadi tertarik dan jatuh cinta kepada orang lain akan senantiasa terlontar. Ada yang pernah mengatakan bahwa cinta tak perlu dipertanyakan sebabnya, kalau sampai dipertanyakan itu bukanlah cinta. Anda boleh setuju, boleh juga tidak dengan pernyataan tersebut. Namun, para ilmuwan saya kira tergolong kelompok yang kontra, sebab mereka tiada hentinya melakukan berbagai penelitian yang bertujuan untuk mengungkap, paling tidak memberi sepotong penjelasan masuk akal, tentang mengapa kita tertarik secara seksual (baca: jatuh cinta) kepada seseorang. Ketertarikan seksual memang masih merupakan misteri besar. Orang kerap punya kriteria pasangan ideal, tapi ujung-ujungnya mereka menikah dengan orang yang sama sekali tak sesuai kriteria awal tadi, hal ini sudah dibuktikan dari beberapa penelitian. Sejumlah pakar berpendapat bahwa aroma mungkin merupakan faktor yang tersembunyi dalam menjelaskan ketertarikan seksual, mengapa kita merasa ada “getaran” tertentu dengan seseorang dan tidak merasakannya bila bersama orang yang lain.

Randy Thornhill, seorang psikolog evolusioner dari University of New Mexico menyatakan bahwa ketertarikan fisik secara harfiah boleh jadi bermula dari bau. Kita tidak menghiraukan pentingnya komunikasi aromasentris itu karena ia bergerak pada tingkat yang subtil. Penelitian Claus Wedekind, seorang ahli biologi dari University of Lausanne di Switzerland memperoleh kesimpulan bahwa manusia menggunakan mekanisme sinyal berbasis aroma untuk menemukan kompatibilitas. Penelitiannya dilakukan dengan meminta sejumlah subjek pria untuk mengenakan baju kaus baru selama dua malam, kemudian kelompok subjek wanita diminta untuk mengendus baju kaus tersebut dan menunjukkan bau mana yang menurut mereka paling menarik. Hasilnya wanita memilih aroma baju kaus yang dikenakan oleh pria yang secara imunologis tidak mirip dengan mereka. Perbedaannya terletak pada sekuens yang mencakup lebih dari 100 gen imunitas yang disebut MHC (major histocompatibility complex). Kode protein genetik ini membantu sistem imun mengenali patogen. Kecenderungan wanita untuk memilih pria yang MHC-nya berbeda masuk akal dari sisi biologis. Sejak zaman dahulu pasangan yang masing-masing sistem imunnya berbeda menghasilkan keturunan yang lebih tahan penyakit. Orang tua dengan sistem imun yang berbeda menurunkan kombinasinya pada anak-anak mereka, yang pada gilirannya terlindungi dari jenis patogen dan racun yang lebih luas.

Penelitian yang dilakukan Martha McClintock, ahli biologi evolusioner dari University of Chicago memperoleh hasil yang kurang lebih sama, dengan tambahan bahwa itu tidak berarti wanita memilih pria dengan gen MHC yang paling berbeda dari mereka. Wanita tidak tertarik pada aroma pria yang gen MHC-nya tidak ada kesamaan dengan mereka sama sekali. Jadi dalam memilih pasangan tampaknya manusia mencari poros tengah, bukan yang terlalu berbeda maupun kelewat mirip. Kemudian, wanita secara konsisten lebih baik dari pria dalam uji sensitivitas bau. Pria juga sensitif pada bau, akan tetapi karena wanita yang beban reproduktifnya lebih besar, wanitalah yang lebih pemilih dalam soal menentukan pasangan dan dengan demikian lebih suka membeda-bedakan ketika mengendus kompatibilitas MHC.

Gen komplemen MHC sangat berbeda antara satu orang dengan orang lain dan profil MHC hampir seunik sidik jari sehingga cara untuk mengetahui kompatibilitas kita dengan seseorang adalah dari aroma tubuhnya, cara lain seperti melihat dari ras atau warna kulit tidak bisa memprediksi dengan ajek. Aroma tubuh merupakan manifestasi eksternal sistem imun (sebagai contoh, aroma tubuh yang manis menandakan orang itu mengidap diabetes) dan aroma yang menarik bagi kita datang dari orang yang paling kompatibel secara genetik dengan kita. Biasanya hidung kita memberi arahan yang tepat dalam soal memilih pasangan yang cocok, tapi bagaimana jika entah bagaimana kita berakhir dengan pasangan yang profil MHC-nya terlalu mirip dengan kita? Carol Ober, ahli genetika dari University of Chicago dalam penelitiannya menemukan bahwa andaipun kita terjebak dalam situasi mesti memilih pasangan yang masih ada hubungan keluarga (dengan kata lain variasi gennya rendah), wanita tetap dapat menemukan pasangan yang MHC-nya cukup berbeda. Namun, ditemukan pula sejumlah pasangan yang MHC-nya mirip dan mengalami masalah kesuburan, tingkat keguguran yang lebih tinggi dan jarak antarkehamilan yang lebih panjang. Pada pasangan heteroseksual dengan profil MHC yang mirip didapati juga berbagai masalah dalam hubungan mereka, salah satunya adalah kian mirip profil MHC, kemungkinan selingkuh makin besar.

Sudah dijabarkan di atas bahwa aroma tubuh memegang peranan penting dalam ketertarikan seksual, akan tetapi janganlah menjadikan aroma sebagai satu-satunya patokan dalam memilih pasangan. Ketertarikan seksual merupakan hasil dari interaksi banyak faktor, aroma tubuh hanyalah satu di antaranya, sehingga pengetahuan tentang aroma tubuh ini perlu digunakan sesuai situasi, tergantung penilaian Anda akan pentingnya kecocokan fisik.

Sumber:
Psychology Today Magazine, Jan/Feb 2008

Published in: on 24 Februari 2009 at 6:06 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2009/02/24/ketertarikan-seksual-dan-aroma-tubuh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: