Musik dan Seks

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya ketika menonton sebuah adegan dalam satu episode serial Barat. Adegan tersebut menggambarkan sepasang kekasih heteroseksual tengah berpacaran. Si wanita, dengan tipikal, sebelumnya sudah membuat si pria berjanji bahwa dalam kencan itu mereka cuma akan berbincang, saling mengenal, tak lebih. Namun, ketika lokasi kencan pindah ke rumah si pria, si wanita menuduh si pria menggodanya untuk berhubungan seksual karena musik yang diputar si pria adalah musik seks. Saya mengejapkan mata dan berpikir, apa hubungan antara musik dan seks? Dan benarkah ada jenis musik tertentu yang memiliki kualitas afrodisiak?

Salah satu bentuk hubungan antara musik dan seks saya kira dapat dilihat dari inkorporasi elemen seksual dalam musik, baik itu lirik, video musik, gaya artis, penampilan di panggung, dan sebagainya. Dari tahun ke tahun, ekspresi dan kesan seksual dalam musik tampaknya kian kental saja. Konon, sekitar lima puluh persen video musik yang beredar saat ini mengandung elemen seksual. Saya tidak perlu menjabarkan tentang lirik lagu karena mayoritas lagu yang ada bertemakan cinta, sementara seks dianggap dekat dengan cinta atau merupakan perpanjangan romansa. Kemudian, mengingat para produser rekaman banyak yang berusaha memasarkan artis dan albumnya dengan berpedoman pada kredo: seks itu menjual, tidak heran jika elemen seksual menjadi berkait-kelindan dengan industri musik.

Selain bentuk hubungan di atas, musik juga berpengaruh terhadap seks dengan cara lain, yaitu mendorong, memicu atau melatari terjadinya aktivitas seksual. Dr. Tim Griffith, seorang profesor bidang neurologi kognitif dari Newcastle University, menyatakan bahwa inti dari musik adalah emosi yang dihasilkannya. Dr. Griffith dalam penelitiannya menemukan bahwa cara otak merespons terhadap musik sama dengan cara otak merespons seks. Pengukuran aktivitas otak seseorang yang menangkap getaran musik dan pengukuran aktivitas otak seseorang yang mengalami hubungan seksual menyenangkan adalah sama persis. Dr. Daniel Nettle, juga dari Newcastle University, pada penelitiannya tahun 2005 mendapati hasil bahwa pemusik melakukan hubungan seksual dua kali lebih banyak dari rata-rata orang biasa. Lalu, jumlah pasangan seksual meningkat seiring dengan produksi kreativitas.

Nah, hal yang belum terjawab oleh Dr. Griffith dan tim penelitinya adalah mengapa suatu musik tertentu dapat menghasilkan kesenangan atau kepuasan bagi beberapa orang, tapi tidak berpengaruh pada sebagian yang lain. Ini merupakan lahan yang masih sangat terbuka untuk diteliti. Akan menarik untuk mengetahui karakteristik tertentu dari sepotong musik yang dapat membuat orang jadi bergairah. Namun, menurut pendapat saya pribadi, boleh jadi ada pengaruh faktor pengalaman dan belajar di dalamnya. Orang yang mengasosiasikan seks dengan musik tertentu yang disukainya akan lebih cenderung berpikir tentang seks ketika mendengar musik itu dimainkan. Ada perbedaan individual di sana.

Sekarang, apa soundtrack seks Anda?

Sumber:
nsrc.sfsu.edu

Published in: on 27 Maret 2009 at 3:57 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://vitasexualis.wordpress.com/2009/03/27/musik-dan-seks/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: